NovelToon NovelToon
Maharaja Harem: Sistem Penguasa Jagat

Maharaja Harem: Sistem Penguasa Jagat

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Sistem / Epik Petualangan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: RIOR

Dibuang dan dibiarkan mati di kegelapan Alas Purwo, Satria Pamungkas justru membangkitkan "Sistem Penguasa Jagat". Di dunia Nusantara Kuno yang kejam, kesaktian adalah segalanya. Satria tidak peduli pada moralitas; ia menghancurkan musuh hingga ke akar-akarnya dan melipatgandakan energinya setiap kali menaklukkan wanita-wanita paling berpengaruh di jagat raya. Dari seorang buangan, sang anti-hero bangkit menembus ranah dewa, membangun imperium harem tak terbatas, dan memaksa seluruh Dwipantara bertekuk lutut!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIOR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: Hancurnya Perisai Terkuat Blambangan

Debu kemerahan yang bercampur dengan uap darah kental dari bangkai gajah-gajah perang masih melayang di udara, menciptakan tirai kabut merah yang menyelimuti Dataran Tinggi Watu Tulis.

Di balik tirai mematikan itu, Senopati Menak Jingga melangkah maju dengan perlahan namun pasti. Zirah emasnya yang tadi berkilau megah kini ternoda oleh cipratan darah hitam hewan tunggangan mereka.

Namun, pancaran aura dari Gada Kencana di tangan kanannya justru semakin menguat, membentuk gelombang energi kuning pekat yang berdenyut bagai jantung ghaib yang mengamuk.

"Kebo Marcuet! Jangan biarkan ketakutan melumpuhkan nyalimu!" raung Menak Jingga tanpa menoleh ke belakang. "Jika kita mundur hari ini, tidak akan ada lagi tempat bagi kita di bawah langit Dwipantara. Aktifkan Ajian Bumi Prakoso milikmu, kita hantam bocah ini dari dua arah!"

Kebo Marcuet, yang sempat terpaku melihat barisan gajah pertahanannya lenyap dalam sekejap, tersentak mendengar teriakan rekannya. Sifat keras kepala seorang pendekar tua di dalam dirinya bangkit kembali, mengusir sisa-sisa kengerian instingtualnya. Ia menggertakkan rahangnya dengan sangat keras hingga mengeluarkan suara gemertak, lalu menghentakkan sepasang kapak raksasanya ke atas permukaan tanah batu hitam.

BLAM!

"Ajian Bumi Prakoso: Tubuh Karang Segoro Wedi!"

Seketika, aliran Prana berwarna cokelat tua melesat keluar dari dantikannya, merambat naik dan melapisi seluruh permukaan kulit tubuh Kebo Marcuet. Otot-otot tubuhnya yang pendek kekar membengkak hingga dua kali lipat, mengeras menjadi serupa dengan batuan karang purba yang tak mempan dihantam ombak samudera. Kekuatannya di Ranah Satria Tahap 8 melonjak secara paksa mendekati puncak. Dengan raungan yang memecah kesunyian, ia melesat maju, meninggalkan jejak retakan sedalam satu jengkal di setiap langkah kaki besarnya.

Di sisi lain, Menak Jingga ikut bergerak. Tubuhnya melesat bagai seberkas cahaya emas yang berliku-liku di udara, memanipulasi kecepatan gerakan kaki ghaibnya untuk menciptakan ilusi bahwa ia menyerang dari langit.

Ajian Gada Kencana: Hantaman Guntur Bumi Meruntuh!

Menak Jingga mengayunkan gada emas raksasanya dari atas ke bawah. Energi kuning pekat memadat di ujung gada, membentuk bayangan kepala naga emas ghaib berukuran raksasa yang melesat turun dengan kecepatan yang mampu memecahkan gendang telinga manusia biasa, mengincar langsung ke arah ubah-ubahan caping bambu Satria Pamungkas.

Satria berdiri diam di tempatnya, menatap kombinasi serangan dari dua pendekar terkuat Blambangan dengan ekspresi yang sangat datar. Integrasi pil ghaib penempa tulang dan peningkatan kekuatan ke Ranah Wira Tahap 7 membuatnya merasa bahwa serangan ini, meski terlihat megah di mata orang awam, masih terlalu lambat dan penuh dengan celah spiritual.

"Sistem, kunci koordinat pergerakan Menak Jingga. Aku akan menggunakan ketajaman Pedang Bintang Tujuh Kedewaan untuk memutus aliran Prana gadanya," perintah Satria di dalam hati dengan sangat tenang.

[Bip! Mengunci target 'Menak Jingga' (Ranah Satria Tahap 9).]

[Mendeteksi titik kelemahan sirkulasi Prana berada pada sambungan gagang Gada Kencana.]

Sret!

Satria mengaktifkan Ajian Kebal Jolo Sutro secara maksimal. Kilau warna perunggu kuno menyelimuti sekujur tubuhnya dari balik jubah hitam. Ia tidak menghindar. Tangan kirinya bergerak ke atas, menyambut hantaman kapak raksasa bermata dua milik Kebo Marcuet yang tiba lebih dahulu dari arah samping dengan tangan kosong!

TANGGGG!

Benturan dua kekuatan fisik tingkat tinggi itu menghasilkan suara dentingan logam yang sangat nyaring hingga melemparkan bebatuan kecil di sekitarnya ke udara.

Kapak raksasa Kebo Marcuet menghantam telapak tangan kiri Satria dengan telak, namun senjata berat tersebut terhenti seketika, seolah-olah menghantam sebuah dinding pusaka ghaib yang tak berwujud.

Kulit tangan Satria tidak tergores sedikit pun; energi berlendir dari Jolo Sutro justru merambat naik ke gagang kapak, mulai mengunci pergerakan otot lengan Kebo Marcuet.

"Apa?! Menahan kapakku dengan tangan kosong?!" Kebo Marcuet terbelalak, matanya hampir keluar dari kelopaknya karena syok yang teramat sangat.

Di saat yang sama, hantaman gada emas milik Menak Jingga dari arah atas telah tiba. Bayangan naga emas raksasa itu hanya berjarak satu jengkal dari kepala Satria.

Sreeeng!

Tangan kanan Satria yang memegang Pedang Bintang Tujuh Kedewaan bergerak dalam lintasan melengkung yang sangat cepat dari bawah ke atas. Berkas cahaya perak murni memotong udara secara vertikal, menebas tepat pada sambungan gagang Gada Kencana seperti yang diinstruksikan oleh sistem.

CRASH!

Senjata ghaib kebanggaan Blambangan yang legendaris itu terpotong menjadi dua bagian dengan sangat mudah. Bayangan naga emas raksasa di udara langsung hancur berantakan menjadi serpihan cahaya kuning yang menguap tanpa bekas. Tidak berhenti sampai di situ, momentum tebasan Pedang Bintang Tujuh Kedewaan berlanjut, melesat melewati pergelangan tangan kanan Menak Jingga.

Crass!

Tangan kanan sang Senopati terkuat yang masih menggenggam sisa gagang gada terputus, melayang ke udara bersama semburan darah segar yang hangat. Menak Jingga memekik kesakitan, tubuh zirahnya limbung dan melangkah mundur dengan terhuyung-huyung, memegangi pangkal lengannya yang kini menyemburkan darah merah terang.

"Kau... tangan kananku!" jerit Menak Jingga dengan wajah yang mendadak pucat pasi seperti mayat.

Satria tidak memberikan kesempatan bagi musuhnya untuk meratapi nasib. Dengan tangan kiri yang masih mencengkeram kapak Kebo Marcuet, Satria menarik tubuh pendek kekar sang pendekar tua itu mendekat ke arahnya dengan satu sentakan bertenaga ghaib.

"Kebo Marcuet, giliranmu," bisik Satria dingin dari balik caping bambunya.

Sebelum Kebo Marcuet sempat melepaskan pegangan kapaknya atau mengaktifkan mantra pertahanan sekunder, Satria membalikkan pergelangan tangan kanannya dan menusukkan bilah hitam Pedang Bintang Tujuh Kedewaan lurus ke arah dada sang pendekar.

JLEB!

Lapisan Ajian Bumi Prakoso yang membungkus tubuh Kebo Marcuet yang diklaim sekeras karang purba itu terbukti tidak lebih dari sekadar lapisan lumpur kering di hadapan pedang tingkat ghaib milik Satria. Bilah hitam itu menembus zirah baja dan bersarang telak di jantung Kebo Marcuet, menembus hingga ke punggung belakangnya.

"Uhuk... k-kau..." Kebo Marcuet memuntahkan segumpal darah kental, sepasang matanya perlahan kehilangan binar kehidupannya saat energi kematian dari pedang rasi bintang mulai mengeringkan sirkulasi Prana di dalam tubuhnya. Tubuh raksasa karang itu melorot kaku, berlutut di hadapan Satria sebelum akhirnya tumbang tak bernyawa.

[Bip! Anda telah membantai Senopati Kebo Marcuet (Ranah Satria Tahap 8).]

[Mendapatkan: 20.000 Poin Sistem.]

Satria menarik pedangnya dari dada jasad Kebo Marcuet dengan satu gerakan halus, lalu membalikkan badannya menatap Menak Jingga yang kini jatuh terduduk di atas tanah batu dengan satu tangan tersisa. Seluruh keangkuhan pendekar Ranah Satria puncak di dalam diri Menak Jingga telah hancur berkeping-keping. Pria di depannya ini bukan lagi seorang manusia, melainkan perwujudan dari dewa kematian yang dikirim untuk menghapus nama Blambangan dari peta Dwipantara.

"Jangan... jangan bunuh aku..." bisik Menak Jingga, suaranya gemetar hebat menahan rasa sakit fisik dan kehancuran mental yang luar biasa. "Aku... aku bisa membantumu membuka gerbang istana dalam... aku tahu di mana tempat penyimpanan pusaka rahasia Adipati..."

Satria melangkah mendekat, bayangan tubuh tegapnya menutupi sosok Menak Jingga yang tak berdaya. Sifat anti-heronya yang pragmatis sama sekali tidak membutuhkan pengkhianat murahan seperti pria di hadapannya ini.

"Aku bisa mengambil semua harta itu sendiri setelah kepalamu terlepas, Menak Jingga," ucap Satria datar.

Sret!

Satu ayunan pedang horizontal yang sangat bersih mengakhiri kalimat Satria. Kepala Senopati terkuat Blambangan itu menggelinding di atas tanah merah Watu Tulis, menyusul takdir rekan-rekannya yang telah mendahului ke alam baka.

[Bip! Anda telah membantai Senopati Menak Jingga (Ranah Satria Tahap 9).]

[Mendapatkan: 25.000 Poin Sistem.]

[Saldo Poin saat ini: 69.000 Poin!]

[Pemberitahuan: Seluruh pimpinan militer utama Kadipaten Blambangan telah ditumpas sepenuhnya. Jalur menuju Istana Pusat kini terbuka lebar tanpa hambatan.]

Dyah Sekar Ayu melompat turun dari udara, mendarat dengan sangat anggun di samping Satria. Selendang sutra hijaunya telah kembali bersih dari noda darah berkat manipulasi Prana murni miliknya. Ia menatap dua jasad Senopati legendaris di kaki Satria dengan binar kepatuhan mutlak dan kekaguman yang tak terbatas di matanya.

"Dua perisai terkuat Blambangan telah hancur," ucap Sekar Ayu dengan suara merdu namun dingin. "Sekarang, hanya tersisa rubah tua di dalam istana pusat. Namun, Satria... aku bisa merasakan fluktuasi energi ghaib dari arah kota dalam semakin menguat dan terasa sangat asing. Bau amis darah yang menguar dari sana bahkan bisa tercium hingga ke dataran tinggi ini."

Satria menyarungkan kembali Pedang Bintang Tujuh Kedewaan ke punggungnya, lalu menatap tajam ke arah timur, tempat di mana menara-menara istana Blambangan terlihat samar di balik kabut fajar yang kian memudar.

"Bhre Wirabhumi telah menyelesaikan ritual pengorbanannya," sahut Satria, matanya berkilat biru keperakan. "Entitas dari benua luar telah tiba di sisinya. Mari kita pergi, Sekar Ayu. Kita akan melihat mainan baru apa yang telah disiapkan oleh rubah tua itu untuk menyambut kedatangan kita."

1
Anata diya
/Smile//Smile//Smile/
Ranah Pengangguran Bintang 5
Semangat Thor!!! Jangan Sampai Putus Ditengah Jalan....
Tante Mimi
Bagus.. ceritanya seru, tapi sayang bab-nya masih sedikit /Sob/ semangat, jangan lupa update yang banyak/Chuckle/
RIOR'CC
Jangan Lupa Follow & Like Guys 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!