Sebuah kerajaan terbesar punya misi menangkap semua petarung liar untuk kedamaian. Namun semua perguruan seni bertarung pedang menolaknya. Karena mereka tahu kalau kerajaan ingin mengatur masyarakat dengan menguasai sumber daya.
Sepasang pendekar pedang ini menjadi penyelamat untuk melawan sebuah kerajaan besar. Mereka melakukan perjalanan bersama untuk mengumpulkan rahasia teknik pedang tersembunyi dan dua pedang Sakti.
Pedang Zen Xi di Desa Win, lalu pedang Zoi Chu di Desa Hon. Namun mereka harus melewati rintangan dan tempat untuk bisa sampai di tujuan. Lalu mereka kembali untuk mengalahkan Kerajaan Sinpor.
Setelah masalah Kerajaan Sinpor selesai, kisah cinta mereka berdua sempat mendapatkan penolakan dari orang tua perempuan, karena perbedaan kelas sosial. Namun mereka berdua punya cara agar mereka berdua bisa menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Firdaus Rangkuti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Air Terjun
"Kau tahu arah? Kalau ke sasar, gimana?" Rio sampai harus berjalan menungging.
"Kau diam saja, insting wanita tidak pernah salah." Jinsin tertawa kecil kepada Rio, menarik tangan kanan untuk mengikutinya jalan sama. Setelah berjalan cukup jauh, mereka sampai di sebuah air terjun kecil yang indah di cuaca cerah. Mereka berdua terdiam melihat keindahan tempat sampai mata mereka tidak berkedip.
"Kau mau mandi?"
Rio menatap Jinsin melongo, lalu jalan ke pinggir sungai, melepas saku pedang dan ransel. Kemudian jongkok di pinggir sungai mencuci telapak tangan di dalam air dan membasuh wajah penuh bekas darah pertarungan sebelumnya. Jinsin yang masih melongo, tiba-tiba menoleh kepada Rio sedang mengibas kepalanya.
"Waaah dia tampan sekali." Mata Jinsin berkaca-kaca, senyum terharu.
"Ayo Jinsin, airnya jernih kok." Rio bicara kepada Jinsin dengan rambut basah yang keren. Jinsin berjalan mendekati Rio ikut jongkok. Lalu dia memasukkan telapak tangan ke dalam air secara perlahan, kemudian di keluarkan kembali dengan cepat.
"Hiii, airnya dingin."
Jinsin mengibas kedua tangan dengan ekspresi merem melek merasakan dingin menyetrum seluruh tubuh. Rio memegang tangan Jinsin, mereka saling menatap mata sambil meletakkan tangan Jinsin ke air kembali secara perlahan sampai seluruh telapak tangan terendam lama di dalam air. Jinsin tidak mengeluhkan rasa dingin, namun terus menatap mata Rio tersenyum tipis.
"Cuci tanganmu, lalu basuh wajahmu. Bisa kan?" Rio melepas sentuhan dari tangan Jinsin di dalam air. Lalu bangkit mengambil barang miliknya untuk di bawa ke balik pohon, sekalian melepas baju.
"Hei mau kemana kamu?" tanya Jinsin.
"Mandi." jawab Rio. Wajah Jinsin kaget, lalu dia membasuh wajah di air dingin dengan cepat. Jinsin sesaat merasakan kesegaran air menyelimuti wajahnya sampai menutup mata. Rio berjalan kaki tanpa alas mendekati Jinsin masih jongkok di pinggir sungai.
"Ayo mandi." Rio mengajaknya.
"Haaaah." Jinsin teriak suara melengking kaget, lalu menutup seluruh wajah dari hadapan Rio.
"Hei, hei, kamu kenapa?" Rio kaget mendengar teriakan Jinsin sampai Rio harus berdiri bertingkah aneh menutupi sesuatu di tubuh pakai kedua tangan.
"Aku maluuuu.." teriak Jinsin. Sesaat Rio melihat tubuhnya.
"Malu, kau pikir aku telanjang atau memakai pakaian aneh. Coba buka matamu dan liat aku.
"Hah." Jinsin melepas wajah perlahan dan melihat Rio masih memakai celana panjang untuk mandi.
"Hehehe iya. Mandi sana. Gak usah ngajak-ngajak. Aku cewe." ucap Jinsin.
Rio menyeburkan tubuhnya ke kolam air terjun yang cukup luas. Lalu berenang secara perlahan mendekati air terjun di depan. Jinsin melepaskan pedang dari saku untuk di cuci menggunakan mangkok buah bekas sebagai gayung mengambil air. Jinsin berjalan mengikuti aliran sungai mengalir meninggalkan Rio sendirian.
"Hah, di sini aman. Sebaiknya aku berendam di sini saja."
Jinsin meletakkan barang bawaan di pinggir sungai, lalu menutupnya dengan dedaunan dan beberapa genggaman batu. Jinsin melepas semua pakaian dan menutup dengan kain di tubuh. Lalu berendam sendirian membersihkan tubuhnya yang kotor dengan wajah yang tenang, menikmati aliran sungai yang mengalir di sekujur tubuh.
"Na Nana Nana Nana. Na naa." Jinsin juga menggosok perlahan kedua tubuh memakai telapak tangan sambil bernyanyi suara kecil. Di sisi lain, Rio sangat menikmati air terjun yang turun dari atas, membasahi kepalanya. Sampai Rio melihat sekeliling tidak ada Jinsin di pinggir sungai.
"Sebaiknya aku selesai mandi." Rio berenang ke pinggir sungai untuk berpakaian mencari Jinsin pergi entah kemana.
"Kemana dia pergi ya." Rio berjalan menuju ke dalam hutan berpakaian bersih rambut rapi tidak merangkul barang bawaan.
"Hah. Suara nyanyian dari mana asalnya." Rio berjalan perlahan menuju semak, jongkok membuka sedikit celah dari semak tepat di pinggir sungai mendengar suara nyanyian wanita yang makin jelas.
"Suara apa itu, di sini kan tidak ada orang. Apa hantu. Hii seram." Rio jongkok terus penasaran suara di dengarnya.
"Na Nana Nana. Naaa. Hah. Ada yang bergerak di dalam semak." Wajah Jinsin panik, menghentikan nyanyian dan menarik kain menutupi tubuh dengan wajah imut ketakutan.
"Haaaaa." Rio muncul dengan wajah konyol ke Jinsin keluar dari semak.
"Duuug..."
"Duug.."
"Duuug."
"Dasar geniit..!" teriak Jinsin sekeras mungkin sampai burung sedang di atas pohon lari berterbangan.
"Adoooh...." Jinsin melempar kepala Rio pakai batu ke wajahnya sampai tergeletak pingsan.
"Sial, orang ini tukang intip rupanya."
Jinsin bergegas mengambil barang bawaan di balik batu, di tutup daun. Lalu berenang ke tempat jauh sambil merenteng barang di kepalanya, tubuh di tutup kain. Lalu Jinsin ke darat berjalan ke hutan yang tertutup untuk mengeringkan tubuh dan berpakaian serta merapikan rambutnya.
"Sial, akan ku hajar dia, karena berani mengintip ku mandi." Jinsin kesal sambil mengikat rambutnya kebelakang. Jinsin menyiram wajah Rio memakai wadah buah bekas menampung air dari sungai.
"Aduh, dimana aku, hah." Rio membuka mata perlahan, memegang kepala, bangkit duduk, penglihatan masih buram. Beberapa saat Rio kaget melihat Jinsin berdiri berwajah marah memarikirkan kedua tangan di pinggang.
"Heh, Jinsin. Ngapain kamu di sini, mau mandi ya?" ucap Rio.
"Plaaak..." Jinsin menampar wajah Rio.
"Adoooh." Rio kesakitan.
"Dasar tukang intip. Geniiiiittt..!"
Jinsin berteriak ke wajah Rio sekeras mungkin. Lalu Jinsin memelintir baju Rio, mengangkat tubuhnya setingginya dengan tangan kanan penuh amarah.
"Jinsin hentikan, aku pikir mahluk." Rio memohon.
"Apaaaaaa" kau pikir aku mahluk. Kurang ajar kamu!" Jinsin berteriak sekeras mungkin kepada Rio sampai kesal banget.
"Pyuuuur..."
Jinsin melempar tubuh Rio ke dalam sungai. Tubuh Rio terlungkup di dalam air. Namun belum selesai, Jinsin menarik kepala Rio dan mencelupkannya ke dalam sungai, Jinsin jongkok di pinggir sungai.
"Toloouunblur blur blurr blur." Suara Rio menggema di dalam air meminta tolong.
"Masih mau mengintip lagi!" Rio hanya menjawab dari dalam air.
Akhirnya mereka kembali ke tempat air terjun lagi. Rio duduk di tutupi kain kering miliknya di depan api unggun menggigil Kedinginan. Jinsin duduk di sebelah api unggun di sore hari melihat Rio dengan pakaian sedang di keringkan di dekat sungai.
"Ternyata Jinsin cantik juga kalau sudah mandi." Rio melihat rambut masih basah di ikat rapi ke belakang membuatnya tertarik.
"Apa lihat-lihat?" Jinsin menatap Rio tersenyum.
"Tidak ada apa-apa, kau cantik." Jujur Rio menoleh malu.
"Apa?" Jinsin kaget, menoleh malu duduk di depan api unggun.
"Haci, haci." Jinsin berdiri berjalan mendekati Rio duduk, menyentuh kening.
"Kau tidak panas, akan ku buat air panas untukmu." Jinsin pergi mengambil air di sungai. Lalu Jinsin membuat dan menuang air itu ke gelas.
"Ini, minum. Biar tidak kedinginan." Rio melongok melihat gelas panas diberikan berdiri oleh Jinsin. Lalu Rio mengambilnya.
"Hangat." Malam hari, Rio tertidur di depan api unggun memakai pakaian yang sudah di jemur.
"Haaakkh..."
"Haaakkh.." Rio mendengkur.
"Cepat sekali dia tidur." Jinsin melihat Rio terlentang di alas kain khas berkelana.