NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Bangsal Jiwa

Rahasia Di Balik Bangsal Jiwa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Sebagai seorang perawat di Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat, Nadira Anindya selalu percaya bahwa setiap pasien berhak mendapatkan kasih sayang.

Ketika Adrian Mahendra, pria pendiam yang didiagnosis mengalami gangguan jiwa berat, menjadi pasien barunya, Nadira merawatnya dengan penuh ketulusan tanpa mengetahui siapa pria itu sebenarnya.

Di balik tatapan kosong Adrian, tersimpan sebuah rahasia besar. Ia bukan penderita gangguan jiwa, melainkan pewaris tunggal Mahendra Grup yang sengaja dijebloskan ke rumah sakit jiwa oleh ibu sambungnya demi menguasai seluruh harta warisan miliknya.

Ketulusan Nadira perlahan menjadi cahaya dalam hidup Adrian yang telah kehilangan segalanya. Namun saat cinta mulai tumbuh, keduanya harus menghadapi konspirasi, pengkhianatan, dan perebutan warisan yang mengancam nyawa.

Akankah Nadira berhasil mengungkap kebenaran, atau justru ikut terjebak dalam permainan kejam keluarga Mahendra?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7 : Tertangkap Basah

Suara langkah kaki itu berhenti tepat di depan pintu ruang arsip, jantung Nadira berdetak begitu keras. Dengan tangan gemetar, ia segera memasukkan kembali lembar-lembar dokumen ke dalam map cokelat. Namun sebelum sempat mengembalikannya ke rak semula...

Gagang pintu berputar.

Nadira spontan menyelipkan map itu di balik tubuhnya.

Pintu perlahan terbuka.

Ternyata yang masuk adalah Siska. "Suster Nadira?"

Siska mengernyit melihat wajah rekannya yang pucat. "Kamu kenapa?"

Nadira mengembuskan napas lega. "Oh... ternyata kamu. Kamu mengagetkan aku saja."

Siska tertawa kecil. "Aku dari tadi nyariin kamu, ternyata kamu di sini."

Nadira memaksakan senyum. "Aku sedang merapikan berkas."

Siska mengangguk. "Pak Direktur sedang mencari semua perawat. Katanya ada rapat mendadak."

Mendengar itu, Nadira semakin gugup. "Rapat?"

"Iya, katanya ada penyusup semalam. Sekarang keamanan rumah sakit diperketat."

Nadira hanya mengangguk pelan. "Oke... aku segera ke sana."

Setelah Siska keluar, Nadira buru-buru mengembalikan map itu ke tempat semula. Namun sebelum menutupnya, ia sempat mengambil satu lembar kecil yang terselip di bagian belakang. Lembar itu berisi salinan hasil pemeriksaan laboratorium Adrian.

"Aku hanya meminjamnya... aku akan mengembalikannya nanti." Ia melipat kertas itu sekecil mungkin lalu memasukkannya ke dalam saku seragam.

***

Di ruang rapat semua dokter, perawat, dan petugas keamanan telah berkumpul.

Direktur berdiri di depan dengan wajah serius. "Mulai hari ini... tidak seorang pun boleh memberikan informasi pasien kepada pihak luar. Terutama mengenai pasien Adrian Mahendra."

Kalimat terakhir itu membuat Nadira menoleh. Kenapa nama Adrian disebut secara khusus?

Direktur melanjutkan. "Pasien tersebut memiliki kondisi kejiwaan yang sangat tidak stabil. Dia pandai memanipulasi orang lain. Jangan mudah percaya dengan apa yang dikatakannya."

Beberapa perawat mengangguk. Namun Nadira justru semakin curiga. Bukankah seorang direktur rumah sakit seharusnya menjaga kerahasiaan identitas pasien? Mengapa justru membahas Adrian di depan begitu banyak orang?

Saat rapat selesai, Direktur menghentikan langkah Nadira. "Suster Nadira. Masuk ke ruangan saya."

"Baik Pak."

Di ruang Direktur, Nadira berdiri dengan kedua tangan saling menggenggam. "Apa ada yang ingin Bapak bicarakan?"

Direktur tersenyum tipis. "Kamu perawat yang baik. Karena itu saya ingin mengingatkan. Jangan terlalu dekat dengan pasien Adrian."

Nadira mengernyit. "Maaf, saya kurang mengerti."

Direktur berjalan mendekat. "Pasien seperti dia sangat pandai memainkan perasaan. Mereka bisa membuatmu percaya pada cerita yang sebenarnya tidak pernah terjadi."

Tatapan Nadira tetap tenang. "Saya hanya menjalankan tugas saya sebagai perawat."

Direktur menatapnya beberapa detik, lalu berkata pelan. "Saya harap memang begitu, karena kalau sampai kamu melanggar aturan rumah sakit... masa depanmu sebagai perawat bisa berakhir."

Ucapan itu terdengar seperti peringatan, atau mungkin... ancaman.

***

Malam harinya, Nadira akhirnya dipindahkan ke Bangsal Anggrek. Bangsal itu berada di gedung berbeda, cukup jauh dari Bangsal Mawar.

Meski sibuk merawat pasien baru, pikirannya terus tertuju pada Adrian. Saat sedang membagikan obat, ia tanpa sengaja merogoh saku seragamnya.

Lembar hasil laboratorium yang diambil dari ruang arsip masih tersimpan di sana. Ia membukanya perlahan, matanya membaca setiap baris dengan saksama.

Semakin lama, wajahnya semakin pucat. Di bagian bawah hasil pemeriksaan tertulis sebuah catatan kecil dengan tinta merah.

"Kondisi neurologis normal. Tidak ditemukan indikasi gangguan psikotik berdasarkan pemeriksaan fisik dan laboratorium." Napas Nadira tercekat. "Tidak mungkin..."

Ia segera membaca halaman itu sekali lagi. Kalimatnya tetap sama, artinya... sebelum Adrian dinyatakan mengalami gangguan jiwa berat, sudah ada hasil pemeriksaan yang menunjukkan kondisi fisiknya normal.

Lalu... siapa yang mengubah diagnosisnya? Dan atas perintah siapa? Tanpa disadari, sepasang mata sedang mengawasi Nadira dari balik jendela ruang perawat.

Sosok itu perlahan mengangkat ponselnya. "Pak... sepertinya Suster Nadira mulai mengetahui sesuatu."

Suara di seberang telepon terdengar dingin. "Kalau begitu... awasi dia. Kalau perlu, singkirkan dia sebelum semuanya terlambat."

Kini malam semakin larut.

Hujan kembali turun membasahi halaman Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat. Kilatan petir sesekali menyambar langit, membuat suasana rumah sakit terasa semakin mencekam.

Di Bangsal Anggrek, Nadira belum juga pulang kerumahnya, ia masih duduk di ruang perawat sambil menatap lembar hasil laboratorium Adrian. Semakin lama dipandang, semakin jelas kejanggalan yang ia temukan.

"Diagnosis gangguan jiwa berat... tapi hasil pemeriksaannya normal. Ini nggak masuk akal," gumamnya pelan.

Ia segera membuka komputer rumah sakit menggunakan akun miliknya. Mungkin masih ada data lain yang tersimpan. Setelah beberapa menit mencari, akhirnya ia menemukan berkas digital Adrian. Namun baru saja hendak membukanya...

Akses Ditolak.

Nadira mengernyit. "Kenapa ditolak, terus di kunci pula."

Selama lima tahun bekerja di rumah sakit itu, belum pernah ada data pasien yang hanya bisa diakses oleh direktur. Rasa penasarannya semakin besar.

Tiba-tiba...

Lampu ruang perawat padam.

Seluruh ruangan mendadak gelap. "Lho... listriknya kok mati?"

Nadira berdiri dari kursinya, saat hendak melangkah ke arah pintu...

Brak!

Pintu ruang perawat terdorong dengan keras.

Nadira langsung menoleh. "Siapa di sana?" teriaknya.

Tidak ada jawaban, hanya suara hujan yang terdengar dari luar. Perlahan... suara langkah kaki mulai mendekat dari lorong.

Tap... tap... tap...

Jantung Nadira berdegup semakin cepat.

"Siapa?"

Masih tidak ada jawaban, tiba-tiba sebuah bayangan hitam muncul di balik kaca pintu. Belum sempat Nadira berteriak... pintu didorong lagi hingga terbuka. Seorang pria bertubuh besar mengenakan jaket hitam dan masker langsung menerobos masuk.

"Siapa kamu!"

Pria itu tidak berkata apa-apa. Ia justru mengunci pintu dari dalam.

Nadira mundur beberapa langkah. "Apa yang kamu inginkan?"

Pria itu tetap diam dan dari balik sakunya, ia mengeluarkan selembar sapu tangan. Aroma menyengat langsung tercium.

"Cairan pembius..." gumam Nadira panik.

Ia pernah mempelajari cara penjahat menggunakan zat itu untuk melumpuhkan korban. Pria bertopeng itu langsung menerjang.

Nadira berusaha menghindar.

Brak!

Kursi terjatuh, ia mengambil sebuah map tebal di atas meja lalu melemparkannya ke arah pria tersebut.

Buk!

Map itu mengenai wajah pria bertopeng hingga langkahnya sedikit terhenti.

Nadira memanfaatkan kesempatan itu untuk berteriak dan berlari keluar. "Tolong! Tolong!"

Nadira dengan cepat keluar dari ruangan itu, ia sangat panik saat membuka pintu, pria itu semakin mendekat. Sementara itu di lorong rumah sakit kosong, tak ada seorang pun yang berjaga. Pria bertopeng kembali mengejarnya. Suara langkah kaki mereka menggema memenuhi lorong.

"Astaga, siapa dia..."

Nadira terus berlari sekuat tenaga. Saat berbelok menuju tangga darurat... tiba-tiba seseorang menarik lengannya. Nadira refleks berteriak, namun mulutnya langsung ditutup oleh tangan orang itu.

"Ssst..." Suara laki-laki yang sangat dikenalnya terdengar pelan. "Jangan bersuara."

Mata Nadira membelalak. "Adrian...?"

Pria itu berdiri di hadapannya dengan napas memburu. Adrian masih mengenakan pakaian pasien, perban di punggungnya bahkan masih terlihat di balik bajunya.

"Kamu... kenapa keluar dari bangsal?"

Adrian tidak menjawab, ia hanya mengintip ke arah lorong. Pria bertopeng yang mengejar Nadira baru saja melewati tempat persembunyian mereka. Setelah langkah kaki itu menghilang... Adrian akhirnya melepaskan tangannya.

"Kamu dalam bahaya." Suara Adrian terdengar tenang.

Nadira menatapnya tak percaya. "Kamu... tahu?"

Adrian mengangguk pelan. "Mereka tidak hanya ingin mengurungku. Mereka juga akan menyingkirkan siapa pun yang mulai mengetahui kebenaran."

Nadira menelan ludah. "Jadi... semua ini benar?"

Adrian menatap lurus ke matanya. "Ya... aku tidak pernah gila. Ayahku dibunuh, Ibu sambungku bekerja sama dengan Direktur rumah sakit ini untuk merebut seluruh warisanku."

Setiap kalimat yang keluar dari mulut Adrian membuat wajah Nadira semakin pucat. Ia akhirnya menyadari... dirinya telah terseret ke dalam konspirasi yang jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.

Namun tanpa mereka sadari, dari ujung lorong yang gelap... sepasang mata kembali memperhatikan mereka. Seseorang mengangkat ponselnya dan berbisik pelan, "Pak, Adrian berhasil keluar dari kamarnya. Dan sekarang... dia bersama Suster Nadira."

1
It's me Sky
terimakasih kakak selalu suport karyaku🙏
Arditya
novel bagus ini sih, wajib di baca. Author satu ini gk pernah gagal buat buku. semangat thoor,😎
Amoera
suka banget sama alur ceritanya, mantap thoor👍
Amoera
Asli ini sih novelnya bagus thoor, menegangkan... semangat thoor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!