Delapan tahun merajut kasih, hubungan Zacheriyya Tengiz dan Evander Vale-Knight hancur lebur dalam satu malam akibat pengkhianatan yang tak termaafkan.
Alih-alih menyesal, Evander justru menyebut tindakan kejamnya sebagai pembalasan ego yang setimpal atas kesalahan masa lalu.
Terluka dan murka, Zacheriyya pergi dengan sumpah tidak akan pernah memaafkan pria itu sampai ia mati.
Dua tahun berlalu dalam pelarian, takdir dengan kejam mempertemukan mereka kembali.
Rasa cinta yang dulu membara kini telah sepenuhnya bermutasi menjadi kebencian yang dingin dan mematikan. Pertemuan tak terduga ini seketika menyulut kembali sumbu dendam lama dan perang ego yang sengit di antara keduanya.
Mereka kini berdiri berseberangan sebagai dua mantan kekasih yang saling membenci setengah mati, siap saling menjatuhkan lewat tatapan tajam dan kata-kata berbisa.
Di tengah pusaran benci dan luka lama yang kembali menganga, siapakah yang akan hancur terlebih dahulu dalam permainan rasa yang berbahaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#2
Keesokan paginya, matahari Los Angeles terbit dengan begitu terik, menembus celah-celah gorden tipis di salah satu apartemen mewah kawasan Los Angeles Pusat.
Di dalam kamar utama yang luas dan berdesain minimalis modern itu, Zacheriyya Tengiz mengerang tertahan. Ia terbangun dengan kepala yang serasa dilempar batu besar.
Rasa pening yang luar biasa menghantam dinding kesadarannya—efek samping yang tak terhindarkan setelah menenggak bergelas-gelas vodka murni dan tequila bersama Alessia dan Svea semalam.
Cherry memijat pelipisnya perlahan, berusaha mengumpulkan nyawanya yang seolah tercecer. Ia melirik jam dinding digital.
Sudah hampir pukul sembilan pagi. Jika ini adalah hari biasa, ia pasti sudah berada di barak militer atau di dalam jet menuju zona konflik.
Namun pagi ini, situasinya berbeda. Hari ini, dia hanya akan meluangkan waktunya untuk tidur dan bermalas-malasan.
Cherry tidak memiliki kegiatan sama sekali, karena memang dia telah mengambil cuti panjang dua hari yang lalu.
Setelah dua tahun penuh ketegangan, ancaman kematian, dan perpindahan tugas yang melelahkan, ia ingin bebas untuk sementara waktu.
Dengan langkah gontai dan rambut yang sedikit berantakan, Cherry berjalan ke dapur bersihnya yang bernuansa marmer putih. Ia menyalakan kompor, mulai melakukan aktivitasnya memasak.
Bau harum roti panggang, mentega, dan bacon segera memenuhi ruangan, sedikit meredakan rasa mual di perutnya. Ia menyeduh secangkir kopi hitam tanpa gula untuk mengusir rasa kantuk dan pening.
Saat duduk di meja makan dan menyantap sarapannya dengan baik, Cherry menatap pemandangan kota Los Angeles dari jendela besar apartemennya.
Ternyata seindah ini jika menjadi pengangguran dan tidak lagi bekerja, batinnya lirih.
Ada rasa tenang yang langka, sebuah kemewahan yang tidak pernah ia rasakan sejak menginjakkan kaki di dunia penjinakan bahan peledak.
Hingga akhirnya, keheningan yang damai itu dikejutkan dengan suara ponselnya yang berdering keras di atas meja.
Bzzzzzz... Bzzzzzz...
Cherry melirik layar ponsel. Nama 'Daddy' tertera di sana. Ia menghela napas panjang sebelum menggeser tombol hijau.
"Halo Dad," kata Cherry, suaranya masih agak serak.
"Kapan kau pulang? Kenapa tidak pulang ke Mansion?"
Tanya sang Ayah di seberang telepon, suaranya terdengar tegas namun menyimpan nada menuntut.
Cherry menyandarkan punggungnya ke kursi, senyum sinis terukir di bibirnya. "Aku tidak akan pulang ke mansion, Dad. Dan lagi pula, aku tidak ingin mengganggu kesehatan istri tersayangmu."
Tut.
Telepon dimatikan sepihak oleh Cherry tanpa menunggu jawaban lebih lanjut dari ayahnya.
Hubungan mereka memang merenggang sejak sang ayah memutuskan untuk menikah lagi dengan wanita yang Usianya mungkin sebaya dari Cherry sendiri.
Cherry memang baru saja kembali dari New York setelah menyelesaikan serangkaian operasi EOD yang rumit.
Dan ini adalah cuti panjang pertamanya setelah dua tahun hanya sibuk berpindah-pindah kota dan pangkalan, melarikan diri dari bayang-bayang patah hati di Los Angeles.
Ia meletakkan ponselnya kembali, berniat melanjutkan sarapannya yang tertunda.
Namun, ketenangan itu hanya bertahan kurang dari satu menit.
Ponselnya kembali berdering hebat. Bukan dengan nada dering standar yang tadi, melainkan sebuah nada khusus yang nyaring dan berirama cepat.
Bzzzzz... Bzzzzz...
Itu telepon khususnya. Telepon terenkripsi yang hanya digunakan untuk keperluan dinas darurat. Jantung Cherry seketika berdegap kencang. Naluri agennya langsung mengambil alih.
Ia mengangkatnya. "Zhach di sini."
"Kode merah," kata Angel, rekan kerja sekaligus operator pusatnya di agensi.
Suara Angel terdengar panik dan terburu-buru.
Cherry mengernyitkan dahi, rasa pening di kepalanya seolah menguap digantikan oleh adrenalin. "Aku sedang cuti, Angel. Aku ingin tenang untuk sebulan—"
"Ancaman peledak terorisme ada di kotamu, Zach," jawab Angel cepat, memotong kalimat Cherry. Di dunia pekerjaan, Cherry memang lebih dikenal dengan nama depan atau nama panggilannya yang terdengar maskulin, Zach.
"Kami benar-benar membutuhkanmu. Skalanya besar."
"Lokasi?" Jawab Cherry cepat. Profesionalismenya tidak bisa berkompromi jika menyangkut nyawa orang banyak, seburuk apa pun suasana hatinya.
"Terduga Arena Sirkuit Kota Pusat Los Angeles. Target spesifiknya adalah sebuah mobil sport mewah. Tim B sudah berada di sana sejak satu jam lalu. Namun, jenis bom itu benar-benar baru, menggunakan sistem pemicu frekuensi ganda dan Tim B benar-benar tidak bisa mengatasinya. Mereka angkat tangan, Zach. Hanya kau yang punya sertifikasi untuk jenis custom device seperti ini."
Mendengar kata 'Sirkuit Kota Pusat Los Angeles', dada Cherry berdenyut aneh. Namun ia menepis perasaan itu.
"Baiklah, aku akan segera kesana," ucap Cherry dengan cepat.
Ia menutup telepon, menyambar jaket kulit hitamnya, dan langsung mengambil sebuah kunci motor besarnya yang terletak di atas nakas dekat pintu keluar.
...oOo ...
Raungan mesin motor sport milik Cherry membelah jalanan Los Angeles Barat menuju pusat kota.
Hanya dalam waktu lima belas menit, ia sudah sampai di gerbang belakang Arena Sirkuit Pusat Los Angeles.
Tempat ini sudah ditutup total oleh garis polisi. Mobil-mobil penjinak bom, ambulans, dan kendaraan taktis militer berjejer rapi, merusak pemandangan sirkuit yang biasanya megah.
Lompat dari motornya dan berjalan memasuki Sirkuit Pusat Los Angeles, tampaknya Cherry tidak merasa asing pada arena itu.
Langkah kakinya begitu mantap melewati pembatas trek.
Bagaimana bisa asing? Karena memang dia sudah hafal di luar nalar arena ini.
Selama delapan tahun hubungannya dengan Evander, separuh waktunya dihabiskan di tribun, di pit stop, dan di sepanjang lintasan ini untuk menonton pria itu memacu kecepatan.
Setiap sudut sirkuit ini menyimpan memori tentang sorak-sorai kemenangan Evander.
"Dimana?" Tanya Cherry pada rekannya, seorang pria bertubuh tegap, sambil dirinya dipakaikan alat dan baju pelindung khusus yang sangat tebal dan berat.
Helm pelindung ber-visor antipeluru sudah siap di tangannya.
Rekannya menunjuk ke arah area pit lane yang dikosongkan. "Mobil sport hitam di sana. Bomnya dipasang di bagian sasis bawah, terhubung langsung dengan tangki bahan bakar dan sistem pengapian elektronik."
Cherry akhirnya mengarahkan pandangannya pada tangan rekannya yang saat itu mengarahkannya untuk ke arah mobil itu.
Deg.
Jantung Cherry rasanya seperti berhenti berdetak sesaat.
Tatapannya terkunci pada kendaraan yang terparkir di bawah naungan kanopi baja.
Mobil itu... mobil itu sangat dikenalnya.
Sebuah hypercar edisi terbatas dengan garis aerodinamis yang agresif, dicat hitam pekat dengan aksen garis merah khas.
Itu adalah mobil mewah milik mantannya, Evander Vale-Knight.
Mobil yang dibeli Evander tepat sebelum mereka putus, mobil yang menjadi simbol kejayaan pria itu di lintasan balap.
"Kami benar-benar kesulitan mengenal komponen ini, Zach. Kabel-kabelnya terbungkus serat karbon dan pemicunya sangat sensitif terhadap perubahan tekanan," keluh rekannya lagi, tidak menyadari perubahan drastis pada raut wajah Cherry di balik tudung pelindungnya.
Cherry mematung di depan mobil itu. Pikirannya berputar hebat.
Mengapa bom ini harus berada di mobil Evander? Apakah ini serangan personal terhadap mantan kekasihnya, atau sekadar kebetulan yang kejam?
Hingga dari belakang, sebuah langkah kaki yang angkuh terdengar mendekat.
Seseorang dengan suara dingin dan berat yang sangat akrab di telinga Cherry mengatakan sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri.
"Aku tidak mau gara-gara ancaman murahan ini merusak komponen mobilku. Lakukanlah dengan baik," kata Evander Vale-Knight tiba-tiba.
Pria itu berjalan mendekat dengan setelan kasual mewah, kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya, dan aura arogansi yang tidak berkurang sedikit pun sejak dua tahun lalu.
Evander menatap mata Cherry yang saat ini mematung di balik kaca helm pelindungnya.
Kemungkinan besar, Evander tidak mengenal dirinya.
Pakaian EOD yang sangat tebal, tudung kepala, dan helm pelindung ber-visor gelap itu menyembunyikan seluruh identitas fisik Cherry dengan sempurna. Evander hanya mengira dia adalah salah satu agen pria dari tim penjinak bom militer.
Deg.
Suara yang dirindukannya ini... suara yang dulu selalu membisikkan kata cinta di telinganya, namun sekarang menjadi suara dari orang yang paling ia benci di muka bumi ini.
Pertemuan kembali yang begitu mendadak ini membuat Cherry merasa dadanya sesak.
Hingga rekannya yang tidak tahu apa-apa mengatakan, "Zach, kita harus memeriksa bagian bagasi juga. Kami akan langsung mencari, apa mungkin ada di tempat lain juga di sekitar sirkuit ini."
"Tunggu," kata Cherry dengan cepat. Suaranya agak teredam oleh mikrofon internal helm, namun intonasinya tegas.
Dia masih menatap mata Evander yang tampaknya bertingkah sombong itu. Pria itu berdiri berkacak pinggang, memandang mobilnya seolah-olah nyawanya sendiri tidak sedang berada di ujung tanduk karena bom waktu yang sedang berdetak.
"Ada apa, Zach?" Tanya rekan kerjanya yang merupakan seorang pria, bingung melihat Cherry yang mendadak tidak bergerak.
Cherry menarik napas dalam-dalam, mengendalikan emosinya yang bergejolak. Ia menoleh sedikit pada rekannya.
"Bisa kau beri tahu pria di depanku ini? Katakan padanya, untuk pergi menjauh dari area ini. Jika tidak, aku terpaksa meledakkan mobilnya."
Deg.
Evander Vale-Knight yang mendengar kalimat samar-samar itu mengerutkan dahi. Ia mengira agen di depannya begitu lancang karena berani mengancam aset berharganya.
Dia tidak tahu saja bahwa agen itu adalah seorang wanita—dan lebih spesifik lagi, mantan kekasihnya—karena memang terhalang pelindung juga pakaian tebal itu membuat Evander Vale-Knight tidak mendengar suaranya secara jelas, melainkan hanya nada bicaranya yang menantang.
"Apa kau bilang, hah?" Evander maju satu langkah dengan wajah mengeras, emosinya terpancing.
"Itu edisi terbatas! Harganya bisa membeli seluruh markas kalian. Kau harus melakukannya dengan baik dan menjamin tidak ada goresan sedikit pun! Kalau saja aku mengerti soal bomnya, aku tidak akan menelpon kalian untuk datang ke sirkuitku!"
"Oh, ya?" Ucap Cherry.
Suaranya meninggi, rasa kesal dan dendam masa lalu yang menumpuk membuat dia sampai lupa untuk bekerja profesional secara penuh.
Sifat arogan Evander yang selalu mengutamakan benda mati dan egonya sendiri di atas segalanya benar-benar menyulut api kemarahan Cherry.
"Aku memang harus membakar mobil itu sejak dulu, sialan," desis Cherry perlahan, namun kali ini ia menekan tombol interkom luar helmnya sehingga suaranya terdengar jernih dan menggema di area pit lane.
Deg.
Evander terdiam seketika. Langkahnya terhenti di udara. Matanya yang tersembunyi di balik kacamata hitam membelalak lebar.
Suara ini. Nada sinis ini. Cara penyebutan kata 'sialan' yang khas itu.
Ini suara kekasihnya... Bukan... Mantannya.
C-cherry... lirih Evander dalam hati.
Nama itu menghantam dadanya seperti gada besi. Namun, kata itu tertahan di tenggorokannya, tidak mampu keluar di mulutnya karena syok yang teramat sangat.
Pria itu memandang sosok bertubuh besar karena pakaian pelindung di depannya dengan tatapan tidak percaya.
Wanita yang dua tahun lalu pergi meninggalkannya dengan hati hancur, kini berdiri di depannya sebagai malaikat maut bagi mobilnya.
Dengan cepat dan tanpa memedulikan keterpanaan Evander, Cherry membalikkan badannya menghadap kap mobil, lalu mengatakan dengan dingin, "Pergi dari sini. Beri kami ruang."
Tanpa diusir untuk kedua kalinya pun, Evander mundur satu langkah, lalu dua langkah.
Kesombongannya mendadak menguap, digantikan oleh kecanggungan dan gejolak emosi yang rumit melihat kembali wanita yang pernah menguasai hidupnya.
Namun, ego Evander yang tinggi menolak untuk terlihat lemah.
Pria itu menghentikan langkahnya, menatap rekan kerja pria dari Cherry yang berdiri di dekat alat detektor.
Dengan nada suara yang dipaksakan terdengar acuh tak acuh, Evander mengatakan pada pria yang menjadi rekan kerja dari Cherry itu, "Buang saja mobil itu, aku tidak membutuhkannya lagi. Aku tidak suka mobilku disentuh oleh orang lain."
Kata-kata itu bagai belati yang sengaja ditusukkan Evander untuk membalas harga dirinya yang terusik.
Cherry yang mulai fokus beberapa detik lalu untuk melihat rangkaian kabel di bawah kap mesin, mendadak mematung. Tangan yang memegang tang pemotong kabel bergetar kecil.
Aku tidak suka mobilku disentuh oleh orang lain.
Cherry tahu persis arti ganda dari kalimat itu. Itu bukan sekadar soal mobil, melainkan sindiran kejam Evander tentang masa lalu mereka, tentang perselingkuhan emosional Cherry yang tak pernah benar-benar dimaafkan pria itu.
Perkataan pria pengkhianat itu benar-benar menyakiti hatinya, merobek kembali luka yang baru saja ia coba jahit semalam dengan bantuan alkohol.
Kau benar-benar tidak berubah, Evander. Kau tetap bajingan egois yang tahu cara menyakiti orang paling dalam, kutuk Cherry dalam hati.
Rasa sakit itu berubah menjadi fokus yang mematikan. Cherry membuang semua keraguannya.
Matanya menatap tajam pada kotak pemicu bom yang memiliki tiga kabel utama berwarna merah, hitam, dan biru tua yang terjalin rumit di antara sensor tekanan.
Timer digital di atasnya menunjukkan waktu tersisa: 5 menit 45 detik.
Tek.
Bunyi kabel pertama yang ia potong terdengar nyaring di tengah keheningan sirkuit. Itu adalah kabel sensor frekuensi.
Timer di bom itu mendadak melompat maju, berkedip cepat menuntut keputusan instan.
Rekan kerjanya menahan napas, bersiap untuk skenario terburuk. Namun tangan Cherry bergerak dengan kecepatan dan presisi yang luar biasa. Ia memotong kabel kedua, lalu mencabut modul pemicu utama dari sasis.
"Selesai," ucap Cherry dengan cepat melalui radio komunikasi.
Dan tindakan cepatnya itu langsung disambut dengan keharuan dan helaan napas lega yang luar biasa oleh rekan kerjanya.
"Kerja bagus, Zach! Kau benar-benar penyelamat!" Seru rekannya sambil menepuk bahu tebal pelindung Cherry.
Namun, Cherry tidak merayakan keberhasilannya. Wajahnya di balik helm sangat datar.
Dengan langkah yang elegan dan penuh wibawa meskipun mengenakan pakaian pelindung yang berat, dia melepaskan topi pelindung atau helmnya.
Rambut panjangnya terurai jatuh membingkai wajah cantiknya yang kini dipenuhi keringat.
Ia menatap lurus pada Evander yang masih berdiri beberapa meter di sana, mengawasi setiap gerakannya dengan pandangan yang tak terbaca. Cherry melemparkan tang pemotongnya ke dalam tas peralatan, lalu memandang seluruh kru tim EOD dan kru sirkuit.
Dengan suara lantang dan tegas, Cherry berkata, "Tinggalkan sirkuit. Sirkuit ini akan meledak dalam lima menit kedepan."
Deg.
Semua orang yang berada di sana terkejut setengah mati. Kepanikan instan langsung melanda.
Para petugas polisi dan tim B mulai mundur dengan teratur namun cepat, mengosongkan area lintasan utama.
Tak terkecuali Evander Vale-Knight. Wajah pria itu berubah pias. Ia melangkah maju, menatap Cherry dengan kilat kemarahan dan kebingungan yang bercampur aduk.
"Kau benar-benar meledakkan mobilku, Cherry?!" Tanya Evan dengan nada jengkel dan menuntut, langkahnya mendekat ke arah wanita itu. Ia mengira Cherry sengaja membiarkan bom sekunder aktif demi membalas dendam padanya.
Dan Cherry, yang saat ini sudah menyampirkan ransel peralatannya di bahu dan bersiap berjalan menuju motor sportnya, berbalik sedikit. Ia menatap Evander dengan senyuman paling dingin dan paling menawan yang pernah ia miliki.
"Aku hanya menuruti kemauan pemilik mobil," jawab Cherry tenang, mengutip kembali kata-kata Evander tentang membuang mobil itu.
"Kau bilang kau tidak membutuhkannya lagi dan tidak suka mobilmu disentuh orang lain, bukan? Bom di dalam mesin memang sudah kujinakkan, tapi bom kedua yang tertanam di bawah aspal pit stop ini... sengaja tidak kusentuh. Selamat untuk menyelamatkan dirimu sendiri, Tuan Vale-Knight."
Evander mematung di tempatnya saat mendengar sirene peringatan evakuasi sirkuit mulai melolong nyaring di udara, menandakan bahwa sang mantan kekasih benar-benar tidak sedang bermain-main dengan ucapannya.
omg evander aku padamu😘😘
gemes deh ama merka berdua