NovelToon NovelToon
TAKDIR DI BALIK SORBAN

TAKDIR DI BALIK SORBAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:738
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Aurel Nathania tidak pernah percaya bahwa hidup harus berjalan sesuai aturan orang lain. Di usia dua puluh satu tahun, ia menikmati kebebasan, sahabat, perjalanan spontan, dan kehidupan yang jauh dari lingkungan pesantren. Sampai ayahnya tiba-tiba menjodohkannya dengan Rasyid, ustadz muda sekaligus putra seorang kiai. Bagi Aurel, Rasyid adalah simbol segala sesuatu yang ingin ia hindari: aturan, nasihat, dan kehidupan yang terkekang. Namun Rasyid tidak pernah berniat mengubah istrinya dengan paksaan. Ia hanya berusaha menjadi teladan sambil memberinya ruang untuk memilih. Pernikahan yang dimulai dengan penolakan perlahan mempertemukan dua manusia berbeda yang sama-sama menyimpan luka, rahasia, dan ketakutan tentang arti sebuah keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 — PERUBAHAN KECIL

Pagi itu, sinar matahari hangat merayap pelan di atas genteng merah komplek Pesantren Al-Faruqi, membiaskan pendar keemasan di atas rerumputan yang masih basah oleh embun. Suara riuh rendah santri cilik yang baru selesai menyetorkan hafalan di halaman madrasah berpadu halus dengan desir angin dari arah kebun kelapa sawit.

Di koridor depan dapur utama, Aurel sedang berdiri memegang sebuah nampan kayu besar berisi puluhan piring plastik warna-warni bersi potongan kue basah dan gelas es teh hangat.

Aurel mengenakan tunik longgar berwarna abu-abu muda yang dipadu dengan celana kain hitam dan pasmina instan warna senada. Rambut bergelombangnya tertutup rapi, meski gaya berbusananya masih memperlihatkan sentuhan kepraktisan khas mahasiswi kota.

Sejak hari Minggu lalu saat ia memutuskan ikut mengajari anak-anak mewarnai, Aurel mulai lebih sering menghabiskan waktunya di lingkungan pesantren.

Bukan karena Rasyid memintanya atau merayunya dengan kata-kata manis.

Bukan pula karena ayahnya, Pak Hamdan, menelepon dan menuntutnya menjadi menantu idaman keluarga kiai.

Ia hanya merasa tempat ini... ternyata tidak seburuk atau semengerikan yang pernah ia bayangkan selama 21 tahun hidupnya. Dinding-dinding tinggi yang semula ia kira sebagai penjara, kini terasa seperti tempat berlindung yang tenang dari hiruk-pikuk kekecewaannya di luar sana.

Namun tentu saja, Aurel tetaplah Aurel. Ia tidak mendadak menjelma menjadi ustazah anggun yang bicara dengan bahasa Arab fasih atau berjalan dengan menundukkan kepala sejajar lantai.

"Aurel, tolong nampan kue yang ini dibawa ke pendopo samping ya, santri cilik yang kelas dua sudah selesai setor hafalan," panggil Nur Aini hangat dari dalam dapur.

"Siap, Bu!" sahut Aurel renyah.

Aurel mengangkat nampan itu dengan kedua tangannya, melangkah mantap menyeberangi pelataran paving block menuju pendopo.

Namun, baru beberapa langkah ia melangkah melintasi halaman, seorang santri cilik berusia sekitar enam tahun yang berlari kencang sambil mengejar temannya tanpa melihat jalan tiba-tiba menabrak pinggul Aurel dari samping.

Brak!

Anak kecil itu membalas dengan bunyi benturan pelan lalu terjungkal duduk di atas rumput. Nampan kayu di tangan Aurel sempat miring dan goyah, tetapi dengan ketangkasan refleksnya, Aurel berhasil menyeimbangkannya sehingga gelas-gelas teh di atasnya tidak tumpah.

Aurel berdehem pelan, meletakkan nampan kayu itu ke atas bangku semen terdekat, lalu berjongkok di hadapan anak kecil yang sedang mengusap jidatnya yang memerah tersebut.

Anak cilik itu mendongak, matanya yang bulat menatap Aurel dengan raut panik dan takut, membayangkan akan dimarahi oleh mbak-mbak pengurus pesantren.

Namun, alih-alih omelan, Aurel justru memiringkan kepalanya dan mengulas senyum tulus yang membuat lesung pipi tipisnya terlihat.

"Nggak apa-apa?" tanya Aurel halus, jemarinya mengusap lembut bekas merah di dahi anak itu.

Anak kecil itu mengepalkan tangannya di dada, lalu mengangguk pelan. "N-nggak apa-apa, Mbak..."

Aurel tertawa kecil, meraih seplastik kue bolu dari atas nampannya dan menyerahkannya ke tangan anak itu. "Lain kali kalau lari matanya dipasang di depan ya, bukan di lutut. Nih, kuenya dibawa. Jangan lari-lari lagi, nanti jatuh lagi."

Anak kecil itu menerima kue dengan mata berbinar-binar. "Terima kasih, Mbak cantik!" serunya kegirangan sebelum kembali berlari menghampiri teman-temannya di ujung lapangan.

Aurel berdiri kembali, mengibaskan debu tipis di celana kainnya, lalu mengoleskan senyum tipis yang tak kunjung pudar dari bibirnya saat memandangi anak-anak cilik yang berlarian itu.

Tanpa Aurel sadari, beberapa puluh meter di seberang lapangan—di bawah naungan pohon mahoni yang rindang—dua orang sedang memperhatikan gerak-geriknya sejak tadi.

Rasyid berdiri bersandar di pilar kayu pendopo utama. Pria itu mengenakan baju koko katun warna putih bersih, sarung tenun hijau gelap, dan peci hitam polos. Di tangannya, ia memegang sebuah mushaf Al-Qur'an kecil.

Mata cokelat gelap milik Rasyid terkunci rapat pada sosok Aurel. Melihat bagaimana istrinya yang dulu amat keras kepala kini begitu telaten dan lembut berinteraksi dengan santri cilik tanpa ada paksaan sedikit pun, sebuah kurva senyum tipis—begitu hangat dan amat tulus—terukir perlahan di bibir Rasyid.

Salma yang baru saja selesai membawa tumpukan buku pelajaran berjalan mendekati kakaknya. Ia menyenggol lengan Rasyid pelan memakai sikutnya, menyadari arah pandangan mata sang kakak.

"Kak Rasyid..." goda Salma dengan nada berbisik yang amat jahil. "Senyum-senyum sendiri liatin Mbak Aurel."

Rasyid tersentak pelan dari lamunannya. Pria itu berdehem pendek, langsung menegakkan posisi berdirinya, lalu membuang pandangannya ke arah kitab di tangannya seraya merapikan letak pecinya.

"Aku tidak tersenyum," sahut Rasyid datar, mencoba mempertahankan wibawa suaranya.

"Bohong!" seru Salma seraya menyeringai lebar. "Jelas-jelas tadi senyumnya lebar banget sampai matanya agak menyipit! Ngaku aja deh, Kak Rasyid makin makin meleleh kan liat Mbak Aurel?"

Rasyid menggelengkan kepalanya pelan, menatap adik bungsunya itu dengan pandangan berpura-pura tegas yang tidak mempan sama sekali. "Salma, jangan suka menggoda kakakmu. Cepat bawa bukunya ke madrasah."

Salma menjulurkan lidahnya geli, lalu berjalan mendahului Rasyid seraya tertawa renyah. "Iya, iya, Bu Ustadz! Tapi nanti malam kalau di kamar jangan lupa dibilang ke Mbak Aurel ya kalau Mas Rasyid bangga!"

Rasyid memandangi langkah Salma yang menjauh, lalu pandangannya kembali terlempar ke arah lapangan—menatap sosok Aurel yang kini sedang tertawa bersama beberapa santriwati putri di dekat pendopo.

Rasyid memegang dadanya sendiri, merasakan detak jantungnya yang berdesir hangat dan begitu tenang. Senyum kecil yang tadi sempat ia sembunyikan kini kembali muncul di wajahnya—sebuah senyuman penuh syukur atas keindahan takdir yang pelan-pelan sedang mekarkan bunga kebahagiaan di antara mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!