NovelToon NovelToon
Suami Yang Kau Dan Keluarga Mu Hina Adalah Pewaris Kaya

Suami Yang Kau Dan Keluarga Mu Hina Adalah Pewaris Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Demi menguji ketulusan, Aldi Pratama menyamar sebagai pria biasa selama dua tahun pernikahan. Namun, Kirana beserta keluarganya yang gila gengsi terus menghina dan merendahkannya. Batas sabar Aldi habis; ia mengungkap identitas aslinya sebagai pewaris tunggal konglomerat raksasa Pratama Group, menceraikan Kirana, dan memiskinkan keluarganya.
Kejatuhan itu seketika menghancurkan hidup Kirana—ibunya meninggal karena syok, adiknya dipenjara, dan ia harus bertahan hidup sebagai pedagang sembako miskin. Di titik nadir inilah Kirana bertobat total dan belajar bersyukur. Takdir kemudian mempertemukan mereka kembali lewat program sosial. Meski dipisahkan jurang kasta yang permanen, Aldi diam-diam memberi perlindungan rahasia karena belum bisa melupakan Kirana sebagai cinta pertamanya, sementara Kirana menjalani takdirnya dengan keikhlasan dan penyesalan abadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 10: Siasat Busuk sang CEO

Pagi harinya, suasana di lantai pimpinan PT Nusantara Mandiri terasa begitu tegang. Rendy duduk di kursi kebesarannya sambil menatap layar komputer dengan wajah masam. Di hadapannya, laporan keuangan yang dikirimkan Aldi semalam terpampang nyata. Rendy sudah mencoba mencari celah kesalahan, bahkan meminta sekretarisnya memeriksa ulang setiap angka, namun hasilnya nihil. Laporan itu terlalu sempurna, sangat presisi, dan menggunakan metode proyeksi tingkat tinggi yang bahkan jarang dikuasai oleh manajer tingkat daerah.

"Sialan," umpat Rendy pelan, melemparkan pulpennya ke meja. "Bagaimana bisa pria miskin seperti dia membuat analisis se-jenius ini?"

Ketukan di pintu memecah kekesalannya. Soni, staf senior dari divisi keuangan yang terkenal bermuka dua dan ingin mencari muka pada pimpinan baru, melangkah masuk dengan senyum menjilat.

"Permisi, Pak Rendy. Anda memanggil saya?" tanya Soni sambil membungkuk hormat.

Rendy menyandarkan tubuhnya, tersenyum sinis. "Soni, kamu sudah lama bekerja di bawah Aldi Pratama, kan? Saya perhatikan posisi kamu selalu tertahan di bawahnya, padahal kapasitasmu saya lihat cukup potensial."

Umpan Rendy langsung dimakan oleh Soni. Wajah staf senior itu berubah masam. "Benar sekali, Pak Rendy. Pak Aldi itu orangnya terlalu kaku. Dia selalu menggunakan metode lama yang menyulitkan kami, dan jujur saja, dia sering mengambil kredit atas kerja keras tim."

Rendy terkekeh, tahu betul Soni sedang berbohong demi menjatuhkan atasannya. "Bagus. Saya suka orang yang jujur seperti kamu. Saya punya rencana untuk melakukan restrukturisasi di divisi keuangan. Saya ingin menaikkan jabatanmu menjadi Manajer, tapi dengan satu syarat."

Soni membelalakkan matanya gembira. "Apa syaratnya, Pak? Saya pasti lakukan."

Rendy memajukan tubuhnya, berbisik dengan nada penuh konspirasi. "Buat sebuah kelalaian kecil dalam sistem transfer dana vendor besok. Pastikan token otorisasi yang digunakan adalah milik Aldi. Saya ingin besok ada laporan bahwa kas perusahaan keluar sebesar dua ratus juta rupiah ke rekening yang salah akibat kelalaian manajer kalian. Bisa?"

Soni sempat tertegun. Itu adalah tindakan kriminal manipulasi data. Namun, bayangan jabatan manajer dan gaji besar yang menggiurkan langsung membutakan mata hatinya. "B-bisa,

Pak Rendy. Serahkan pada saya. Kebetulan saya tahu password sekunder untuk sistem otorisasi komputer meja Pak Aldi."

"Bagus. Kerjakan dengan bersih. Setelah ini selesai, Aldi akan didepak dengan tidak hormat, dan kursinya akan menjadi milikmu," ucap Rendy sambil tersenyum penuh kemenangan. Di kepalanya, dia sudah membayangkan bagaimana wajah hancur Aldi saat dipecat nanti, dan bagaimana Kirana akhirnya akan datang mengemis perlindungan kepadanya.

.

.

.

Hari itu, Aldi merasakan atmosfer yang tidak biasa di divisinya. Soni tampak terlalu rajin, bahkan beberapa kali menawarkan diri untuk membantu merapikan berkas-berkas fisik di meja kerja Aldi. Aldi, dengan ketajaman instingnya sebagai seorang pewaris Pratama Group, sebenarnya menangkap gerak-gerik mencurigakan dari bawahannya itu. Namun, dia sengaja membiarkannya untuk melihat seberapa jauh keberanian para tikus kantor ini bermain api.

Saat jam makan siang, Aldi sengaja meninggalkan ruangannya sedikit lebih lama. Di saat itulah, Soni menyelinap masuk dengan terburu-buru. Menggunakan kilatan cahaya dari ponselnya, Soni memasukkan kode otorisasi manual dan mentransfer dana operasional vendor ke sebuah rekening pihak ketiga yang sudah disiapkan oleh Rendy.

Sore harinya, Kirana berjalan melewati divisi keuangan dengan membawa beberapa berkas administrasi. Dia melihat Aldi sedang fokus menatap layar komputernya. Sejak pertengkaran hebat mereka semalam, mereka belum saling bertegur sapa. Ada rasa gengsi sekaligus bersalah yang berkecamuk di dada Kirana.

Tiba-tiba, tiga orang petugas keamanan kantor bersama dengan Kepala Divisi SDM (HRD) berjalan cepat menuju ruangan Aldi. Suara langkah kaki mereka yang tegas menarik perhatian seluruh karyawan di lantai itu, termasuk Kirana.

"Manajer Aldi Pratama," panggil Kepala HRD dengan wajah serius tanpa basa-basi. "Anda diminta segera menghadap ke ruangan CEO sekarang juga. Ada indikasi pelanggaran berat dan penyalahgunaan wewenang keuangan yang melibatkan akun otorisasi Anda."

Bisik-bisik seketika pecah di seluruh ruangan. Soni yang berdiri di kubikelnya pura-pura terkejut, sementara Kirana hampir menjatuhkan berkas di tangannya.

Aldi berdiri dari kursinya. Wajahnya tidak menunjukkan kepanikan sama sekali. Dia merapikan kancing jas sederhananya, menatap lurus ke arah Kepala HRD, lalu melirik sekilas ke arah Soni yang sedang menghindari tatapan matanya.

"Baik. Mari kita selesaikan di atas," ucap Aldi tenang.

Saat Aldi berjalan keluar ruangan dikawal petugas keamanan, dia berpapasan dengan Kirana. Kirana menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca, penuh ketakutan. "Mas... ada apa ini?"

Aldi hanya menatap Kirana dengan pandangan datar yang dingin—pandangan yang sama seperti semalam. "Bukan apa-apa, Kirana. Hanya beberapa orang yang mencoba bermain sulap di kantor ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!