NovelToon NovelToon
Aku Hamil Anak Raja Vampir

Aku Hamil Anak Raja Vampir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:288
Nilai: 5
Nama Author: Latief_ayra

hiduplah seorang penyihir cantik yang bernama Elizabeth bertemu dengan raj vampir .dan dia diam" mngandung ada vampir . sampai dia Terusir oleh ayahnya sendiri .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Latief_ayra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

eps 1

Di dalam hutan kuno yang udaranya selalu dingin dan berbau daun busuk, tersembunyi sebuah gua gelap yang dindingnya penuh dengan ukiran kuno. Di sana, enam orang berdiri melingkar . para penyihir tua dan pejabat tinggi sekte sihir.

Di tengah-tengah mereka, digantung kedua tangannya di rantai besi dingin, seorang wanita muda terbaring di udara. Gaunnya robek, wajahnya pucat namun matanya tetap tegar menatap ayahnya sendiri.

Ia dihukum karena satu dosa , hamil anak vampir.

Dosa yang dianggap paling keji .

mengkhianati jenisnya sendiri, melanggar sumpah setia yang diucapkan di depan altar sihir, dan membawa benih kegelapan ke dalam dunia manusia.

Ayahnya, seorang Magister Agung yang disegani semua orang, melangkah maju dengan wajah penuh kemarahan dan kekecewaan. Jubah kebesarannya berkibar tertiup angin dari mulut gua.

"Kau seorang putri Magister!" suaranya menggelegar, bergema di dinding batu. "Kau dilahirkan dengan kekuatan, dididik untuk melindungi umat manusia! Tapi kau tidur dengan musuh bebuyutan kita .

seorang vampir! Itu bukan sekadar kesalahan... itu pengkhianatan!"

Wanita itu mengangkat wajahnya, darah menetes dari sudut bibirnya. "Aku tidak mengkhianati siapa-siapa... aku hanya mencintainya."

"Berani kau membela makhluk itu?!" Ayahnya menyambar cambuk yang terbuat dari akar pohon beracun. "Kandungan itu adalah noda yang harus dibasmi! Hari ini aku akan menghancurkan benih iblis itu... dan mungkin kau akan sadar!"

Tanpa ampun, ia mengayunkan cambuk itu. Ujungnya bercahaya ungu gelap. penuh kekuatan sihir yang menyakitkan.

"SRETT!"

Cambuk itu mendarat tepat di perut putrinya. Wanita itu menjerit kesakitan, tubuhnya melengkung ke depan, rantai besi berdentang keras. Cahaya ungu merambat di kulitnya, membakar dan menyakiti bukan hanya tubuhnya, tapi juga kekuatan sihir di dalam darahnya.

"Akui dosamu! Tinggalkan kandungan itu!" bentak ayahnya sambil menarik cambuk kembali.

" Tidak... tidak akan..." wanita itu menahan sakit, air mata bercampur keringat dan darah. "Ini anakku... aku tidak akan menyerahkannya..."

Ayahnya mengangkat cambuk sekali lagi, matanya menyala marah.

Ayahnya tidak berhenti. Setiap kali cambuk itu mendarat di kulit putrinya yang lembut, ia membentak dengan suara gemuruh penuh amarah.

"Siapa dia?! Siapa vampir yang berani menodai putriku?!"

"SRETT!"

"Siapa dia?!!"

Cambuk kembali mendarat, kali ini di bahu wanita itu. Darah segar mulai merembes keluar.

"Katakan namanya! Di mana dia bersembunyi?!" bentaknya lagi, tangan memegang cambuk gemetar karena emosi. "Apakah dia bangsawan? Pemimpin klan? Atau sekadar vampir rendahan yang memanfaatkan kebodohanmu?!"

Wanita itu terengah-engah, keringat dan darah bercucuran di wajahnya yang pucat. Setiap sergapan rasa sakit di perutnya membuatnya menahan napas, tapi ia tetap mengangkat kepala, menatap ayahnya lurus-lurus.

"Aku tidak tahu, Ayah..." jawabnya lemah namun teguh. "Aku sungguh tidak tahu..."

"BERBOHONG!" Ayahnya meledak, mencambuk lagi dengan kekuatan sihir yang lebih besar. "Bagaimana bisa kau mengandung anaknya tanpa tahu siapa ayahnya?! Katakan!"

"Aku tidak berbohong..." isaknya pelan, air mata jatuh membasahi pipi. "Kami bertemu dalam kegelapan... wajahnya tertutup bayang-bayang. Dia tidak pernah menyebut namanya. Aku bahkan tidak tahu apakah dia tahu aku hamil..."

Suaranya perlahan mengecil. Ia tidak berbohong

malam itu penuh kabut dan misteri. Yang ia ingat hanyalah sepasang mata merah menyala, bisikan lembut, dan janji yang tak pernah sempat ditepati.

Ayahnya berhenti sejenak, napasnya memburu, menatap putrinya dengan tatapan bingung sekaligus marah. "Tidak tahu namanya... tidak tahu asal-usulnya... dan kau rela mengorbankan nyawamu untuk seseorang yang bahkan tidak kau kenal?!"

"Aku mencintainya..." jawabnya lirih. "Dan anak ini... tidak bersalah."

Ayahnya menggenggam cambuk itu erat-erat, buku jarinya memutih. Di matanya, perang antara kemarahan dan belas kasih mulai terjadi, tapi prinsipnya sebagai Magister Agung lebih kuat.

"Kalau begitu kau akan bawa rahasia itu ke liang lahat!" ancamnya, mengangkat cambuk sekali lagi dengan kekuatan sihir yang berkilauan mengancam nyawa.

Kembali ke Awal .

di Malam Penaklukan di Bawah Bulan Purnama

Malam itu hujan turun rintik-rintik, membasahi dedaunan hutan kuno. Namun langit tidak sepenuhnya gelap .

bulan purnama bersinar terang benderang, memancarkan cahaya keperakan yang menyelimuti hutan itu seperti kain tipis.

Di tengah ladang bunga liar yang basah, Elisabet berdiri sendirian. Ia menari pelan di bawah cahaya bulan, tangan-tangannya bergerak anggun melambungkan sihirnya. Bunga-bunga ikut mekar saat ia melintas, embun melayang di udara, dan cahaya perak berkilauan mengelilingi tubuhnya.

"Indah sekali..." bisiknya kagum pada kekuatan yang mengalir di darahnya.

Tiba-tiba udara berubah dingin. Angin berhenti berhembus. Dari langit yang bersih, perlahan turun sesosok pria yang sangat tampan . seolah tidak menyentuh tanah sedikit pun. Pakaiannya hitam legam, rambutnya gelap berkilauan terkena cahaya bulan, dan wajahnya sempurna namun dingin seperti pualam.

Elisabet berhenti menari, jantungnya berdebar kencang.

"Siapa di sana?!" serunya waspada, lalu dengan cepat melambaikan tangan. Bola cahaya perak melesat cepat ke arah pria itu.

Pria itu tidak menghindar. Ia hanya tersenyum tipis , senyum yang menawan namun menyimpan bahaya. Cahaya itu lenyap sebelum menyentuh tubuhnya, seolah ditelan kegelapan.

"Kekuatan yang cantik..." suaranya berat dan dalam, terdengar tepat di belakang telinga Elisabet.

Elisabet tersentak ... pria itu sudah berdiri di belakangnya! Ia bahkan tidak melihatnya bergerak!

Sebelum Elisabet sempat berbalik, dua taring tajam menancap lembut namun pasti di lehernya.

"Aahh..." Elisabet terengah, tubuhnya lemas seketika. Panas dan dingin bercampur merambat di pembuluh darahnya. Bukan rasa sakit , melainkan rasa pusing yang memabukkan, seolah semua pertahanan sihirnya runtuh begitu saja.

Itulah sihir vampir. Kesadaran Elisabet mulai kabur, pandangannya buram, tapi perasaannya justru makin kuat. Ia tidak merasa takut . justru merasa ditarik mendekat, seolah ada ikatan tak kasat mata yang menyatukan mereka.

Pria itu melepaskan gigitannya perlahan, lalu memutar tubuh Elisabet agar menghadapnya. Tanpa kata, ia merangkul pinggang gadis itu erat, menariknya ke dalam pelukan yang dingin namun kokoh.

"Mulai sekarang..." bisiknya di bibir Elisabet, matanya merah menyala menatap lurus ke dalam jiwanya, "kamu milikku."

Elisabet tidak menolak. Ia terhanyut, tangan lemahnya naik dan melingkar di leher pria itu. Di bawah bulan purnama yang indah itu, di tengah hujan yang mulai turun deras, mereka berpelukan erat . penyihir dan vampir, dua dunia yang saling membenci, terikat dalam satu malam yang tak akan pernah dilupakan.

Sisa malam itu berlalu dalam kehangatan yang aneh , dua makhluk dari dunia yang saling bermusuhan, justru bersandar satu sama lain di bawah cahaya bulan yang tak pernah redup. Tidak ada banyak kata, tapi kehadirannya sudah cukup membuat Elisabet merasa aman, seolah perlindungan yang ia butuhkan selama ini ada di pelukan pria itu.

Namun saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur, cahaya keemasan menyelinap di antara pepohonan, pria itu tahu ia harus pergi sebelum matahari naik sepenuhnya.

Ia bangkit perlahan, tidak ingin membangunkan Elisabet yang masih terlelap damai. Dengan tatapan penuh kerinduan yang dalam, ia menatap wajah gadis itu lama sekali. Lalu ia mengeluarkan sebuah kalung dari jubahnya , rantai perak kunci yang dihiasi batu merah delima yang memancar lembut.

Ia memakaikan kalung itu sendiri ke leher Elisabet, lalu membisikkan pelan di telinganya, "Kalung ini akan melindungimu dari bahaya dan sihir jahat. Setiap kali kau menyentuhnya, ingatlah... aku selalu ada, walau kau tak melihatku."

Pria itu melangkah mundur, lalu perlahan menghilang di balik kabut pagi yang tebal, tanpa menoleh lagi.

Ketika Elisabet terbangun, matahari sudah tinggi. Tubuhnya terasa ringan, hatinya penuh, tapi tempat di sampingnya sudah kosong. Ia duduk tergesa-gesa, mencari sosok itu di sekelilingnya .tidak ada siapa-siapa. Hanya kabut tipis dan suara burung yang bersahutan.

Namun saat ia menunduk, melihat kalung merah delima di lehernya, jantungnya berdebar kencang. Ia menyentuh batu permata itu .

terasa hangat di kulitnya, seolah menyimpan sisa kehangatan tubuh pria itu.

"Jangan khawatir..." bisiknya pelan sambil tersenyum sedih namun lembut. "Aku akan menjaganya. Dan aku akan menunggumu."

Elisabet berdiri, menyeka sisa air mata yang belum jatuh, lalu berjalan pulang membawa kalung itu tersembunyi di balik pakaiannya — rahasia terindah sekaligus paling berbahaya yang kini ia simpan sendirian.

kembali dimana ayahnya Elizabeth mencambuk nya .

Cambuk bercahaya ungu itu kembali melesat ke arah perut Elisabet. Ayahnya sudah siap menghancurkan benih "iblis" itu dalam satu sergapan.

Tapi saat ujung cambuk itu hampir menyentuh kulitnya, sesuatu yang aneh terjadi.

"ZWAARRR!"

Seberkas cahaya merah delima menyambar dari balik pakaian Elisabet, membentuk perisai tak kasat mata di sekeliling tubuhnya. Cambuk itu memantul kembali seolah menabrak dinding batu keras, dan ayahnya sendiri terhuyung mundur karena benturan kekuatan itu.

"Apa ini?!" seru ayahnya kaget, memegangi tangan yang kesemutan. Ia melangkah maju lagi, mencoba sekali lagi dengan kekuatan sihir yang lebih besar.

Tapi hasilnya sama. Setiap kali serangan sihirnya hampir menyentuh perut Elisabet, cahaya merah delima itu berkilat pelan namun pasti, menangkis segala bahaya sebelum sempat melukai ibu maupun janin di dalamnya.

Elisabet sendiri baru sadar. Ia menyentuh dada bagian dalam, tempat kalung itu tersembunyi. Batu merah delima di balik bajunya terasa sangat panas, berdenyut lembut seolah ada jantung lain yang berdetak di sana.

"Kalung itu..." batinnya terharu. "Dia menepati janjinya. Dia melindungi kami berdua."

Ayahnya yang kebingungan mulai curiga. Ia melangkah mendekat, menyambar kerah baju putrinya dan merobek sedikit kainnya. Matanya membelalak melihat benda yang tersembunyi itu.

"Kalung ini... dari mana kau dapat?!" bentaknya, mata terbelalak mengenali tanda ukiran kunci di perak itu. "Ini bukan barang sihir manusia! Ini lambang klan tertinggi kaum vampir! Katakan! Siapa yang memberikannya padamu?!"

Elisabet menutup mata, menahan rasa sakit sekaligus rasa syukur. "Aku tidak tahu namanya... tapi dia melindungi anaknya. Dan aku tidak akan pernah melepaskan kalung ini."

Ayahnya gemetar bukan karena takut, tapi karena marah. Kalung itu berarti pria yang menghamili putrinya bukan vampir sembarangan — seseorang yang berkuasa, seseorang yang dikagumi dan ditakuti sekaligus.

"Kau membawa bencana besar..." desis ayahnya, napasnya memburu. "Kalau klan itu tahu anaknya ada di dalam perutmu, dunia kita akan hancur!"

Melihat kekuatan kalung itu dan keteguhan hati Elisabet, ayahnya sadar , tidak ada yang bisa mengubah keputusan putrinya, dan tidak ada kekuatan yang bisa menghancurkan kandungan itu. Kalung itu melindunginya terlalu kuat.

Dengan wajah merah padam karena kemarahan dan rasa malu, ayahnya melangkah mundur, menatap putrinya seolah melihat orang asing.

"Karena kau memilih jalan itu..." suaranya bergetar dingin, "mulai saat ini, kau bukan lagi putriku. Kau bukan lagi bagian dari kaum penyihir. Sihirmu, namamu, dan segala hakmu di sini... aku cabut semuanya."

Elisabet terkejut, air mata langsung mengalir deras. "Ayah... jangan lakukan ini..."

"Pergi!" bentaknya keras, menunjuk ke arah mulut gua. "Pergi dan jangan pernah kembali! Biarkan kau hidup di dunia yang kau pilih , dunia kegelapan. Dan jangan pernah bilang kau ini anakku!"

Rantai yang mengikat tangan Elisabet terlepas seketika, bukan karena belas kasih, tapi karena ayahnya tidak mau lagi menyentuhnya. Elisabet jatuh berlutut di tanah batu, tubuhnya lemas, perih di perut dan bahunya masih terasa, tapi hatinya jauh lebih sakit.

Para tetua penyihir yang berdiri di sekeliling hanya diam, tidak ada yang berani membela. Semua menatapnya dengan tatapan kecewa sekaligus jijik.

Elisabet berdiri perlahan, menahan tubuhnya yang masih lemah. Ia menyentuh kalung merah delima di lehernya . satu-satunya hal yang tersisa. Dengan langkah gontai dan penuh luka, ia berjalan keluar dari gua itu sendirian.

Di belakangnya, suara ayahnya terdengar terakhir kali. "Dan ingat... kalau anak itu lahir, dia tidak akan diterima di mana pun. Manusia takut padanya, vampir akan memanfaatkannya. Kau sedang membawa kutukan!"

Elisabet tidak menoleh. Ia melangkah keluar menuju hutan belantara yang gelap dan dingin — tidak punya rumah, tidak punya keluarga, tidak punya siapa-siapa. Hanya ada dirinya, janin yang tumbuh di dalam perutnya, dan kalung pelindung dari pria yang bahkan tidak tahu namanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!