Renard mengidap *skin hunger syndrome* — tubuhnya mendambakan kontak kulit, tapi mysophobia-nya membuatnya mual jika disentuh orang lain. Satu-satunya pengecualian? Gadis mungil berkulit putih pucat yang baru saja menjadi asistennya.
Sebuah kontrak rahasia pun dibuat: Liana menjadi "terapis sentuhan" Renard — identitas ganda yang tidak boleh diketahui siapa pun, termasuk Renard sendiri. Setiap Sabtu malam, di mansion gelap dengan mata tertutup, sang CEO yang paling ditakuti di Jakarta menyerahkan dirinya di tangan seorang gadis yatim piatu.
Tapi bagaimana caranya menjalankan terapi untuk bos sendiri — tanpa jatuh cinta?
Apalagi ketika bos itu mulai menatapnya terlalu lama di kantor...
Mencium telapak tangannya tanpa sadar...
Dan berbisik dengan suara serak: *"Sentuh aku lagi, Nona Terapis."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19
Perasaan yang Tidak Bisa Disembunyikan
Nada dering Karina memberi Liana tiga detik untuk bernapas.
Saat Renard meraih ponsel tanpa melepas penutup mata, Liana menekan dua kali pergelangannya. Berhenti. Tangan di pinggangnya langsung terbuka. Ia mengambil mantel dan pergi sebelum panggilan selesai, membawa pulang bibir yang masih panas oleh napas, bukan ciuman.
Hari Minggu berlalu tanpa percakapan selain pesan pemeriksaan singkat. Mereka punya waktu untuk menenangkan tubuh, tetapi tidak untuk menghapus apa yang telah dipilih keduanya dalam gelap.
Senin pagi, Liana menjatuhkan pena ketika Renard memanggil namanya.
"Liana."
"Ya, Pak."
Ia membungkuk terlalu cepat, hampir membentur meja. Rizal yang duduk di seberang mengangkat alis, tetapi cukup menyayangi hidupnya untuk tidak berkomentar.
Liana membawa agenda ke dalam kantor. Renard berdiri di dekat jendela, berpakaian rapi dan dingin seperti biasa. Tidak ada tanda pria yang Sabtu malam nyaris mencium seseorang di bawah kain penutup mata.
"Rapat dengan William pukul sepuluh," kata Liana.
"Aku tahu."
"Makan siang dengan direktur parfum dipindah ke pukul satu."
"Baik."
Tatapan mereka bertemu.
Keduanya mengalihkan mata bersamaan.
Renard melihat bibir Liana. Liana melihat jemari Renard yang pernah menangkup wajahnya. Udara kantor terasa penuh oleh kejadian yang secara teknis tidak pernah selesai.
"Ada lagi?" tanya Renard.
"Tidak."
"Kalau begitu..."
Liana berbalik terlalu cepat dan keluar.
Di balik pintu, ia menekan tablet ke dada. Aroma manis mulai muncul di kulitnya. Ia buru-buru menuju pantry sebelum Renard dapat menciumnya.
Rizal mengikuti. "Mbak berantem dengan bos?"
"Tidak."
"Kenapa dua-duanya seperti habis melakukan kejahatan?"
Bayu menarik Rizal kembali ke kursi. "Karena pertanyaanmu adalah kejahatan."
Di pantry, Liana membasuh wajah dengan air dingin. Bayangannya terlihat sama seperti biasa, tetapi ia merasa seluruh kantor dapat membaca kejadian Sabtu di bibirnya.
Ponsel khusus terapi bergetar.
Renard: Apakah kamu pulang dengan aman malam itu?
Pesan dikirim Minggu pagi, tetapi Liana belum menjawab. Ia takut satu kalimat akan membuka percakapan yang tak mampu ditutup.
Ia akhirnya mengetik.
Ya. Maaf pergi tanpa menunggu sesi ditutup.
Balasan datang saat itu juga.
Aku membuatmu tidak nyaman?
Liana memandang pintu pantry. Hanya satu dinding memisahkan mereka.
Tidak. Saya hanya perlu berpikir.
Tiga titik muncul lama.
Aku juga.
Liana menyimpan ponsel. Setidaknya mereka setuju bahwa yang hampir terjadi bukan kesalahan atau gejala. Itu keputusan yang belum selesai.
***
William datang tepat waktu. Sepuluh menit pertama pertemuan berjalan normal. Pada menit kesebelas, Renard membaca halaman yang sama tiga kali.
William menutup map. "Kamu menyukai asistenmu, ya?"
"Asisten pribadi."
"Koreksi jabatan bukan penolakan."
"Kita sedang membahas kontrak distribusi."
"Dan kamu sudah melihat ke luar enam kali setiap kali Liana lewat."
Renard meletakkan pena. "Aku tidak menyukainya."
William menunggu.
"Mungkin," tambah Renard.
"Itu kemajuan."
Liana masuk membawa dokumen tambahan. Renard langsung berdiri untuk mengambilnya. Jarak mereka terlalu dekat. Liana menahan napas, Renard menatap bibirnya, lalu keduanya mundur.
William memperhatikan seluruh pertukaran itu.
"Ada lagi, Pak?" tanya Liana.
"Tidak. Terima kasih."
Setelah pintu menutup, William bersandar. "Mungkin?"
Renard menekan pelipis. "Masalahnya bukan hanya Liana."
"Ada orang lain?"
"Nona Terapis."
William mengetahui keberadaan terapi, tetapi tidak pernah meminta detail. "Jadi kamu jatuh hati kepada dua perempuan sekaligus?"
"Aku tidak tahu."
"Apa yang kamu rasakan kepada Liana saat gejalamu tenang?"
Renard teringat pertanyaan Elvin yang sama. "Aku ingin dia tetap dekat. Ingin tahu siapa yang menyakitinya. Ingin melihatnya makan tepat waktu."
"Dan terapis?"
"Aku mempercayainya dengan mata tertutup."
William terdiam, lalu tersenyum tipis. "Kedengarannya bukan dua bentuk cinta yang saling bertentangan."
"Apa maksudmu?"
"Cari sendiri. Kamu paling benci diberi jawaban tanpa data."
William mengambil dua kertas kosong dan menulis satu pertanyaan pada masing-masing.
Apa yang kamu lindungi?
Apa yang kamu inginkan?
"Untuk Liana, kamu melindungi keselamatan, pekerjaan, dan harga dirinya. Kamu ingin dia dekat. Untuk Nona Terapis?"
Renard membaca kertas kedua. "Aku melindungi anonimitasnya, meski aku ingin membukanya. Aku ingin dia percaya padaku di luar sesi."
"Polanya sama."
"Itu tidak membuktikan mereka orang yang sama."
"Tidak. Tapi membuktikan perasaanmu bukan sekadar penyakit."
William membalik kertas. "Kalau kamu mencurigai identitasnya, jangan membuat jebakan. Dia datang dalam keadaan rentan dan bergantung pada aturan. Tanyakan saat dia punya ruang untuk menolak."
Renard menatap sahabatnya. "Kamu bicara seperti Elvin."
"Itu penghinaan, tapi saya terima."
Nasihat tersebut tetap tinggal. Renard bisa mengatur kamera, menandai akses, atau membandingkan jadwal staf. Ia tidak akan melakukannya. Jawaban yang diperoleh dengan merusak kepercayaan tidak akan terasa seperti kebenaran.
Pertemuan berakhir tanpa membahas kontrak sampai tuntas.
***
Sore hari, Renard membuka dua percakapan di ponselnya.
Liana Salim berada di aplikasi kerja. Pesan terakhirnya tentang jadwal rapat. Foto profilnya menunjukkan senyum di halaman panti.
Nona Terapis berada di ponsel khusus. Pesan terakhirnya hanya laporan gejala. Tidak ada foto, tidak ada nama, tidak ada suara.
Renard meletakkan kedua ponsel berdampingan.
Ia membandingkan waktu pesan. Cara memakai titik. Kebiasaan menulis `Baik` tanpa emoji. Keduanya selalu merespons dalam jeda yang hampir sama. Ketika Liana berada bersamanya pada pesta, Nona Terapis membatalkan. Ketika Liana lembur, jadwal terapi ikut bergeser.
Lalu aroma.
Suhu tangan.
Detak yang berubah saat ia menyebut nama salah satunya kepada yang lain.
Sebuah kesimpulan terbentuk, terlalu indah sekaligus terlalu berbahaya.
Renard membuka percakapan Nona Terapis dan mengetik.
Besok...
Ia berhenti.
Jika ia menguji secara diam-diam, ia melanggar kepercayaan perempuan yang masuk ke kamar dengan keyakinan bahwa matanya tertutup. Jika ia bertanya langsung, Liana dapat menjauh.
Renard menghapus setengah kalimat.
Ia membalik kedua ponsel menghadap meja.
Ketukan terdengar. Liana masuk membawa kopi sore.
"Saya taruh di sini."
Renard melihat kedua ponsel, lalu tangannya. "Liana."
"Ya?"
Ia hampir bertanya langsung. Apakah kamu datang ke mansion setiap Sabtu? Apakah kamu menulis di telapak tanganku? Apakah bibir yang nyaris kucium itu bibirmu?
Namun Liana berdiri di bawah cahaya kantor, bukan dalam kamar yang dilindungi aturan. Ketakutan tipis muncul di matanya saat melihat ponsel khusus terapi.
Renard memilih mundur. "Terima kasih kopinya."
Bahunya mengendur. "Sama-sama, Pak."
Saat ia pergi, aroma melati dan kamboja tertinggal sangat samar.
Bukti lain.
Renard tetap tidak mengejarnya.
"Tidak mungkin," bisiknya.
Namun untuk pertama kalinya, penolakan itu terdengar seperti harapan.
Di luar kantor, Liana menerima pesan singkat pada ponsel kerja.
Renard: Besok siapkan seluruh itinerary Bali.
Ia membalas `Baik, Pak`, pola yang sama persis dengan pesan anonimnya. Setelah mengirim, Liana menyadari kesalahan kecil itu dan menatap pintu kaca.
Renard sedang melihat layar ponsel, lalu mengangkat mata kepadanya.
Tak ada tuduhan. Hanya tatapan panjang yang membuat Liana yakin ia sudah semakin dekat pada tepi rahasia.
Renard mengetik satu balasan.
Terima kasih, Liana.
Nama tanpa gelar itu terasa seperti ia sedang mengetuk pintu, meminta dibukakan tanpa mendobrak.
Liana belum membukanya. Namun untuk pertama kali, ia juga tidak memasang kunci tambahan di antara mereka.
Pintu itu tetap belum tertutup.