NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Tahun 1970 Berbekal Game Pertanian

Terlempar Ke Tahun 1970 Berbekal Game Pertanian

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Kainara Seroja Putri tidak pernah menyangka kematian akan membawanya kembali ke tahun 1972, terbangun dalam tubuh Seroja Ningsih, gadis desa lemah yang baru saja dibuang oleh ayah kandungnya sendiri.

Dengan bekal sistem game pertanian dan pengetahuan dari masa depan, Seroja harus menghidupkan tanah kapur tandus yang dianggap tidak berguna, mencari jalan untuk bertahan hidup, serta mengembalikan harga diri ibunya yang telah diinjak-injak.

Namun, ketika tanah buangan itu perlahan berubah menjadi sumber kekayaan, Seroja justru menarik perhatian orang-orang yang selama ini menyembunyikan rahasia kelam keluarganya. Sebuah rahasia yang dapat mengubah hidupnya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Mereka Kira Aman

"Tarik dia ke atas! Orang tua begitu malah bikin malu satu dusun!"

Suara tegas Kepala Dusun memecah keramaian pagi di pinggir Hutan Jati. Pria berseragam khaki itu berdiri di bibir lubang jebakan babi hutan. Atas perintahnya, dua pemuda desa menarik lengan Kasman hingga tubuh yang menggigil itu berhasil diangkat ke atas.

Lumpur hitam menetes dari celana komprangnya. Bau busuk bercampur dengan aroma minyak tanah dari botol kaca yang ikut diambil sebagai barang bukti. Sejak matahari terbit, warga sudah berkerumun di sekitar lubang. Mereka berbisik-bisik sambil memandang Kasman dengan tatapan penuh hina.

"Kemarin ladangnya habis dimakan wereng. Sekarang malah mau bakar kebun anak yatim. Sudah tua, hatinya masih busuk," celetuk seorang penjual jamu sambil meludah ke tanah.

"Bawa dia ke balai desa sekarang," perintah Kepala Dusun tegas. "Biar mantri polisi yang mengurus perkara percobaan pembakaran ini."

Kasman hanya menunduk. Wajahnya pucat, tubuhnya masih dipenuhi lumpur yang mulai mengering. Dengan langkah berat, ia berjalan mengikuti para pemuda desa.

Tak seorang pun membelanya.

Pagi itu, seluruh sisa harga dirinya seolah tertinggal di dasar lubang jebakan babi hutan.

Kerumunan warga perlahan bubar. Namun, banyak yang masih menoleh ke arah kebun di belakang gubuk Seroja. Para petani yang gagal panen berdiri terpaku. Di atas tanah kapur yang selama ini dianggap tandus, deretan tanaman tomat tumbuh subur diterpa matahari pagi.

Buahnya merah ranum, besar, dan padat. Hampir tak ada bekas serangan hama. Kabar tentang kebun Seroja pun cepat menyebar ke seluruh desa. Janda dan anak perempuannya berhasil menumbuhkan harapan di tanah yang dianggap tak lagi bisa memberi hasil, saat sawah dan ladang warga lain rusak diserang wereng cokelat.

Di halaman belakang, Siti duduk di atas dingklik kayu sambil memetik tomat yang sudah matang. Setiap buah diusapnya pelan dengan ujung kebaya agar bersih dari debu.

Senyum tipis tak lepas dari wajah perempuan itu.

Nenek Warni duduk di serambi sambil menganyam daun kelapa untuk penutup keranjang. Napasnya kini jauh lebih lega. Serbuk jati beracun yang dulu memenuhi atap sudah diturunkan dan dibakar Danu kemarin sore.

Seroja menerima keranjang rotan dari tangan ibunya. Ia memilah tomat satu per satu dengan teliti. Buah yang sudah merah ranum disusun di bagian bawah, sedangkan yang masih semburat hijau diletakkan di atas agar tidak mudah memar selama dibawa.

Kulit tomat itu tampak mengilap diterpa matahari pagi. Ukurannya besar dan matangnya merata, sesuatu yang jarang terlihat di tanah kapur seperti desa mereka. Benih dari sistem memang menjadi awalnya, tetapi tangan-tangan keluarganyalah yang merawat setiap tanaman hingga menghasilkan panen sebanyak ini.

"Dagingnya tebal, warnanya juga bagus," puji Bagas. Pemuda delapan belas tahun itu meletakkan gulungan tali ijuk di samping keranjang. Matanya berbinar melihat hasil panen mereka. "Pedagang di pasar kabupaten pasti berebut. Satu buah saja hampir penuh segenggam tanganku."

"Ini juga berkat pupuk kompos yang kalian buat," balas Seroja sambil mengikat keranjang. "Hari ini semua hasil panen pertama kita bawa ke pasar kabupaten. Sekarang sayur lagi langka. Harganya pasti sedang bagus."

Seroja sudah menghitung semuanya dalam benaknya. Di tengah sulitnya hasil panen, tomat sebagus ini nilainya sangat tinggi. Uang dari penjualan pertama itu akan dipakai untuk menyewa traktor kecil dan membuka bedeng baru yang lebih jauh dari tanah kapur.

Danu datang tergesa-gesa dari halaman depan. Caping anyamannya dilempar begitu saja ke atas lincak bambu. Wajahnya basah oleh keringat, napasnya masih memburu.

"Dokar sewaan kita dicegat di gapura desa," katanya cepat, mematahkan suasana gembira itu. "Anak buah Supri masang palang kayu jati di tengah jalan keluar desa. Mereka berjaga bawa celurit sama pentungan. Kata mereka, tidak boleh ada dokar, sepeda, atau gerobak petani yang lewat tanpa izin Supri."

Tangan Siti berhenti memetik tomat. Wajahnya langsung pucat. Tomat tidak bisa disimpan lama. Kalau hari ini gagal dijual, beberapa hari lagi buah-buah itu akan mulai layu dan harganya jatuh. Menutup jalan keluar desa jelas cara Supri menekan mereka tanpa perlu datang merusak kebun.

Danu mengepalkan tangan sampai buku-buku jarinya memutih.

"Mas ke sana sekarang. Palangnya Mas tebas. Biar dokarnya tetap lewat."

"Jangan, Mas Danu," kata Seroja cepat. Ia berdiri sambil mengusap getah tomat di telapak tangannya. "Kalau Mas berkelahi di jalan, yang mereka rusak pasti tomat kita. Memang itu yang mereka mau. Mereka sedang cari alasan buat membuang semua dagangan kita ke selokan."

Seroja memilih tidak terpancing. Melawan preman bayaran dengan kekerasan hanya akan membuat Danu berurusan dengan hukum. Mereka harus mencari jalan lain yang tak dijaga anak buah Supri.

Bagas mengusap lehernya yang berdebu. Pandangannya lalu berhenti pada sebuah gerobak dorong tua di sudut halaman, di dekat tumpukan kayu bakar. Gerobak kayu jati itu tampak kusam, rodanya tebal dengan pelat besi di bagian luar.

"Kita jangan lewat jalan aspal," usul Bagas. Senyum tipis muncul di wajahnya. "Supri cuma menjaga jalan utama. Dia lupa masih ada jalan setapak bekas jalur angkut kayu jati zaman Belanda di pinggir hutan sebelah utara. Jalannya memang memutar, tapi tembus langsung ke pinggiran kota kabupaten tanpa lewat gapura desa."

Danu mengernyit. "Jalan utara itu sempit, Gas. Banyak semak sama akar pohon. Dokar pasti tidak bisa lewat."

"Kalau dokar memang tidak bisa," jawab Bagas. "Tapi gerobak kayu ini masih muat. Biar aku yang tarik dari depan. Mas Danu dorong dari belakang kalau ketemu tanjakan."

Seroja menatap gerobak tua itu beberapa saat. Membawa hasil panen melewati jalan hutan bukan pekerjaan ringan. Tapi saat ini, hanya itu jalan yang mereka punya.

"Kita lewat jalur utara," putusnya. "Ayo, pindahkan semua keranjang ke gerobak."

Tak lama kemudian mereka sudah menyusuri jalan setapak di pinggir Hutan Jati. Matahari mulai meninggi, membuat udara semakin gerah.

Bagas menarik gerobak dari depan sambil mengarahkan roda agar tidak menghantam batu-batu kapur. Di belakangnya, Danu mendorong sekuat tenaga setiap kali roda tersangkut di tanah yang lembek.

Bekas jalur angkut kayu itu hampir tertutup ilalang. Akar-akar pohon melintang di sepanjang jalan, membuat gerobak terus berguncang.

Seroja berjalan di samping gerobak sambil memegang keranjang agar tomat di dalamnya tidak berjatuhan. Sesekali ia menyingkirkan ranting atau batu yang menghalangi jalan.

Baru beberapa saat berjalan, baju Danu dan Bagas sudah basah oleh keringat. Udara hutan yang lembap menguras tenaga mereka sedikit demi sedikit.

Derit roda gerobak berpadu dengan suara burung tekukur di antara pepohonan. Meski napas mulai memburu dan tubuh dibasahi keringat, tak seorang pun berhenti mendorong.

"Tinggal satu turunan lagi," seru Bagas sambil menoleh ke belakang. "Habis itu kita sampai jalan aspal kota kabupaten!"

Seroja mengangguk sambil menyeka peluh di pelipisnya. Turunan di depan tertutup daun-daun jati kering yang berserakan, hingga permukaan tanah di bawahnya nyaris tak terlihat.

Bagas mengencangkan pegangannya pada gagang gerobak. Ia bersiap menahan laju saat memasuki turunan.

Baru beberapa langkah...

Brak!

Tanah di bawah roda kiri mendadak amblas.

Roda gerobak terperosok ke dalam lubang yang tersembunyi di balik tumpukan daun. Terdengar bunyi kayu berderak keras. Gagang gerobak terlepas dari tangan Bagas hingga ia terjatuh ke tanah.

Gerobak langsung miring. Keranjang-keranjang tomat ikut bergeser, nyaris tumpah ke batu-batu di bawah.

Danu segera menjatuhkan lututnya ke tanah. Dengan seluruh tenaganya, ia menahan badan gerobak agar tidak terguling.

Seroja langsung paham.

Lubang itu bukan terbentuk begitu saja.

Seseorang sengaja menggali perangkap, lalu menutupinya dengan daun-daun jati. Berarti tangan Supri sudah menjangkau bahkan jalan hutan yang mereka kira aman.

1
watno antonio
yang banyak punya thor
Miaaaoowww😸
tumben kk ceritanya update 1 biasanya banyak😘😘😘, sehat2 y kk authorrrr
vania larasati
lanjut
Fauziah Daud
trusemangattt
Fauziah Daud
hadir thor
INeeTha: Makasih kaka🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!