NovelToon NovelToon
Cinta Yang Menunggu Waktu

Cinta Yang Menunggu Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Single Mom
Popularitas:619
Nilai: 5
Nama Author: Amoreiza Aneta

Andira merupakan seorang wanita yang di tinggal oleh suaminya ketika pernikahan mereka memasuki usia 6 tahun. suaminya meninggalkannya karena meninggal pada saat kecelakaan. Andira terpukul dan sedih karna harus merelakan suaminya pergi untuk selamanya. menjelang 4 bulan kepergian suaminya banyak cinta yang datang kepadanya tetapi dia tidak terlalu menanggapinya sampai akhirnya ada yang muncul dan itu cinta pertama nya, akhirnua dia menerima tapi banyak cobaan dan godaan yang dialamin mereka tapi pada akhirnya mereka bisa sampai pada jenjang pernikahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Yang Kusimpan

"Sayang, maafkan Mas ya.

Ternyata semua ini salah Mas.

Tapi kamu yang tanggung malu semuanya,"

ucap Renaldi dengan suara bergetar.

Matanya merah, diselimuti kesedihan.

Dia nunduk. Tangannya terkepal

"Mas akan sampaikan hasil ini ke Mbak Imel.

Biar mereka gak lagi ngerendahin dan menghina kamu,"

sambung Renaldi. Dia gak tega liat istrinya terus jadi bahan omongan.

Andira langsung genggam jemari suaminya erat.

"Tidak perlu, Mas. Kamu gak perlu jelasin ke siapapun hasil ini.

Cukup kita berdua yang tau,"

jawab Andira. Suaranya tegas, tapi lembut.

Dia gak mau semua orang tau tentang kelemahan suaminya.

Sekalipun itu saudara kakaknya sendiri.

Harga diri Renaldi lebih penting dari harga dirinya.

Renaldi ngangkat wajah. "Tapi Mas gak mau kamu terus-terusan dihina mandul, Sayang."

Andira natap mata suaminya dalam-dalam.

Terus dia pegang wajah Renaldi pake kedua tangannya.

"Udah, Mas. Ini mungkin konsekuensi yang harus aku terima.

Tapi aku gak akan biarin siapapun tau tentang kelemahan kamu, Mas.

Cukup aku aja sebagai istrimu yang tau semua kelemahanmu,"

ucap Andira. Air matanya jatuh, tapi senyumnya tetep ada.

"Aku rela dan ikhlas dihina habis-habisan.

Aku janji gak akan ninggalin kamu.

Sekalipun kita menua berdua aja tanpa ada anak yang melengkapi rumah tangga ini,"

bisik Andira. Dia nyium punggung tangan Renaldi.

Renaldi langsung peluk istrinya kenceng banget.

Dadanya sesek. Dia ngerasa jadi laki-laki paling gagal sedunia.

"Mas janji, Sayang. Mas janji jagain kamu sampe akhir.

Mas gak butuh anak kalo harus kehilangan kamu,"

ucap Renaldi di sela pelukannya.

Andira nangis di dada suaminya.

Tapi kali ini tangisnya bukan karena sakit hati.

Tapi karena bersyukur masih punya suami yang milih dia.

Mereka berdua saling berpelukan serta saling menguatkan antara satu dengan yang lain. Di ruang tamu yang sepi itu, cuma ada mereka berdua.

Dan itu cukup.

*_**_***

Keesokan harinya, sampe di sekolah.

"Hai, Indira. Gimana hasilnya?"

goda Intan pas ketemu di ruang guru. Nadanya bercanda.

Andira langsung pasang muka sedih.

Dia nunduk dikit. "Ternyata aku mandul, Ntan."

Intan langsung diem. Senyumnya ilang.

"Ya udah, jangan sedih ya. Yang penting kamu udah tau titik masalahnya.

Bisa cari jalan keluarnya. Kamu gak salah, apalagi berdosa.

Di luar sana juga banyak wanita yang senasib kayak kamu,"

hibur Intan. Dia langsung peluk Andira.

Andira balas pelukan itu. Tapi dalam hati dia bohong.

Sesuai janji ke suaminya, sekalipun ke Intan sahabatnya sendiri,

dia gak akan cerita yang sebenarnya.

Rahasia itu cuma milik dia sama Renaldi.

Dia gak mau mempermalukan suaminya.

Biar semua rasa malu, dia yang terima sendiri.

"Makasih ya, Ntan. Kamu mau jadi pendengar setiap keluh kesah aku,"

ucap Andira sambil menghapus air mata pake ujung jilbab.

"Iya, Ndir. Sama-sama. Yuk kita ke kelas masing-masing,"

jawab Intan sambil senyum tipis.

Sampe di kelas, Andira langsung berubah.

Layaknya guru profesional, semua kesedihan ditinggal di depan pintu.

Pas pintu kelas dibuka, senyumnya mengembang.

"Selamat pagi, anak-anak!" sapanya semangat.

"Pagi, Bu Guru!" jawab murid-murid kompak.

Seharian dia ngajar, bercanda, mengireksi PR.

Gak ada yang tau kalau di dadanya lagi nyesek banget.

Dia pinter nutupin. Buat anak-anak, dia harus kuat.

Setelah bel pulang, Renaldi udah nunggu di gerbang.

Mereka pulang bareng naik motor.

Sampe rumah, Andira langsung ke dapur.

Dia menghangatkan ayam goreng, sayur kangkung tumis, sama sambel buatan pagi tadi.

"Mas, gimana kabar kita pagi ini?"

tanya Andira sambil sendokin nasi ke piring suaminya.

Renaldi duduk. "Mas baik aja, Sayang. Kalau kamu?"

"Aku juga baik, Mas. Apapun itu kita hadapin bareng,"

jawab Andira. Dia nyuapin Renaldi.

Dia tau pasti suaminya masih sedih denger hasil pemeriksaan kemarin pagi.

Jadi dia milih menguatkan suaminya , bukan nambah beban.

Abis makan siang, Renaldi pamit balik ke kantor.

Andira beresin meja makan, cuci piring.

"Mas balik ke kantor ya, Sayang," ucap Renaldi sambil pake helm.

"Iya, Mas. Hati-hati ya," jawab Andira sambil ngelap tangannya ke celemek.

"Iya, Sayang. Assalamualaikum," ucap Renaldi.

"Waalaikumsalam, Mas," jawab Andira dari teras.

Karena sendirian di rumah, abis beresin sisa makan,

Andira langsung ke kamar. Dia ganti baju kerja pake daster bunga.

Buat ngilangin sepi, dia main HP. mengotak-atik aplikasi ijo itu.

Gak sengaja jarinya nyentuh status paling atas.

Nama Imel muncul di layar.

Background hitam. Tulisan putih.

"Apa gunanya penghasilan sebulan dua kali padahal anak tak punya?

Mending uang itu dibuang aja daripada gak ada anak yang nikmatin. Ahahaha."

Tangan Andira gemetar.

Tanpa sadar air mata langsung membasahi pipi tirusnya.

Dia gak nyangka. Ipar yang udah dia anggap kakak sendiri

masih tega menghina dia kayak gitu lagi.

Padahal kemarin baru aja Renaldi bentak Imel gara-gara status yang sama.

Andira tutup mulutnya pake tangan.

Dia nahan suara biar gak kedengeran sampe tetangga.

"Ya Allah... sakitnya di sini," bisiknya sambil nunjuk dadanya.

HP di tangannya bergetar lagi.

Chat masuk dari nomor gak dikenal: "Kasian ya, Bu Guru.

Gajinya gede tapi gak ada penerusnya. Mubazir."

Andira langsung matiin HP. Dia lempar ke kasur.

Terus dia jongkok di pojokan kamar, peluk lututnya.

"Hiks... hiks... kenapa sih mereka gak capek menghina aku terus?"

isaknya pecah.

Dia inget janji ke Renaldi. Gak akan cerita ke siapapun.

Jadi dia telan semua sakit itu sendiri.

Andira ngambil wudhu. Dia sholat Dhuha di kamar.

Sujudnya lama banget. Air matanya netes ke sajadah.

"Ya Allah, kalo Engkau uji aku lewat kata orang,

kasih aku kuat ya Allah. Kalo Engkau uji suamiku lewat tubuhnya,

jagain dia ya Allah. Jangan ambil dia dari aku."

Abis sholat, dia cuci muka. Liat cermin.

Matanya bengkak, tapi dia tetep senyum.

"Andira, kamu kuat. Kamu istri yang baik,"

ucapnya ke bayangan sendiri.

Sore itu Renaldi pulang bawa es krim.

Favorit Andira, rasa coklat.

"Sayang, ini. Mas beliin. Biar kamu gak sedih,"

ucap Renaldi sambil nyodorin.

Andira langsung peluk suaminya dari belakang.

"Mas, makasih ya udah milih aku."

Renaldi muter badan, peluk balik.

"Mas yang makasih, Sayang. Udah mau nerima Mas apa adanya."

Malam itu mereka makan es krim berdua di teras.

Gak ngomongin anak, gak ngomongin dokter.

Cuma ketawa-ketawa liat cicak kejar kecoa.

Imel di rumahnya masih update status.

Ikbal komen: "Mantap, Say. Biar dia sadar."

Tapi Andira udah gak buka status lagi.

Dia blokir nomor Imel.

Biarin dia dihina. Biarin dia dicibir.

Yang penting suaminya aman. Rumah tangganya aman.

Karena buat Andira, harga diri Renaldi lebih mahal

dari seribu cacian orang.

Sebelum tidur, Renaldi bisik, "Sayang, makasih ya udah nutupin Mas."

Andira nyender di dada suaminya.

"Mas, makasih udah milih aku tiap hari."

Mereka tidur pelukan.

Di luar sana badai hinaan masih kenceng.

Tapi di kamar itu, anget. Karena ada cinta yang jagain.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!