NovelToon NovelToon
Dipaksa Menikahi Pewaris Lumpuh Ternyata Penguasa Grup Terkaya

Dipaksa Menikahi Pewaris Lumpuh Ternyata Penguasa Grup Terkaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Perjodohan
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sinyo widi Official

Alena Wijaya, 24 tahun, tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah total hanya karena satu tanda tangan di atas kertas. Perusahaan keluarganya di ambang kebangkrutan setelah ayahnya terjerat masalah bisnis yang tidak lagi bisa ditutupi, dan satu-satunya jalan keluar datang dari pihak yang paling tidak ia duga: keluarga Mahardika, salah satu konglomerat terbesar di negeri ini.
Syaratnya sederhana di atas kertas—Alena harus menikahi Adrian Mahardika, putra sulung yang dikenal publik sebagai pewaris lumpuh sejak kecelakaan dua tahun lalu. Satu tahun menikah, utang lunas, lalu bercerai baik-baik. Tidak ada cinta yang diminta, hanya status di depan dewan direksi dan media.
Alena datang ke rumah keluarga Mahardika dengan satu niat sederhana: bertahan selama setahun, lalu pergi tanpa menoleh ke belakang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinyo widi Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LALU KENAPA PINTU ITU TIBA TIBA TERBUKA

"Kamu yakin mau ikutin instruksi dari orang yang bahkan kita nggak tahu identitasnya?"

Adrian menatap Alena dengan raut wajah campur aduk—khawatir, tapi juga tidak punya pilihan lain yang lebih baik. Mereka berdua duduk di dalam mobil, terparkir di ujung jalan yang gelap, menunggu instruksi selanjutnya dari nomor misterius itu.

"Kita udah nggak punya banyak pilihan, Adrian. Lagipula, kalau dia beneran mau celakain kita, dia nggak perlu repot-repot ngasih petunjuk kayak gini."

"Atau justru itu yang dia mau kita pikir," Adrian membalas, suaranya waspada. "Bisa aja ini jebakan buat mancing kita keluar rumah, jauh dari pengamanan."

"Kalau kamu takut, kita bisa balik aja," Alena menawarkan, meski nada suaranya jelas menunjukkan dia sendiri tidak benar-benar ingin berbalik arah.

Adrian menghela napas, menggenggam tangan Alena lebih erat. "Bukan takut buat diriku sendiri. Aku cuma nggak mau kamu ikut kena risiko dari semua ini."

"Aku udah bilang berkali-kali, Adrian. Aku ikut, apa pun risikonya."

Ponsel Adrian bergetar. Pesan baru.

"Ikuti mobil sedan abu-abu yang baru keluar dari gerbang belakang rumah kalian lima menit lalu. Jangan terlalu dekat."

Adrian segera menginstruksikan sopirnya untuk mengekor dari jarak aman. Jantung Alena berdebar kencang, tangannya menggenggam erat tangan Adrian di kursi belakang mobil.

Mobil sedan abu-abu itu melaju menuju kawasan pergudangan tua di pinggiran kota, area yang jarang dilalui kendaraan pada malam hari. Setelah beberapa kali berbelok, mobil itu akhirnya berhenti di depan sebuah gudang tak terpakai, lampu-lampunya temaram, hanya diterangi satu bohlam kuning di depan pintu masuk.

"Itu mobil siapa?" bisik Alena, meski tahu Adrian juga belum pasti jawabannya.

"Aku belum bisa lihat jelas platnya dari sini."

Mereka memerintahkan sopir berhenti agak jauh, lalu turun perlahan, berjalan mengendap-endap mendekati gudang itu dengan hati-hati. Adrian, meski menggunakan kursi rodanya, bergerak dengan kewaspadaan seorang yang sudah lama terbiasa menghadapi situasi berbahaya diam-diam.

Dari balik tumpukan peti kayu tua di luar gudang, mereka mengintip lewat celah jendela yang kacanya sudah pecah sebagian. Bau debu dan besi berkarat menyeruak tajam, bercampur dengan aroma tanah lembap khas gudang yang lama tak terpakai.

Di dalam, seorang pria berdiri membelakangi mereka, sedang berbicara serius dengan sosok lain yang duduk di kursi, wajahnya tidak terlihat jelas karena bayangan lampu temaram.

"...udah aku siapin semua. Tinggal tunggu waktu yang tepat buat serahin ke pihak media," suara pria yang berdiri itu terdengar familiar bagi Alena, meski ia belum bisa memastikan siapa pemiliknya.

"Jangan gegabah," jawab suara satunya, lebih tenang dan berwibawa. "Kalau ketahuan sebelum waktunya, semua rencana kita bisa berantakan."

Adrian menahan napas, mencoba mengenali suara-suara itu lebih jelas. Tiba-tiba, pria yang berdiri itu berbalik sedikit, cahaya lampu menyorot wajahnya sekilas.

Alena tersentak, hampir tidak percaya dengan apa yang ia lihat.

"Itu—" bisiknya, suaranya tercekat, "itu kepala tim investigasi kamu, Adrian."

Wajah Adrian mengeras, campuran antara marah dan terkhianati yang mendalam. Pria yang selama ini ia percaya penuh untuk mengungkap kebenaran soal kecelakaannya, ternyata diam-diam bertemu seseorang di tempat tersembunyi seperti ini, membicarakan sesuatu yang jelas tidak boleh diketahui siapa pun.

"Siapa yang dia temuin?" bisik Alena, mencoba mengintip lebih jelas ke arah sosok satunya yang masih tersembunyi bayangan.

Sebelum Adrian sempat menjawab, ponselnya kembali bergetar. Pesan baru dari nomor misterius.

"Sekarang kalian lihat sendiri. Tapi jangan gegabah masuk sekarang. Tunggu sampai mereka selesai, lalu ikuti orang yang duduk itu. Dia yang akan tunjukkan siapa dalang sebenarnya."

Alena dan Adrian saling pandang, keduanya sama-sama tegang menunggu momen yang tepat.

Beberapa menit kemudian, pertemuan di dalam gudang itu berakhir. Kepala tim investigasi keluar lebih dulu, tergesa masuk ke mobil sedan abu-abu dan melaju pergi. Sosok satunya menunggu beberapa saat sebelum akhirnya bangkit dari kursinya, berjalan menuju pintu belakang gudang yang lebih tersembunyi.

Adrian dan Alena mengendap mendekat, berusaha melihat lebih jelas sosok itu saat keluar dari bayangan lampu temaram menuju cahaya bulan yang lebih terang di luar gudang.

Begitu sosok itu sepenuhnya terlihat, Alena merasakan dadanya mencelos, sementara Adrian membeku total di tempatnya, tidak sanggup mempercayai apa yang baru saja ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri.

Bukan Wirawan.

Bukan pula orang asing yang tidak mereka kenal.

Melainkan Pak Bram—kepala staf rumah tangga yang sudah mengabdi pada keluarga Mahardika sejak Adrian masih kecil, orang yang selama ini selalu tampak paling setia dan paling dipercaya di antara semua orang di rumah besar itu.

"Pak Bram?" bisik Alena tidak percaya, menatap Adrian yang wajahnya kini benar-benar pucat pasi, seolah dunia yang selama ini ia yakini stabil baru saja runtuh dalam hitungan detik.

"Nggak mungkin," gumam Adrian, suaranya nyaris hilang, "Pak Bram udah kerja sama keluargaku dari sebelum aku lahir. Dia yang gendong aku waktu kecil tiap kali orang tuaku sibuk kerja. Dia yang selalu ada di setiap momen penting hidupku."

"Adrian," Alena menggenggam tangannya, mencoba menenangkan, "mungkin ada penjelasan lain. Mungkin dia juga korban, sama kayak kita."

"Atau mungkin," suara Adrian bergetar antara marah dan sedih, "dia orang yang paling gampang dipercaya justru karena dia tahu persis gimana caranya bikin orang percaya sepenuhnya sama dia."

Sebelum Adrian sempat bereaksi lebih jauh, pintu gudang di depan mereka tiba-tiba terbuka lebar, menampakkan sosok Pak Bram yang berdiri tegak menatap langsung ke arah tempat persembunyian mereka, seolah sudah tahu sejak awal bahwa mereka berdua mengintainya dari balik tumpukan peti kayu itu.

"Tuan Muda," suara Pak Bram terdengar tenang, terlalu tenang untuk situasi seperti ini, "saya sudah menunggu Anda datang."

Alena merasakan jantungnya berdegup kencang, tangannya refleks mencengkeram lengan Adrian. Suasana malam yang sudah mencekam sejak awal, kini terasa jauh lebih berbahaya dari yang mereka duga—karena orang yang berdiri di depan mereka bukan lagi orang asing yang bisa mereka waspadai dari jauh, melainkan seseorang yang selama bertahun-tahun sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Adrian sendiri.

Angin malam berembus pelan melewati celah-celah gudang tua itu, membawa kesunyian yang terasa jauh lebih mencekam daripada suara apa pun yang bisa terdengar malam itu. Alena menatap Adrian, mencoba mencari kekuatan di matanya, tapi yang ia temukan justru sama—ketakutan yang sama besar seperti yang ia rasakan sendiri.

"Apa yang harus kita lakuin sekarang?" bisik Alena, suaranya nyaris tak terdengar.

Adrian tidak menjawab. Matanya masih terpaku pada sosok Pak Bram yang berdiri tenang di ambang pintu gudang, seolah menunggu dengan sabar sampai mereka berdua memutuskan untuk keluar dari persembunyian, atau justru berbalik pergi tanpa sempat mendengar penjelasan apa pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!