NovelToon NovelToon
Takdir Kejam Sang Duda

Takdir Kejam Sang Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Balas Dendam
Popularitas:636
Nilai: 5
Nama Author: Giarty gia

"Dia sudah mati. Menangis sampai darah pun tidak akan mengembalikannya."

Di usia sebelas tahun, Freya Anindita kehilangan segalanya dalam kecelakaan maut. Di malam yang kelam itu, Galen Danendra menariknya dengan kejam dari jasad sang papa, lalu mengurungnya dalam sangkar emas atas nama wasiat dan harta peninggalan.

Tujuh tahun berlalu, takdir kembali mempermainkan mereka dengan cara yang lebih kejam. Istri Galen tewas dalam kecelakaan tragis saat hendak menjemput Freya pulang sekolah—sebuah fakta yang sama sekali tidak diketahui oleh Freya.

kini, menghadapi Galen yang telah menjelma menjadi seorang duda yang penuh dendam, Freya yang duduk di bangku kelas 3 SMA harus menelan pil pahit. Ia dituduh sebagai pembawa sial sejak kecil.

Di antara jerat rasa bersalah yang dipaksakan dan tatapan benci Galen yang kian mengintimidasi, mampukah Freya lolos dari takdir kejam sang duda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Giarty gia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Sisa Kehangatan yang Asing.

***

Sepeninggal Galen, ruang makan itu kembali menyisakan kesunyian yang berat, hanya menyisakan suara isakan lirih dari Freya yang masih bersandar di pelukan hangat Kirana.

Freya yang masih duduk terpaku itu, matanya merah karena menahan air mata yang tak kunjung berhenti.

Kehilangan kedua orang tuanya masih menggantung berat di dada nya, seolah ruang hatinya jadi kosong tak berujung.

Namun, getaran dingin di udara membuatnya sadar, bukan hanya kesedihan yang harus ia hadapi hari ini.

Di rumah ini, ada sosok pria yang tatapannya menusuk, penuh kebencian—Galen Danendra.

Setiap kali pria itu melewati ruangan, tubuh Freya seperti diserang bayangan kelam yang tak bisa dihindari.

Mereka terjerat dalam awal kisah yang getir, di mana kehadirannya bukan hanya membawa duka, tapi juga menghadirkan permusuhan yang sulit untuk dipisahkan.

Galen yang sudah melangkah pergi dengan aura penuh kekesalan, suasana di ruang makan berangsur-angsur menjadi lebih tenang, meski sisa-sisa ketegangan masih terasa di udara.

Kirana mengembuskan napas panjang, mencoba membuang rasa sesak akibat sikap putra sulungnya yang teramat tidak berperasaan—kaku dan sangat dingin itu. Ia kembali memfokuskan seluruh perhatian dan kelembutannya pada Freya.

"Freya sayang... lihat Tante, nak". Suara Kirana mengalun lembut, selembut sutra yang menyentuh hati.

Jari-jari halusnya meraih selembar tisu, perlahan menyeka air mata bening yang mengalir deras di pipi pucat Freya.

Wajah Kirana tampak penuh kasih sayang, seolah ingin menghapus semua kesedihan yang menggerogoti anak kecil itu.

"Jangan takut lagi ya, sayang? Kak Galen sudah pergi. Sekarang, Freya harus makan sedikit sup nya. Sejak semalam perutmu kosong, nanti kalau Freya sakit, Papa dan Mama di surga pasti sedih sekali melihatnya karena gak makan"

Mendengar nama Papa dan Mamanya disebut, hati Freya sedikit melunak. Ia menatap mangkuk sup ayam di depan nya yang masih mengepulkan uap tipis.

Perutnya memang terasa perih dan melilit, namun tenggorokan nya masih terasa begitu sempit untuk menelan makanan apa pun yang masuk.

Baskoro ikut mengangguk pelan dari ujung meja, memberikan tatapan kebapakan yang sangat menenangkan. "Benar kata Tante, Freya. Makanlah beberapa sendok saja ya, nak? Om tidak mau putri sahabat Om jatuh sakit di hari pertama tinggal di sini. Ayo di makan ya sayang"

Bujukan tulus yang bertubi-tubi dari sepasang suami istri paruh baya itu akhirnya meruntuhkan pertahanan Freya.

Dengan jemari yang masih sedikit gemetar, ia meraih sendok perak di samping mangkuknya. Di bawah tatapan penuh kasih dari Kirana yang dengan sabar mendampinginya, Freya perlahan menyuapkan sesendok demi sesendok sup hangat itu ke dalam mulutnya.

Setiap kunyahan terasa berat dan hambar di lidahnya yang pahit akibat terlalu banyak menangis, namun ia memaksakan diri demi menghormati kebaikan pemilik rumah ini.

Melihat Freya akhirnya mau mengisi perutnya, kilat kelegaan terpancar jelas di mata Baskoro dan Kirana.

Setelah memastikan anak perempuan itu menyelesaikan setengah porsinya dan meminum segelas air putih hingga tandas, Baskoro berdehem pelan, memulai pembicaraan yang lebih serius mengenai masa depan Freya.

"Mas..." panggil Kirana, menatap suaminya setelah merapikan tisu di meja. "Bagaimana dengan kelanjutan sekolah Freya? Dia baru saja menyelesaikan ujian kelulusan sekolah dasar. Sebentar lagi ajaran baru untuk jenjang SMP akan dimulai. Kita harus segera mengurus pendaftarannya."

Baskoro menuntaskan tegukan terakhir dari cangkir tehnya, lalu meletakkan nya dengan pelan di meja.

Matanya menatap serius ke arah istri nya sambil mengangguk pelan.

"Soal itu, aku sudah pikirkan dari pagi, Karina" Katanya dengan suara tenang tapi penuh keyakinan. "Aku mau daftarin Freya ke Jakarta International Junior High School. Sekolah itu punya fasilitas paling lengkap, kurikulum internasional, dan sistem keamanan yang sangat ketat."

Baskoro menarik napas pendek, menatap freya sekilas. Lalu senyum tipis muncul. "Kebetulan, ketua yayasan nya adalah teman bisnis dekatku, jadi aku cukup percaya kalau Freya bakal dapat tempat yang terbaik di sana nanti."

Kirana tampak menimbang-nimbang opsi tersebut, lalu tersenyum setuju. "Pilihan yang sangat bagus, mas. Lingkungan di sana sangat asri dan metode belajarnya interaktif. Aku rasa itu bisa membantu mengalihkan pikiran Freya agar tidak terus-menerus larut dalam kesedihan".

Karina berhenti sejenak, ia menatap wajah freya . "Bagaimana menurutmu, Freya sayang? Kamu mau sekolah di sana?".

Mendengar perbincangan tentang masa depannya, Freya hanya bisa menundukkan kepala. Di usianya yang baru sebelas tahun, ia tidak mengerti apa itu kurikulum internasional atau sekolah elit.

Yang ia tahu, beberapa hari lalu ia masih bersemangat mendiskusikan rencana masuk ke SMP negeri terdekat bersama ibunya, sembari berkhayal tentang seragam baru yang akan dibelikan oleh ayahnya.

Namun kini, semua rencana indah itu seolah lenyap tanpa jejak, seperti debu halus yang tertiup angin dan menghilang begitu saja.

Mata dan bibirnya merengut, menahan perih yang tiba-tiba merayap di dada. "Semua cuma mimpi..." Batin Freya, sementara harapan yang dulu membara perlahan mati satu per satu.

Freya menundukkan wajah nya, bibirnya bergerak pelan, suaranya hampir tak terdengar.

"Terserah Om dan Tante saja..." Bisiknya, seperti enggan mengganggu hening di sekelilingnya. Matanya menghindar, menatap ke sudut ruangan, menahan perasaan yang tak mampu diungkapkan.

Perlahan tatapannya terpaku pada jemari kakinya sendiri di bawah meja makan. Kesedihan yang pekat masih menggelayuti pundak mungilnya, membuatnya merasa tidak memiliki hak atau energi untuk memilih apa pun lagi dalam hidup ini.

Baskoro tersenyum tipis, matanya menatap penuh pengertian pada Freya yang terlihat canggung di depannya. Ia mengangguk perlahan, suaranya lembut namun tegas.

"Baiklah, besok Om akan minta sekretaris pribadi yang urus semua berkas perpindahan dan administrasi mu." Ia menepuk bahu Freya dengan hangat.

"Freya, kamu tidak perlu repot mikirin hal lain. Cukup fokus siapin diri aja, ya, nak?".  Freya mengangguk pelan, wajahnya masih tampak berat tapi ada secercah lega yang mulai merayap di balik mata.

Karina menunduk, suaranya pelan namun penuh kelembutan saat menatap gadis kecil yang tampak rapuh di hadapan nya itu. "Sekarang habiskan makanan mu, sayang." Matanya berkilat, seakan ingin meyakinkan Freya bahwa ia benar-benar tulus.

Dalam hati, Karina berbisik. "Saya janji... Saya akan jaga dan sayangi anak kalian seperti anakku sendiri".

Freya duduk di kursi makan, menatap piring di depannya dengan pandangan kosong.

Lima belas menit berlalu, suara sendok dan garpu saling beradu menjadi irama sunyi yang sarat emosi.

Meskipun di sekelilingnya terhampar kemewahan dan sentuhan lembut dari Baskoro serta Kirana, dada Freya tetap sesak. Ada jarak yang tak terlihat, membuatnya merasa asing di tengah semua kasih sayang itu.

Hari pertama nya di kediaman Danendra benar-benar berubah arah. Di balik kemegahan istana yang menjulang tinggi, hatinya malah tenggelam dalam lautan duka.

Tubuh nya kaku menahan getaran cemas, mengetahui harus berbagi atap dengan Galen Danendra—pemuda berwajah dingin yang menatapnya penuh kebencian.

Setiap langkah Galen seperti duri tajam yang menusuk perasaannya, mengingatkan nya bahwa perjuangan nya baru saja dimulai di rumah ini.

Freya menundukkan kepala, bibir nya bergetar pelan. Di balik hening itu, suaranya terngiang, “Mama... Papa... Freya kangen. Freya takut...”

Namun kata-kata itu terperangkap rapat di dalam hati, tak berani meluncur keluar. Mata nya menatap kosong, seolah berharap sosok mereka bisa datang menghapus semua ketakutan yang terjadi.

***

1
Giarty gia
❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!