NovelToon NovelToon
Cerita SMA

Cerita SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:560
Nilai: 5
Nama Author: Ervina Dwiyanti

Tidak menyangka Aisyah mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada ketika dulu di SMP atau di SD yang tidak diperlakukan baik oleh teman teman barunya itu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ervina Dwiyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27.

Cerita Cowok

“Gue pengen nanya deh," buka Arga tiba-tiba sambil mencondongkan badan, matanya berbinar penasaran. "Di antara cewek-cewek yang ada di sekolah ini, menurut kalian yang mirip banget sama tipe kalian tuh yang kayak gimana?"

Dimas langsung menjawab tanpa pikir panjang, wajahnya tetap tenang. "Kalau gue sih lebih suka kayak Aisyah sih. Dia jauh lebih kalem, tenang, dan nggak neko-neko. Tapi ya inget ya, gue nggak ada berharapnya gimana-gimana kok sama dia. Cuma sekedar contoh aja karena sifatnya pas banget sama apa yang gue cari."

Melihat Arga dan Bima mulai saling pandang sambil menyeringai jahil, Dimas buru-buru menggelengkan kepala sambil menambahkan penjelasan. "Eh jangan salah tangkap juga ya! Itu kan cuma sekedar pertanyaan doang, contoh kesamaan sifat, bukan berarti harus sama dia juga lho. Bisa aja kan ada yang lain yang sifatnya mirip kayak gitu."

Arga dan Bima malah makin tertawa pelan sambil saling menyenggol bahu. Mereka pun ikut menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya yang buru-buru menjelaskan begitu.

"Alah... buru-buru banget klarifikasinya Dim!" celetuk Bima sambil terkekeh. "Kita belum sempat ngomong apa-apa lho, udah kayak ketahuan salah sendiri aja lo."

"Iya bener," timpal Arga sambil menepuk pundak Dima pelan. "Kenapa sih lo jadi gugup gitu? Kita cuma nanya mirip siapa, bukan nanya lo suka sama siapa. Udah ketahuan kan kalau lo sering ngeliatin dia, jadi takut ketahuan kan?"

Dimas menghela napas panjang sambil tersenyum malu. "Gue nggak gugup kok! Gue cuma nggak mau kalian bikin omongan yang nggak-nggak aja. Nanti malah Aisyah yang dengar, dia jadi nggak nyaman kan kasihan. Dia kan temen kita juga."

"Tahu deh lo..." Bima masih menyeringai curiga. "Yaudah gantian gue. Kalau tipe gue yang mirip itu... kayaknya sih banyak deh, yang ceria dan heboh gitu. Tapi kalau harus sebut nama, mungkin yang satu angkatan sama kita yang suka tampil di pentas seni itu ya? Dia ekspresif banget pas senyum atau ngomong, persis kayak yang gue suka."

Arga mengangguk paham, lalu menyambung gilirannya. "Kalau gue jelas dong, yang rajin belajar, pinter, sering ngerjain tugas duluan. Nggak perlu heboh asal kerjanya selesai dan hasilnya bagus. Itu udah cukup buat gue."

Mereka pun kembali tertawa lepas, obrolan yang sederhana itu membuat mereka makin paham satu sama lain. Dimas lega karena penjelasannya dimengerti, meski di dalam hatinya ia tahu, ia memang sungguh-sungguh menyukai ketenangan sosok Aisyah—tanpa perlu diumbar atau dipaksa menjadi sesuatu yang lain.

Bima tiba-tiba mencondongkan badan, matanya berbinar penuh selidik. "Eh tapi ngomong-ngomong Dim, kayaknya Rara suka banget deh sama lo, terus Laras juga suka sama lo kan? Emang lo enggak tertarik di antara mereka berdua? Gila ya, beruntung banget lo! Ada dua cewek yang suka sama lo sekaligus, di sekolah lagi!"

Arga langsung mengangguk mantap menyetujui. "Bener banget itu! Kebanyakan cowok pasti seneng banget dapet perhatian gitu. Lo kok malah biasa aja gitu? Apa emang nggak ada sedikit pun rasa tertarik atau gimana gitu di hati lo?"

Dimas menghela napas pelan, lalu menatap mereka berdua dengan wajah tenang dan jujur. Ia menggelengkan kepala pelan.

"Ya mereka cuma teman doang kok. Enggak ada yang gimana-gimana banget juga," jawab Dimas santai. "Gue hargai banget perasaan mereka, tapi sampai sekarang gue nganggep mereka cuma teman sekelas, teman satu kelompok, nggak lebih dari itu. Gue nggak mau bikin salah paham atau kasih harapan palsu kalau gue nggak beneran merasakan hal yang sama."

"Lho kok bisa gitu sih?" tanya Bima masih nggak percaya. "Padahal Rara baik banget sama lo, Laras juga berusaha banget deketin lo. Nggak ada yang ngena di hati lo sama sekali?"

Dimas tersenyum tipis. "Mereka berdua emang cewek yang hebat kok. Rara itu berani, jujur, dan setia kawan. Laras juga cantik, rajin, dan punya semangat yang tinggi. Tapi kayak yang gue bilang tadi, hati nggak bisa dipaksa kan? Kalau emang belum cocok atau belum ada rasa yang lebih, ya gimana lagi? Gue nggak mau main-main sama perasaan mereka."

Arga dan Bima saling berpandangan, lalu mengangguk pelan. "Oke deh kalau gitu. Yang penting lo jujur sama diri lo sendiri dan sama mereka. Jangan sampai nyakitin hati mereka cuma karena lo bingung atau nggak enak hati," kata Arga bijak.

"Iya gitu dong," tambah Bima. "Kita dukung apa yang lo rasain aja. Nanti waktunya pasti ketemu sendiri kok siapa yang paling pas buat lo."

Dimas tersenyum lega mendengar dukungan sahabatnya. "Makasih ya udah ngerti. Gue cuma mau bersikap adil dan jujur aja sama semua orang."

Arga langsung menepuk jidatnya pelan seolah baru ingat hal penting. "Ya ampun Dim, lo tuh kadang polos banget! Cewek itu enggak suka lho kalau misalkan cuma dianggap teman doang. Pasti mereka tuh kayak ngambek, kecewa, atau malah ngambil hati lama banget lho!"

Bima mengangguk cepat menyambung. "Bener banget kata Arga. Cewek kalau udah naksir berat, pasti berharap lebih dari sekadar teman biasa. Dibilang cuma teman itu rasanya kayak ditolak halus lho. Bisa-bisa mereka malah jadi sedih, menjauh, atau malah makin berusaha ngejar lo karena merasa belum kalah."

Dimas terdiam sejenak, memikirkan ucapan mereka. Ia menghela napas panjang sambil menatap rumput di bawah kakinya.

"Gue sih ngerti maksud kalian," jawabnya pelan. "Gue juga nggak bermaksud nyakitin hati mereka. Tapi gue juga nggak boleh bohong kan? Kalau gue pura-pura suka atau kasih harapan palsu, itu malah lebih jahat namanya. Nanti mereka makin berharap terus kecewa berat di akhirnya. Lebih baik jujur dari sekarang, biar mereka juga nggak buang waktu buat orang yang belum tentu suka balik."

"Tapi caranya Dim..." Bima menatapnya khawatir. "Harus pelan-pelan, lembut, jangan langsung ketus atau tegas banget. Nanti mereka nangis atau benci sama lo lho."

"Iya gue tau kok," Dimas tersenyum tipis. "Gue bakal ngomong baik-baik kalau ada kesempatan. Gue hargai perasaan mereka, tapi gue juga harus jujur sama diri gue sendiri. Ngambek atau kecewa sebentar itu wajar, tapi nanti mereka bakal ngerti kok kalau jujur itu lebih baik daripada dibohongi."

Arga dan Bima saling berpandangan, lalu tersenyum pasrah. "Yaudah deh kalau gitu. Lo yang paling ngerti cara ngadepinnya. Kita cuma ngingetin aja biar lo nggak kaget kalau mereka tiba-tiba berubah sikap."

"Makasih ya udah diingetin," jawab Dimas lega.

"Gue bakal hati-hati kok."

1
sakura
...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!