NovelToon NovelToon
Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Status: sedang berlangsung
Popularitas:31
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Arga Bayu Pratama, mantan prajurit Kopassus, terbangun di kamar kosnya yang sempit.
Tanggal di ponselnya: 10 November 2040 — dua hari sebelum kiamat.
Di kehidupan sebelumnya, ia bertahan selama enam tahun di dunia yang hancur. Ia menyaksikan hujan api menghujani kota, zombie berkeliaran di jalanan, dan manusia saling membunuh demi segenggam beras. Ia mati sendirian, tanpa apa-apa, tanpa siapa-siapa.
Tapi sekarang ia kembali. Dengan seluruh ingatan masa depan di kepalanya. Dan satu kekuatan baru yang membuatnya bisa mendengar pikiran setiap orang di sekitarnya.
"Kali ini, aku tidak akan menjadi yang paling lemah."
Sambil membeli puluhan karung beras, air mineral, dan gas elpiji sebelum dunia runtuh, Arga mulai menyusun rencana: membangun tim terkuat, menguasai kota, dan mencari tahu siapa — atau apa — yang sebenarnya menyebabkan kiamat ini.
Karena kiamat bukan kebetulan. Seseorang sedang menonton dari atas sana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 004 - Hujan Api

"Hujan Api," bisik Arga. "Akan datang."

Ia tidak menunggu langit benar-benar merah.

Dalam kehidupan sebelumnya, banyak orang mati karena lambat satu langkah. Mereka menatap fenomena aneh terlalu lama, merekam video, berdebat di grup chat, lalu sadar kulit mereka sudah melepuh.

Arga bergerak.

Ia menarik semua tirai tebal sampai menutup kaca. Sofa didorong menjauh dari jendela. Dus makanan yang dekat balkon servis ia geser ke ruang tengah. Tabung gas tetap di tempatnya, tapi ditutup kain basah dan dijauhkan dari cahaya langsung. Setelah itu ia masuk kamar mandi dan membuka semua keran.

Air mengalir deras ke bathtub.

Bak cuci tangan.

Ember hotel.

Wadah plastik.

Botol kosong.

Apa pun yang bisa menampung air, ia isi.

Pukul 23.11, warna merah di langit meledak.

Tetes pertama jatuh ke kaca.

TSSSS!

Suara itu kecil, tapi membuat bulu kuduk orang biasa berdiri. Bekas tetesan merah meninggalkan garis kusam di permukaan kaca, seperti besi panas menyentuh es.

Lalu Hujan Api turun.

Langit menurunkan hujan merah pekat, panas, dan asam. Dalam beberapa menit, uap putih naik dari permukaan banjir yang menutup kota. Air hitam di bawah hotel mendidih di beberapa titik. Atap mobil yang masih mengapung mengeluarkan asap. Papan reklame meleleh pelan di bagian pinggirnya.

Jeritan di koridor langsung pecah.

"Panas! Panas!"

"Kulitku! Tolong!"

"Buka pintunya! Ada air di dalam, kan? Buka!"

Seseorang berlari menabrak dinding. Ada suara tubuh jatuh, kuku menggaruk karpet, lalu makian yang berubah menjadi tangis.

Arga menutup pintu kamar mandi.

Handuk basah disumpalkan ke celah bawah pintu. Satu senter kecil ia letakkan di atas wastafel, menghadap langit-langit agar cahaya menyebar lembut. Bathtub sudah hampir penuh.

Ia masuk ke dalam air dengan pakaian tipis.

Dingin menggigit kulitnya.

Bagus.

Dalam satu jam, dingin ini akan berubah menjadi hangat. Dalam beberapa jam, ia harus mengganti air sedikit demi sedikit agar tubuhnya tidak matang pelan-pelan.

Suhu ruangan naik cepat.

AC sudah mati sejak banjir hari kedua. Dinding suite yang sebelumnya terasa kokoh kini menyimpan panas seperti tungku. Kaca di luar kamar mandi berkali-kali berderak. Dari balik pintu, suara koridor tidak lagi penuh ancaman. Hanya penderitaan.

"Pak Arga... tolong..."

Suara itu lemah.

Arga mengenalinya. Salah satu pria yang kemarin memikirkan cara mendorong masuk begitu pintu terbuka.

Sekarang pikirannya kacau, putus-putus.

Air... cuma perlu air... aku tidak mau mati...

Arga menatap permukaan air di bathtub. Tangannya tetap diam.

Kasihan adalah emosi mahal.

Di akhir zaman, orang miskin emosi seperti itu biasanya hidup lebih lama.

Ia mengambil buku catatan kecil yang sudah dibungkus plastik bening. Dengan pulpen, ia menulis di halaman baru.

Hujan Api. Hari pertama. Air bathtub penuh. Wadah cadangan 80 persen. Konsumsi minum dikurangi. Tidak buka pintu.

Setelah itu, ia menutup mata.

Tidur tidak benar-benar datang. Hanya potongan istirahat singkat di antara panas yang menekan dan suara orang-orang sekarat di luar.

Hari pertama berlalu lambat.

Pada siang hari, udara di suite mencapai titik yang membuat napas terasa berat. Arga keluar dari bathtub hanya saat perlu mengambil makanan dan memeriksa pintu. Lantai ruang tengah panas di telapak kaki. Ia berjalan cepat, mengambil makanan kaleng, sebotol Aqua, lalu kembali ke kamar mandi.

Di depan pintu suite, ada bekas pukulan baru.

Tidak kuat.

Orang-orang di luar sudah tidak punya tenaga untuk membobol apa pun.

Menjelang malam, ia membuka sedikit pintu kamar mandi. Bau panas, keringat, dan sesuatu yang terbakar masuk seperti pukulan. Koridor sunyi, tapi Telepati masih menangkap beberapa pikiran samar dari orang yang bertahan di lantai jauh.

Jangan tidur...

Haus...

Mama...

Arga menutup pintu lagi.

Wajahnya tidak berubah.

Namun genggamannya pada botol Aqua mengeras sekejap.

Ia pernah berada di sisi lain pintu. Pernah menjadi orang yang haus, lemah, dan berharap ada seseorang membuka ruang aman. Tidak ada yang membuka. Karena itulah ia belajar: keselamatan yang tidak kau bangun sendiri akan selalu berada di tangan orang lain.

Dan tangan orang lain bisa menarikmu ke neraka.

Hari kedua, air dalam bathtub mulai terasa hangat terlalu cepat.

Arga menguras seperempatnya, mengganti dengan air dari wadah cadangan. Ia tidak boros. Setiap liter dihitung. Setiap kain basah diperas kembali ke ember. Makanan yang dimakan adalah makanan kaleng asin secukupnya, bukan Indomie, karena garam berlebih akan membuatnya lebih haus.

Ia mengatur napas. Bergerak sedikit. Bicara tidak perlu.

Di luar, Semarang menjadi dunia merah.

Saat ia membuka celah tirai sebentar dengan tangan berbalut kain basah, kota itu tampak seperti bekas letusan gunung raksasa. Uap mengepul dari permukaan banjir. Cat gedung mengelupas. Pohon-pohon yang masih muncul di atas air berubah hitam. Beberapa mayat mengambang terbakar sebagian oleh hujan merah, lalu tenggelam kembali.

Arga menutup tirai.

Hujan Api bukan bencana untuk disaksikan.

Itu bencana untuk dihormati dengan cara bertahan hidup.

Malam kedua, ia mulai menyusun rencana keluar.

Kertas dari buku catatan ditempel di lantai kamar mandi yang kering sebagian. Arga menggambar garis sederhana.

Hotel.

Jalan menuju Tembalang.

UNDIP.

Gedung olahraga.

Jarak dari hotel ke kawasan UNDIP sekitar tiga kilometer lebih. Dalam kondisi normal, ojek online bisa membawa seseorang dalam belasan menit. Dalam kondisi setelah banjir dan Hujan Api, jalan akan dipenuhi kendaraan mati, puing, mayat, lumpur panas, dan manusia putus asa.

Berjalan kaki: empat puluh lima menit jika jalur bersih.

Realistis: satu jam lebih.

Terlalu lama jika bergerak setelah Zombie turun.

Karena itu ia harus keluar sebelum tengah malam pada hari ketujuh. Hujan Api berhenti, ada jeda sebelum Hujan Zombie pertama benar-benar memenuhi tanah. Lalu pada pagi berikutnya, pukul 09.00, Airdrop Box pertama turun.

Di UNDIP, dekat gedung olahraga, akan ada satu Airdrop Box Legendaris.

Kehidupan sebelumnya, Arga melihat kotak itu dari jauh.

Saat itu ia bukan siapa-siapa. Hanya orang kelaparan dengan pisau dapur berkarat. Ia bersembunyi di balik tembok retak, menatap sekelompok Evolver awal membuka kotak itu. Cahaya biru keemasan memancar ke langit. Mereka tertawa seperti pemenang dunia.

Salah satu dari mereka memakai Combat Suit dari kotak itu.

Satu lagi menyelipkan Cincin Dimensi ke jari.

Mereka pergi dengan makanan, senjata, Antidot, dan Serum Evolusi Tingkat Tinggi.

Arga waktu itu hanya menggigit bibir sampai berdarah, lalu berlari sebelum Zombie mencium keberadaannya.

Tiga bulan kemudian, ia mendengar kabar. Orang yang meminum serum dari kotak itu menjadi Evolver awal paling kuat di Semarang.

Kali ini, kotak itu miliknya.

Hari ketiga, tubuh Arga mulai terasa berat.

Panas menguras tenaga bahkan ketika ia tidak banyak bergerak. Bibirnya kering. Mata perih. Pakaian tipisnya terus basah oleh air dan keringat. Ia memaksa diri makan, minum dalam takaran kecil, lalu tidur sepuluh menit, bangun, memeriksa suhu air, dan mengulang.

Tidak ada kepanikan.

Hanya prosedur.

Itulah keunggulan orang yang pernah mati sekali.

Ketika orang lain berdoa agar bencana berhenti, Arga menghitung kapan bencana berikutnya memberi celah.

Pukul 23.10 pada malam keenam sejak hujan pertama, suara Hujan Api mulai melemah.

Arga membuka mata.

Satu menit kemudian, tetesan merah terakhir menghantam kaca, meninggalkan asap tipis, lalu berhenti.

Sunyi.

Arga keluar dari bathtub. Air menetes dari rambut, bahu, dan ujung bajunya. Kakinya sedikit lemas ketika menyentuh lantai, tapi masih cukup kuat.

Ia membuka pintu kamar mandi.

Udara suite panas seperti napas tungku, tapi tidak lagi membunuh. Dengan langkah pelan, ia berjalan ke jendela dan membuka sedikit tirai.

Semarang terbentang di bawahnya sebagai reruntuhan basah dan hangus. Air masih menutup jalan. Gedung-gedung rendah gosong. Di beberapa tempat, asap putih naik dari sisa kendaraan. Lampu kota, klakson, dan teriakan panjang sudah lenyap.

Hanya dunia yang selesai dibakar.

Arga melihat ponselnya. Baterai tinggal sedikit, tapi cukup.

Masih ada sembilan jam sebelum Airdrop Box pertama turun.

Ia mengambil pisau dapur, memasukkan dua botol Aqua dan beberapa makanan ringan ke dalam ransel, lalu menatap arah timur laut, ke tempat UNDIP menunggu di balik gelap.

"UNDIP," katanya pelan. "Aku datang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!