NovelToon NovelToon
SUAMIMU BUKAN SUAMIMU

SUAMIMU BUKAN SUAMIMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Cinta Seiring Waktu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:67.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.

Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."

Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.

Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Hari yang Mengubah Segalanya

Mobil Aksa berhenti tepat di depan pintu masuk UGD Aksara Medika. Begitu mesin dimatikan, Aksa langsung turun. Aynara menyusul dari sisi lain. Keduanya berjalan cepat menuju ruang gawat darurat.

Di depan pintu UGD, Asti sudah berdiri bersama Gunadi. Wajah wanita itu terlihat pucat dan cemas.

"Ma!" Aksa langsung menghampiri mereka. Ia menatap Gunadi, kemudian ibunya bergantian. "Bagaimana kondisi Kakek?"

Gunadi menarik napas sebelum menjawab. "Tuan besar masih ditangani dokter."

Aksa melirik pintu UGD. "Kenapa belum keluar?"

"Beliau mengalami cedera kepala cukup berat akibat benturan," jelas Gunadi.

Aksa menegang. "Seberapa parah?"

Gunadi kembali menjelaskan. "Dokter menemukan perdarahan di bagian kepala dan harus segera melakukan operasi."

Aksa terdiam. "Operasi?"

Gunadi mengangguk. "Ya, Tuan Muda. Tim dokter sedang berusaha menghentikan perdarahannya."

Asti yang sejak tadi menahan kecemasan akhirnya bersuara. "Dokter bilang kondisinya kritis."

Aksa menatap pintu UGD yang tertutup rapat. Entah mengapa, kini ia benar-benar merasa takut. "Berapa lama operasinya?"

"Kami belum tahu," jawab Gunadi.

Aksa mengepalkan tangannya. "Kakek pasti baik-baik saja."

Tidak ada yang menjawab.

Aynara berdiri beberapa langkah di belakang mereka. Ia bisa melihat dengan jelas perubahan wajah Aksa. Pria yang sejak tadi terlihat dingin dan kesal kini tampak gelisah.

Aynara menundukkan wajah. Bagaimanapun, Wicaksono adalah kakek Aksa. Dan meskipun pernikahan mereka terjadi karena paksaan, Aynara tetap berharap pria tua itu selamat.

Tak lama kemudian, pintu UGD terbuka, seorang dokter keluar dari ruang UGD.

Semua orang langsung menoleh.

"Dokter!"

Dokter melepas maskernya. "Keluarga Pak Wicaksono?"

Aksa langsung maju. "Saya cucunya, Dok. Bagaimana kondisi Kakek?"

Dokter menarik napas singkat.."Pasien mengalami cedera kepala berat akibat benturan. Dari hasil pemeriksaan, terdapat perdarahan intrakranial yang cukup serius."

Wajah Aksa langsung menegang. "Apa yang harus dilakukan, Dok?"

Raut wajah sang dokter terlihat serius. "Kami perlu melakukan operasi sesegera mungkin untuk menghentikan perdarahan dan mengurangi tekanan di dalam kepala."

Aksa menelan ludah. "Operasi sekarang?"

"Ya," jawab dokter tanpa ragu. "Kondisinya tidak memungkinkan untuk menunggu terlalu lama."

Aksa mengepalkan tangannya. "Kalau begitu lakukan, Dok. Tolong selamatkan kakek saya."

Dokter mengangguk. "Kami akan melakukan yang terbaik. Namun, karena tindakan ini memiliki risiko, kami membutuhkan persetujuan dari keluarga."

Seorang perawat yang sejak tadi berdiri di belakang dokter segera maju sambil membawa beberapa lembar dokumen. "Ini surat persetujuan tindakan operasi."

Aksa menerima dokumen tersebut dengan tangan sedikit gemetar. Ia membaca sekilas beberapa bagian sebelum menandatanganinya. "Saya setuju."

Setelah memastikan tanda tangan sudah lengkap, perawat mengambil kembali dokumen tersebut.

Dokter memeriksanya sebentar. "Baik. Kami akan segera mempersiapkan pasien untuk operasi."

Dokter kembali masuk ke dalam UGD diikuti perawat. Pintu pun tertutup kembali.

Aksa berdiri terpaku di depannya. Kali ini, tidak ada lagi yang bisa dilakukannya selain menunggu.

Asti mendekatinya dan menggenggam lengannya. "Jangan berpikir yang macam-macam, Sa. Kakekmu kuat."

Aksa mengangguk, tetapi matanya tetap tertuju pada pintu.

Asti akhirnya menoleh ke arah Aynara. Wajah gadis itu masih terlihat sembap dan kemerahan, meski rasa gatalnya sudah mulai mereda. "Kondisimu juga belum pulih. Sebaiknya kamu pulang dulu, Nara."

"Gak apa-apa, Bu. Saya sudah lebih baik," jawab Aynara pelan.

Aksa yang sejak tadi berdiri di dekat pintu langsung menoleh.."Sebaiknya kamu pulang."

Tatapannya singkat, lalu kembali mengarah ke depan. "Lihat kamu saja bikin mood-ku makin hancur."

"Aksa!" tegur Asti.

Namun Aksa tidak mengubah ekspresinya. Ia bahkan tidak lagi menatap Aynara.

Gunadi hanya bisa menghela napas panjang. Ada rasa iba di dalam hatinya melihat Aynara yang tertunduk dengan kedua tangan sibuk memainkan jemari sendiri.

Asti kemudian mendekati Aynara dan mengusap lengannya dengan lembut. "Kamu pulang dulu, ya. Istirahat supaya cepat pulih. Biar Pak Gunadi yang mengantarmu."

Aynara terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk.

"Iya, Bu."

Gunadi segera memberi isyarat dengan tangannya. "Silakan, Nyonya Muda."

"Terima kasih, Pak." Aynara kemudian menatap Asti. "Saya pulang dulu, Bu." Ia menundukkan kepala dengan sopan.

Asti membalasnya dengan usapan lembut di lengan Aynara. "Hati-hati."

Sebelum berbalik, Aynara sempat melirik Aksa, hanya sebentar. Namun pria itu bahkan tidak menoleh kepadanya.

Aynara akhirnya mengembuskan napas pelan, lalu berjalan meninggalkan ruang tunggu bersama Gunadi.

Asti menatap kepergian menantunya hingga sosoknya menghilang di ujung lorong. Setelah itu, ia menoleh kepada putranya.

"Aksa."

"Kenapa?" sahut Aksa.

"Kamu keterlaluan." Nada suara Asti terdengar kesal.

Aksa menghela napas. "Aku cuma mengatakan apa yang aku rasakan, Ma."

Asti menatap putranya dengan kecewa. "Dia istrimu. Setidaknya perlakukan dia sebagai manusia, bukan sebagai orang yang paling kamu benci."

Aksa tidak menjawab. Matanya kembali tertuju pada pintu ruang operasi tempat kakeknya sedang berjuang mempertahankan hidup.

 

Beberapa jam kemudian, operasi Wicaksono akhirnya selesai. Dokter keluar dari ruang operasi dengan wajah serius.

Asti dan Aksa yang sejak tadi menunggu langsung berdiri.

"Bagaimana kondisi Kakek?" tanya Aksa.

"Operasinya berjalan sesuai prosedur. Namun, cedera kepala yang dialami Pak Wicaksono cukup berat. Untuk saat ini, beliau masih belum sadarkan diri." papar dokter.

Asti menahan napas. "Maksud Dokter?"

Dokter terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Pak Wicaksono mengalami koma."

Aksa sempat terdiam. "Berapa lama?"

Dokter menggeleng pelan. "Kami belum bisa memastikan. Bisa beberapa hari, beberapa minggu, bahkan lebih lama. Kami harus terus memantau kondisinya."

Aksa menatap pintu ruang operasi dengan rahang mengeras. "Yang penting Kakek selamat."

"Benar," sahut dokter. "Untuk saat ini, itu yang paling penting."

Setelah memastikan kondisi Wicaksono cukup stabil untuk dipindahkan ke ruang perawatan intensif, Aksa akhirnya memutuskan pulang.

Asti memilih tetap tinggal di rumah sakit.

 

Langit telah gelap ketika Aksa tiba di rumah. Ia berjalan menuju kamar dengan langkah berat. Seharian ini terlalu banyak hal terjadi. Pernikahan yang tidak diinginkannya, kecelakaan Kakeknya dan operasi yang membuat pikirannya kacau.

Ia hanya ingin beristirahat. Namun, begitu pintu kamar dibuka, langkahnya mendadak terhenti. Seseorang sudah berada di dalam. Duduk di tepi ranjang.

Aksa menyipitkan mata. “Kamu?”

 

...🔸🔸🔸...

...“Kadang hidup tidak memberi kita waktu untuk menerima sebuah perubahan. Ia hanya memaksa kita menjalaninya, lalu mengajarkan arti kehilangan setelah semuanya terlambat.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Kadek Sri
syukurlah Aynara selamat
Hanima
😍😍😍😍👍
Puji Hastuti
trus gimana nanti,kalau Nara sadar
Eka Burjo
syukurlah selamat. jangan kasih ampun tuh si Doni
tse
waduh sayang sekali.....
mereka jadinya melakukan zina ya....
Regan ga kuat iman nya..
Eka Burjo
harus nikah ulang ijab qobul lagi si, biar jadi halal hubungannya 😁✌️, tanya ahlinya
Puji Hastuti
ayolah regan, selamatkan ay
Sugiharti Rusli
semoga saja Regan masih keburu menolongnya yah, karena kalo sampai Aynara dilecehkan oleh Doni, itu akan jadi malapetaka sih😔😔😔
Sugiharti Rusli
mana kondisi Aynara sedang tidak baik" saja karena obat yang diminum saat tadi di ballroom,,,
Sugiharti Rusli
pada akhirnya si Doni malah berhasil membawa Aynara kan jadinya,,,
Sugiharti Rusli
meski dia belum tahu kalo orang yang mencegat dirinya suruhan si Doni, dia seharusnya ga usah meladeni,,,
Sugiharti Rusli
waduh si Aksa kemakan umpan si Doni lagi dia yah,,,
Cicih Sophiana
ya Allah Nara... semoga Regan cepat menemukan Nara dan menolong nya...
Siti Jumiati
semoga regan cepat datang dan menolong Aynara
Siti Jumiati
semoga regan cepat datang dan menolong Aynara
Eka Burjo
aakh gubrak 👊😡
Wardi's
aahh... tidaaak...
Anitha
semoga Regan datang tepat waktu..biar Regan saja yang membantu Aynara menghilangkan panas di badannya efek pengaruh obat dosis tinggi
Anonim
Aynara pamit pulang sama kakek, walaupun kakek tidak bisa menjawab, mungkin bawah sadar kakek merasa kali ya.

Aynara tidak jadi pulang ketika melihat perawat mau membersihkan tubuh pasien. Ia minta izin sama perawat untuk membantu membersihkan kakek.

Lebih baik Aynara cari kontrakan di dekat rumah sakit, jadi bisa sering datang menjenguk kakek.

Tinggal di rumah sendiri malah makan hati. Lebih baik segera cari kontrakan

Siapa yang berheti di hadapan Aynara ?
Anonim
Ternyata Gunadi yang datang tapi mengurungkan niatnya untuk masuk.

Gunadi menghubungi seseorang lewat sambungan telepon untuk minta dikirimi foto Aynara. Dan menyuruhnya menyelidiki kegiatan Aynara beberapa hari terakhir.

Foto-foto Aynara sudah dikirim. Gunadi melihat foto-foto Aynara. Cantik.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!