Demi melunasi hutang sang ayah, Maureen terpaksa menggantikan kakak nya sebagai mempelai. la dinikahi oleh Alarick Carlson, pria yang digambarkan kejam dan buruk rupa, hingga keluarga nya enggan menyerahkan Maura putri kesayangan mereka.
Kini Maureen harus menghadapi pernikahan yang sarat misteri dan ketidakpastian dari suami nya. Mampukah ia menjalankan takdir yang dipaksakan kepada nya? Dan mampu kah Maureen bertahan dengan pernikahan yang dilandasi keterpaksaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ausilir Rahmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Maureen bergidik ngeri, ia terus menggeserkan tubuh nya dan terus berusaha untuk menjauh dan menjaga jarak, sampai ia berada di ujung ranjang berukuran king size itu.
Terlebih lagi perasaan takut begitu besar menyelimuti hati nya, saat melihat Arik membuka satu persatu kancing baju kemeja nya.
Hingga terlihat jelas dada bidang kotak-kotak dan kekar lelaki bertopeng silver yang beraura dingin dan menakutkan itu.
"A-apa yang ingin anda lakukan tuan? " ujar Maureen menelan saliva beberapa kali seraya menyilangkan kedua tangan di atas dada nya yang mengembang kempis.
Saat melihat lelaki yang berstatus suami nya itu merangkak ke atas ranjang, setelah menghabiskan satu gelas anggur merah yang telah di sediakan oleh para pelayan di atas meja sebagai tradisi untuk menyambut perayaan pengantin baru.
"Aaah jangan.." Jerit Maureen berusaha menghindar saat tangan Arik meraih dan merobek gaun pengantin yang masih melekat di tubuh nya.
Air mata gadis manis dan polos itu pun menetes, saat Arik mencium kasar bibir nya. Hingga Arik menjelajahi dan menjamah leher dan kedua aset bukit kembar milik nya.
"Sakit.." rintihan Maureen.
Maureen mengigit bibir atas nya, kedua jemari lentik nya mencengkram erat sprei. Sungguh dia tidak pernah menyangka jika diri nya akan mendapat perlakukan kasar sama sekali tidak ada sentuhan yang lembut.
Sangat jauh berbeda dengan harapan nya berharap bisa menikahi seorang lelaki yang bisa mencintai dan menjadi kebahagiaan dalam hidup nya.
Namun ekspektasi nya sangat berbeda, yang ia lihat dari kedua manik mata berapi-api seorang Arik hanya di penuhi kebencian dan amarah pada nya.
"Cih! menangis sungguh tidak menggugah selera!" Sinis Arik menatap remeh Maureen dengan nada dingin, lalu beranjak dari ranjang meraih dan memakai kemeja nya kembali. Lalu keluar kamar sembari membanting pintu dengan kasar.
Maureen yang masih terbaring pasrah dengan kondisi wajah pucat dan gaun yang berantakan terhentak kaget.
"Kenapa? Kenapa seperti ini?" Maureen bertanya-tanya penuh keheranan, perlahan ia duduk memeluk kedua lutut-nya, sesekali melihat tanda-tanda merah keunguan di atas dada yang ditinggal oleh Arik tadi.
Sekarang dia baru sadar dan paham, kenapa ayah dan ibu nya begitu enggan menikahkan sang kakak dengan lelaki yang sudah menjadi suami nya.
Seperti yang tertulis di beberapa artikel bisnis, jika Alarick Carlson pimpinan Carlson Grup di kenal. Begitu kejam dan selalu berhasil mengalahkan dan menjatuhkan para saingan bisnis nya.
"Papa! Mama kenapa kalian begitu tega pada ku?" ucap Maureen menangis, ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menanggung kebencian Alarick yang sudah di tipu oleh kedua orang tua nya.
Suara petir dan hujan yang deras di luar sana, seolah menggambarkan jika dunia pun mewakili hati Maureen yang penuh kesedihan dan kekecewaan pada orang-orang dia sayangi.
Mereka begitu tega mendorong nya ke dalam pernikahan yang sulit di pahami, dan entah bagaimana kedepan nya untuk dia jalani bersama lelaki yang sama sekali tidak menginginkan diri nya.
Sementara di kediaman tuan Herman, Susan terlihat begitu antusias saat melihat barang-barang mewah yang dia dapat dari mas kawin putri nya.
"Ma, Papa sangat cemas. Bagaimana kalau nanti kalau tuan Hans marah pada kita. Jika bukan Maura yang kita nikahkan dengan putra nya?"titah Tuan Herman yg sangat tampak gelisah sembari berjalan mondar-mandir.
Susan seketika memutar kedua bola mata malas nya, perlahan dia mendelik ke arah suami nya yang berada tepat di belakang nya.
"Ya ampun Papa, tidak usah cemas kita cari alasan saja nanti. Lagian apa Papa rela kalau Maura putri kita menikahi pria yang cacat seperti itu? Kalau mama sih ogah." ucap Susan sembari bergidik ngeri.
Herman pun berpikir yang sama, dia juga sama sekali tidak rela jika sampai Maura tidak bahagia dengan pria itu.
Dia berusaha untuk tenang, seperti yang di katakan oleh istri nya. "Itu mas kawin dari besan kita, Mama beri beberapa perhiasan itu untuk Maureen, karena dia yang menikah dengan tuan Alarick." Perintah Herman.
Susan langsung menggerutu, dia sama sekali tidak setuju karena bagi nya perhiasan dan barang-barang branded itu hanya pantas di pakai oleh Maura saja.
"Tidak! Tidak boleh. Ini semua untuk Maura" ucap Susan menolak mentah-mentah tidak rela.
Pria paruh baya itu pun hanya bisa menghela nafas kasar nya dan sembari menggelengkan kepala, rasa nya dia tidak punya keberanian lagi untuk tidak patuh pada sang istri.
Suara dering pesan kembali masuk ke dalam ponsel Herman dari besan nya tuan Hans, yang mengatakan jika ia akan menepati janji nya buat membantu suntikan dana untuk perusahaan nya yang saat ini sedang berada di ujung tanduk.
Dahi Susan mengerut, saat melihat suami nya tampak serius membaca pesan di ponsel nya. "Papa, siapa malam-malam seperti ini menghubungi mu?"tanya nya penasaran menatap ke arah layar benda pipih persegi canggih itu.
Tuan Herman tampak antusias dan menceritakan jika besan nya, akan membantu perusahaan nya untuk mengatasi dana pembayaran gaji para karyawan yang sudah tertunggak dua bulan yang belum mampu dia bayarkan.
"Kabar yang sangat bagus itu pa, tidak sia-sia kita menyuruh Maureen untuk menikah. Setelah membantu dana perusahaan, semoga saja besan kita melunaskan semua hutang Papa juga." ucap Susan dengan penuh kegirangan.
"Tidak semudah itu Ma, Papa sangat khawatir jika putra Hans Carlson tidak mau menerima Maureen, bisa mati kita karena kemarahan nya." ucap Herman cemas dengan kemarahan Alarick.
\*
Bersambung.........................