NovelToon NovelToon
DEKEKOUI

DEKEKOUI

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Matabatin / Vampir
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Muka Kanvas

Ketika penyihir dan Pemburu Penyihir bertemu dalam satu wilayah yang tak pernah mereka sangka. Satu berburu dan yang lain diburu, bagaimana jika akhirnya mereka jatuh cinta?

Dua makhluk Kekal bertikai sejak berabad-abad silam dan tak pernah mampu berdamai, berperang, bersembunyi dan akhirnya tertangkap, berulang tanpa pernah istirahat.

Apakah pada akhirnya mereka mampu bersatu? atau malah menjadi alasan peperangan terjadi lagi, seperti dulu Dekekuoi hancur lebur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muka Kanvas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 : Keluarga Ramon II

“Kasapin biadab, ternyata kalian sudah suka menyusup bukan?” Dekekuoi yang tertangkap itu sudah berdiri dan menunjuk tongkatnya pada para tentara, seketika para tentara diam, mereka tak bisa bergerak.

Orang-orang yang tadinya tertangkap, mereka beranjak, mereka paham kalau ini adalah kesempatan untuk lari dan tak terlalu peduli dengan identitas dari pria yang membawa tongkat itu.

“Kalian larilah, lari sejauh yang kalian bisa.” Dekekuoi pria gagah itu berkata pada para tahanan yang memang berniat lagi.

“Tidak semudah itu!” Or bersiul, dia memanggil saudara-saudaranya. Mereka datang juga dengan ayah dan ibunya, lelaki itu sendirian.

“Mereka bukan Dekekuoi, lepaskan!” Pria itu berkata dengan geram.

“Kita harus pastikan, jangan ada yang lari satu pun, jika ada yang ingin lari, tebas saja lehernya atau cabik dengan taring.” Or meminta keluarganya untuk tidak membiarkan siapapun kabur.

Tanpa disangkat, mereka semua akhirnya mengeluarkan tongkatnya dan leher itu mengeluarkan randa yang sama, seperti akar yang banyak cabang, tanda yang dipercaya merupakan jumlah jiwa yang mereka lahap untuk mendapatkan Sila lebih banyak lagi.

Er si sulung tertawa, “Ayah benar bahwa desa ini ada Dekekuoi, tidak hanya satu tapi sekumpulan, ada berapa jumlahnya? 10 orang, ini akan bagus untuk kelas kebangsawanan kita.” Er mengeluarkan pedang, begitu juga yang lain, sedang ayah dan ibunya lebih suka memakai taring mereka.

Pedang dan tongkat apakah seimbang meski kalah jumlah?

Salah satu Dekekuoi menghentakkan tongkatnya ke tanah.

Duk!

Tanah di bawah kaki Er langsung retak.

Akar-akar hitam bermunculan dari dalam tanah dan bergerak seperti ular yang sedang mencari mangsa. Er melompat ke samping, lalu satu akar menghantam tanah tepat di tempat ia berdiri sebelumnya, jika ia tak segera melompat, akar itu akan menghancurkan kakinya.

“Cepat juga!” Er tertawa.

Ia mengangkat pedangnya dan menebas akar yang kembali mengejarnya.

Sret!

Akar itu terputus.

Namun potongannya masih bergerak.

Er baru menyadarinya bagian akar lain itu melilit pergelangan kakinya.

“Kurang ajar!”

Tubuhnya ditarik dengan keras, Er jatuh ke tanah.

Salah satu Dekekuoi langsung menerjang, mengangkat tongkatnya tinggi, namun sebelum tongkat itu sempat menghantam kepala Er, sebuah pedang tiba-tiba melesat dari samping.

Trang!

Ur menahan serangan itu, dia memang yang paling cepat di antara saudaranya.

“Bangun!”

Er langsung berguling, menghindari hantaman tongkat yang menghantam tanah dengan keras.

Ur tidak membuang kesempatan itu. Ia bergerak cepat, menebas dari kanan lalu berputar dan menyerang dari kiri secara beruntun.

Dekekuoi itu terus mundur.

Ur semakin cepat, namun Dekekuoi tersebut tiba-tiba tersenyum sambil memutar tongkatnya dan seketika akar hitam muncul dari belakang Ur; ia mendengar suara desisan, langsung menunduk, dan akar itu melesat melewati kepalanya.

“Nyaris!”

Ur langsung menebas ke belakang tanpa melihat, tebasannya mengenai akar tersebut, akar itu putus seketika.

Tetapi saat ia kembali menghadap lawannya, sebuah tongkat sudah berada tepat di depan wajahnya.

Brak!

Ur terlempar, tubuhnya menghantam batang pohon.

“Ur!” Ar berlari menghampirinya.

“Aku masih hidup!” Ur bangkit sambil mengusap sudut bibirnya. Ia malah tersenyum.

Jagabaya Kasapin tahu kalau Dekekuoi tidak perlu mendekati mereka untuk menyerang. Selama tongkat itu menyentuh tanah, Sila mereka dapat mengalir melalui akar dan menjadikan seluruh tanah lapang sebagai senjata.

Bukan hanya tanah, tapi semua yang bisa mereka sentuh, akan menjadi senjata.

Keluarga Ramon dikepung, kalah jumlah tentu saja, tapi kalah pertarungan takkan mereka biarkan. Mereka berkumpul membentuk lingkaran dengan saling membelakangi, para Dekekuoi mengarahkan tongkat mereka dengan wajah bengis.

"Jangan pakai pedang, itu kurang efektif." or memerintahkan keluarganya, semua orang paham, taring mereka terlihat lebih panjang dari taring manusia biasa dan tentu saja lebih tajam. Jangan sebut mereka vampire, karena mereka bisa hidup di bawah sinar matahari dan tidak perlu menghisap darah untuk hidup.

Tapi taring, tentu saja mereka punya, seketika tubuh mereka juga berkilauann, itu tanda perburuan yang sebenarnya akan segera dimulai!

Or, Er, Ur dan Ar melompat bak binatang, mereka menangkap setiap satu Dekekuoi dan mencabik leher mereka dengan taring, Dekekuoi itu tak punya kesempatan untuk menggunakan sihirnya karena gerakan Jagabaya Kasapi sangat cepat.

Empat leher Dekekuoi robek dan mengeluarkan darah yang sangat banyak darah hitam keluar dari sana sebagai tanda kalau mereka Dekekuoi yang sangat kuat dan Sila bahkan telah mencemari darah mereka.

Bukan penyihir biasa, mereka penyihir tingkat tinggi, salah satunya bahkan berwujud nenek tua yang tadi disiksa.

Lalu kenapa saat disiksa mereka diam saja?

Lalu kenapa saat disiksa mereka diam saja?

Karena mereka memang sengaja diam.

Para Dekekuoi bukan tidak mampu melawan para tentara. Dibanding ketahuan sebagai Dekekuoi, mereka lebih memilih dianggap PKI, karena disiksa mereka akan tahan tapi dibantai oleh para Kasipin itu jauh lebih merepotkan.

Tanpa mereka ketahui kalau Jagabaya Kasipin telah menyusup juga di antara para Tentara.

Dan mereka tidak mau mengambil risiko, bagi mereka, tentara hanyalah manusia.

Tetapi Kasapin adalah pemburu.

Jika satu saja dari mereka menggunakan sihir, para Kasapin akan mengetahui keberadaan mereka. Karena itulah mereka memilih diam.

Mereka menahan rasa sakit, lapar, dan haus, bahkan ketika tubuh mereka dipukul dan disiksa, mereka tetap berpura-pura tidak memiliki kekuatan apa pun, hanya menunggu.

Menunggu sampai keadaan cukup aman untuk melarikan diri.

Mereka bahkan membiarkan beberapa dari mereka terlihat paling lemah agar tidak dicurigai.

Namun mereka tidak menyangka bahwa keluarga Ramon telah berada di sana.

Keluarga Ramon sejak awal memang mencurigai keberadaan Dekekuoi di desa tersebut. Mereka hanya belum mengetahui siapa saja yang sebenarnya merupakan penyihir.

Maka penyiksaan yang dilakukan para tentara tanpa mereka sadari menjadi perangkap.

Keluarga Ramon menunggu satu kesalahan.

Satu gerakan.

Satu penggunaan Sila.

Dan ketika akhirnya kesempatan untuk melarikan diri datang, para Dekekuoi tidak memiliki pilihan selain menggunakan kekuatan mereka.

Saat itulah penyamaran mereka berakhir.

Dan saat itulah para Jagabaya Kasapin akhirnya mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Perburuan sebenarnya baru dimulai.

Sayangnya, kedua pihak sama-sama tidak mengetahui satu hal.

Para Dekekuoi mengira mereka hanya menghadapi beberapa tentara.

Sedangkan keluarga Ramon mengira mereka hanya akan menghadapi beberapa penyihir.

Mereka baru menyadari kesalahannya ketika sepuluh tanda akar muncul bersamaan.

Sepuluh Dekekuoi.

Dan semuanya bukan penyihir biasa.

Mereka adalah penyihir yang sudah belajar menyembunyikan Sila selama bertahun-tahun.

Malam itu tidak ada lagi manusia biasa, tidak ada lagi tahanan, dan tidak ada lagi tentara. Yang tersisa hanyalah para pemburu dan mereka yang selama ratusan tahun menjadi buruan, dan kedua pihak sama-sama tahu bahwa tidak akan ada yang pulang tanpa membawa kemenangan.

Empat telah tercabik, sisanya apakah akan mati juga?

Lalu kenapa saat disiksa mereka diam saja?

Karena mereka memang sengaja diam.

Para Dekekuoi bukan tidak mampu melawan para tentara. Dibanding ketahuan sebagai Dekekuoi, mereka lebih memilih dianggap PKI, karena disiksa, mereka akan tahan tapi dibantai oleh para Kasipin itu jauh lebih merepotkan.

Tanpa mereka ketahui kalau Jagabaya Kasipin telah menyusup juga di antara para Tentara.

Dan mereka tidak mau mengambil risiko, bagi mereka, tentara hanyalah manusia.

Tetapi Kasapin adalah pemburu yang bisa membunuh sampai ke akar.

Jika satu saja dari mereka menggunakan sihir, para Kasapin akan mengetahui keberadaan mereka. Karena itulah mereka memilih diam.

Tentara bisa dikelabui matanya, setelah penyiksaan dan kelaparan, mereka bisa disihir agar melihat para tahanan mati dan dikubur, setidaknya itu yang mereka yakini, padahal para Dekekuoi setelah dikubur pun mampu bangkit lagi, keluar dari tanah tapi bukan menjadi mayat hidup, mereka hanya mampu berpura-pura mati! dari masa ke masa memang itu cara mereka bertahan hidup, mati lalu kembali dengan identitas yang baru, satu-satunya yang mereka tidak bisa rubah adalah wajah.

Maka dari itu hidup para Dekekuoi memang nomaden, agar tak ada satupun orang yang mengenali wajah mereka.

Bisa jadi, jika kalian merasa ada satu atau dua orang yang mirip dengan orang yang kalian kenal tapi sudah meninggal, mungkin saja dia adalah Dekekuoi.

Setidaknya itu adalah rencana yang sudah disiapkan oleh pemuda Dekekuoi itu sampai akhirnya Or menemukan salah satunya karena sadar kalau dia tak terlihat seperti orang yang sangat kelaparan padahal telah tidak makan beberapa hari sejak ditangkap.

Mereka menahan rasa sakit, lapar, dan haus, bahkan ketika tubuh mereka dipukul dan disiksa, mereka tetap berpura-pura tidak memiliki kekuatan apa pun, hanya menunggu.

Tapi ini kemenangan untuk keluarga Ramon, karena kecurigaan mereka benar, benar bahwa ada Dekekuoi di desa ini, bukan satu, dua atau tiga, tapi SEPULUH!

Dan saat itulah para Jagabaya Kasapin akhirnya mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Malam itu tidak ada lagi manusia biasa, tidak ada lagi tahanan, dan tidak ada lagi tentara. Yang tersisa hanyalah para pemburu dan mereka yang selama ratusan tahun menjadi buruan, dan kedua pihak sama-sama tahu bahwa tidak akan ada yang pulang tanpa membawa kemenangan.

1
Vie Vie Sue
/Good/
Vie Vie Sue: iya. sama2 kk. aku masih disini cuma nungguin karya² kk. sukses selalu ya
total 2 replies
Betri kardina
berarti jagabaya kasipin jahat ya
Muka Kanvas: nah, akhirnya ada yang ngeh
total 1 replies
Tini Nurhenti
alurnya maju mundur ea thor,😁🤭💪💪💪
Muka Kanvas: Iya nih, stuck di 1965 dulu yaaaa
total 1 replies
Tini Nurhenti
penuh misteri 👍💪💪💪
Tini Nurhenti
hadir thor, cepy story lanjutane to ??
Tini Nurhenti: ok kk
total 2 replies
Arla
mungkin Dani atau orangtuanya
Muka Kanvas: bukan kok, bukan.
total 1 replies
Dea Suci
zombie ya kak
Muka Kanvas: Hampir
total 1 replies
Dea Suci
mei
Dea Suci
wadidaw,,, ternyata ohhh ternyata,, Dani pun sama.
Zakia
sambil nunggu PKJ3 baca ini dulu, sebenarnya heran kok eps beda karena sebelumnya sudah aku baca semua thor
Muka Kanvas: Sudah ganti judul, setelah melalui pertimbangan yang cukup berat, akhirnya aku memutuskan membawa kisah Dekekuoi jadi novel yang panjang.
total 1 replies
Arla
kenapa dihapus kak thor,, pantesan error tadi pas aku mau like🤭
Yosh Pontoh: Pantesan barusan aku cari di rak buku gak ada.
total 2 replies
Damn Nwtch
curiga sama pamannya,Napa Dani g boleh ikut
Muka Kanvas: Lanjt ya, udah ada part selanjutnya
total 1 replies
Tini Nurhenti
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/
Arla
kasihannya dokter itu
Arla
ngeri jiwa psikonya...
Ayuk Witanto
hiii serem
Ayuk Witanto
gila dia
Ayuk Witanto
bagus
Ayuk Witanto
seru sih...tapi gantung🤭
Wahyu ningsing: lha yaitu...gak enak digantung....pastinya sakit
total 3 replies
Tini Nurhenti
kek cerpen kk👍💪💪
Muka Kanvas: Iya betul, tapi lebih tepatnya antologi horor
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!