NovelToon NovelToon
MEJA BUNDAR

MEJA BUNDAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Rumahhantu
Popularitas:25.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Jumillah

"Meja bundar.. apa itu??"

"Meja yang jadi mitos kelam warga sini. Katanya, kalau sampai ada pendatang yang masuk ke sini dan hilang, udah pasti nggak akan balik, mereka semua pasti mati."

"Siapa kakek sebenarnya??"

"Kakek bukan orang biasa, dia.."

Kara, seorang gadis berusia tujuh belas tahun, terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya dan pindah ke desa terpencil bersama ayahnya. Desa itu sunyi, tertutup, dan dipenuhi tatapan curiga dari warga yang enggan berbicara tentang masa lalu. Di rumah peninggalan kakeknya, Kara menemukan sebuah meja bundar tua yang tergeletak di ruang bawah tanah berukuran pas untuk delapan orang, dengan ukiran aneh di setiap sisinya yang seolah menyimpan rahasia terpendam.

Bisakah Kara mengungkap apa sebenar nya meja bundar itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPS.32. Buntu?

Dan setelah menjalani olah TKP seharian itu, petugas akhir nya sudah mengumpulkan banyak hal. Saking banyak nya hal yang mereka temukan, itu membuat mereka kemudian pusing harus memulai nya dari mana dulu. Sebab kematian Caca masih di anggap tidak masuk akal jika di cerna menggunakan akal sehat.

Dari olah TKP dan analisa penyidik, seharus nya Caca  memang meninggal di bunuh. Dan dari reka ulang menurut penganalisa TKP dan hasil otopsi jasad Caca yang terdapat luka menganga di leher nya, seharusnya itu bukan karena kawat kabel yang sudah menggantung tubuh Caca di pohon, melainkan karena benda tajam.

Yang artinya, Caca kemungkinan sudah mengalami luka di leher nya lebih dulu sebelum dia di gantung dengan mengenaskan di pohon.

"Jadi.. kamu percaya nggak pak, kalo pelaku nya hantu?" Tanya bu Maya pada pak Sutisna, pak Sutisna yang mendengar itu tersenyum kecut.

"Hantu kan tidak punya fisik, jelas ini ada orang yang memanfaatkan ke angkeran rumah ini dan mitos - mitos yang beredar di kampung ini untuk melakukan tindak kejahatan." Jawab pak Sutisna, bu Maya mengangguk - angguk.

Meski kemarin pak Sutisna sudah mengalami sendiri fenomena aneh yang terjadi di sana, tapi dia bisa membedakan yang mana tindakan ghoib dan yang mana yang merupakan tindakan Fisik. Memang pak Sutisna juga tidak begitu yakin.. tapi insting nya mengatakan bahwa.. kejadian yang dia alami kemarin malam itu adalah bentuk cerita yang terkubur di ruma itu.

"Kawat kabel yang melilit di leher anak itu, nggak mungkin dia sendiri yang melilitkan nya, kan? Masa iya dia bunuh diri, latar belakang keluarga nya bagus, hidup nya nyaman, tidak mungkin rasanya kalau dia bunuh diri." Ucap pak Sutisna.

"Masalah nya.. nggak ada jejak pelaku nya, bahkan pohon nya bersih, nggak ada jejak pernah di panjat. Dan juga pada malam kejadian, hanya mereka bertiga di dalam rumah ini. Sisa nya adalah cerita yang tidak masuk di akal." Ucap bu Maya, sambil meneguk kopi nya.

Posisi kawat kabel yang melilit di leher Caca terikat di atas dahan pohon yang tidak begitu tinggi tapi untuk mengikat tali kabel itu ke atas.. seseorang harus setidak nya memanjat pohon itu. Sementara itu jasad Caca bukan di kerek tapi benar - benar di gantung di atas selayak nya orang bunuh diri menggunakan beberapa lapis kawat kabel yang melilit di leher nya.

Dan seharus nya.. pelaku bisa meninggalkan jejak di batang pohon yang di pijak itu saat dia akan mengikat talinya, tapi penyidik tidak menemukan apapun.

"Sepertinya pelakunya sudah mahir melakukan hal ini." Ucap pak Sutisna, bu Maya terlihat menghembuskan nafas nya berat.

Bu Maya menoleh ke atas, ke arah jendela di lantai dua dimana dia melihat ada perempuan yang berdiri dan mengintip ke arah nya hari itu. Bu Maya juga teringat dengan kejadian saat Kara yang turun ke bawah siang tadi, dimana Kara yang sedang dalam keadaan seperti melamun mengatakan bahwa "Pohon di belakang rumah adalah kuburan massal".

KE ESOKAN HARINYA

Penyelidikan di lanjutkan, yang mereka fokuskan lebih dulu adalah penyebab kematian Caca.. tapi karena tidak di temukan pelaku atau setidak nya tersangka nya.. kasus kematian Caca di anggap sebagai kasus pembunuhan dengan pembunuh nya yang masih di selidiki. Beberapa hari setelah nya, Jasad Caca sudah di makamkan di pemakaman umum di dekat tempat tinggal nya, tapi kasus nya masih menggantung.

Dan karena di yakini bahwa kematian Caca sangat kuat ada kaitan nya dengan apa yang pernah terjadi ru rumah kakek nya Kara, akhir nya dua petugas meminta ijin untuk  melakukan pembongkaran semua pohon yang ada di belakang rumah kakek nya Kara. Dengan harapan, jika itu di lakukan.. mungkin pelakunya akan terusik dan muncul dengan sendirinya.

"Put, kata nya ayah hari ini pulang.. tolong beresin kamar ayah, ya." Ucap Kara, pada Putri yang sedang membuatkan jus buah untuk Kara.

"Oh, iya teh.." Jawab Putri sambil tangan nya melepaskan blender jus dari mesin nya.

"Teteh nggak bisa tidur terus, ya? Sudah berhari - hari teteh kayak nya susah tidur.." Ucap Putri sambil menuang jus buatan nya ke gelas.

"Aku di mimpiin Caca terus." Jawab Kara, sambil meraup wajah nya frustasi.

"Kan katanya teh Caca udah di kuburin, teh? Putri yakin teh Caca juga nggak akan menyalahkan teteh, kan teteh sudah berusaha nolong." Ucap Putri, dan Kara mengangguk.

"Aku tidur dulu, ya." Ucap Kara, Putri mengangguk.

Tapi Kara tidak tidur di kamar nya, dia tidur di ruang tengah dengan keadaan tv yang menyala memberitakan kasus covid 19 yang masih saja merebak. Kara memejamkan mata, tapi lagi dan lagi.. dia memimpikan hal yang sama berulang kali.. Kara selalu memimpikan dirinya ada di depan pintu rumah nya yang di kota.

Kara sampai berkeringat sangat banyak dalam tidur nya, alis nya berkerut bibir nya bergumam dan tangan nya gemetar.

"Hhh!!" Kara kembali bangun tapi ternyata hari sudah menjelang sore.

Kara duduk dan meraup wajah nya, tapi dia agak lega karena setidak nya dia bisa tidur lumayan lama meski dia memimpikan hal yang mengerikan.

"Kenapa aku mimpi nya itu terus.." Gumam Kara, dia mengusap wajah nya dan kemudian menyibak rambut nya ke atas.

Kara sangat penasaran di mana keberadaan ibu dan kaka nya yang sudah berhari hari tidak bisa dia hubungi dan sama sekali juga tidak menghubungi nya, jika memang tidak terjadi apapun.. apa memang mereka sudah tega dengan nya sampai tidak sama sekali mengabari nya hanya untuk bertukar kabar pikir nya.

"Hufftt.." Kara lalu bangun dan berjalan untuk mengambil minum di kulkas dan menenggak nya.

"Teteh, kan nanti ayah nya teteh pulang.. Putri nggak temanin teteh lagi ya di sini." Ucap Putri, dia seperti sedang berpamitan.

"Hah, kamu mau ninggalin aku di sini sendirian?" Ucap Kara, dia spontan ketakutan.

Melihat reaksi Kara yang seperti orang ketakutan dan panik, Putri tersenyum dan mengusap lengan Kara seolah dia menenangkan Kara.

"Kan nanti ada ayah nya teteh katanya." Ucap Putri, Kara menggenggam tangan Putri dengan tatapan memohon.

"Temenin aku dulu ya Put.. aku nggak tau ayah sampe sini jam berapa." Ucap Kara, dia memohon agar Putri mau menemani nya dulu sementara dia menunggu ayah nya pulang.

"Tapi.. besok teh Putri harus ada acara dan harus pergi pagi - pagi juga. Kalo Putri tidur di sini, Putri nggak sempet siap - siap." Ucap Putri, dia tidak bisa menemani Kara di sana.

Kara yang mendengar itu juga merasa tidak enak hati, Kara yakin ayah nya memberi gaji pada Putri dan ayah nya.. tapi dalam perjanjian nya Putri memang tidak di berikan kewajiban untuk menginap di rumah itu dan hanya datang dari pagi sampai sore. Sementara Kara sendiri tidak memiliki uang untuk membayar Putri saat itu juga, akhir nya dengan berat hati Kara pun pasrah..

"Ya udah." Ucap Kara, dan sedetik setelah mengatakan itu, Kara merasakan angin dingin di tengkuk nya.. dia sudah lebih dulu membayangkan sesuatu yang tidak - tidak.

"Putri pulang ya, teh.. semua jendela dan pintu samping udah Putri kunci." pamit Putri, Kara mengangguk sambil menyaksikan Putri yang berjalan menuju ke gerbang.

Kara mengedarkan pandangan nya, dia takut saat melihat ke arah bangunan samping, dia juga takut saat melihat ke arah pohon dimana pohon itu adalah tempat Caca di temukan menggantung, Kara takut.. akhir nya Kara buru - buru masuk kedalam, mengunci pintu depan dan buru - buru lari ke lantai dua.

BERSAMBUNG!

1
Nindiana Anasya
Alhamdulillah kara kamu di temukan. semoga cepat sehat y kara. buktikan ayahmu penjahat psikopat yg ngk punya hati nurani .
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
Alhamdulillah ada yang menemukan kara
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
alhamdulillah kara selamat
Teuing Saha🙃
Syukurlah Kara selamat..
Ayuk Witanto
semoga kara ada yang nolongin
Ayuk Witanto
ayo gali Bu biar tau itu mayat siapa
Nindiana Anasya
buk Maya cepet ke pohon belkng rumh. biar tau kara lompat dr situ. kara tenang y. ayamu udah tertangkap semoga aja buk maua menemukan mum
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
itu pohon pengganti nisan buu
jadi semacam kuburan berkedok kebun buahh
🔵🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhaniaˢ⍣⃟ₛ☠️⃝🦐
duhh makin menegangkan😬😬😬
🔵🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhaniaˢ⍣⃟ₛ☠️⃝🦐
mampusss.. blunder sendiri🤣🤣
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
sambil suruh orang cari Kara bu! kasian Kara ketakutan, terluka pula 🥹🥹
Ai Emy Ningrum: panas ,angin kencang,hawa nya dingin ..🙄🫪🫪 musim penyakit ini deck 😗
total 7 replies
Teuing Saha🙃
Ayo Bu, gali gundukan itu! jangan sampai ayah Kara dibebaskan sebelum Kara ditemukan
Ayuk Witanto
biar saja dia ketakutan...itu gak sebanding dengan kesakitan para korban
Ayuk Witanto
jangan dulu mati...gak seru.orangbldin di buat mati mengenaskan
Ayuk Witanto
sepertinya itu korban ayah kara
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
tukang jagal manusia kok takut hantu ..aduh masih takut hantu sok2an jadi pembunuh 🤭
Teuing Saha🙃
Masa sikopet takut setan? Ckck payah🙄
Nureliya Yajid
menarik lanjutkan
Nureliya Yajid
lanjutkan
🌺WASI'AH_MISKA🍁😘
lariiiiiiii
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!