Sembilan belas tahun lalu, Ryuichi Soryu ditemukan tewas dengan cara yang mengguncang jagat dunia bisnis Indonesia.
Berita kematiannya menjadi tajuk utama di seluruh kanal media pada saat itu, memicu kepanikan massal hingga membuat saham-saham di bawah naungan Soryu Group terjun bebas ke titik terendah.
Polisi menutup kasus itu dengan dalil "perampokan biasa" sebuah narasi yang tak masuk akal bagi siapa pun yang mengenal konglomerat berdarah Jepang itu.
Yang membuat kasus pembunuhan itu semakin terlihat jangal adalah tak ada satupun barang berharga yang hilang, tak ada satu pun saksi mata dikejadian perkara, seolah nyawa sang konglomerat hilang begitu saja.
Bagi sang putra, kematian ayahnya itu bukan sekadar tragedi. Itu adalah luka yang membekas di hidupnya selamanya.
Sekarang dirinya sedang mencari sang pelaku dan menyeretnya menuju kehancuran yang setimpal dengan apa yang dia dan ayahnya rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
𖣂|Bab 19 Wakadanna Dengan Jaket Barunya~|
...|Legacy of Soryu|...
...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...
Hari kedua pergi ke kampus tidak seperti ekspetasi seorang asisten pribadi bernama Davian. Jam kini sudah menunjukkan pukul 08.15. Davian sudah berdiri di depan mansion sejak pukul 07.45, bahkan ia rela datang lebih awal dari jadwal biasanya.
Davian melirik layar tabletnya, lalu kembali ke pintu. Bara bukan tipe orang yang suka terlambat—kalaupun ada perubahan jadwal, selalu ada pemberitahuan sebelumnya. Tetapi hari ini, Bara tidak memberitahu apa-apa, bahkan sekedar mengirimkan pesan padanya.
"Aduh... Mana sih, Wakadanna kok belum datang?!" keluh Davian.
Sembari Davian masih menggerutu, tak lama dari itu pintu mansion akhirnya terbuka. Bara Soryu keluar dengan langkah tenang, seolah-olah tidak ada yang terjadi.
Tatapan Davian langsung terangkat. Ada sedikit ketegangan di rahangnya, jelas tidak puas dengan keterlambatan yang dibuat oleh Bara—tapi seperti biasa, ia menahannya. Begitu melihat Bara, Davian langsung memasang wajah ramah.
"Selamat pagi, Wakadanna." sapa Davian dengan ramah, tapi tatapannya menyapu Bara dari atas ke bawah dengan ekspresi yang jelas tidak sepenuhnya netral.
"Kemeja putih dan... celana hitam," lanjutnya dengan nada menyindir, alisnya naik sedikit, nyaris sinis. "Lagi..?"
"Iya," jawab Bara dengan pede sambil berjalan mendekati mobil.
Davian membuka pintu belakang, tapi tatapannya masih menempel pada pakaian yang dikenakan oleh Bara. "Sama persis dengan yang kemarin."
Bara berhenti sebentar sebelum masuk. "Tidak sama, Davian. Kemarin aku pakai kaus. Sementara hari ini kemeja."
"Kemeja putih formal, Wakadanna," balas Davian, jelas masih menyindir. "Yang biasa dipakai ke ruang rapat direksi."
Bara menoleh sedikit, menatapnya datar. "Kau jadi konsultan fashion sekarang, Davian?"
Davian tidak langsung menjawab. Ia menutup pintu mobil pelan setelah Bara masuk, lalu memutar ke sisi lain sebelum akhirnya berkata, "Saya jadi orang yang tidak tahan melihat majikannya dipanggil 'Om-om' terus."
Hening sebentar di dalam mobil. Bara tidak langsung bereaksi, tapi rahangnya mengeras, cukup untuk menunjukkan bahwa kata-kata Davian itu kena.
Davian menyadarinya. "Maaf, Wakadanna. Maksud saya—"
"Aku tahu maksudmu," potong Bara singkat. Nada suaranya datar, tapi cukup untuk menutup topik obrolan itu.
Sepanjang perjalanan, Davian memilih tidak bicara. Tapi matanya sesekali melirik ke kaca spion, menatap pantulan bos-nya yang sedang duduk di kursi belakang dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca.
Ini tidak bisa dibiarkan! gumam Davian dalam hati.
"Belok kiri," perintah Bara tiba-tiba.
Davian mengerjap. "Bukannya ke kampus belok kanan, Wakadanna?"
"Belok kiri."
"Ke mana?"
"Mall."
Davian berpikir. Tumben minta belok ke mall, apa jangan-jangan dia tersinggung gara-gara ucapanku tadi? Bagus Davian sekarang dia ngambek gara-gara mulutmu. Davian menepuk jidatnya.
...-Mall-...
...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...
Davian berdiri di samping Bara, tepat di depan rak pakaian. Bosnya—seorang pewaris Soryu Group, orang yang bisa bikin para direktur berkeringat dingin cuma dari satu tatapannya, sekarang malah sibuk membolak-balik gantungan baju dengan ekspresi wajah yang tidak puas.
"Saya tidak suka warna-warna seperti ini," kata Bara, menarik satu hanger lalu mengembalikannya lagi.
"Itu coklat, Wakadanna. Warna netral."
"Coklat itu tetap warna."
"Netral itu memang warna, tapi..."
"Netral tetap warna, Davian." Bara mendengus, jelas tidak tertarik berdebat lebih jauh.
Davian menutup mata sebentar, lalu memijat pangkal hidungnya. "Izinkan saya yang memilih. Saya sudah riset semalam."
Bara berhenti, lalu menoleh dengan satu alis terangkat. "Kau riset pakaian? Kau gila?"
"Untuk keperluan penting, Wakadanna. Penampilan adalah senjata pertama Anda."
Bara memasukkan tangan ke saku, menatap rak di depannya tanpa ekspresi.
"Aku sudah punya senjata."
Davian terdiam sepersekian detik. Kalimat itu... agak ambigu. Otaknya, tanpa izin, langsung memikirkan ke arah yang salah.
Alisnya naik sedikit. "Oh! Maksud Wakadanna senjata yang di ba—"
Tap.
Bara langsung membekap mulut Davian dengan satu tangan, cepat dan tanpa peringatan.
"Diam!" Tatapan Bara tajam, hampir melotot.
Di sekeliling mereka, dua orang pramuniaga yang kebetulan lewat ikut berhenti—mereka menatap kedua orang freak itu dengan ekspresi kaget, jelas mendengarkan dan itu cukup membuat siapapun yang mendengarnya menjadi salah paham.
Bara masih menahan mulut Davian beberapa detik, memastikan tidak ada kata lanjutan yang keluar dari mulut asistennya itu.
Baru setelah itu ia melepaskannya, pelan.
Davian mencoba menenangkan dirinya. "Saya tidak akan melanjutkan, Wakadanna."
"Bagus."
Bara kembali menatap rak pakaian, seolah tidak terjadi apa-apa.
Davian memilih tidak melanjutkan topik itu. Ia berdehem kecil, lalu melangkah menjauh ke rak display di tengah toko. Di sana, terdapat sebuah manekin yang berdiri dengan jaket kulit berwarna coklat, sedikit gelap di bagian lipatan, dengan gesper logam di bagian depan. Dipadukan dengan kaus hitam polos dan celana hitam ramping. Sederhana dan tidak berlebihan menurut Davian.
"Ini, Wakadanna—" kata-katanya seketika terhenti.
Davian menoleh ke belakang. Di sana Bara berdiri beberapa langkah di belakangnya, dia seperti sedang... mengangkat tangannya sendiri. Dan mulai mengendus-endus telapak tangannya.
Davian yang melihat itu seketika membeku.
Bara sedikit mengernyit, lalu mengibaskan tangannya pelan di udara, ekspresinya berubah tidak puas.
"...bau."
Davian menutup mata sebentar. Rahangnya langsung mengencang.
"Wakadanna," panggilnya lagi, kali ini lebih pelan, antara sabar dan ingin menyerah pada hidupnya.
Bara akhirnya menoleh, seolah tidak ada yang aneh. "Apa?"
Davian menarik napas panjang, lalu menunjuk manekin di depannya. "Ini."
Bara tidak langsung menjawab. Dia berjalan mengelilingi manekin itu. Matanya bergerak dari jaket ke celana, ke gesper, lalu ke jaket itu lagi.
"Kau yakin?" tanya Bara.
"Seratus persen yakin! Lagipula ini tidak terlalu mencolok, tapi punya karakter. Tidak kolot seperti Om-om, tapi juga tidak terlalu anak muda banget! Dan ini—" Davian menyentuh kerah jaket itu, "—akan jadi ciri khas Wakadanna mulai sekarang."
Bara menaikan satu alisnya. "Ciri khas?"
"Setiap orang yang konsisten punya identitas visual yang kuat, Wakadanna. Orang akan mengingat Wakadanna bukan hanya dari nama, tapi dari ini juga." Davian mengetuk bahu jaket manekin itu sekali. "Jaket kulit coklat di atas kaus hitam."
Bara menatap Davian lama, dari ujung kepala sampai sepatu. "Ini terlalu... bad boy. Kau kebanyakan baca buku."
"Mana ada," balas Davian cepat. "Lebih baik terlihat bad boy daripada om-om kolot." Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan nada sok serius, "Saya baca The 48 Laws of Power, Wakadanna. Bab dua belas."
Bara mengernyit tipis. "Apa hubungannya baju dengan buku itu?"
"Image, Wakadanna. Persepsi adalah kekuasaan."
Bara tidak langsung menanggapi. Ia malah mengambil jaket dari manekin itu, mengangkatnya sedikit, kemudian memperhatikan bahan dan potongannya.
"Agak terlalu lebay," gumamnya pelan, lebih ke diri sendiri. "Tapi... tidak buruk."
Davian menyeringai, merasa menang. "Nah, kan. Saya bilang juga apa."
Bara menghela napas tipis, lalu berbalik. "Aku akan coba."
Ia melangkah ke arah ruang ganti tanpa banyak bicara. Davian, yang masih merasa percakapan mereka belum selesai, refleks mengikuti begitu saja—tanpa benar-benar berpikir.
Bara sudah setengah membuka kancing atas bajunya ketika ia merasakan sesuatu... atau lebih tepatnya, seseorang di belakangnya. Dan dia menoleh.
Di belakangnya Davian berdiri di sana bahkan bisa dibilang terlalu dekat.
"Hah-?!" Bara tersentak mundur setengah langkah, matanya melebar. "KAU NGAPAIN DI SINI?!"
Suara Bara menggema cukup keras sampai membuat Davian sendiri ikut kaget.
"A-aku—" Davian panik, wajahnya langsung memerah begitu menyadari situasinya. Tatapannya sempat tak sengaja turun, menangkap sekilas garis tubuh Bara sebelum buru-buru mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Saya cuma ikut—"
"Keluar!" bentak Bara tanpa ampun, wajahnya juga mulai memanas entah karena marah atau kaget.
Davian langsung berbalik seperti refleks, bahkan hampir tersandung kakinya sendiri saat buru-buru keluar dari ruang ganti.
"Maaf! Refleks! Wakadanna!" katanya masih dengan nada panik.
Di dalam, Bara berdiri diam beberapa detik, berusaha mencerna kejadian yang barusan terjadi. Ia mengusap wajahnya dengan kasar.
"Dasar tidak punya batas..." gerutunya pelan, tapi ada jeda sebelum ia kembali melanjutkan membuka kancing bajunya.
Sementara di luar, Davian bersandar ke dinding, sambil menutup wajahnya sendiri.
"Gila...," bisiknya, masih merah. "Kenapa aku ikut masuk sih... Davian lo hari ini kenapa sih..."
Beberapa menit kemudian, tirai ruang ganti itu tersibak. Bara keluar dengan langkah tenang, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Jaket kulit coklat itu kini melekat pas di tubuhnya, dipadukan dengan kaus hitam polos di dalam dan celana hitam yang semakin menegaskan siluetnya. Rambutnya sedikit berantakan karena efek tergesa-gesa, tapi justru malah menambah kesan... bad boy-nya~
Davian yang tadinya masih bersandar di dinding, langsung menoleh. Tatapannya langsung terpaku, benar-benar terpaku, seolah otaknya butuh waktu beberapa detik untuk memproses apa yang sedang dilihatnya.
"..."
Bara menyadari itu. Alisnya sedikit terangkat, lalu matanya menyipit tipis. "Kenapa?" nadanya datar, tapi jelas mengandung sindiran.
Davian masih belum langsung menjawab. Ia menelan ludah, lalu tanpa sadar meluruskan posisi berdirinya.
"Cocok," katanya akhirnya, suaranya lebih pelan dari biasanya. "Banget."
Bara mendengus kecil, tidak terlihat terlalu terkesan. Ia merapikan sedikit bagian kerah jaketnya, lalu melirik Davian dengan tatapan sinis.
"Jangan lihat aku seperti orang bodoh."
Davian langsung tersadar, buru-buru mengalihkan pandangannya. "Saya nggak—"
"Sudah." Bara memotong, malas memperpanjang. Ia berbalik, berjalan menuju kasir tanpa menunggu lagi. "Kita ke kampus. Sekarang."
Davian berkedip beberapa kali, masih sedikit linglung, lalu cepat-cepat menyusul. "Sekarang? Bukannya tadi..."
"Aku tidak punya waktu buat debat soal 'image' lagi," potong Bara dingin tanpa menoleh. "Kalau kau masih mau ikut, cepat jalan."
Davian langsung mempercepat langkahnya, menyamai langkah Bara.
"Ikut, Wakadanna," katanya, kali ini tanpa bercanda.
Komen pertama , like + bunga🌹 , semangat😉