Aldara, wanita yang hatinya baru saja remuk redam ditinggalkan kekasih demi wanita lain, berusaha menyembunyikan kesedihannya di balik senyum tenang agar tidak dikasihani orang lain. Ketika dipanggil oleh kenalannya, Siska, untuk bertemu di kafe langganan, ia tidak menyangka bahwa kunjungannya kali ini akan menjadi titik balik hidupnya. Di sana ia diperkenalkan kepada Aries—seorang pemuda pendiam namun memiliki pesona tersendiri. Pertemuan yang awalnya terasa biasa saja perlahan membuka jalan bagi sebuah kisah baru yang akan menyembuhkan luka lama dan mengajarkan Aldara arti cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 021: Keraguan Hati dan Kebohongan yang Bersembunyi
Setelah selesai menulis di kafe, Aldara langsung melangkahkan kaki menuju rumah Abang Chepot. Hatinya terasa sesak dan penuh kegelisahan, dan hanya di hadapan Abang Chepot ia berani meluapkan segala keluh kesah yang membebani pikirannya.
Sesampainya di sana, ia melihat Abang Chepot sedang bersantai di teras ditemani secangkir kopi hangat. Wajah Aldara yang tadinya tampak cemas, ia coba tutupi dengan senyum saat menyapa.
“Abang…” panggilnya pelan.
Abang Chepot menoleh dan menyambutnya dengan senyuman hangat. “Ada apa, Dede? Wajahmu terlihat berubah, pasti ada masalah kan?”
Senyum Aldara perlahan hilang, berganti dengan raut cemberut. “Abang, Aries tidak ada kabar. Dari kemarin sampai sekarang sama sekali tidak ada pesan atau panggilan,” ucapnya sambil menghela napas panjang. “Entah dia sedang apa saja, masa sekadar memberi kabar pun tidak sempat? Atau jangan-jangan dia sudah melupakanku dan malah menemukan wanita lain, Bang?”
Abang Chepot tersenyum bijak, lalu menyesap kopinya perlahan. “Mungkin dia benar-benar sibuk, Dede. Atau di tempat kerjanya memang tidak ada jaringan yang stabil. Jangan berburuk sangka dulu, siapa tahu ada hal mendesak yang harus diselesaikannya.”
"Tapi Bang, kalau dia sayang dan peduli sama aku, pasti dia memberi kabar buat aku. Itu tidak susah kan bang." Ucap Aldara cemberut.
“Sabar ya, Dede. Kita tunggu saja sampai dia kembali. Nanti setelah itu kamu tanyakan langsung dan minta penjelasannya,” usul Abang Chepot lembut.
Aldara menunduk, matanya mulai berkaca-kaca. “Aku cuma takut, Bang. Aku takut dia seperti Darma, yang pergi bertahun-tahun tanpa kabar, lalu kembali seolah tidak terjadi apa-apa. Atau seperti Hanzo yang akhirnya meninggalkanku demi wanita lain,” ucapnya lirih, terbayang kembali luka dari masa lalu yang belum sepenuhnya sembuh.
Abang Chepot terdiam, dia sekarang paham apa yang dialami oleh Aldara, karena masa lalu membuat dia tidak bisa percaya dengan siapapun termasuk Aries. "Dia trauma." Batin Chepot. "Tenang Dede, Sebaiknya Dede tidak usah terlalu memikirkan dia, Lebih baik Dede mengobrol dengan Dede Ara, atau Hafizah. Kalian bertiga bisa habiskan waktu bersama." Usul Abang Chepot agar Aldara tidak terlalu memikirkan Aries.
“Baiklah Abang, nanti aku ajak mereka,” jawab Aldara pelan.
Sementara itu, di tempat lain, Hafizah dan Ikbal justru sedang bersitegang karena masalah waktu. Hafizah merasa hanya dianggap sebagai pajangan saja.
“Sayang, sudah jangan marah lagi ya. Maafkan aku,” rayu Ikbal dengan wajah memelas.
“Kamu keterlaluan, Bal! Aku ini pacarmu, bukan barang yang hanya dilihat sesekali saja. Kamu terlalu sibuk sampai tidak punya waktu sedikit pun buat aku. Aku lelah terus mengertimu, tapi kamu tidak Pernah mau mengerti perasaanku,” bentak Hafizah tak tahan lagi.
“Maafkan aku. Aku berjanji akan berusaha lebih memperhatikanmu dan tidak akan mengulanginya lagi,” janji Ikbal.
“Janji, janji dan janji! Semua janjimu selalu kamu ingkari,” balas Hafizah kesal.
“Kali ini aku sungguh-sungguh tidak akan mengingkarinya,” ucap Ikbal dengan tegas.
Hafizah menghela napas panjang, lalu menatapnya tajam. “Baiklah, ini kesempatan terakhir buat kamu. Kalau kamu melanggarnya lagi, aku tidak akan pernah memaafkanmu.”
“Iya, aku janji sayang,” jawab Ikbal Yakin.
Di sisi lain, setelah selesai bertemu Talita, Randy langsung bergegas menemui Siska di rumahnya. Ia sengaja mensenyapkan ponselnya tadi agar Talita tidak curiga, padahal Siska sudah berusaha menghubunginya berkali-kali.
“Sayang…” panggil Randy manis sambil menyerahkan sebatang coklat kesukaan Siska. Siska dengan senang hati menerimanya, namun tetap menatapnya dengan curiga.
“Terima kasih. Kamu dari mana saja tadi? Aku sudah menelpon berkali-kali tapi tidak pernah diangkat,” tanyanya menyelidik.
Randy tersenyum lembut, berusaha menenangkan. “Tadi ada pekerjaan mendadak, sayang. Aku tidak sempat mengangkat teleponmu.”
Siska pun mengangguk percaya. “Oh begitu ya.”
Mereka lalu duduk berdampingan di teras, bercanda dan tertawa lepas, tampak sangat romantis Dan serasi. Namun di balik senyum manis itu, Randy menyembunyikan kebohongan besar yang belum diketahui oleh siapa pun.