"Kadang yang paling kita cari, selalu ada di dekat kita, tapi tetap terasa begitu jauh."
Nayla Lauren Alveric dan Zavier Kael Mahendra berada dalam satu ruang lingkup yang sama, berjalan berdampingan, dan saling menatap mata satu sama lain setiap hari. Namun secara emosional, jarak tak kasat mata membentang begitu lebar di antara mereka.
Meskipun raganya dekat di mata, perasaan ragu, konflik masa lalu, dan rahasia yang tersembunyi membuat hati mereka terasa jauh di hati. Di tengah liku-liku takdir dan pergolakan rasa, dapatkah cinta mereka menemukan jalannya untuk menyatukan dua hati yang saling bertolak belakang ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RETAKAN DI BALIK DINDING KACA
Suasana di kediaman Alveric sore itu terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Angin yang bertiup dari arah taman belakang memukul kaca jendela ruang kerja Alexander dengan ketukan halus yang monoton, mengiringi sunyinya ruangan bergaya interior klasik modern tersebut.
Alexander Alveric duduk di balik meja kerja mahoninya. Di hadapannya, beberapa dokumen proyek yang melibatkan Barito Group dan Mahendra Group berserakan, namun perhatiannya teralih sepenuhnya pada putri tunggal yang paling ia andalkan atau lebih tepatnya, putri yang kini menjadi pusat perhatian dari seluruh intrik yang ia bangun.
Nayla berdiri tegap di tengah ruangan. Tatapannya tak lagi menunduk ragu seperti bulan-bulan sebelumnya. Pengawalan ketat dan tekanan yang bertubi-tubi justru menempa keberanian yang selama ini tersembunyi di balik sikap lembutnya.
"Kamu harus memahami posisimu, Nayla," suara Alexander mengalun berat, tanpa sedikit pun ruang untuk negosiasi. "Pertemuan malam ini dengan keluarga Gatan Rain adalah langkah krusial. Aku tidak mau mendengar ada penolakan atau sikap dingin dari pihakmu, apalagi setelah kekacauan yang kamu buat bersama anak bungsu Kael Mahendra."
Nayla membasahi bibirnya yang terasa kering. Rasa sesak yang membakar dadanya selama berbulan-bulan mendadak mencapai titik didih. Mengapa selalu dirinya? Mengapa seluruh beban reputasi, draf investasi, dan aliansi klan harus dipikul di atas bahunya seorang?
"Kenapa harus selalu Nayla, Ayah?" pangkas Nayla, suaranya bergetar namun sarat akan penekanan yang tegas.
Alexander mengangkat alisnya sedikit, terkejut oleh nada bicara putrinya yang secara terbuka mempertanyakan keputusannya. "Apa maksudmu, Nayla?"
Nayla melangkah satu tapak lebih dekat ke arah meja kerja sang Ayah. "Kenapa bukan Aurora saja yang dijadikan bahan dan diatur-atur segalanya?" tanya Nayla dengan napas tertahan. "Apa karena Aurora masih SMP? Apa tidak pantas begitu? Bukankah Aurora juga anak Ayah? Anak perempuan Ayah itu ada dua, bukan cuma Nayla!"
Ruangan itu mendadak hening seketika. Eleanor yang baru saja melangkah masuk membawakan cangkir teh hangat tertegun di ambang pintu, menatap putri sulung dan suaminya secara bergantian dengan raut cemas.
Alexander meletakkan penanya dengan bunyi klak yang tegas ke atas meja, menatap Nayla dengan sorot mata yang menggelap. "Jaga bicaramu, Nayla. Aurora masih terlalu muda untuk mengerti urusan bisnis keluarga."
"Lalu sampai kapan Nayla yang harus menanggung semuanya sendirian?" balasa Nayla, air mata menetes menyusuri pipinya namun tatapannya tetap terkunci pada sang Ayah. "Sejak Nayla masuk SMA, seluruh hidup Nayla dirancang seperti dokumen saham! Mas Adrian dan Mas Julian diberi kebebasan memilih divisi mereka sendiri, Aurora dilindungi dari semua tekanan ini... tapi Nayla? Nayla dijual ke dalam aliansi bisnis hanya karena Nayla anak perempuan yang paling mudah dikendalikan!"
"Nayla!" potong Eleanor lembut namun panik, melangkah mendekat dan menyentuh lengan putrinya. "Jangan bicara seperti itu pada Ayahmu, Sayang. Ayah melakukan ini demi kebaikan masa depanmu juga—"
"Kebaikan siapa, Bunda?" sela Nayla, memutar kepalanya menatap Eleanor dengan kepedihan yang mendalam. "Kebaikan klan Alveric? Atau kebaikan ambisi Ayah di hadapan Barito dan Mahendra Group? Kenapa Aurora dibiarkan melukis, dibiarkan main sampai sore, sementara Nayla bahkan tidak boleh memilih siapa teman yang boleh duduk di sebelah Nayla di sekolah?"
Alexander berdiri perlahan dari kursi kebesarannya. Wajahnya mengeras, memperlihatkan wibawa seorang pimpinan Alveric yang paling ditakuti di dunia korporat.
"Aurora adalah adikmu, dan tugas seorang kakak adalah melindungi adiknya dari kerasnya dunia luar," kata Alexander dingin, tiap katamu menghantam tepat ke ulu hati Nayla. "Kamu berada di posisi ini karena kamu adalah Alveric yang siap dipersiapkan. Jangan bandingkan dirimu dengan adikmu yang belum genap lima belas tahun."
Nayla tersenyum getir, sebuah senyuman penuh kekecewaan yang memutus sisa-sisa keterikatannya pada aturan rumah itu.
"Jadi karena Aurora masih SMP, dia berhak punya kehidupan murni... sedangkan Nayla harus mengorbankan seluruh hidup Nayla demi menutupi ambisi klan ini?" bisik Nayla lirih. "Kalau begitu... Nayla berharap Nayla tidak pernah dilahirkan sebagai anak ketiga perempuan di keluarga ini."
Tanpa menunggu jawaban dari ayahnya atau usapan menenangkan dari Ibunya, Nayla membalikkan tubuhnya dan melangkah keluar dari ruang kerja itu dengan cepat, meninggalkan perdebatan yang baru saja meretakkan tembok kebanggaan Alveric hingga ke akarnya.
kekny zavier ini tipe aku 🤭