Vonis dokter menjadi titik balik dalam hidup Zulfa dimana dirinya hanya bisa memiliki anak melalui program bayi tabung. Di tengah harapan yang rapuh, sang ibu mertua yang selama ini tampak penuh dukungan, diam-diam menyusun rencana yang mengguncang, ia menyuruh Arslan, putra semata wayangnya, untuk berselingkuh.
Arslan menolak keras tunduk pada keinginan ibunya. Ia tetap berdiri di sisi sang istri, menguatkan setiap langkah Zulfa meski harapan berkali-kali runtuh. Namun, konflik tak berhenti di sana. Sang ibu sengaja menghadirkan masa lalu Arslan ke permukaan, mengancam keutuhan rumah tangga yang mereka bangun dengan susah payah.
Di tengah tekanan, air mata, dan kegagalan program bayi tabung yang terus menerpa, Zulfa dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya, antara terus berjuang atau berhenti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vitamaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan hanya cucu yang Mama inginkan
Sesampainya di rumah sakit, Zulfa bergegas menuju ruang ICU sesuai arahan suaminya. Di sana, ia melihat Arslan duduk tertunduk lesu. Di sampingnya, sang ayah mertua tampak kelelahan hingga terlelap dalam posisi tubuh bersandar pada sofa.
Zulfa melangkah perlahan menghampiri Arslan. Ia membungkukkan badan, berniat menyapanya yang terlihat tertidur dalam posisi tak nyaman itu. Namun ternyata Arslan hanya memejamkan mata sejenak, berusaha mengusir kantuk yang menyerangnya. Saat merasakan sentuhan hangat di tangannya, Arslan menoleh ke arah Zulfa. Senyum tipis terukir di bibirnya, lalu tanpa diduga ia langsung meraih Zulfa ke dalam pelukan.
Zulfa yang masih diliputi kebingungan tak berani segera bertanya. Ia menunggu hingga akhirnya kesempatan itu datang.
"Ada apa dengan Mama?" tanya Zulfa setelah ia duduk di samping suaminya.
"Kata Papa, Mama tiba-tiba pingsan, lalu langsung dibawa ke sini. Dan dokter..." ucapan Arslan terhenti ketika pintu ruang ICU terbuka.
Seorang perempuan keluar dari dalam ruangan. Zulfa cukup terkejut saat mengenali sosok iru. Arslan dan ayahnya sontak bangkit bersamaan, lalu bergegas menghampiri perempuan itu yang masih mengenakan pakaian medis dan masker yang sudah dilepas dari wajahnya.
"Bagaimana Mama, Fath? Apa diagnosa itu benar?" tanya Arslan penuh kecemasan. Kedua tangannya refleks mencengkeram lengan Fathiya, seolah dari sanalah ia mencari pegangan agar tak runtuh.
Zulfa memandang pemandangan itu dengan dada sesak. Apa itu caranya menenangkan diri? batinnya menerka.
"Kamu harus sabar, ya." Fathiya menatap Arslan, lalu mengalihkan pandangan kepada Ardi. Seakan kalimat itu juga ditujukan untuk sang ayah.
"Jadi... diagnosa itu benar?" Ardi bertanya lebih dulu. Jantungnya berdegup kencang menanti jawaban.
Beberapa detik terasa begitu panjang, hingga akhirnya Fathiya mengangguk pelan. Tak ada kata lain yang keluar dari bibirnya.
Tangan Arslan perlahan terlepas dari lengan Fathiya, namun perempuan itu sigap menangkapnya, lalu menggenggam erat jemarinya seolah hendak menyalurkan kekuatan untuk Arslan yang tengah terguncang.
Di sisi lain, ada hati seorang perempuan yang terasa diremas hebat. Bukan karena terkejut oleh diagnosa yang bahkan belum ia pahami, melainkan karena momen intim itu terjadi tepat di depan matanya. Seharusnya dialah yang berdiri memberi kekuatan untuk suaminya, bukan wanita lain.
Arslan yang baru menyadari keberadaan Zulfa buru-buru melepaskan genggaman itu. Ia refleks mundur selangkah, lalu mendekati istrinya. Dalam hati, ia sendiri kebingungan—mengapa tanpa sadar ia menyentuh wanita lain di hadapan istrinya? Kepalanya semakin dipenuhi kekacauan.
"Tapi kalian tidak perlu terlalu khawatir. Kondisi Tante Farah untuk sementara sudah stabil. Sebentar lagi tim medis akan memindahkan beliau ke kamar rawat inap. Kemungkinan beliau akan segera sadar." Fathiya berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Setelah itu, saya akan lebih intensif menangani pengobatannya agar penyakit ini tidak membahayakan nyawanya."
Penjelasan itu membuat Ardi dan Arslan akhirnya dapat bernapas lega. Setidaknya, Farah masih bisa diselamatkan dan berada dalam penanganan terbaik.
Sementara itu, Zulfa masih berdiri terpaku di tempatnya. Ia belum sepenuhnya mengerti maksud ucapan Fathiya, juga penyakit apa yang diderita ibu mertuanya. Namun ia memilih diam untuk sementara. Ia akan menanyakan semuanya kepada Arslan nanti, saat keadaan sudah lebih tenang—mungkin ketika mereka telah sampai di rumah.
Zulfa menundukkan pandangannya, berusaha menahan segala gejolak yang berkecamuk di dalam dada. Ia sadar, ini bukan waktu yang tepat untuk menuntut penjelasan. Kondisi Farah jauh lebih penting daripada rasa sesak yang kini menggerogoti hatinya. Namun, tetap saja pemandangan beberapa saat lalu meninggalkan jejak yang sulit diabaikan.
Tak lama kemudian, dua orang perawat mendorong ranjang pasien keluar dari ruang ICU. Farah terlihat pucat, selang infus terpasang di tangannya, sementara alat pemantau detak jantung masih menempel di tubuhnya. Mata wanita paruh baya itu masih terpejam rapat.
"Ma..." lirih Arslan seraya mendekat.
Ardi ikut berjalan di sisi ranjang, wajahnya tampak jauh lebih tua dalam hitungan jam. Gurat cemas dan lelah memenuhi wajah lelaki itu. Zulfa hanya berdiri beberapa langkah di belakang, memperhatikan keluarga kecil itu dengan perasaan campur aduk.
"Pasien akan dipindahkan ke kamar rawat inap VIP lantai tiga," ujar salah satu perawat.
Arslan mengangguk cepat. Ia membantu mendorong ranjang bersama petugas, sementara Ardi mengikuti dari samping. Tanpa ada yang memintanya, Zulfa ikut melangkah di belakang mereka. Hening mengiringi perjalanan menuju lift. Hanya suara roda ranjang yang berdecit pelan di sepanjang lorong rumah sakit.
Sesampainya di kamar rawat inap, Farah dipindahkan ke tempat tidur pasien. Perawat mulai merapikan alat-alat medis dan memberi beberapa penjelasan singkat. Setelah semuanya selesai, ruangan itu kembali sunyi.
Ardi duduk di kursi dekat jendela sambil memijat pelipisnya. Arslan berdiri di sisi ranjang, memandangi wajah ibunya tanpa berkedip. Sementara Zulfa memilih berdiri di sudut ruangan, merasa canggung sekaligus asing di tengah keluarganya sendiri.
Pintu kamar kembali terbuka. Fathiya masuk sambil membawa map rekam medis.
"Saya perlu bicara sebentar soal kondisi Tante Farah," katanya tenang.
Arslan langsung menoleh. "Gimana, Fath?" Sebisa mungkin Arslan menjaga jaraknya dengan Fathiya.
Fathiya menarik napas pelan. "Ada penyumbatan pada pembuluh darah jantung beliau. Tadi sempat memicu penurunan kesadaran. Untungnya cepat dibawa ke rumah sakit, dan kami sempat memberinya obat lewat infus. Itu sebabnya kondisi sudah sedikit membaik."
Ardi menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Ya Allah..."
"Kita masih bisa melakukan tindakan lanjutan, Om. Tapi Tante Farah harus menghindari stres berat dan menjaga pola makan setelah ini," lanjut Fathiya.
Arslan mengepalkan tangan. "Kenapa Mama tidak pernah cerita kalau sering sakit?"
Tak ada yang menjawab. Semua tahu Farah adalah tipe perempuan yang selalu menyimpan beban sendiri.
Di tengah suasana tegang itu, Farah bergerak pelan. Jemarinya bergetar kecil.
"Mama sadar!" seru Arslan, segera mendekat.
Kelopak mata Farah terbuka perlahan. Pandangannya tampak kabur, berkeliling mencari wajah-wajah di sekitarnya. Saat matanya menemukan Zulfa yang berdiri di sudut ruangan, bibir pucat itu bergerak lirih.
"Ar... slan..."
Semua orang menoleh ke arah Arslan.
Arslan terkejut. Ia melangkah mendekat dengan ragu. "Iya, Ma... Arslan di sini."
Farah mengangkat tangan lemah, seolah ingin meraih putranya. Dengan cepat Arslan menggenggam tangan dingin itu.
"Mama... minta maaf..." bisik Farah nyaris tak terdengar.
Arslan membeku. Permintaan maaf itu terasa aneh dan penuh arti.
Arslan pun mengernyit. "Ma, maksud Mama apa?"
Namun Farah sudah memejamkan mata kembali karena kelelahan. Monitor jantung berdetak stabil, tetapi kalimat singkat itu meninggalkan tanda tanya besar di kepala semua orang.
Ruangan kembali diselimuti keheningan. Hanya bunyi detak monitor jantung yang terdengar teratur, seakan menjadi satu-satunya penanda bahwa waktu masih berjalan. Arslan menggenggam tangan ibunya. Jemari wanita itu terasa dingin dan lemah, tetapi ucapan barusan justru membuat Arslan sadar. Seharusnya dirinyalah yang meminta maaf pada ibunya karna tidak pernah lagi mempedulikannya.
"Tante Farah masih lemah. Jangan di ajak bicara dulu," ujar Fathiya pelan sambil memeriksa infus dan alat monitor. Setelah memastikan semuanya dalam keadaan stabil, ia menutup map rekam medis yang dibawanya lalu melangkah mundur.
"Kalau begitu, aku keluar dulu. Masih ada pasien lain yang harus kutangani," ucapnya singkat.
Arslan hanya mengangguk, sementara Zulfa menundukkan pandangan. Fathiya pun keluar dari kamar, meninggalkan suasana hening yang terasa menyesakkan.
Zulfa yang sejak tadi duduk di sofa perlahan bangkit. Ia menghampiri Ardi yang tampak semakin lesu. Wajah lelaki itu pucat, matanya sembap, dan tubuhnya terlihat tak lagi sekuat biasanya.
"Lebih baik Papa istirahat saja di rumah," kata Zulfa lembut. "Biar Zulfa dan Arslan yang menjaga Mama di sini."
Arslan menoleh ke arah ayahnya, menyetujui usul sang istri.
"Iya, Pa. Sebaiknya Papa pulang dulu. Arslan akan panggil Pak Rudi untuk menjemput Papa."
Kali ini Ardi tak memberi penolakan. Kondisinya memang benar-benar lelah. Seharian penuh ia belum memejamkan mata, sementara pikirannya terus dihantui kecemasan terhadap Farah. Kepalanya berdenyut seperti ditusuk ribuan jarum halus.
Tak lama kemudian, ponsel Arslan bergetar. Nama Pak Rudi muncul di layar. Sopir pribadi ayahnya itu memberi kabar bahwa dirinya sudah tiba di rumah sakit.
"Pak Rudi sudah sampai, Pa," ujar Arslan setelah menutup sambungan telepon. "Beliau menunggu di bawah. Biar Arslan antar Papa ke lobby.."
Arslan menatap kondisi ayahnya yang tampak goyah saat hendak berdiri. Kekhawatiran segera menyelusup di dadanya. Ia tak mungkin membiarkan lelaki setua itu berjalan sendiri dalam keadaan lemah.
Dengan sigap Arslan meraih lengan Ardi, membantu menopang tubuh ayahnya.
"Hati-hati, Pa."
Ardi tersenyum tipis, meski wajahnya tetap menyiratkan kepedihan. "Papa belum setua itu," gumamnya berusaha bercanda, namun suaranya terdengar rapuh.
Zulfa ikut mendekat dan mengambil tas milik mertuanya yang tergeletak di sofa. Ia menyerahkannya kepada Arslan tanpa banyak bicara. Tatapan mereka sempat bertemu sesaat, lalu sama-sama beralih.
"Aku antar Papa dulu," kata Arslan pelan kepada Zulfa. "Kamu tunggu di sini, ya."
Zulfa mengangguk singkat. "Iya."
Beberapa saat kemudian, Arslan menuntun ayahnya keluar kamar. Pintu tertutup perlahan, meninggalkan Zulfa seorang diri bersama Farah yang masih tertidur lemah di atas ranjang.
Ruangan mendadak terasa jauh lebih sunyi. Hanya bunyi mesin monitor yang terdengar ritmis memenuhi udara. Zulfa kembali duduk di sofa, menatap ibu mertuanya dalam diam.
Perempuan itu tampak begitu rapuh sekarang, sangat berbeda dengan sosok tegas yang selama ini ia kenal.
Tanpa sadar, pikiran Zulfa kembali melayang pada kejadian di lorong ICU tadi. Genggaman tangan Arslan dan Fathiya. Tatapan cemas yang terasa terlalu dekat. Semua itu terus berputar di kepalanya. Ia menghela napas panjang, mencoba menepis prasangka yang tumbuh liar. Namun semakin ia berusaha tenang, semakin besar rasa tak nyaman itu menjalar.
Tak berapa lama kemudian Arslan kembali lalu menutup pintu dan duduk bersebelahan dengan istrinya, sama-sama menatap tubuh wanita yang terlihat lemah di atas ranjang.
"Sebenarnya mama sakit apa?" Tanya Zulfa. Ia merasa ini waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu.
"Mama di diagnosis memiliki tumor di jantungnya tapi belum mengarah ke kanker. Mungkin masih bisa di tangani agar tumor itu tidak membahayakan nyawanya." Mata Zulfa membeliak terkejut, "Bagaimana bisa? Selama ini mama selalu terlihat baik-baik saja. Tidak pernah menunjukkan gejala apapun." Lanjutnya lagi.
"Kita jarang bersamanya, Zulfa. Kita benar-benar tidak tahu apa yang Mama rasakan selama ini. Dan aku..." kalimat Arslan mendadak terputus.
Kedua matanya memerah, seolah menahan air mata yang nyaris jatuh. Rahangnya mengeras, sementara jemarinya saling bertaut erat.
"Aku merasa bersalah karena nggak pernah peduli sama Mama."
Suara itu lirih, namun penuh sesak. Untuk pertama kalinya Zulfa melihat suaminya begitu rapuh. Bukan Arslan yang dingin dan sulit ditebak seperti biasanya, melainkan seorang anak lelaki yang sedang dihantam penyesalan.
Zulfa menatap wajah suaminya beberapa saat, lalu perlahan menggenggam tangan Arslan yang dingin.
"Kamu jangan menyalahkan diri sendiri," ucapnya lembut. "Kita semua nggak pernah tahu apa yang disembunyikan Mama."
Arslan menunduk. "Tapi aku anaknya, Zulfa." Ia tersenyum pahit. "Seharusnya aku yang paling tahu kalau beliau sedang sakit."
"Kadang orang tua memang seperti itu," jawab Zulfa pelan. "Mereka lebih memilih menanggung semuanya sendiri supaya anak-anaknya nggak ikut khawatir."
Arslan menghela napas panjang, lalu menyandarkan tubuh ke sofa. Pandangannya lurus ke arah ibunya yang terbaring lemah di atas ranjang.
"Beberapa minggu terakhir Mama sering meneleponku," katanya tiba-tiba. "Tapi sering nggak aku angkat karena takut mama akan menyinggung masalah mu lagi. Kadang aku cuma balas singkat. Kadang malah aku abaikan."
Nada suaranya dipenuhi penyesalan yang tak bisa lagi ditarik kembali.
Zulfa meremas tangan Arslan pelan, memberi ketenangan tanpa banyak kata. Dalam hatinya, ia ikut merasa sedih. Setelah beberapa saat menimbang dalam diam, ia menarik napas panjang lalu berkata mantap,
"Demi Mama, aku siap melanjutkan program hamil lagi."
Arslan yang sejak tadi menunduk langsung menoleh cepat. Tatapannya dipenuhi keterkejutan.
"Zulfa..." suaranya lirih.
"Kalau itu bisa membuat Mama tenang dan sehat kembali, aku mau mencoba lagi."
Arslan menggeleng pelan. Wajahnya justru terlihat semakin berat.
"Zulfa, kalau fisik dan mentalmu masih belum siap, nggak perlu dipaksa." Ia menggenggam kedua tangan istrinya erat. "Aku bisa mengatasi masalah ini sendiri."
Zulfa menatap suaminya lekat-lekat. Ada kelelahan yang belum sembuh di matanya, ada luka yang selama ini sama-sama mereka simpan. Namun kali ini ia memilih menyingkirkan egonya sejenak.
"Tidak, Arslan." Suaranya tenang, tetapi tegas. "Aku nggak mau jadi penyebab retaknya hubunganmu dengan Mama."
Arslan hendak menyela, tetapi Zulfa melanjutkan kalimatnya.
"Biar bagaimanapun juga, yang diinginkan Mama hanya seorang cucu." Ucapan itu membuat Arslan terdiam. Rahangnya mengeras, seolah menahan sesuatu yang ingin keluar. Ia melepaskan genggaman tangan Zulfa perlahan, lalu menatap ke arah ibunya yang tertidur lemah.
'Kamu salah kalau mengira semua ini tentang cucu, ada hal lain yang lebih mama inginkan.'
Namun ucapan itu hanya tertahan di tenggorokan. Arslan mengusap wajahnya kasar, lalu menyandarkan tubuh ke sofa. Tatapannya kosong menembus lantai. Entah harus bagaimana ia mengatakannya ...