Malam yang mengerikan telah menimpa seorang gadis malang bernama Asri Devantara, kesuciannya di renggut oleh Angga Pratama dalam keadaan mabuk. Sejak malam itu Asri berusaha melarikan diri dari masalah sekaligus traumanya, namun takdir selalu punya cara mempertemukannya kembali dengan pria yang sudah merusak masa depannya. Ini bukan suatu kebetulan melainkan sebuah takdir kejam untuk keduanya, takdir yang ditulis semesta agar memang keduanya bersatu. Apa alasan semesta menyatukan keduanya dengan cara kejam dan waktu yang dipaksakan.
"Saya akan nikahi kamu Asri, meski saya tahu kamu masih trauma akan kejadian malam itu." Mayor Angga Pratama.
"Kasih aku waktu, Mas. Aku masih takut melayanimu." Asri Devantara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Dua hari berselang, sinar matahari masuk dengan lembut melalui jendela kamar, nampak memantul hangat di atas ubin keramik yang bersih.
Kehangatan pagi ini sama sekali tak bisa menembus trauma yang mengurung jiwa Asri, wanita ini terus mengingat akan kejadian yang menimpanya dua hari lalu.
Di atas kasur kamar itu, dengan tambahan ranjang di bawahnya sudah di tarik kembali ke dalam kolong ranjang king size tersebut.
Asri hanya bisa terduduk sembari meringkuk di atas kasur, dengan lutut yang tekuk---sambil di peluk menggunakan kedua tangannya.
Tubuh wanita yang tengah mengalami trauma tersebut, mengenakan kaos lengan pendek bahan rayon warna neon orange, di padukan celana pendek bermotif kotak-kotak warna merah dan abu-abu sampai lutut.
Asri menatap kosong ke arah lantai keramik di hadapannya, matanya sembab namun sudah tak mampu lagi mengeluarkan air mata.
Matanya sudah tak bisa mengeluarkan air mata lagi, seolah telah mengering dan habis, karena sudah dua hari ini Asri selalu menangis.
Sudah dua hari ini juga, di dalam kepalanya terus berputar sebuah memori----dimana dirinya di nodai dengan kejam oleh seorang pria asing yang tak di kenalinya.
Ingatannya itu berputar selayaknya kaset rusak yang menyiksa, sentuhan kasar pria asing yang mengenakan kaos lengan pendek warna hijau army seolah masih berputar di pikirannya tanpa henti.
Suara rintihan, rasa sakitnya yang di abaikan, bahkan pemukulan di wajahnya seolah masih teringat jelas di pikiran Asri.
Pikiran-pikiran itu seolah menyiksanya, sentuhan-sentuhan pria itu masih melekat pada tubuhnya, "jangan-jangan sentuh, tolong lepasin!" ucap Asri dengan panik.
Putri saat itu menyentuh bahu sepupunya.
Setiap kali bayangan pria itu melintas, tubuh Asri bergetar dan rasa perih teramat sangat di area sensitifnya yang masih belum pulih.
Malam itu Angga melakukannya dengan membabi buta dalam keadaan mabuk, jadi wajar selama dua hari ini area sensitif Asri masih sangat sakit.
"As! Asri tenang! ini gua!" ujar Putri, yang menenangkan sepupunya.
Asri dengan mata berkaca-kaca langsung melihat sepupunya ada disampingnya, lalu tubuhnya memeluk Putri.
"Hey lu tenang...jangan begini," ungkap Putri, sementara Asri hanya bisa menangis---karena pikirannya terus terbayang akan malam menjijikan itu.
Asri memeluk putri dengan isak tangis dan air mata yang enggan keluar, seolah air mata sudah mengering----Putri juga terisak atas apa yang terjadi kepada Asri.
"Lu jangan kaya gini...lu harus kuat...Asri yang gua kenal akan selalu kuat," ucap Putri.
Putri Lestari sudah mengenakan pakaian kerjanya, dirinya ingin kerja ke yayasan dan berniat pamit kepada Asri.
Namun, reaksi Asri sudah sangat trauma dan ketakutan.
Putri bersumpah jika bertemu pria yang sudah melakukan ini pada sepupunya, akan di terkam hidup-hidup.
Tubuh Putri sudah terbalut dengan blouse warna salmon-----model berkerah dengan renda di lehernya, dan ujung pergelangan tangannya mengembang.
Bawahnya mengenakan celana hitam formal, dengan rambut panjang hitamnya di biarkan terurai lurus dengan ikal di bawahnya.
"Jangan siksa diri lu kayak gini. Gua ada di sini buat lu..." ucap Putri.
Putri melepaskan pelukan Asri lalu duduk lebih dekat padanya, Asri berusaha mengeluarkan suaranya meski serak bercampur isak tangis.
"Gua udah nggak punya masa depan, Put...Hiks...nggak akan ada cowok yang mau nerima gua...hiks...saat tahu gua udah nggak suci...," isak tangis Asri dengan pandangan kosong.
"Sekarang nggak ada yang mau nikahin gua, semua mimpi gua dan harga diri gua udah ilang dalam waktu semalam," lanjutnya.
Air mata yang sempat mengering, kini kembali mengalir perlahan di pipi Asri.
Putri menyentuh pipi Asri, setelah mendengar kalimat keputusasaan dari bibir Asri---keduanya adalah anak yatim piatu yang saling menguatkan satu sama lain.
Keduanya selalu bersama semenjak kehilangan kedua orang tua mereka dalam kecelakaan pesawat yang tragis, Asri dan Putri tumbuh besar bersama di bawah pengawasan seorang pengacara wali yang di tunjuk keluarga mereka.
Sekarang mereka sudah dewasa dan mandiri.
"Enggak As...lu tetap Asri yang hebat, kejadian malam itu bukan salah lu. Lu itu korban! Dan gua nggak akan biarin lu lewatin ini sendirian," ucap Putri dengan lembut berusaha menguatkan Asri.
Putri menghapus air mata Asri yang kembali keluar, lalu memegang kedua pundak Asri.
"Kita juga udah lapor polisi, dan juga udah visum. Sekarang tinggal tunggu proses kasusnya ya," kata Putri berusaha menguatkan Asri.
"Gua percaya polisi bakal seret pria b*jingan itu ke pengadilan, lu harus percaya itu...," lanjut Putri dengan nada suara lirih.
Asri hanya menganggukkan kepalanya dengan lemah, Putri tahu jika dirinya harus mengalihkan pikiran Asri agar kembali semangat dan menghilangkan sejenak traumanya.
Pandangan Putri lalu beralih ke arah meja belajar yang terletak tepat di samping ranjang, dimana ada beberapa buku referensi, bingkai gambar Candi Borobudur, serta penari tradisional berjejer rapi.
"Oh ya lu 'kan beberapa hari lagi mau ketemu perwakilan kementerian buat diskusiin hasil riset lu," ucap Putri seolah memunculkan percikan semangat di mata Asri.
"Lu harus optimis buat ngenalin penelitian sejarah soal penemuan candi ke kancah internasional, ini impian lu 'kan?" tanyanya lagi.
Asri hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya, lalu dirinya menatap Putri.
"Sekarang lu jangan pikirkan soal malam menjijikan itu, tujuan lu harus perjuangkan mimpi lu...," tambah Putri seolah menyemangati sepupunya ini.
Asri tersenyum, dan dirinya menjadi teringat akan kementerian dan proyek penelitian itu.
"Iya, Put... makasih ya," bisik Asri lirih.
Putri akhirnya tersenyum lega, lalu menepuk pelan bahu Asri---lalu wanita itu berdiri dari duduknya di atas ranjang.
Hari sudah semakin siang, dirinya harus ke sekolah demi mengajar, menjalankan tugasnya sebagai pengajar.
"Yaudah, gua berangkat ngajar dulu ya, As," pamit Putri sembari merapikan tas kerjanya.
"Gua juga udah masak makanan kesukaan lu di dapur. Jangan lupa dimakan ya, jangan sampai kosong perutnya. Gua nggak mau asam lambung lu kambuh lagi gara-gara stres dan telat makan. Nanti malam gua langsung pulang," kata Putri meraih tasnya sebelum berlalu.
"Iya Put, nanti gua makan kok," sahut Asri dengan tersenyum.
"Hati-hati lu," ujar Asri.
Setelah kepergian Putri Asri hanya menghela napas pelan, dirinya memejamkan matanya---lalu menghapus air matanya.
Asri tak sadar jika takdirnya semakin dekat, dan tuhan sudah merencanakannya semuanya---kenapa hal ini harus terjadi.
Sebenarnya takdir apa yang harus di jalani Asri dengan Angga, dan kenapa keduanya harus melakukan ini---padahal Angga sudah memiliki tunangan.
*
*
*
*
*