NovelToon NovelToon
Jalan Pedang Tanpa Bakat

Jalan Pedang Tanpa Bakat

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Di Benua Awan Merah, bakat surgawi, garis keturunan, dan dukungan klan besar adalah segalanya. Awan tidak memiliki satupun dari hal itu. Lahir dengan meridian sempit sebagai anak seorang pandai besi miskin, dunia telah menakdirkannya untuk hidup dan mati sebagai manusia fana.
​Namun, Awan menolak bertekuk lutut pada takdir. Tanpa bantuan artefak dewa purba, tanpa roh guru sakti, dan tanpa pil mujarab, ia menempuh jalan kultivasi melalui siksaan fisik yang ekstrem. Saat para jenius menyerap energi alam dengan mudah sambil duduk bermeditasi, Awan mengayunkan pedang besinya puluhan ribu kali di bawah terik matahari dan badai hujan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Kemarahan Inti Emas dan Pelindung Bayangan

​Alun-alun utama Sekte Daun Angin dipenuhi oleh aura antisipasi yang kental. Di atas platform giok putih, puluhan Tetua dari Sekte Luar maupun Sekte Dalam duduk bersila di kursi kebesaran mereka.

​Di antara mereka, dua sosok tampak paling menonjol. Yang pertama adalah Tetua Wu, pria tua berjubah hitam dengan ekspresi sedingin es pembunuh. Di pangkuannya tergeletak sebuah pecahan batu giok—itu adalah Pelat Kehidupan milik cucunya, Wu Kang, yang telah pecah berkeping-keping beberapa hari yang lalu.

​Di sebelahnya duduk Tetua Zhao, pria paruh baya bertubuh gemuk yang terus mengelus jenggotnya sambil tersenyum bangga. Ia sedang menunggu kembalinya Zhao Meng, sang jenius yang diprediksi akan membawa pulang warisan utama dari menara.

​Sementara itu, di sudut platform yang lebih sepi, Penatua Kuang duduk dengan mata terpejam, menyesap tehnya perlahan.

​"Waktunya tiba," gumam Penatua Kuang.

​Di tengah alun-alun, sebuah pilar cahaya keunguan meledak menembus awan. Celah spasial dari Reruntuhan Lembah Angin terbuka, dan gelombang pertama murid-murid luar mulai dimuntahkan keluar dari pusaran tersebut.

​Tetua Zhao segera berdiri, senyumnya mengembang lebar. "Ah! Para pahlawan muda kita telah kembali! Mari kita lihat harta karun apa yang—"

​Ucapan Tetua Zhao terhenti di tenggorokan. Senyumnya membeku, digantikan oleh raut wajah kaget yang luar biasa.

​Alih-alih barisan kultivator muda yang gagah berani memamerkan hasil buruan mereka, yang keluar dari portal itu adalah pemandangan dari neraka. Ratusan Murid Luar berjatuhan ke lantai alun-alun sambil mengerang kesakitan. Pakaian mereka compang-camping, banyak yang patah tulang, memegangi dada yang melesak, atau harus digotong oleh teman-teman mereka yang masih bisa berjalan pincang.

​Alun-alun yang tadinya dipenuhi antisipasi perayaan, mendadak berubah menjadi tenda medis darurat paska-perang.

​"Apa yang terjadi?!" teriak salah satu Tetua Sekte Dalam, melompat dari kursinya. "Apakah terjadi invasi siluman tingkat tinggi secara massal?! Di mana murid-murid elit kita?!"

​Tiba-tiba, teriakan histeris membelah keributan.

​"Kakak Senior Zhao! Tolong Kakak Senior Zhao Meng! Dantiannya retak!"

​Beberapa murid yang selamat meletakkan sebuah tubuh yang nyaris tak berbentuk di atas ubin giok putih. Itu adalah Zhao Meng. Dada pemuda arogan itu rata, napasnya sangat tipis hingga nyaris tak terasa, dan meridiannya hancur berantakan.

​Tetua Zhao melesat dari platform dan mendarat di samping tubuh cucunya. Saat ia memeriksa denyut nadi Zhao Meng, wajah pria gemuk itu berubah ungu karena amarah yang meledak.

​"Siapa..." suara Tetua Zhao bergetar menahan luapan Qi dari Alam Inti Emas yang membuat udara di alun-alun mendidih. "SIAPA YANG BERANI MENGHANCURKAN MASA DEPAN KLAN ZHAO?! KELUAR!"

​Di saat yang sama, Tetua Wu juga melayang turun. Matanya yang merah menyapu lautan murid yang terluka. "Di mana Wu Kang?! Siapa yang membunuh cucuku di dalam sana?! Bicaralah, atau aku akan membakar jiwa kalian semua!"

​Tekanan dari dua ahli Alam Inti Emas secara bersamaan menekan ratusan murid luar yang sudah terluka itu hingga mereka batuk darah. Dalam kepanikan dan teror absolut, jari-jari yang gemetar mulai terangkat secara serentak, menunjuk ke arah celah spasial yang mulai mengecil.

​"D-Dia..." isak seorang murid dari Klan Lin. "Dia bukan manusia... Dia iblis..."

​Seiring dengan tunjukan jari tersebut, siluet terakhir melangkah keluar dari cahaya ungu.

​Langkah kakinya berat, menghasilkan suara benturan keras yang ritmis di atas ubin giok.

​Sosok itu bertelanjang dada. Kulit perunggunya berkilau ditimpa sinar matahari sekte. Di pinggangnya terikat lusinan Kantong Penyimpanan rampasan. Namun, yang paling menarik perhatian adalah sebilah pedang besi hitam berkarat yang luar biasa besar dan tebal, disandarkan dengan santai di atas bahu kanannya.

​Awan menatap puluhan Tetua yang kini memelototinya, dan ratusan murid yang mundur ketakutan saat melihatnya. Wajahnya tetap datar, tak sedikit pun menunjukkan rasa gentar.

​"Pelayan fana itu..." Tetua Wu menyipitkan matanya, napasnya memburu. "Kalian bilang, seekor semut tanpa Qi ini yang membunuh Wu Kang dan menghancurkan ratusan dari kalian?!"

​"Benar, Tetua!" teriak seorang murid dengan panik. "Dia meruntuhkan tebing untuk membunuh kelompok Wu Kang, dan dia menghancurkan sihir kami semua hanya dengan ayunan kayu dan besi rongsokannya!"

​Keheningan yang mematikan turun menyelimuti alun-alun. Bagi para Tetua, ini adalah lelucon paling tidak masuk akal yang pernah mereka dengar. Seorang manusia fana mengalahkan ratusan kultivator?

​Tapi bukti fisik tergeletak di hadapan mereka.

​"Bocah keparat!" aum Tetua Wu. Kesombongan dan harga dirinya menolak menerima kenyataan, tetapi amarah atas kematian cucunya mengambil alih akal sehatnya. "Kau berani menggunakan sihir iblis atau racun kutukan untuk mencelakai murid sekte kita yang berharga?! Nyawa rendahan sepertimu harus dibayar dengan pemusnahan sembilan keturunan!"

​Tetua Wu tidak mempedulikan aturan sekte lagi. Ia mengangkat tangan kanannya. Energi Qi elemen api yang luar biasa padat meledak dari Dantiannya, membentuk sebuah cakar api raksasa sebesar rumah yang melesat turun dari langit, langsung mengincar tubuh Awan.

​Ini adalah serangan kemarahan dari ahli Alam Inti Emas Awal! Tekanan udaranya saja cukup untuk meremukkan tulang kultivator Tingkat Pengumpul Qi.

​Awan mendongak menatap cakar api raksasa yang turun menimpanya. Panasnya membakar rambut di sekitar keningnya. Insting fana purbanya berteriak keras memperingatkan bahwa serangan ini berbeda dari semua serangan yang pernah ia hadapi. Kulit perunggunya mungkin akan meleleh jika terkena telak.

​Namun Awan tidak mundur. Di bawah tekanan aura Inti Emas yang mengunci pergerakannya, Awan justru mengaktifkan Seni Langkah Besi Jatuh hingga ke batas maksimal. Ia memusatkan seluruh daya gravitasinya ke tanah, melepaskan diri dari kuncian Qi.

​Kedua tangannya menggenggam pedang Bumi Pijar. Ia tidak berniat menghindar. Ia memusatkan Cikal Bakal Niat Pedangnya, bersiap menyambut kematian atau membelah api tersebut.

​Jurus Dasar: Menebas!

​Awan mengayunkan pedangnya ke atas.

​Namun, sebelum benturan yang tidak seimbang itu terjadi, sebuah desiran angin yang sangat lembut namun memiliki ketajaman tak terhingga memotong udara.

​Sring!

​Cakar api raksasa milik Tetua Wu terbelah dua di tengah udara layaknya tahu yang diiris pisau panas. Kedua belahan api itu meleset jauh dari Awan, meledak di sisi kiri dan kanan alun-alun hingga menghancurkan puluhan pilar batu giok.

​Awan menghentikan ayunannya. Ia melihat sesosok pria tua berjubah abu-abu kini berdiri memunggunginya, tepat di depannya, dengan sebelah tangan terlipat di belakang punggung.

​"Penatua Kuang..." gumam Awan pelan.

​Penatua Kuang menatap lurus ke arah Tetua Wu dan Tetua Zhao yang kini melayang di udara dengan wajah penuh amarah.

​"Apakah usia tua telah memakan kewarasan kalian, Tetua Wu, Tetua Zhao?" suara Penatua Kuang terdengar tenang, namun memancarkan gelombang sonik spiritual yang membungkam seluruh alun-alun. "Sejak kapan seorang Tetua Inti diperbolehkan menyerang seorang Murid Luar di dalam kawasan sekte tanpa peradilan?"

​"Minggir, Kuang Tua!" bentak Tetua Wu, matanya merah menyala. "Bocah fana ini membunuh cucuku! Dia mempraktikkan ilmu iblis! Jangan gunakan aturan sekte untuk melindunginya!"

​Tetua Zhao ikut menimpali, mengarahkan tongkatnya ke arah Awan. "Dia melumpuhkan ratusan murid kita! Jika kita membiarkan iblis ini hidup, apa kata dunia luar tentang Sekte Daun Angin? Kita akan menjadi bahan tertawaan!"

​Penatua Kuang tertawa dingin. Tawanya penuh dengan sarkasme tajam yang menusuk telinga para tetua klan.

​"Bahan tertawaan?" Penatua Kuang mengelus jenggot putihnya. "Kalian mengirim ratusan elit kultivator, jenius elemen, pemegang senjata spiritual, dengan kultivasi di atas Tingkat Delapan, untuk masuk ke dalam Reruntuhan Lembah Angin. Dan ketika mereka dikalahkan, dilumpuhkan, dan dibunuh oleh satu orang manusia fana murni yang bahkan tidak memiliki Dantian..."

​Penatua Kuang menunjuk ke arah lautan murid yang terluka.

​"...kalian bukannya menghukum murid-murid kalian karena ketidakbecusan mereka, kalian malah menyalahkan si pemenang? Hukum pertama dari Reruntuhan Lembah Angin adalah: Kehidupan dan Kematian ditentukan oleh langit, dendam tidak boleh dibawa keluar dari gerbang. Apakah kalian berdua bermaksud menentang aturan mutlak sekte yang dibuat oleh Patriark?!"

​Ucapan Kuang menohok tepat di titik terlemah argumen mereka. Ribuan murid di alun-alun terdiam. Bahkan beberapa Tetua Netral di platform mulai mengangguk setuju.

​Faktanya sangat memalukan: jika mereka mengakui Awan bersalah, itu sama saja dengan mengakui bahwa seluruh ajaran kultivasi spiritual sekte telah dikalahkan oleh seorang kuli penebang kayu.

​"Omong kosong! Dia pasti curang!" Tetua Zhao bersikeras, wajahnya pucat.

​"Curang?" Penatua Kuang menoleh perlahan ke arah Awan. Ia melepaskan untaian Qi tipis untuk memindai tubuh Awan.

​Sesaat, mata Penatua Kuang sedikit melebar. Ia bisa merasakan perubahan drastis pada tubuh pemuda itu. Tidak ada lagi sumbatan organ. Tulangnya sepadat baja bintang, darahnya mengalir seberat air raksa, dan tidak ada jejak sihir gelap maupun kultivasi iblis. Tubuh fana itu telah berevolusi menjadi senjata pembunuh biologis yang sempurna.

​"Dia murni menggunakan otot dan darah," Penatua Kuang mengumumkan dengan suara lantang. "Tidak ada sihir. Tidak ada artefak terlarang. Cucumu kalah oleh tamparan tangan kosong, Tetua Wu."

​Tetua Wu mengertakkan giginya hingga nyaris retak. Ia tahu ia tidak bisa melawan Penatua Kuang dalam adu argumen aturan sekte, terlebih lagi karena kultivasi Penatua Kuang berada di Puncak Alam Inti Emas, satu tingkat di atasnya.

​"Baik," Tetua Wu mendesis, matanya menatap Awan dengan dendam kesumat. "Kau melindunginya hari ini menggunakan aturan sekte, Kuang. Tapi aku pastikan, tanpa dukungan pelindung di bayang-bayangnya, bocah fana ini tidak akan hidup melewati malam di sekte ini!"

​"Kalau begitu, aku akan memberinya pelindung yang tidak bisa kau sentuh," balas Penatua Kuang tanpa ragu.

​Penatua Kuang berbalik menatap Awan. Ia mengeluarkan sebuah lencana giok ungu dari balik lengan jubahnya—sebuah lencana yang hanya dimiliki oleh sepuluh Tetua Puncak di sekte tersebut.

​"Murid Awan," panggil Penatua Kuang, suaranya kini bergema formal ke seluruh penjuru gunung. "Kau telah keluar hidup-hidup dari Reruntuhan Lembah Angin dan membawa pulang Kantong Penyimpanan terbanyak. Sesuai aturan sekte, kau berhak promosi."

​Penatua Kuang melemparkan lencana giok ungu itu. Awan menangkapnya dengan satu tangan.

​"Mulai detik ini, kau adalah Murid Langsung Sekte Dalam, berada di bawah bimbinganku secara pribadi. Siapa pun yang berani menyentuh sehelai rambutmu dalam wilayah sekte, harus melangkahi mayatku terlebih dahulu!"

​Keputusan itu menghantam alun-alun laksana petir di siang bolong. Ratusan Murid Luar, Tetua Wu, dan Tetua Zhao ternganga. Seorang manusia fana tanpa meridian, kini menjadi Murid Langsung dari Penatua Penegak Hukum?! Ini adalah penghinaan mutlak bagi sistem kasta kultivasi!

​Awan menatap lencana giok ungu di tangannya, lalu menatap Penatua Kuang. Ia tahu, pria tua ini baru saja menyelamatkan nyawanya. Di dunia kultivasi, kekuatan fisik memang bisa mengalahkan musuh sejajar, tapi ia belum cukup kuat untuk menahan ledakan Qi ahli Inti Emas yang bisa terbang dan menyerang dari jarak satu mil.

​Awan menangkupkan kedua tangannya di depan dada, membungkuk dalam sebagai bentuk penghormatan yang tulus.

​"Murid Awan, menerima kebaikan Guru."

​Tetua Wu dan Tetua Zhao mendengus kasar. Mengibaskan jubah mereka, kedua tetua itu memerintahkan anak buah mereka untuk menggotong murid-murid klan mereka yang terluka dan pergi dari alun-alun dengan wajah menanggung malu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!