NovelToon NovelToon
The Return Of The Lost Heiress

The Return Of The Lost Heiress

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Keluarga & Kasih Sayang / Drama
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Haena_Llulia

Tujuh belas tahun hidup sederhana, Haena mendadak mendapati dirinya adalah putri kandung yang tertukar dari Keluarga Dirgantara, dinasti konglomerat terkaya. Namun, kepulangannya ke istana megah itu justru disambut dingin oleh sang ibu, Nyonya Rosalind, serta intrik busuk dari Vanya, anak angkat yang takut posisinya tergusur.

Bukannya tumbang oleh intimidasi dunia elite, gadis jenius bermental baja ini justru menarik perhatian Kaelen Arkananta, pewaris tunggal yang terkenal dingin dan tak tersentuh. Bersama Kaelen, Haena tidak hanya menemukan cinta sejati, tetapi juga mulai membongkar konspirasi gelap masa lalu yang sengaja membuangnya saat bayi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haena_Llulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Rencana di Balik Tirai Sutra

Gema tamparan keras pembungkaman akademik di lobi sekolah siang itu merambat begitu cepat, hingga getarannya sampai ke ruang kerja megah di lantai paling atas gedung pencakar langit Dirgantara Corp. Tuan Bramasta Dirgantara menatap layar tablet khusus di mejanya yang menampilkan surat keputusan resmi kementerian dengan senyum yang tak bisa disembunyikan.

Guratan lelah di wajah tegasnya seolah menguap begitu saja. Darah dagingnya, putri kandungnya yang sempat terbuang di kerasnya kehidupan pinggiran kota, terbukti mewarisi genetik kejeniusan mutlak miliknya. Haena tidak hanya menang; dia menaklukkan seluruh perwakilan elite ibu kota dengan skor sempurna.

"Baskara, siapkan kontrak penandatanganan pengalihan aset tahap awal untuk Haena," perintah Tuan Bramasta tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen prestasi tersebut. Suaranya bariton, berwibawa, dan sarat akan keputusan mutlak.

Pak Baskara yang berdiri takzim di depan meja kerja sang triliuner membungkuk hormat.

"Sudah saya persiapkan, Tuan Bramasta. Sesuai dengan instruksi Anda, beberapa saham di anak perusahaan sektor teknologi akan dialihkan atas nama Nona Haena begitu dia resmi diperkenalkan kepada publik."

"Bagus. Minggu depan, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-tujuh belas, kita akan menggelar pesta perjamuan paling mewah di Grand Ballroom Hotel Dirgantara," ucap Tuan Bramasta, matanya berkilat penuh kebanggaan.

"Aku ingin seluruh kolega bisnis, para diplomat, dan media tahu bahwa pewaris sah Dirgantara Corp telah kembali. Dan dia... adalah seorang jenius yang tak tertandingi."

Sementara itu, atmosfer yang sepenuhnya bertolak belakang menyelimuti ruang santai pribadi di lantai dua kediaman utama Menteng. Kamar Vanya yang luas dengan dekorasi serbapastel dan tirai sutra mahal yang menjuntai dari langit-langit kini terasa mencekam.

Prankkk!

Sebuah vas bunga porselen eksklusif hancur berkeping-keping setelah dihantamkan ke dinding marmer. Vanya berdiri di tengah ruangan dengan napas memburu, wajah cantiknya yang biasa terlihat lembut kini memerah padam akibat amarah dan rasa malu yang membakar dadanya. Air matanya merusak riasan mata ala Korean Ulzzang yang digunakannya hari ini.

"Bagaimana mungkin?! Bagaimana bisa jalang kecil dari kedai soto itu mendapatkan nilai seratus mutlak?!" pekik Vanya histeris, suaranya melengking menahan dendam.

"Mama! Seluruh sekolah sekarang menertawakanku! Geng Sherly dan Marta bahkan mulai berbisik-bisik di belakangku! Posisiku... reputasiku selama bertahun-tahun hancur dalam satu hari!"

Nyonya Rosalind Dirgantara yang duduk di sofa beludru segera berdiri, melangkah cepat dan memeluk bahu anak angkatnya itu dengan sangat protektif.

"Tenang, Vanya. Kendalikan dirimu, Nak. Jangan biarkan para pelayan mendengar keributan ini."

"Bagaimana aku bisa tenang, Mama?!" Vanya melepaskan pelukan Nyonya Rosalind dengan kasar, matanya melotot penuh kebencian.

"Papa baru saja menelepon dari kantor pusat. Papa akan mengadakan pesta perjamuan Grand Debut untuk Haena minggu depan! Papa bahkan berniat mengumumkan pengalihan aset yayasan sekolah dan saham utama kepadanya! Jika itu terjadi... aku akan menjadi bahan tertawaan seumur hidup di lingkaran sosialita kita, Mama!"

Nyonya Rosalind terdiam sesaat, wajah sosialita kelas atasnya perlahan berubah menjadi sedingin es. Gengsi sosial dan reputasi keluarganya di mata publik adalah segalanya bagi wanita ini. Di dalam hatinya, Nyonya Rosalind juga merasa sangat terganggu dengan sikap Haena yang terlalu mandiri, bermental baja, dan menolak untuk tunduk pada aturan etiket yang dicobanya terapkan tadi malam. Haena terlalu liar dan tidak bisa dikendalikan, sangat berbeda dengan Vanya yang selalu penurut dan bisa dipoles menjadi boneka sosialita yang sempurna.

"Vanya, dengarkan Mama," ucap Nyonya Rosalind, suaranya melembut namun beraura licik. Dia menuntun Vanya untuk duduk di tepi tempat tidur King Size-nya.

"Satu kali kemenangan akademik di sekolah tidak akan bisa mengubah pandangan para tetua konglomerat di pesta nanti. Dunia elite kita tidak hanya menilai angka di atas kertas, tapi kelas, keanggunan, dan bagaimana seseorang membawa dirinya di atas lantai dansa."

Vanya menghapus air matanya dengan kasar, menatap Nyonya Rosalind dengan pandangan menyelidik.

"Maksud Mama?"

Nyonya Rosalind tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh konspirasi yang sangat kejam.

"Papa-mu memang memegang kuasa penuh atas pengumuman itu, tapi jika pada malam pesta tersebut Haena melakukan kesalahan fatal yang mempermalukan martabat Keluarga Dirgantara di hadapan ratusan kamera media dan kolega asing... maka Papa-mu tidak akan punya pilihan lain selain menunda atau bahkan membatalkan pengalihan aset tersebut demi menjaga harga saham perusahaan."

Mendengar hal itu, binar kelicikan mulai kembali ke mata Vanya.

"Rencana apa yang Mama punya?"

Nyonya Rosalind mengelus rambut Vanya dengan lembut.

"Mama yang akan mengurus seluruh persiapan pakaian dan protokol pesta untuk Haena. Kita akan memberikan dia sebuah gaun yang... 'istimewa'. Sebuah gaun desainer yang tampak luar biasa mewah di luar, namun memiliki cacat tersembunyi pada struktur jahitannya. Begitu dia melangkah ke tengah aula di bawah sorotan lampu utama untuk berdansa, gaun itu akan terlepas dari tubuhnya."

Vanya terbelalak, lalu sebuah tawa kecil yang kejam lolos dari bibirnya.

"Ya Tuhan... Di depan semua kamera wartawan dan kolega bisnis?!"

"Bukan hanya itu," tambah Nyonya Rosalind, matanya menyipit kejam.

"Mama juga akan mengatur agar minuman yang disajikan khusus untuknya sebelum acara dimulai telah dicampur dengan stimulan dosis rendah yang akan membuat keseimbangannya terganggu dan bicaranya meracau. Di atas kertas dia mungkin jenius, tapi di malam pesta nanti, kita akan memastikan seluruh dunia melihatnya sebagai gadis kampung yang depresi, tidak beretika, dan menderita gangguan mental karena tidak siap menerima kekayaan mendadak."

"Dan di saat dia dipermalukan hingga hancur secara fisik dan mental..." Vanya menyambung kalimat ibunya dengan mata berkilat penuh kemenangan, "...aku yang akan maju mengenakan gaun terbaikku, menyelamatkan situasi dengan pidato yang anggun, dan menunjukkan kepada semua orang siapa putri sejati yang sebenarnya pantas menyandang nama Dirgantara!"

"Tepat sekali, putriku," ucap Nyonya Rosalind sembari mengecup kening Vanya.

"Biarkan dia menikmati kemenangan kecilnya di sekolah minggu ini. Karena minggu depan, kita yang akan tertawa di atas kehancurannya."

Di kamar seberang koridor, Haena sedang duduk di meja belajarnya yang luas. Ransel hitamnya diletakkan di samping kursi. Dari balik kacamata transparannya, mata indahnya fokus menatap layar laptop khusus berkecepatan tinggi yang baru saja dikirimkan oleh Tuan Bramasta sebagai hadiah atas prestasinya. Jari-jari lentiknya bergerak lincah di atas papan ketik, memasukkan baris-baris kode enkripsi untuk meretas dan memantau lalu lintas data keamanan rumah sakit tempat Ibu Aminah dirawat.

Bip.

Layar menampilkan laporan medis terbaru Kondisi Pasien Aminah: Stabil. Fungsi paru-paru membaik setelah penanganan dokter spesialis utama.

Haena mengembuskan napas lega, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang empuk. Jari telunjuknya mengetuk pelan tahi lalat kecil di bawah dagunya, sebuah kebiasaan saat dia sedang berpikir keras. Kemampuan mental bajanya membuat dia selalu waspada; dia tahu keberhasilannya hari ini di sekolah pasti memicu badai baru di dalam rumah ini.

Tok! Tok!

Pintu kamar Haena terbuka perlahan tanpa menunggu izin pemiliknya. Nyonya Rosalind melangkah masuk dengan senyuman palsu yang dipaksakan di wajahnya, diikuti oleh dua orang pelayan yang membawa beberapa katalog tebal dari butik desainer papan atas.

"Haena, syukurlah kamu belum tidur," ucap Nyonya Rosalind dengan nada suara yang dibuat sehangat mungkin.

"Papa-mu sangat senang dengan hasil ujianmu tadi, dan beliau memutuskan untuk mengadakan pesta perjamuan besar minggu depan untuk merayakan kepulanganmu. Sebagai ibumu, Mama ingin memastikan kamu tampil paling menonjol malam itu."

Haena menutup laptopnya setengah, lalu memutar kursinya menghadap Nyonya Rosalind. Tatapan dari balik kacamata transparannya begitu datar dan tajam, seolah bisa menembus topeng kepalsuan yang sedang dikenakan oleh wanita paruh baya di depannya.

"Pesta perjamuan? Kurasa itu terlalu berlebihan dan membuang-buang anggaran, Nyonya Rosalind," jawab Haena, sengaja tetap menggunakan panggilan formal yang membuat dahi Nyonya Rosalind berkedut tipis menahan kesal.

"Ini bukan masalah anggaran, Haena, ini masalah martabat keluarga," sahut Nyonya Rosalind, mencoba menjaga intonasi suaranya. Dia memberi isyarat kepada pelayan untuk meletakkan katalog di atas meja.

"Mama sudah memilihkan beberapa konsep gaun malam dari Paris khusus untukmu. Besok, desainer pribadi kita akan datang ke rumah untuk mengukur tubuhmu. Mama harap kamu bekerja sama dan tidak memakai pakaian-pakaian belelmu itu lagi di malam penting nanti."

Haena melirik sekilas ke arah katalog mewah tersebut, lalu kembali menatap mata Nyonya Rosalind dengan senyum tipis yang sarat akan makna tersembunyi. Otak jeniusnya langsung menangkap keanehan dari perubahan sikap ibu kandungnya yang mendadak menjadi sangat perhatian setelah sebelumnya bersikap begitu dingin. Ada motif tersembunyi di balik kebaikan yang tiba-tiba ini.

"Tentu saja. Saya akan mengikuti apa pun pilihan gaun yang Anda siapkan, Nyonya Rosalind," ucap Haena, nadanya terdengar patuh namun matanya memancarkan kilatan kecerdasan yang berbahaya.

"Saya pastikan... penampilan saya di malam pesta nanti tidak akan pernah dilupakan oleh siapa pun di rumah ini."

Nyonya Rosalind tersenyum puas, mengira Haena telah masuk ke dalam perangkapnya dengan mudah.

"Baguslah kalau kamu mengerti. Istirahatlah yang cukup, Haena."

Begitu Nyonya Rosalind dan para pelayannya keluar dan menutup pintu kamar, senyuman patuh di wajah Haena seketika lenyap, digantikan oleh ekspresi dingin yang luar biasa. Dia membuka kembali laptopnya, jemarinya bergerak cepat mengaktifkan mikrofon tersembunyi yang tanpa sengaja menangkap sisa obrolan bisik-bisik Nyonya Rosalind dan Vanya di koridor luar beberapa saat lalu berkat alat sadap digital mini yang sempat dipasang Haena di sudut vas bunga luar kamar.

Dari pelantang suara laptopnya, terdengar suara Vanya yang terkekeh kejam, "Dia benar-benar bodoh, Mama. Dia tidak tahu gaun itu akan menghancurkan hidupnya minggu depan."

Haena menarik sudut bibirnya, membentuk seulas senyuman sinis yang teramat dingin. Mental bajanya tidak terguncang sedikit pun oleh rencana sabotase yang kejam itu. Sebaliknya, adrenalinnya justru bergejolak hebat.

"Mencoba menghancurkanku di depan publik menggunakan pakaian dan obat-obatan?" gumam Haena pelan pada dirinya sendiri, matanya berkilat tajam di balik kacamata transparan.

"Kalian benar-benar salah memilih lawan. Kita lihat saja... siapa yang akan telanjang dan merangkak meminta ampun di atas lantai dansa itu minggu depan."

(Cliffhanger)

"Keesokan harinya di sekolah, Kaelen Arkananta yang mengetahui tentang rencana pesta perjamuan besar tersebut secara misterius menyerahkan sebuah kotak hitam beludru kecil berisi sebuah cip mikroskopis pelacak frekuensi kepada Haena. Kaelen menatap lekat mata Haena dan berbisik, "Gunakan ini di pestamu nanti. Ibumu dan Vanya telah menghubungi salah satu desainer bayaran di bawah jaringan Arkananta Group untuk memodifikasi gaunmu. Aku sudah tahu rencana mereka, Haena... dan aku siap membantumu membalikkan keadaan menjadi pertunjukan berdarah bagi mereka."

1
Osie
rosalind mak kandung harga bukan yaa?? kok malah jd musuh anak sendiri
Haena_Llulia: kamu tau kan maknya gimana😔
total 1 replies
Osie
ini hana apa udah gak sekolah ya..kok mainnya diperusahaan terus
Haena_Llulia: iya, kayaknya gitu deh. ini jg pasti krn masalah yg muncul
total 1 replies
Osie
eh nyonya rosalind ente emak kandung haena kan??? kok kayak mak tiri ya yg takut kehilangan harta warisan
Haena_Llulia: iya aku juga jadi ngedek dehhh sama dia😡
total 1 replies
Osie
mampir akuh nya..msh nyimak dan moga MC nya sosok tangguh. benar benar tangguh n smart
Haena_Llulia: Terimakasih banyak, aminnnn🙏🤗
total 1 replies
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor nulisnya😍
Haena_Llulia: Terimakasih banyak bebkuhhhh😳🙏❤
total 1 replies
Alia Chans
mampir thor✍️👈
Haena_Llulia: Terimakasih banyak🙏
total 1 replies
Siru06
mampir thor👍
Haena_Llulia: Terimakasih banyak🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!