NovelToon NovelToon
SISTEM HEWAN KONTRAK TERKUAT

SISTEM HEWAN KONTRAK TERKUAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Balas Dendam / Summon
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

Saat ujian SMA, Rio menjadi bahan tertawaan satu sekolah karena mengontrak seekor monyet kurus dekil tingkat Warrior (Trash-Rank). Semua orang menganggap masa depannya hancur, namun sebuah panel gaib tiba-tiba muncul di hadapannya:

[Ding! Sistem Push Rank Immortal Aktif!][Target: Monyet Lumpur (Identitas Asli: Sun Wukong - Segel Dewa)][Status Pengguna: SSS-Rank Hidden Power]

Di saat murid lain sibuk pamer kekuatan di sekolah, Rio memilih "mabar" di Dungeon terlarang bersama lima hewan mitologi miliknya: Sun Wukong, Serigala Kegelapan, Qilin, Phoenix, dan Ratu Laba-laba. Ketika gerbang bencana dunia jebol, Rio melangkah maju membawa squad top globalnya yang sudah berada di tier MYTHICAL IMMORTAL!

Siapa bilang dia salah kontrak?

#System #SunWukong #Overpowered #HiddenPower #Evolution #Mythology

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Duel yang Tidak Direncanakan

Tim investigasi Asosiasi Hunter Regional itu terdiri dari tiga orang.

Rio mengamati mereka dari balik jendela kelas lantai dua dengan sudut pandang yang cukup untuk melihat tanpa terlihat. Seorang wanita berambut pendek abu-abu yang berjalan paling depan dengan tablet di tangannya — pemimpin tim, gerakannya efisien dan tidak membuang langkah. Di belakangnya, dua pria berseragam lapangan biru tua yang membawa peralatan deteksi energi portabel, alat yang bentuknya mirip detektor logam tapi Rio tahu cara kerjanya jauh lebih kompleks dari itu.

Mereka sedang berbicara dengan Kepala Sekolah di depan gedung utama. Kepala Sekolah mengangguk-angguk dengan senyum yang terlihat sangat tidak nyaman dari jarak dua lantai sekalipun.

"Standar prosedur," gumam Rio pelan. "Mereka pasti lagi minta akses data murid yang punya aktivitas hunting terdaftar."

Wukong mencicit.

"Gue gak terdaftar," Rio menjawab pertanyaan yang tidak diucapkan. "Secara resmi gue bahkan gak punya lisensi hunting aktif. Bakat F-rank tidak eligible untuk lisensi mandiri sebelum usia delapan belas."

Ia berbalik dari jendela, duduk kembali di bangkunya.

Secara teknis, Rio aman. Tidak ada jejak digital, tidak ada saksi yang bisa mengidentifikasi, tidak ada rekaman. Yang ada hanya anomali energi yang terdeteksi oleh beberapa orang yang kebetulan lewat malam itu — dan anomali energi tanpa sumber yang teridentifikasi adalah urusan yang butuh waktu lama untuk diusut.

Yang membuat Rio tidak sepenuhnya tenang bukan tim investigasi itu.

Yang membuat Rio tidak tenang adalah fakta bahwa Kevin yang memberi tahu mereka untuk datang ke sini.

---

Siang itu, kabar tentang kedatangan tim investigasi menyebar ke seluruh penjuru sekolah dengan kecepatan yang hanya bisa ditandingi oleh gosip soal siapa yang jadian dengan siapa di kelas sebelas.

Dan di dalam ekosistem gosip sekolah itu, nama Rio mulai disebut.

Bukan secara langsung. Tidak ada yang punya bukti, tidak ada yang berani menuduh secara eksplisit. Tapi sudut-sudut percakapan yang Rio tangkap di koridor, di kantin, di tangga antar lantai — semuanya bermuara ke pertanyaan yang sama yang diulang dengan berbagai variasi:

*Siapa yang berburu di dungeon pelabuhan malam itu?*

Dan setiap kali pertanyaan itu muncul, beberapa detik kemudian selalu ada satu nama yang disebut, setengah bercanda setengah serius, seperti lelucon yang tidak benar-benar lucu.

*Si F-rank yang monyetnya bikin harimau Kevin ambruk.*

Rio mendengar namanya disebut untuk ketujuh kalinya hari itu saat berjalan menuju lapangan olahraga untuk jam terakhir — Pendidikan Fisik Hunter, mata pelajaran yang mengharuskan murid membawa hewan kontrak mereka ke lapangan terbuka untuk sesi latihan terbimbing.

Ia tidak bereaksi.

Tapi Kevin, yang berdiri di tepi lapangan bersama kelompok murid unggulan ketika Rio berjalan melewatinya, tidak bermaksud membiarkan Rio sekadar lewat begitu saja.

"Eh." Kevin bergerak satu langkah ke samping, memblokir jalur Rio dengan badan yang cukup besar untuk membuat gestur itu terasa seperti tembok kaca yang tiba-tiba muncul. "Tadi gue lihat kamu ngintip dari jendela waktu tim investigasi datang."

Rio berhenti. "Aku lagi lihat ke luar jendela. Itu bukan ngintip."

"Gugup?"

"Tidak."

Kevin memiringkan kepalanya, sudut bibirnya naik dengan kecepatan yang sudah terlalu sering Rio lihat minggu ini. "Lucu ya. Orang yang gak punya apa-apa untuk disembunyikan biasanya gak perlu jawab secepat itu."

Beberapa murid yang sedang berlalu memperlambat langkah mereka, mendeteksi tegangan di udara dengan insting yang sama yang mungkin membuat nenek moyang mereka bisa bertahan hidup di zaman prasejarah — sensitivitas terhadap kemungkinan adanya pertarungan yang menarik untuk ditonton.

Guru olahraga, Pak Sigit, sedang sibuk mengatur barisan di ujung lapangan yang lain dan belum menoleh ke arah ini.

"Kevin." Rio menatapnya datar. "Minggir."

"Atau?" Kevin tidak bergerak. Di belakangnya, Dani dan Reza mengambil posisi dengan kasual yang sudah terlatih — bukan mengancam secara eksplisit, hanya hadir dengan cara yang jelas bermaksud menunjukkan bahwa Kevin tidak sendirian.

Harimau bertanduk Kevin — yang hari ini sudah pulih dari insiden di panggung — berdiri di samping tuannya. Tubuh besarnya yang setinggi pinggang orang dewasa berdiri tegak, ekornya bergerak lambat dengan tenang yang lebih mengancam dari geraman manapun.

Di pundak Rio, Wukong duduk sangat diam.

Terlalu diam.

Rio melirik ke samping sebentar dan menangkap detail kecil yang mungkin terlewat oleh orang lain — bulu di sepanjang punggung Wukong yang berdiri sangat halus, hampir tidak terlihat. Dan mata kecil si monyet yang sekarang sedang menatap harimau Kevin dengan ekspresi yang Rio sudah pelajari artinya.

Bukan marah. Bukan takut.

Bored.

Seperti pemain catur grandmaster yang dipaksa main lawan murid SD.

---

"Gue tantang kamu," kata Kevin akhirnya, suaranya cukup keras untuk didengar oleh murid-murid yang sudah mulai membentuk lingkaran setengah sadar di sekitar mereka. "Duel resmi. Lapangan terbuka. Sekarang."

Suasana di sekitar mereka berubah dalam satu detik — dari sekadar tontonan menjadi sesuatu yang jauh lebih serius. Duel resmi antarpelajar di jam Pendidikan Fisik Hunter adalah hal yang legal dan diakui dalam kurikulum, selama dilakukan di lapangan terbuka dengan pengawasan dan tidak ada yang memaksa.

Yang artinya jika Rio menolak, itu adalah pilihan resmi yang sah.

Yang juga artinya jika Rio menerima dan kalah, itu akan menjadi catatan resmi yang sah.

Beberapa murid sudah mengeluarkan ponsel mereka — bukan untuk merekam secara sembunyi-sembunyi, tapi dengan sangat terbuka, karena duel pelajar di lapangan adalah konten yang boleh didokumentasikan.

Rio menatap Kevin selama tiga detik penuh.

Pikirannya berputar dengan sangat cepat di balik wajah yang tidak berubah — kalkulasi, bukan emosi. Menolak berarti memberikan Kevin narasi baru untuk disebarkan. Menerima dan menang secara terlalu jelas berarti merusak mode smurf yang selama ini ia jaga.

Ada ruang di antara dua pilihan itu.

Ruang sempit yang kalau dimanfaatkan dengan benar, bisa membuat Kevin merasa menang sementara Rio tetap aman — dan pada saat bersamaan, menanam sesuatu yang akan tumbuh menjadi masalah bagi Kevin di kemudian hari.

"Oke," kata Rio.

Kevin tampak sedikit terkejut — ia mungkin mengharapkan penolakan. "Oke?"

"Oke. Tapi ada syaratnya." Rio melangkah ke tepi lapangan, melepas tasnya dan meletakkannya di bangku pinggir. "Ini duel hewan kontrak, bukan duel tamer langsung. Dan kalau gue menang, kamu berhenti menyebut nama gue ke tim investigasi itu."

Kevin tertawa pendek. "Dan kalau gue yang menang?"

Rio mengangkat bahu. "Terserah kamu mau apa."

Kepercayaan diri itu membuat Kevin menatapnya lebih tajam sebentar — mencari celah, mencari tanda bahwa ini gertakan. Tidak menemukan apapun karena Rio tidak memberikan apapun untuk ditemukan.

"Deal," kata Kevin.

---

Pak Sigit sudah menyadari situasinya dan berjalan mendekat dengan ekspresi seorang guru yang sudah terlalu lama mengajar untuk terlihat terkejut oleh apapun. "Duel resmi?"

"Ya, Pak," Kevin menjawab cepat. "Saya inisiatif, Rio sudah setuju."

Pak Sigit menatap Rio. Rio mengangguk.

"Lima menit. Area tengah lapangan. Tidak ada serangan ke tamer langsung, tidak ada serangan yang membahayakan nyata." Pak Sigit sudah hafal protokolnya. "Mulai saat saya beri tanda."

Lingkaran penonton yang tadinya setengah sadar sekarang menjadi sangat sadar dan sangat rapi — murid-murid mundur ke pinggir lapangan dengan teratur, beberapa bahkan berlari kecil ke lantai dua untuk mendapat perspektif yang lebih baik dari jendela.

Kevin berjalan ke tengah lapangan dengan langkah yang sudah menghitung kemenangan.

Harimau bertanduknya berjalan di sampingnya — tubuh besar, zirah alami di sekujur bahu dan dada, sepasang tanduk yang dialiri energi listrik statis rendah yang membuat bulu-bulu kecil di sekitar kepala murid yang berdiri terlalu dekat berdiri sendiri.

*Tier: Master II.*

Rio mengecek status harimau itu dari panel sistem secara refleks. Master II, empat tier di atas Epic I Wukong. Secara angka, ini bukan pertarungan yang setara.

Tapi Rio tidak sedang bermain dengan angka.

Ia berjalan ke tengah lapangan, berhenti di jarak yang diatur, dan menatap Kevin di seberang sana.

Wukong melompat turun dari pundaknya, mendarat di tanah lapangan, berdiri dengan empat kaki.

Dari kejauhan, dari perspektif dua ratus lebih murid yang menonton, yang mereka lihat adalah: seekor monyet berbulu kusam berukuran anjing medium, berdiri di tanah lapangan, menghadapi harimau raksasa bertanduk listrik yang beratnya mungkin dua puluh kali lipat lebih besar.

Seseorang dari kerumunan penonton mengeluarkan suara tertawa kecil yang tidak berhasil ditahan.

Kevin menggelengkan kepalanya pelan — ekspresi orang yang sudah tahu hasil pertandingan sebelum dimulai. "Rio. Serius, kamu mau pakai itu?"

Rio tidak menjawab.

"Gue kasih kamu satu kesempatan untuk mundur," kata Kevin, suaranya mengandung kemurahan hati yang sangat dibuat-buat. "Gue gak mau dibilang bully anak F-rank."

"Pak Sigit," Rio berkata tanpa memindahkan pandangannya dari Kevin. "Bisa mulai?"

---

Pak Sigit mengangkat tangannya.

Menurunkannya.

"Mulai."

---

Harimau Kevin bergerak pertama.

Bukan melesat langsung — makhluk tier Master tidak perlu terburu-buru. Ia bergerak dengan langkah besar yang menggetarkan tanah lapangan tipis-tipis, membangun momentum sambil membiarkan energi listrik di tanduknya terakumulasi, kepala menunduk sedikit dalam posisi serangan yang sudah terlatih selama bertahun-tahun.

Di sisi seberang lapangan, Wukong tidak bergerak.

Berdiri dengan empat kaki, ekor bergerak sangat lambat, matanya mengikuti gerakan harimau itu dengan ekspresi yang dari kejauhan mungkin terlihat seperti kebingungan atau ketakutan.

Dari dekat, Rio tahu itu bukan keduanya.

Itu adalah ekspresi seseorang yang sedang menentukan seberapa banyak tenaga yang perlu dikeluarkan untuk menyelesaikan urusan ini.

Harimau itu memasuki jarak serangan, mengumpulkan seluruh bobotnya di kaki belakang —

"Wukong," Rio bicara dengan suara yang sangat biasa, seperti sedang meminta tolong ambilkan minum. "Deflect dan counter. Jangan lebih."

*Jangan lebih* — dua kata yang mengandung instruksi yang sangat spesifik dan sangat penting. Wukong hanya boleh menampilkan kekuatan yang cukup untuk menang dengan meyakinkan, tidak lebih dari itu. Bukan karena Rio tidak percaya Wukong bisa mengendalikan diri, tapi karena ada dua ratus pasang mata dan beberapa ponsel yang merekam di sekitar mereka.

Wukong mencicit satu kali — singkat, seperti *terima kasih sudah mengingatkan hal yang sangat obvious*.

Harimau itu melompat.

Bobot Master II yang penuh dengan energi listrik terakumulasi di tanduk, terbang di udara dengan lintasan yang sudah diperhitungkan tepat menuju kepala Wukong —

BZZZT—

Tepat di puncak lompatan harimau itu, Wukong melangkah setengah langkah ke kiri.

Setengah langkah.

Bukan lompatan akrobatik, bukan manuver dramatis. Hanya setengah langkah ke kiri yang membuat seluruh tubuh harimau melewati posisi Wukong dengan jarak beberapa sentimeter, tanduk yang penuh listrik menghantam udara kosong, dan momentum besar yang tadinya penuh kalkulasi kemenangan mendadak kehilangan targetnya.

Harimau itu mendarat dalam posisi yang tidak rapi, keempat kakinya harus bekerja keras untuk mencegah dirinya tersungkur.

Satu detik ketidakseimbangan.

Wukong tidak membuang satu detik itu.

Telapak tangan kecilnya menyentuh sisi tubuh harimau — bukan pukulan keras, bukan hantaman yang bisa melukai. Hanya sentuhan yang mengalirkan tekanan energi merah samar ke dalam sistem energi harimau itu, memutus sirkulasi akumulasi listrik di tanduknya secara sementara.

Seperti mencabut kabel baterai.

Harimau Kevin mendadak kehilangan separuh kemampuan ofensifnya dalam satu sentuhan.

Ia memutar badannya dengan cepat, mengaum rendah, dan menyerang lagi — kali ini dengan cakar, lebih cepat, lebih pendek jangkauannya. Serangan jarak dekat yang lebih sulit dihindari.

Wukong menghindar dengan berguling ke samping, membiarkan cakar itu melewati punggungnya dengan margin yang membuat beberapa penonton menahan napas — terlalu tipis, terlalu dekat.

Tapi tidak kena.

Dari gerakan berguling itu, Wukong langsung berdiri tegak di belakang harimau, tangannya menggenggam ekor harimau sebelum makhluk besar itu sempat memproses bahwa posisinya sudah berbalik.

Apa yang terjadi berikutnya berlangsung dalam 0,8 detik.

Wukong menggunakan ekor harimau sebagai pegangan, memutar tubuhnya sendiri mengikuti momentum, dan mendarat tepat di atas kepala harimau Kevin — posisi yang persis sama seperti saat ia berdiri di atas kepala komodo di dungeon, tapi kali ini dengan gravitasi yang jauh lebih terkendali dan hati-hati.

Dari atas kepala harimau itu, Wukong mengetuk dua kali di antara kedua tanduk harimau dengan buku-buku jari kecilnya.

Tok. Tok.

Bukan keras. Tidak menyakitkan secara fisik.

Tapi energi merah samar yang mengalir di dua ketukan itu bekerja langsung pada sistem saraf harimau — bukan merusak, bukan melumpuhkan permanen. Hanya sinyal yang sangat spesifik yang dalam bahasa energi tingkat tinggi artinya kurang lebih: *kamu sudah kalah, berbaring sekarang akan jauh lebih nyaman dari alternatifnya.*

Harimau bertanduk Master II milik Kevin Aditya Pratama — hewan kebanggaan yang dilatih oleh pelatih profesional selama tiga tahun, keturunan silsilah harimau dungeon langka yang dibeli dengan harga yang setara dengan sebuah apartemen di pusat kota — perlahan-lahan menekuk keempat lututnya.

Dan berbaring di tanah lapangan.

Dengan Wukong yang masih duduk santai di atas kepalanya, menggaruk telinga sendiri.

---

Dua ratus lebih murid SMA Bakti Bangsa berdiri dalam keheningan yang kualitasnya berbeda dari diam biasa.

Bukan keheningan kosong.

Keheningan yang terisi penuh oleh ratusan otak yang sedang memproses hal yang sama secara bersamaan — sesuatu yang baru saja mereka saksikan tidak cocok dengan file apapun yang ada di dalam kepala mereka.

Seekor monyet kecil berbulu kusam baru saja mengalahkan harimau Master II.

Bukan dengan kekuatan brute. Bukan dengan skill visual yang spektakuler dan mudah dipahami. Tapi dengan gerakan-gerakan kecil yang efisien dan dingin yang bahkan sebagian besar penonton tidak sempat menangkap kapan tepatnya titik balik pertarungan itu terjadi.

Pak Sigit berdiri di pinggir lapangan dengan peluit di tangan yang tidak jadi ia tiup.

Ia menatap harimau yang berbaring di tanah, menatap monyet yang duduk di atas kepalanya, lalu menatap Rio yang berdiri di garis startnya dengan tangan di saku dan ekspresi yang tidak berubah dari sebelum pertarungan dimulai.

"Duel selesai," kata Pak Sigit akhirnya. Suaranya keluar dengan sangat tenang dan sangat hati-hati, seperti seorang ahli bedah yang baru menyaksikan prosedur yang tidak ada di dalam buku teksnya. "Rio Albert menang."

---

Kevin berdiri di tepi lapangan, menatap harimau kesayangannya yang masih berbaring — bukan karena luka, karena secara fisik harimau itu baik-baik saja — melainkan karena sesuatu di dalam sistem energi makhluk itu rupanya belum selesai memproses apa yang baru saja terjadi padanya.

Wajah Kevin tidak bisa Rio baca dengan mudah dari jarak ini.

Tapi Rio tidak perlu membacanya dari dekat untuk tahu apa yang ada di sana — campuran antara shock, malu, dan sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari keduanya.

Kalkulasi.

Kevin Aditya Pratama bukan murid yang bereaksi dengan marah di tempat dan membuat keputusan impulsif. Ia terlalu terlatih untuk itu, terlalu sadar citra untuk meledak di depan dua ratus penonton.

Yang ia lakukan adalah menatap Rio selama beberapa detik, lalu berbalik dan berjalan meninggalkan lapangan tanpa sepatah kata.

Dani dan Reza mengikuti dengan tergesa-gesa.

---

Wukong melompat turun dari kepala harimau yang sudah bangkit perlahan dan bergerak mendekati Kevin yang berjalan menjauh — langkah hewan yang mengenali tuannya sedang tidak baik-baik saja dan memilih untuk hadir tanpa suara.

Wukong berjalan kembali ke arah Rio, melompat ke pundak kanannya, dan kembali ke posisi defaultnya dengan sangat kasual — seperti baru selesai pergi ke warung sebelah, bukan baru saja mengalahkan harimau sendirian.

Rio meraih tasnya dari bangku pinggir.

Di sekelilingnya, murid-murid mulai bergerak lagi, suara percakapan mulai mengisi keheningan yang tadi — lebih pelan dari biasanya, lebih hati-hati, dengan nada yang berbeda dari bisik-bisik tiga hari terakhir.

Seseorang menyentuh bahu Rio dari belakang.

Ia menoleh.

Perempuan bertubuh tinggi dengan rambut dikepang dua, wajahnya Rio kenali sebagai murid kelas sebelah — Maya, salah satu dari sedikit murid yang kemarin dengan sangat spesifik tidak ikut menertawakan namanya ketika disebut dalam konteks tim investigasi.

"Itu..." Maya menunjuk ke lapangan dengan gerakan yang menahan diri. "Bagaimana caranya?"

Rio menatapnya sebentar. "Latihan."

"Latihan apa?" Maya menatap Wukong di pundak Rio dengan ekspresi yang sedang dengan sangat keras berusaha terlihat biasa-biasa saja. "Monyetmu baru saja deflect serangan harimau Master pakai dua langkah."

"Tiga. Langkah pertama setengah langkah ke kiri, tidak dihitung."

Maya membuka mulutnya, menutupnya kembali, lalu membuka lagi. "Kamu tahu itu tidak normal, kan?"

"Tahu."

"Dan kamu tidak mau jelaskan lebih lanjut."

"Tidak."

Maya menatapnya dua detik lagi, kemudian mengangguk dengan ekspresi seseorang yang sudah berdamai dengan fakta bahwa ia tidak akan mendapat jawaban yang memuaskan hari ini. "Oke. Tapi kalau suatu hari kamu butuh sesuatu —" Ia mengambil selembar kertas kecil dari saku seragamnya — nomor ponsel yang sudah ditulis sebelumnya, Rio perhatikan, yang artinya ini bukan keputusan spontan. "Gue captain ekstrakurikuler riset dungeon. Koneksinya lumayan."

Rio menerima kertas itu. Melihatnya sebentar. Memasukkannya ke saku.

"Terima kasih."

Maya sudah berbalik pergi sebelum Rio selesai mengucapkan dua kata itu.

---

Di ujung lapangan, sebelum menghilang di balik pintu gedung, Kevin berhenti sebentar.

Tidak berbalik.

Tangannya yang menggantung di samping tubuhnya terkepal satu kali — gerakan kecil yang hampir tidak terlihat.

Kemudian ia masuk ke dalam gedung dan pintu menutup di belakangnya.

Rio menatap pintu itu beberapa detik.

Di dalam tasnya, kotak biola tua bergerak sangat kecil — atau mungkin Rio hanya berharap begitu, tidak bisa memastikan dengan yakin karena getaran itu terlalu halus dan sekolah sedang terlalu penuh suara.

Tapi panel sistemnya menyala dengan satu baris singkat yang membuat Rio berhenti melangkah selama dua detik.

---

**[Update: Abyssal Goddess Weaver]**

**[Status Dormansi: 2.1% Sinyal Jiwa Terdeteksi]**

---

Dari 0.8% pagi tadi ke 2.1% sekarang.

Rio tidak tahu apa hubungannya pertarungan tadi dengan kenaikan angka itu. Mungkin tidak ada hubungannya. Mungkin ini hanya kebetulan waktu.

Atau mungkin ada sesuatu di dalam kotak biola tua itu yang, setelah delapan puluh tahun tidur, baru saja menonton sesuatu yang menarik perhatiannya untuk pertama kalinya.

Rio melangkah keluar dari lapangan, meninggalkan kerumunan yang masih berbisik, di bawah langit sore yang mulai berwarna oranye di ujung baratnya.

Tiga slot masih kosong.

Satu antagonis yang baru saja memutuskan bahwa dirinya adalah musuh yang perlu ditangani dengan lebih serius dari sebelumnya.

Dan seekor laba-laba kecil di dalam tas yang persentase jiwanya baru saja naik dua setengah kali lipat setelah menyaksikan pertarungan yang tidak ada dramanya sama sekali dari dalam kotak biola berdebu.

Hari yang cukup produktif, Rio simpulkan.

1
SANG
Lanjut cek....
SANG
Iklan untukmu brooooo👍💪💪💪👍👍👍👍
SANG
Hadiah bunga untukmu thor👍💪👍💪/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
SANG
Semangat ya💪💪💪💪💪
SANG
Aku datang sebagai tamu baru👍👍👍👍
,
lanjut
the misterius author 🐐: nanti malam kita lanjut kan ua bg
total 1 replies
Benni Yong
mantab
Jacky Hong
jadi gk sabar pengen liat si MC jadi kuat thor
semangat upnya thor
Benni Yong: dah tak kasih vote hari ini thor
akun baru soalnya yang akun Jacky kena hapus😁
total 2 replies
Jacky Hong
gas trus up thor
semangat dah tak krim kopinya👍
the misterius author 🐐: setiap hari minggu update 3 bab bg kalau hari biasa update 2 bab bg nanti kan jadwal nya ya bg jangan lupa ajak teman teman abg baca juga
total 1 replies
SANG
Beken deh, sip deh, tenar deh, mantap deh, keren deh, pokonya top mar ko top deh. Bintang sepuluh untukmu Thor.
SANG
Namanya mulai beken💪👍
the misterius author 🐐: udah mulai tenar kah bg 🤣
total 1 replies
SANG
Namamu pasti ku ingat💪👍
the misterius author 🐐: jangan di ingat thor 🤣
total 2 replies
SANG
Semangat. Lanjut💪👍
the misterius author 🐐: parah parah emang wkwk
total 9 replies
SANG
Bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/Sembilan belas
SANG: Haha🤣🤣🤣👍👍👍
total 2 replies
SANG
Mantap banget💪👍
SANG
Pokonya keren deh💪👍
SANG
Keren deh💪👍
the misterius author 🐐: ok thor😍
total 3 replies
SANG
Wah novel baru lagi ya Thor💪👍
the misterius author 🐐: pokok nya fresh trus thor
total 6 replies
Jacky Hong
buat chpter 6 tak kasi kopi biar semungut upnya Thor
klo bsa up besok 2 chpter🤣
the misterius author 🐐: novel kita ogah main tingal bg
total 4 replies
Jacky Hong
lanjut up thor👍
the misterius author 🐐: sudah up bg 🤣
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!