Semua benda di dunia memiliki harga.
Rumah, restoran, perusahaan, bahkan kesempatan yang tidak bisa dibeli dengan uang sekalipun.
Saat hidup Lin Liu berada di titik terendah, sebuah sistem misterius memilihnya sebagai pemilik baru. Sistem itu tidak memberinya uang, kekuatan, ataupun keberuntungan.
Yang diberikannya hanyalah... diskon.
Semakin besar target yang berhasil dicapai, semakin langka kartu diskon yang diperoleh. Dengan satu kartu, sesuatu yang mustahil dimiliki bisa berubah menjadi kesempatan yang berada dalam jangkauan.
Namun, setiap pilihan memiliki konsekuensinya.
Di balik setiap transaksi, tersembunyi rahasia yang membuat dunia tidak sesederhana yang terlihat. Kini Lin Liu harus menentukan apa yang layak dibeli... dan apa yang seharusnya tidak pernah memiliki harga.
Karena ketika segalanya bisa dibeli, batas antara keberuntungan dan keserakahan menjadi sangat tipis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Beberapa pria berbadan tegap yang tadi memasuki aula ternyata bukan orang suruhan Chen Datong seperti yang dikhawatirkan Lin Liu, melainkan tim keamanan pribadi yang buru-buru dipanggil oleh ayah Huang Ruoxi sendiri, berusaha mengendalikan situasi yang sudah telanjur kacau di depan begitu banyak saksi dan kamera wartawan.
"Semua tamu dimohon tenang! Acara ini kami hentikan sementara!" salah satu petugas keamanan berteriak, berusaha mengarahkan kerumunan tamu yang mulai riuh keluar dari aula, sementara beberapa wartawan justru semakin gencar merekam kekacauan itu.
Lin Liu berdiri di tengah keramaian, jantungnya masih berdegup kencang, matanya mengawasi Huang Ruoxi yang kini dikelilingi beberapa orang, termasuk seorang pria berjas rapi yang belakangan diketahui sebagai pengacara keluarga Huang, mencoba meredam kerusakan yang sudah terlanjur terjadi.
Malam itu berakhir dengan kekacauan yang panjang—pertanyaan wartawan, teguran keras dari ayah Huang Ruoxi, dan Liu Feng yang menghilang begitu saja tanpa sepatah kata pun, jelas tidak ingin namanya lebih jauh terseret dalam skandal itu. Lin Liu sendiri diam-diam menyelinap keluar dari aula sebelum benar-benar ditahan oleh siapa pun, kembali ke kosnya dengan perasaan campur aduk antara lega dan cemas.
...-----...
Beberapa hari berikutnya berlalu dengan tenang, meskipun kabar tentang skandal pertunangan keluarga Huang terus beredar di berbagai pemberitaan lokal. Chen Datong tidak lagi mengirim pesan ancaman langsung, meskipun keheningan itu justru membuat Lin Liu semakin waspada, menduga pengusaha rentenir itu sedang menyusun rencana lain yang lebih tersembunyi.
Pada suatu sore, saat dia sedang membantu Su Yan menghitung stok barang di toko, layar sistemnya tiba-tiba muncul, mengingatkannya pada hadiah misi yang belum sempat dia periksa sejak malam kekacauan itu.
...[PETUNJUK TERSIMPAN: LOKASI TERAKHIR YANG DIKETAHUI TERKAIT "ORANG TUA HOST" ADALAH SEBUAH KOTA PELABUHAN DI LUAR PULAU. DATA LEBIH LANJUT MASIH TERKUNCI.]...
Lin Liu menatap petunjuk singkat itu lama, dadanya dipenuhi rasa penasaran yang menggebu, namun dia menyadari bahwa informasi itu masih terlalu samar untuk ditindaklanjuti. Dia menghela napas, menyimpan petunjuk itu dalam-dalam di ingatannya, memutuskan untuk fokus dulu pada apa yang ada di depan matanya.
"Kau melamun lagi," Su Yan menegurnya sambil menyusun kotak-kotak mi instan. "Ada kabar dari Nona Huang?"
"Belum ada beberapa hari ini," jawab Lin Liu, sedikit heran menyadari dirinya juga penasaran soal itu. "Mungkin dia masih sibuk mengurus kekacauan di keluarganya."
Baru saja dia selesai mengucapkan kalimat itu, ponselnya bergetar menampilkan sebuah pesan dari nomor yang sudah sangat dia kenal.
"Kau ada waktu besok sore? Aku ingin bicara. Datang ke kafe dekat taman kota, jam empat."
Lin Liu menatap pesan itu dengan alis terangkat, ada nada berbeda dari biasanya—tidak seketus biasanya, justru terkesan sedikit ragu, seolah Huang Ruoxi menuliskan dan menghapus pesan itu berkali-kali sebelum akhirnya mengirimkannya.
"Siapa?" tanya Su Yan penasaran, melihat perubahan ekspresi di wajah Lin Liu.
"Ruoxi. Dia mau ketemu besok," jawab Lin Liu, mencoba terdengar biasa saja meskipun jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari seharusnya.
Su Yan tersenyum jahil, menyenggol lengan Lin Liu dengan siku. "Wah, sepertinya ada perkembangan menarik nih. Sana, jangan sampai telat besok."
Lin Liu hanya bisa tertawa canggung, meskipun dalam hati dia juga bertanya-tanya, apa gerangan yang ingin dibicarakan Huang Ruoxi hingga membuat gadis yang biasanya begitu percaya diri itu terdengar seragu ini lewat pesan singkatnya.