Aurelia Vanzara, sosok yang dulu ditakuti sebagai Crimson Queen, memilih menghilang dari dunia gelap setelah kehilangan satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hatinya.
Kematian orang terkasih itu bukan hanya merenggut kebahagiaannya, tetapi juga menghancurkan alasan Aurelia untuk terus memegang kekuasaan.
Dengan identitas baru sebagai wanita biasa, ia mencoba menjalani hidup sederhana. Bekerja, tersenyum, dan berpura-pura bahwa masa lalunya tak pernah ada.
Namun, dunia tidak pernah benar-benar melepaskan miliknya.
Ketika sebuah keadaan mengancam satu-satunya kehidupan damai yang ia miliki sekarang, Aurelia dipaksa memilih: tetap menjadi wanita lemah yang mencoba melupakan segalanya, atau kembali menjadi ratu kejam yang pernah menguasai dunia bawah tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26- Jangan melebihi batas, Max
"Alena!"
Seru Max lagi dengan nada tidak sabar. Tanpa permisi, ia mengulurkan tangannya yang lancang dan bersiap meraih pergelangan tangan Alena untuk menarik perhatian wanita itu sepenuhnya.
Namun, gerakan Max langsung terhenti di udara.
Set!
Sebuah cengkeraman tangan yang kokoh dan dingin langsung mengunci pergelangan tangan Max dengan presisi tinggi. Bara telah bergerak secepat kilat, menghalangi tindakan Max tepat sebelum kulit pria itu menyentuh Alena.
Kekuatan di balik cengkeraman Bara tidak main-main, hingga membuat Max sedikit meringis walau ia berusaha keras menyembunyikannya di balik wajah angkuhnya.
"Jangan melebihi batas, Max," seru Bara dengan suara rendah yang menekan dan sedingin es di puncak kutub.
Selama beberapa detik yang mencekam, suasana di dalam toko bunga itu terasa hening. Kedua pria itu saling mengunci pandangan dalam jarak yang dekat.
Max menatap Bara dengan sorot mata menantang dan tidak terima, sementara Bara membalasnya dengan tatapan tajam dan tidak tergoyahkan.
Atmosfer di dalam ruangan seketika terasa panas, seolah-olah percikan api bisa menyulut pertarungan fisik kapan saja.
Sementara itu, Alena yang berdiri di antara mereka hanya bisa menghela napas dan sedikit memutar kedua bola matanya karena merasa jengah dengan drama instan yang tersaji di depan matanya ini.
Kemudian, dengan gerakan tenang, Alena memisahkan posisi mereka dan bertindak bagai wasit yang siap meniup peluit di tengah ring duel.
"Mulai deh..." seru Alena, sambil menepis tangan mereka berdua dari hadapannya. "Kalau kalian terus seperti ini, besok aku akan mendaftarkan kalian berdua ke tempat sasana tinju sekalian. Biar puas."
Spontan, perkataan Alena membuat pertarungan urat saraf itu buyar. Max langsung menarik tangannya kembali sambil mendengus dan merapikan jaketnya dengan gaya berlebihan.
Sementara Bara langsung mundur satu langkah dan menundukkan kepalanya sedikit dengan wajah bersalah karena telah membiarkan emosinya terpancing.
Keduanya kini kompak terdiam, lalu patuh mengikuti langkah Alena yang berjalan masuk ke dalam ke area bunga segar.
Alena mengabaikan ketegangan yang tersisa. Ia mengambil botol semprotan air dan gunting dahan, lalu mulai memeriksa ember-ember besar berisi bunga mawar merah yang baru datang pagi tadi.
Dengan sigap Bara mengambil ember kosong lainnya untuk membantu memilah daun-daun yang layu.
Lalu, Alena melirik ke arah Max yang kini bersandar di salah satu pilar kayu dengan gaya sok keren, sambil mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya ke lantai.
"Jadi, Max... apa liburanmu kemarin menyenangkan?" tanya Alena dengan nada menyindir yang cukup kentara.
Matanya tetap fokus memotong tangkai mawar kemudian berkata lagi, "Pergi tiba-tiba berhari-hari tanpa satu pun pesan, lalu muncul malam-malam seperti hantu."
Disindir seperti itu, bukannya merasa bersalah, wajah Max justru langsung berbinar cerah.
Pria itu segera menegakkan tubuhnya, seolah-olah pertanyaan Alena adalah panggung yang memang sudah ia tunggu-tunggu sejak tadi untuk pamer.
"Tentu saja menyenangkan! Bahkan sangat luar biasa!" sahut Max dengan nada menggebu-gebu, bahkan tangan kirinya bergerak heboh di udara menceritakan ekspresinya. "Dan tolong dicatat, Alena, aku kemarin itu bukan cuma liburan santai tidak jelas. Tapi aku juga mendapat proyek pekerjaan besar yang menghasilkan banyak uang!"
Bara yang sedang memotong daun mawar di sebelah Alena melirik Max sekilas dengan tatapan datar, namun tetap memilih menyimak tanpa berniat menyela.
"Pekerjaan apa?" tanya Alena tanpa menoleh, dan masih sibuk merapikan kelopak bunga.
"Ah, kau tau sendiri kan instingku dalam melihat peluang bisnis itu sangat tajam?" cerocos Max penuh percaya diri, seraya menepuk dadanya bangga.
"Kemarin itu ada seorang pengusaha kaya dari luar kota yang butuh jasa pengawalan dan perantara khusus untuk mengurus beberapa aset pribadinya yang bermasalah. Mereka butuh orang yang cerdas, gesit, dan punya koneksi luas sepertiku! Begitu urusan selesai, mereka langsung membayarku tunai tanpa banyak tanya. Lihat ini!"
Max merengkuh dompet kulitnya dari saku celana, dan sengaja membukanya sedikit lebar di depan Alena untuk menunjukkan tumpukan lembaran uang berwarna merah yang tebal.
"Dengan uang ini, aku bahkan bisa menyewa seluruh toko bungamu ini selama satu bulan penuh kalau aku mau," lanjut Max dengan tawa sombong khasnya, sambil melirik Bara dengan sudut matanya seolah ingin memamerkan pencapaiannya pada pria itu.
Alena menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar kesombongan Max yang sama sekali tidak berubah sejak dulu.
Sikap narsis dan cara bicaranya yang agak berlebihan, yang sering dicap orang-orang sebagai gaya jamet, justru terasa menggelikan di telinga Alena.
"Simpan saja uangmu itu untuk membayar sewa tempat tinggalmu, Max," sahut Alena, sambil menerima seikat bunga mawar putih yang disodorkan Bara dengan gerakan yang sangat kompak. "Dan terima kasih atas ceritanya. Setidaknya aku tau kamu pergi bukan karena diculik penagih utang."
"Hei! Mana mungkin orang sekeren aku diculik penagih utang!" protes Max, lalu melipat tangannya di dada dengan wajah cemberut yang dibuat-buat karena merasa tersinggung.
Bara yang memperhatikan interaksi tersebut hanya mengulas senyum tipis yang hampir tak terlihat.
Di satu sisi, ia masih menaruh curiga pada latar belakang Max yang penuh misteri. Namun di sisi lain, melihat bagaimana Alena bisa menanggapi Max dengan begitu santai dan lepas, membuat Bara sadar bahwa kehadiran Max, meski menyebalkan dan berisik, setidaknya membawa warna tersendiri dalam kehidupan damai yang sedang Alena bangun saat ini.
"Bara, tolong ambilkan air bersih lagi untuk ember di sudut sana," pinta Alena lembut.
"Baik, Alena," jawab Bara patuh, dan langsung beranjak dengan langkah yang sigap.
Mendengar panggilan akrab itu kembali meluncur dari bibir keduanya, Max yang berdiri di dekat pintu hanya bisa mendengus kasar dan memandangi mereka berdua dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa cemburu yang coba ia tutupi dengan tawa malas.
Apa Max akan tau tentang hubungan mereka? Bagaimana kalau dia tau ya?
Bersambung...