Cerita tentang seseorang yang berasal dari Indonesia berpindah ke sebuah dunia fantasy, dimana terlihat gunung berbentuk pedang dan pulau melayang itu biasa. Untuk bertahan hidup dia yang tak memahami kemampuan peningkatan di fiksi memililih menggunakan Teknik dari Indonesia yang menggunakan Tenaga Dalam yang dia ubah beberapa caranya. Isi dari novel ini hanya perjalanannya mencari cara untuk membuat kemampuan tenaga dalam milik Indonesia bisa menyaingi peningkatan kemampuan di dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TrueRuler, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6: Lonceng Takdir
{Suara lonceng menggetarkan ruang
Berdentang mengguncang jiwa
Terpaku bagai patung es
Mata tak bisa melihat
Telinga menerima suara
Pikiran mendikte akan suara
Angin lembut tapi menumbangkan pohon
Satu tetes air yang melubangi batu
Siapa lagi yang terkuat?
Siapa lagi yang terlemah?
Semua mahluk harus mendengarkan
Supaya tahu letak sendiri.}
Suara lonceng begitu kuat sampai menyakiti telinga.
“Ugh… suara apa ini?”
“Sudah berbunyi berkali kali”
Cakra menilik di lubang pintu melihat sebuah lonceng melayang. Di kejauhan, ukuran lonceng menutupi gunung dan mampu mengisi sebuah sungai. Setelah 3 kali berbunyi yang berlangsung selama 30 menit, Lonceng itu menghilang digantikan oleh sebuah prasasti seukuran gunung pedang. Prasasti tersebut terlihat kosong, hanya petak bagai sebuah kotak tanpa ada celah sedikitpun. Permukaannya mulus seakan akan ini dibuat dari air yang tenang, tapi suara di dunia itu pun menjadi sangat tenang.
“Apa ini?”
“Awalnya suara yang sangat kuat”
“Sekarang sangat sepi bahkan suara ilalang pun gak ada”
Di tempat lain.
“Lonceng dunia?”
“Dan prasasti waktu?”
“Kalau benda ini muncul berarti dunia ini telah menciptakan aliran baru”
“Tapi aliran apa?”
“Selain praktisi, ksatria, monster, penyihir dan sastrawan”
“Aliran apalagi yang masuk?”
Cakra lelah menunggu prasasti tersebut lalu kembali masuk kedalam melanjutkan makannya. Prasasti tersebut mulai terisi nama aliran peringkat diperbaharui dengan suara yang seperti membimbing penulisan.
“Peringkat Aliran Dunia”
“Peringkat pertama: Praktisi”
“Kemampuan kedua yang muncul setelah kejatuhan para dewa, mampu membelah gunung mengisi sungai, dengan kekuatan puncak melampaui langit dunia ini”
“Peringkat dua: Ksatria”
“Tubuh manusia biasa, tekad langit, membentuk kekuatan dari pemahaman dan usaha. Dengan kekuatan puncak memotong dewa. Kemampuan lama yang muncul dari manusia berusaha melawan monster”
“Peringkat 3: Sastrawan”
“Kata kata menandakan aturan. Menciptakan formasi menjarakkan pulau dan gunung. Kemampuan puncak mendikte langit. Kemampuan yang muncul disaat manusia kekurangan moral”
“Peringkat 4: Penyihir”
“Manusia meminjam kekuatan dari alam, membentuk perulangan didalam tubuh. Walau gak bisa menjadi dewa. Manusia menciptakan kemampuan ini saat mereka sadar tanpa bakat ataupun akar roh mereka masih bisa melindungi diri sendiri”
“Peringkat 5: ???”
“Manusia dari luar dunia. Tak memiliki teknik apapun dan tubuhnya memiliki penolakan alami terhadap kemampuan magis. Mirip manusia biasa di dunia ini, menciptakan kemampuan untuk mencampurkan energi alam dengan tenaga dalam. Dirinya mulai bangkit”
Cakra yang mendengar itu.
“Bukankah itu diriku?”
“Sepertinya dunia ini telah menyadar keberadaanku”
“Hmm aku harus berhati hati”
“Walau kekuatanku, tak membentuk keadaan yang heboh sesuai pemahamanku ini lebih baik”
“Oh dan sepertinya dia belum memberikan nama”
“Bagaimana dengan pendekar?”
Prasasti kembali lagi bersuara
“Nama ditemukan”
“Pendekar”
“Mahluk yang tidak menjadi dewa, mengubah energi alam menjadi miliknya, dia berjalan dengan mengandalkan diri sebagai manusia biasa. Mengambil porsi alam.”
Cakra yang mendengar kaget.
“Mengambil porsi alam?”
“Maksudnya apa?”
“Apakah itu yang didalam mimpiku seporsi tanah masuk ke tubuhku?”
“Tapi aku belum bisa mengontrol hal ini”
Setelah itu prasasti itu terangkat ke langit menghilang di luar angkasa, bagai memasuki ruang lain. Cakra yang merasa sudah selesai, kembali ke tempat tidur melihat banyak hal yang terjadi hari ini dia makin merasa jikalau dunia tersebut mengerikan. Dalam pikirannya Cakra ketiduran dikarenakan dirinya melihat banyak hal di dunia itu. Mimpinya kali ini berada di bumi lagi, Cakra yang melihat bumi menyadari jikalau polusi di bumi dan energi hitam dari luar dunia itu sangat berbeda.
“Hmm ini berbeda”
“Energi mahluk yang muncul di dunia ini jauh berbeda dibandingkan energi di dunia asliku”
Cakra memperhatikan manusia di mimpinya ini, setiap manusia terlihat memiliki kondisi sangat gelap. Kesibukan mereka bagai gak pernah berhenti, hanya senyap saat malam. Ketika tertidur pun bahkan ada beberapa manusia yang terus berpikir membuat tidur milik orang orang tersebut tak sempurna. Cakra melayang pergi dia masih melihat bagian pilar yang mengurung energi, Cakra lalu mencari cara bagaimana cara menghancurkan pilar itu. MC mengangkat sebuah tanah dan menghantamkan ke pilar.
“Eh aku bisa mengontrol tanah?”
“Tapi sepertinya hanya porsi kecil”
“Apakah ini yang dimaksud prasasti itu…”
Setelah berkeliling Cakra mencapai tempat yang sangat sempit, di dalam tempat tersebut terlihat sebuah ruangan tanpa batas tapi juga berbentuk labirin. Cakra yang merasakan suasana tempat itu terlalu aneh pun memilih untuk pergi. Di mimpinya Cakra duduk di sekitar matahari lagi menyerap sinar, lalu saat dirinya sedang asik menyerap sinar dia merasakan dia bisa pergi ke tempat yang lebih jauh.
“Hmm apakah ada ekspansi”
“Sepertinya ekspansi tergantung diriku sendiri”
“Apakah ini adalah alam pikiran yang seperti di cerita cerita luar?”
“Ini menarik”
Cakra melihat banyak planet yang ada di Galaxy tersebut, walau begitu Cakra mencoba mendekati lubang hitam. Sesaat dirinya mendekati lubang hitam Cakra merasakan tarikan yang sangat kuat dari lubang tersebut.
“Eh gawat aku terjebak”
Cakra ditarik kedalam lubang hitam kesadarannya ter-spaghetifikasi sebelum benar benar masuk kedalam. Cakra yang masih pusing berusaha menstabilkan diri baru setelah itu dia sadar, didalam mimpinya sekarang dia melihat sebuah ruang cermin tanpa batas.
“Oh ini mirip sebuah film”
“Menarik”
Belum sampai beberapa detik kesadaran Cakra terpotong potong, membuatnya merasakan sakit luar biasa. Setelah benar benar hancur Cakra melompat dari tempat tidurnya.
“Hah… Hah…”
“Apa apaan itu tadi?”
“Apakah itu yang disebut dimensi ke 5?”
“Sial ini gila”
“Untung saja tubuhku gak benar benar terpotong potong”
“Tapi… apakah cermin tersebut berasal dari ruang itu…”
“Kalau begitu bukankah cermin ini termasuk mahluk hidup?”
Cakra menyadari sudah akan pagi, pergi kedalam gua untuk mandi. Tapi air di danau terlihat menjadi sebening kristal, aura hangat terlihat keluar dari air walau gak sampai mendidih MC tau jikalau danau berubah menjadi sebuah mata air panas.
“Ah air panas?”
“Aku sama sekali gak terbiasa dengan ini”
“Hmm tapi sepertinya suhunya hanya hangat saja”
“Baiklah akan kucoba tapi lebih baik kupisahkan”
Cakra membuka aliran air ke lubang yang telah dia gali, setelah air tersebut cukup Cakra menutup kembali aliran. Cakra pun turun.
“Ahhhh…”
“Hangat nya pas”
“Walaupun baru pertama kali merasakan hal ini, rupanya rasanya cukup baik”
Setelah Cakra mandi dirinya membuang air bekas mandinya ke tanah sekitar karena sudah tercemar sabun sebagai bahan kimia. Cakra juga menulis hari harinya kedalam sebuah buku, yang tanpa sadar setiap tintanya bersinar ketika dia menuliskannya.
Hiss memang lagi mode survival tapi jangan kebanyakan atuh...