NovelToon NovelToon
MATA TEMBUSH PANDANG

MATA TEMBUSH PANDANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Dunia Masa Depan / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Melalui dinding yang seolah lenyap itu, Chen bisa melihat dengan sangat jelas interior kamar Mei. Dan yang membuat jantungnya hampir melompat keluar dari dada adalah, ia bisa melihat area kamar mandi kecil di dalam sana. Pintu kamar mandinya pun tembus pandang.
Di dalam sana, Mei sedang berdiri di bawah kucuran air shower. Tanpa sehelai pakaian pun.
Chen terpaku di tempatnya, tenggorokannya mendadak kering. Setiap lekuk tubuh tetangganya itu, bulir-bulir air yang mengalir di kulitnya, bahkan warna rambutnya yang basah terlihat dengan detail yang luar biasa jernih. Kemampuan matanya seolah menembus batas ruang dan privasi yang ada.
Chen buru-buru menutup kedua matanya dengan telapak tangan, napasnya memburu, dan wajahnya memerah padam sampai ke telinga.
“A-apa yang terjadi dengan mataku?!” batin Chen menjerit panik sekaligus tidak percaya. “Apakah kakek semalam… benar-benar nyata?”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Ketika Hati Mulai Berbicara

Satu minggu pun berlalu sejak badai yang menimpa keluarga Mei mereda. Kehidupan di lorong kos-kosan sempit itu kini terasa jauh lebih hangat dan hidup. Seiring berjalannya waktu, kedekatan antara Chen dan Mei semakin tidak bisa dibendung. Mereka sering menghabiskan waktu malam bersama, entah itu sekadar memasak makan malam sederhana di kamar kos atau berjalan-jalan santai menikmati angin malam kota.

Namun, di balik semua kedekatan itu, Chen masih saja didera keraguan. Setiap kali ia menatap mata jernih Mei dan berniat melontarkan kalimat pernyataan cinta yang sudah ia susun di kepala, lidahnya mendadak kelu. Status masa lalunya sebagai kuli angkut miskin terkadang masih membayangi alam bawah sadarnya, membuatnya takut bahwa segalanya bergerak terlalu cepat.

Lucunya, takdir seolah sengaja membalikkan keadaan. Melihat Chen yang mendadak menjadi pemalu dan pasif, justru Mei yang kini mulai mengambil langkah lebih maju. Gadis itu tidak lagi ragu menunjukkan ketertarikannya secara terang-terangan.

Sinyal-Sinyal Manis dari Mei

Sore itu, Chen baru saja pulang dari pasar giok setelah mengamankan beberapa bongkah batu berkualitas. Begitu ia menapakkan kaki di lantai dua, pintu kamar Mei langsung terbuka lebar, seolah gadis itu memang sudah menunggu kedatangannya sejak tadi.

"Chen! Kamu baru pulang?" sapa Mei dengan senyuman manis yang langsung menghilangkan seluruh rasa lelah Chen.

Di tangannya, ia membawa sebuah kotak bekal yang masih mengepulkan uap hangat. "Aku baru saja mencoba memasak resep baru. Ini, khusus aku buatkan untukmu. Kamu harus menghabiskannya, ya!"

"Ah, iya, terima kasih banyak, Mei," jawab Chen agak salah tingkah saat menerima kotak bekal itu. Jarinya sempat bersentuhan dengan jari Mei, membuat jantungnya berdegup kencang.

Tidak berhenti di situ. Di hari berikutnya, saat mereka sedang berjalan bersama menyusuri taman, Mei dengan berani mengikis jarak di antara mereka. Ketika sebuah sepeda motor melintas agak kencang di dekat mereka, Mei tanpa ragu langsung menggandeng lengan Chen dan merapat ke tubuh pemuda itu.

"Di sini agak ramai, jangan jalan terlalu jauh dariku," bisik Mei pelan sambil menengadah, menatap Chen dengan binar mata yang sarat akan makna, sengaja tidak melepas gandengan tangannya bahkan setelah sepeda motor itu lewat jauh.

Chen hanya bisa menelan ludah, wajahnya memerah padam. Sebagai pria, ia tentu tidak bodoh. Ia tahu betul arti dari perhatian lebih, tatapan intens, dan inisiatif fisik yang ditunjukkan oleh Mei selama seminggu terakhir ini. Mei sedang menunggunya bergerak, menuntut kepastian dari hubungan mereka yang menggantung.

Pergulatan Batin Chen

Malam harinya, Chen berbaring di ranjang kamarnya sambil menatap langit-langit. Sensasi hangat di matanya sesekali berdesir, mengingatkannya pada kekuatan luar biasa yang kini ia miliki. Ia bisa melihat menembus beton, bisa melihat harta karun terdalam di dunia, tetapi ia masih terlalu pengecut untuk menembus dinding keraguan di hatinya sendiri.

“Dia bahkan sudah melangkah sejauh ini… Kenapa aku masih ragu?” batin Chen merutuki dirinya sendiri. Ia tersenyum mengingat bagaimana Mei merajuk manja siang tadi saat Chen berpura-pura tidak peka.

Chen memantapkan hatinya. Besok. Ya, besok ia harus menyelesaikan ini. Ia tidak boleh membiarkan Mei menunggu terlalu lama dan berjuang sendirian untuk hubungan mereka.

Namun, Chen belum tahu, bahwa saat ia sedang sibuk memikirkan masalah asmaranya, sebuah undangan formal dengan cap emas berlambang keluarga Liu dan Tuan Feng sudah berada di perjalanan menuju tempatnya, siap menarik kembali pemuda bermata ajaib ini ke pusaran dunia kelas atas yang lebih kejam.

1
Markario Putra
ok siap bang
👍😁
indrawanto djiwanto
konflik kurang banyak min. kalopun lanjut, ceritanya terus jangan berubah jadi kultivator plus nanti lawan alien atau mkahluk dunia ata dst.
Agus Suciyadi
lumayan bagus sih thor...ceritanya nyambung terus, Mcnya bagus dlm sifat dan sikapnya tidak menye2 yg nafsuan. semangat thor lanjut terus/Good//Good//Good/
Markario Putra: Bantu share yah gan 👍
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!