6 mahasiswa KKN datang ke desa terpencil untuk pengabdian. Di gapura desa, mereka disambut warga yang ramah. Tapi aneh, semua rumahnya lapuk, tidak ada listrik, dan kuburan ada di setiap halaman rumah. Maya, yang indigo, berbisik, "Sel, kaki mereka nggak napak tanah..." Malam pertama, Riko iseng memotret gapura desa. Saat foto dilihat, yang berdiri di foto bukanlah 6 mahasiswa... tapi 6 pocong dengan wajah mereka sendiri! Ternyata desa itu sudah mati 20 tahun lalu karena wabah. Dan setiap 20 tahun, mereka butuh 6 tumbal baru untuk menggantikan mereka. Dan tahun ini... giliran kami. Jangan pernah KKN di desa ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Melda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16. FARHAN JADI TUMBAL
Catatan penulis: Untuk kak @na-an yang udah setia sampai BAB 14, makasih banyak! BAB ini panjang khusus buat kakak dan semua pembaca! 🥹❤️
Setelah huruf S E L V tercabut, aku harus menenun nama baru. Nama yang bukan namaku. Nama yang bisa menipu sumur dan penenun itu.
Tanganku berdarah. Kain kafan di alat tenun itu masih menjerit.
Di belakangku, Farhan masih menahan Mbok Darmi dan Maya. Aku lihat dari sudut mata, Maya sudah tidak seperti Maya. Matanya putih, kukunya panjang, dia mencakar wajah Farhan.
"Selvi! Cepat!" teriak Farhan.
Aku menatap alat tenun itu. Di sebelah alat tenun, ada tumpukan buku catatan lusuh milik Mbok Darmi. Buku itu terbuka, halaman-halamannya berisi nama-nama.
Aku baca dengan cepat sambil tanganku masih memegang benang berdarah itu.
1978 - Siti Aminah - 19 tahun - Lunas
1985 - Karsih - 22 tahun - Lunas
1999 - Lestari - 18 tahun - Lunas
2010 - Dewi - 20 tahun - Lunas
Semua perempuan. Dan semua ada tulisan LUNAS di sampingnya, dengan cap jempol darah.
Di halaman terakhir, ada dua nama baru yang belum lunas, tulisannya masih basah:
2026 - Selvi - 21 tahun - Belum
2026 - Maya - 21 tahun - Belum
Jadi kami memang sudah disiapkan! Mbok Darmi bukan manusia! Dia adalah penjaga sumur!
Aku balik badan.
"Farhan! Di buku itu nama kita sudah ada! Aku dan Maya sudah ditandai!"
Farhan kaget. "Apa?!"
Mbok Darmi yang kesurupan tertawa. "Benar! Kalian berdua adalah pengantin yang diminta sumur tahun ini! Sumur itu minta dua perawan! Tapi kalian datang bertiga! Satu laki-laki! Sumur tidak suka laki-laki! Sumur mau perempuan!"
Sumur itu ternyata memilih pengantin. Seperti cerita KKN Desa Penari.
"Tapi kenapa Farhan jadi tumbal?" tanyaku sambil menangis.
Farhan melepaskan Mbok Darmi, dia lari ke arahku dan menutup buku itu.
"Karena sumur itu bisa ditipu, Sel! Aku cari di primbon tadi di lemari Mbok Darmi! Ada satu cara! Jika kain kafan yang sudah diukur untuk satu orang, diganti namanya dengan sukarela oleh orang lain, maka yang punya nama baru itulah yang akan diambil! Sumur itu bodoh, dia hanya baca nama di kain! Dia tidak kenal wajah!"
Aku mengerti. Jadi Farhan mau menukar takdirku.
"Tulis nama aku, Sel! Biar aku yang diambil sumur itu! Kamu bawa Maya lari!"
"TIDAK! Aku gak mau kamu mati!"
Farhan memelukku erat, di tengah rumah yang bergetar, di depan alat tenun yang berdarah.
"Selvi, dengerin. Aku sayang sama kamu sejak semester 1. Bapakmu sudah anggap aku anak sendiri. Kalau aku biarkan kamu mati di sini, aku tidak akan pernah bisa maafkan diri aku sendiri. Biarkan aku jadi pahlawan untuk sekali saja dalam hidupku."
Air mataku tumpah.
Dengan tangan yang gemetar hebat, aku mengambil benang hitam yang terbuat dari rambut itu. Aku mulai menenun.
Huruf F.
Saat aku tusukkan jarum untuk huruf F, aku mendengar tulang kaki Farhan patah. Kretek. Dia jatuh berlutut tapi dia tahan jeritannya.
"BAGUS! TERUS!"
Huruf A. Darah hitam keluar dari hidung dan telinga Farhan. Dia muntah.
Huruf R. Punggung Farhan melengkung ke belakang 90 derajat, tidak wajar. Seperti ada tangan tak terlihat yang menarik tulang punggungnya.
Aku mau berhenti, tapi Farhan memegang tanganku dan memaksaku melanjutkan.
"Jangan berhenti! Kalau berhenti di tengah, kita berdua mati!"
Huruf H. Farhan menjerit, kukunya menghitam.
Huruf A lagi. Matanya mulai putih.
Huruf terakhir N.
Saat benang terakhir N aku ikat, seluruh rumah mati lampu. Gelap total.
Hanya terdengar detak jantungku.
Lalu, dari kegelapan, suara kain diseret. Srek... srek... srek...
Penenun tanpa bayangan muncul. Kali ini sangat jelas. Dia tidak punya wajah, tapi di kain kafan yang membungkus tubuhnya, ada ratusan nama yang sudah lunas, dijahit dengan benang emas. Siti, Karsih, Lestari, Dewi, dan puluhan nama lain. Semua perempuan yang pernah jadi tumbal sumur itu.
Dia mengambil kain kafan dengan nama FARHAN yang baru saja aku buat.
Dia menciumnya.
"Tumbal laki-laki... pertama kali... wangi..."
Dia lalu menoleh ke Farhan.
Farhan tersenyum untuk terakhir kalinya padaku. Senyum yang penuh cinta.
"Jaga diri ya, Sel. Bilang ke bapakmu, maaf aku tidak bisa tepati janji pulang bareng."
Penenun itu menyentuh ubun-ubun Farhan dengan jarum jahit raksasanya.
Tidak ada darah.
Tubuh Farhan langsung berubah. Kulitnya menjadi putih kapas. Matanya tertutup kapas. Mulutnya menganga disumpal kapas. Tubuhnya menjadi ringan, kosong, seperti mayat yang sudah dimandikan dan siap dikafani. Inilah proses pengkafanan gaib.
Aku memeluk tubuhnya. Dingin.
Di luar, sumur di belakang rumah meraung keras, airnya berputar seperti pusaran, lalu menarik kain bertuliskan FARHAN itu masuk ke dalamnya. Tumbal diterima.
Sumur itu kenyang. Untuk malam ini.
Mbok Darmi dan Maya yang tadi kesurupan, langsung jatuh pingsan.
Aku sendirian, memeluk Farhan yang sudah menjadi mayat kafan.
Tapi cerita belum selesai.
Karena alat tenun itu, yang tadi sudah berhenti, bergerak lagi sendiri.
Kain baru muncul. Putih bersih.
Dan benang hitam mulai menenun nama baru dengan sendirinya, tanpa ada yang menggerakkan.
Aku melihat dengan ngeri, huruf demi huruf muncul:
M A Y A
Maya masih pingsan di lantai. Tubuhnya kejang.
Sumur itu belum kenyang. Dia masih minta satu lagi. Dua yang tersisa.
Aku harus selamatkan Maya.
Tapi bagaimana? Aku sudah kehilangan Farhan.
Aku menatap sumur di luar yang airnya mulai naik lagi.
Dan dari dalam sumur, aku mendengar suara Farhan, tapi bukan suara Farhan yang aku kenal. Suaranya berat, seperti dari dasar sumur.
"Selvi... giliran Maya..."
TAMAT BAB 16.
Jawabannya adalah...
Salah satu dari seluruh anggota KKN, "sukma jiwa"nya sudah dibawa...
Aku yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu belakang, hanya tersenyum saat melihat semua obor-obor itu. Namun, senyumanku terlihat datar oleh seluruh teman-teman KKN ku.
Aku (saya maksudnya, hehehe...) akhirnya berjalan santai menuju ke pintu balai desa yang terkunci. Lalu, kupejamkan kedua mataku. Dan mulai bicara dengan mereka semua yang ada di luar...
🤭🤭🤭
jadi selvi itu bukan tokoh utama? si selpi siapa? kenapa tiba-tiba muncul?
terus, bukannya sinta sama bima udah meninggal di sumur ya?
terus selvi itu KKN 98??😐