NovelToon NovelToon
The CEO'S Private Doctor

The CEO'S Private Doctor

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: neyrfly

​"Saya bayar Anda mahal bukan cuma untuk mengobati fisik saya, Dok. Tapi juga untuk tanggung jawab karena sudah membuat jantung saya berdegup tidak karuan."

​Menjadi dokter pribadi seorang Arkananta Pradipta—CEO arogan yang hobi mengatur—adalah bencana terbesar dalam hidup Ayana. Alih-alih fokus menyembuhkan trauma masa lalu Arka, Ayana malah terjebak dalam pusaran kontrak profesional yang fana, komedi situasi di luar nalar, dan perasaan terlarang yang perlahan mengoyak hatinya.

​Saat rahasia kelam masa lalu Arka mulai terkuak, sanggupkah jas putih Ayana bertahan menghadapi dosis cinta yang terlalu mematikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Sisi Lain Sang CEO

Suasana di dalam dapur bersih penthouse berangsur-angsur tenang. Sisa-sisa air mata di pipi Arka sudah mengering, menyisakan seulas rona merah tipis di sekitar kelopak matanya yang biasanya sedingin es. Pria itu kini duduk bersandar di kursi bar dengan posisi yang jauh lebih santai, sementara tangannya menggenggam cangkir keramik berisi sisa air putih hangat yang tadi dibawakan oleh Ayana.

Ayana sendiri sibuk merapikan meja dapur. Ia memindahkan piring tumis kangkung dan mangkuk sup yang—keajaiban dunia kedelapan—telah bersih tak bersisa ke dalam dishwasher. Senyum kepuasan tidak bisa disembunyikan dari wajah manis dokter muda itu. Baginya, melihat piring pasiennya kosong adalah sebuah pencapaian yang setara dengan memenangkan lotre.

"Gimana, Pak Bos? Perutnya sudah enakan?" tanya Ayana sembari mengelap permukaan meja marmer dengan kain lap bersih, memecah keheningan yang sempat terasa canggung setelah momen emosional tadi.

Arka mendeham pelan, mencoba mengembalikan wibawa suaranya yang sempat hilang. "Hmm. Lumayan. Setidaknya lambung saya tidak terasa seperti sedang diremas lagi."

Ayana berbalik, menyandarkan pinggulnya ke tepian meja dapur sembari melipat kedua tangan di depan dada. Ia menatap Arka dengan pandangan menyelidik yang membuat sang CEO merasa tidak nyaman.

"Kenapa kamu menatap saya seperti itu?" tanya Arka, menaikkan sebelah alisnya.

"Saya cuma sedang kagum saja," sahut Ayana enteng, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman jahil. "Ternyata seorang Arkananta Pradipta yang kalau di kantor mukanya galak mirip herder kelaparan, kalau di depan tumis kangkung bisa berubah jadi anak kecil yang menggemaskan ya."

"Ayana Sheenaz," suara Arka memberat, memberikan nada peringatan. Namun, tidak ada kilat kemarahan yang nyata di matanya. Pria itu tampaknya sudah mulai terbiasa dengan kelancangan mulut dokter pribadinya ini.

"Iya, iya, ampun Pak CEO!" Ayana tertawa kecil, melambaikan tangannya di udara. Ia kemudian berjalan menuju kulkas raksasa Arka, membukanya, lalu mengeluarkan sekotak susu murni organik yang tadi sore ia beli. "Nah, sekarang menu penutup sebelum tidur."

Arka mengernyitkan dahi saat melihat Ayana menuangkan susu putih itu ke dalam panci kecil lalu menyalakan kompor induksi. "Saya tidak butuh makanan lagi. Perut saya sudah penuh."

"Ini bukan makanan, Pak Arka, ini susu hangat," jelas Ayana tanpa menoleh, sibuk mengaduk susu di dalam panci agar tidak pecah. "Susu mengandung asam amino triptofan. Di dalam tubuh, triptofan ini akan diubah menjadi serotonin, lalu diubah lagi menjadi melatonin. Singkatnya: ini adalah ramuan alami yang akan membantu otak Anda rileks dan membuat Anda bisa tidur nyenyak malam ini tanpa bantuan obat penenang kimia."

Arka terdiam, memperhatikan punggung kecil Ayana yang bergerak lincah di depan kompor. Penjelasan medis yang mengalir begitu lancar dari mulut wanita itu entah kenapa terdengar seperti sebuah dongeng pengantar tidur yang menenangkan. Pikiran Arka yang biasanya berputar gila-gilaan memikirkan fluktuasi saham dan strategi bisnis, malam ini mendadak terasa melambat dan damai.

KLIK. Ayana mematikan kompor, lalu menuangkan susu hangat itu ke dalam sebuah cangkir bermotif minimalis. Ia berjalan mendekati Arka dan meletakkan cangkir itu tepat di depan sang CEO.

"Nih, minum selagi hangat. Habis itu Anda harus langsung naik ke tempat tidur," perintah Ayana tegas.

Arka meraih cangkir tersebut. Kehangatan cairan di dalamnya langsung menjalar ke telapak tangannya, memberikan rasa nyaman yang instan. Ia meniup permukaan susu itu perlahan lalu meminumnya beberapa teguk. Rasa manis alami dan gurih dari susu hangat itu langsung mengalir melewati kerongkongannya, membuat tubuhnya yang semula tegang akibat kelelahan berangsur-angsur rileks.

"Terima kasih," gumam Arka sangat pelan, hampir menyerupai bisikan.

Ayana yang telinganya setajam radar langsung tersenyum lebar. "Sama-sama, Pak Bos. Nah, berhubung tugas saya memasak dan memastikan Anda makan malam sudah selesai, sekarang jam berapa?" Ayana melirik jam tangan digitalnya yang melingkar di pergelangan tangan kiri. "Wah, sudah jam delapan lewat empat puluh lima menit malam! Berarti jam kerja saya sudah lewat empat puluh lima menit ya."

Ayana buru-buru menyambar tas medisnya dari atas sofa ruang tengah dan mengalungkannya di bahu. Ia berjalan kembali ke arah dapur dengan terburu-buru. "Saya pulang dulu ya, Pak. Ingat, habis ini langsung tidur. Jangan coba-coba buka laptop lagi di kamar, atau besok pagi saya cek riwayat penggunaan laptop Anda lewat Karina!"

Arka meletakkan cangkir susunya yang tinggal setengah. Ia menatap Ayana yang sudah bersiap menuju lift privat dengan kening berkerut. "Kamu mau pulang sekarang? Naik apa?"

"Ya naik taksi online lah, Pak. Masa naik karpet terbang," sahut Ayana kocak sembari sibuk memencet layar ponselnya, mencoba mencari pengemudi taksi daring yang bersedia menjemputnya di kawasan kondominium elit ini.

Arka berdiri dari kursi bar, langkah kakinya yang panjang dengan cepat memotong jarak di antara mereka sebelum Ayana sempat menekan tombol lift. "Tidak boleh. Ini sudah hampir jam sembilan malam. Kawasan di luar sini rawan kemacetan dan tidak aman untuk perempuan sendirian menumpangi kendaraan umum."

Ayana mendongak, menatap Arka dengan dahi berkerut heran. "Lho, terus saya harus pulang pakai apa dong? Jalan kaki sampai Bekasi? Yang benar saja, Pak, kaki saya bisa copot!"

"Pak Joko sudah saya suruh pulang sejak jam tujuh tadi setelah mengantar bahan makanan," ujar Arka tenang, menyembunyikan fakta bahwa dialah yang menyuruh sopirnya pulang awal agar tidak mengganggu privasi mereka di penthouse.

"Lah? Terus?" Ayana mulai panik. "Jangan bilang saya harus menginap di sini ya?! Pak Arka, ingat poin ketiga di kontrak kita! Jaga jarak profesional! Saya tidak mau ada gosip aneh-aneh di rumah sakit kalau sampai tahu saya menginap di tempat tinggal CEO tampan tapi galak seperti Anda!"

Arka mendengus geli, sebuah senyuman tipis yang terlihat sangat menyebalkan muncul di sudut bibirnya. "Siapa juga yang menyuruhmu menginap di kamar saya? Penthouse ini punya tiga kamar tamu yang kosong dan semuanya memiliki fasilitas setara hotel bintang lima. Kamu bisa pakai salah satu kamar di koridor barat."

"Tapi tetap saja—"

"Ini perintah dari pasienmu yang membayar gajimu empat kali lipat, Dokter Ayana," potong Arka dengan nada sombongnya yang kembali kumat, menggunakan senjata andalannya untuk membungkam protes Ayana. "Di luar sedang gerimis. Saya tidak mau dokter pribadi saya jatuh sakit karena masuk angin akibat kehujanan di jalan, lalu besok pagi tidak ada yang membuatkan saya sarapan sehat. Itu namanya kerugian investasi bagi saya."

Ayana mengepalkan tangannya di balik saku celananya, menatap Arka dengan pandangan jengkel setengah mati. Alasan macam apa itu? Kerugian investasi katanya? Dasar kapitalis tulen! umpat Ayana dalam hati.

Namun, begitu ia melihat ke luar dinding kaca raksasa, butiran air hujan memang mulai membasahi permukaan kaca, dan suara petir sayup-sayup terdengar dari kejauhan. Memikirkan dirinya harus menunggu taksi di pinggir jalan dalam kondisi hujan seperti ini membuat nyali Ayana agak ciut juga.

"Baik," Ayana akhirnya mengalah dengan wajah cemberut yang kentara banget. "Saya menginap malam ini. Tapi ingat ya, kamar saya harus dikunci dari dalam! Dan jangan harap saya mau membuatkan sarapan kalau Anda tidak tidur sekarang juga!"

Arka tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya memberikan isyarat tangan ke arah koridor barat, menonjolkan sifat diktatornya yang biasa. Namun, begitu Ayana berbalik memunggungi dirinya dan berjalan menuju kamar tamu dengan langkah kaki yang sengaja dihentak-hentakkan tanda kesal, Arka tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum.

Ia menatap cangkir susu hangatnya yang kini telah kosong di atas meja dapur. Kamar penthouse-nya yang biasanya terasa sangat luas, dingin, dan menakutkan setiap kali hujan turun, malam ini entah kenapa terasa jauh lebih hangat dan... hidup. Langkah gila menunjuk dokter rewel ini sebagai dokter pribadinya tampaknya adalah keputusan terbaik yang pernah diambil Arkananta Pradipta dalam sepuluh tahun terakhir hidupnya.

.

Bersambung.

1
Susilawati Susilawati
up lagi thor
Wardah Wilda
up nya yg banyak dong thor..biar semangat baca nya... please...🙏🙏
Hennyy exo
thor pliss up yg banyak ya🤭
💪💪
Hennyy exo
suka banget sama alur ceritanya😍
Hennyy exo
ahh suka banget sama alurnya thor
Hennyy exo
awas ya Arka nanti kamu jatuh cinta loh sama dokter aya🤣🤣
Hennyy exo
awal yg bagus thor
Wardah Wilda
awas ya Thor..klau up nya lama..🤭🤭🤭
neyrfly: siap kakk😍🤭
total 1 replies
Sri Rahayu
baru baca seru cerita na
neyrfly: makasi kakk🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!