"Kamu tidak bisa melangkah keluar dari pintu itu sebelum kamu bertanggung jawab untuk apa yang sudah kamu lakukan padaku."
"Tanggung jawab? Harusnya kamu bersyukur Tuan, dapat ciuman gratis dari gadis secantik aku malam ini. Bye!"
....
Demi kabur dari kejaran pengawal papanya, Zevanya Anneliza Sanjaya (21) nekat menerobos ruang VIP sebuah bar eksklusif dan membungkam pria asing di dalamnya dengan ciuman panas. Dia mengira urusan mereka selesai malam itu juga.
Namun, takdir bercanda. Seminggu kemudian, Anya dipaksa bertunangan dengan Calvin Fernandez (25), pria kaku yang super membosankan. Syoknya lagi, pria asing yang dia cium di bar malam itu ternyata adalah Bara Fernandez (35) sang paman tunangannya yang berkuasa. Di depan keluarga, Bara tampil berwibawa bak malaikat, tapi di depan Zevanya, dia menjelma menjadi pria nakal yang siap menjeratnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 #Kartu As
Anya mengatur napasnya yang sempat berantakan akibat jarak mereka yang terlalu mengikis. Sisi defensif dan pemberontak dalam dirinya menolak untuk terlihat lemah, apalagi di bawah kungkungan paman dari calon tunangannya sendiri. Dia mendongak, menantang sepasang mata elang di hadapannya dengan binar jenaka yang sengaja dibuat-buat. Gaya centil dan usilnya yang biasa dia gunakan untuk merayu sang papa kini kembali dia keluarkan sebagai senjata.
"Hutang apa?" tanya Anya, nada suaranya dibuat seringan mungkin, seolah mereka hanya sedang membahas cuaca. "Kita tidak pernah terlibat transaksi bisnis atau kerja sama apa pun... Om."
Anya sengaja menekankan kata Om dengan pelafalan yang lambat, berharap panggilan itu bisa menampar ego pria dewasa berumur tiga puluh lima tahun di hadapannya.
Mendengar panggilan itu, Bara Fernandez sedikit menarik kepalanya mundur. Namun, kedua tangan kokohnya sama sekali tidak bergeser dari permukaan marmer wastafel, tetap mengunci tubuh ramping Anya di antara lengannya. Sudut bibir Bara terangkat tipis, seolah panggilan tersebut sama sekali tidak melukai harga dirinya, melainkan justru terdengar seperti musik yang menghibur.
Melihat Bara sedikit menjauhkan wajahnya, keberanian Anya semakin melonjak. Dia mengangkat tangan kanannya, lalu dengan gerakan super nekat, jari telunjuk lentiknya mengetuk kening Bara sebanyak dua kali dengan pelan.
"Oh, ya... Om kan sudah berumur, ya? Mungkin ingatan Om sudah sedikit menurun alias pelupa. Makanya jadi suka menagih hutang fiktif pada gadis muda seperti aku," celos Anya dengan kedipan mata yang sengaja dibuat seindah mungkin, mencoba bersikap usil untuk menutupi debaran gairah yang aneh di dadanya.
Bara Fernandez tidak marah. Tidak ada kilat kilat murka di matanya saat keningnya diketuk oleh seorang gadis yang usianya terpaut empat belas tahun di bawahnya. Sebaliknya, Bara justru merasa ketertarikannya pada gadis ceri ini melonjak ke tingkat yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Keberanian Anya, kelancangannya, dan caranya membalas serangan dengan gaya centil itu benar-benar menyegarkan bagi Bara yang selama ini hanya dikelilingi oleh orang-orang yang selalu tunduk ketakutan pada otoritasnya.
"Mungkin justru kamu yang lupa, Zevanya," sahut Bara, suaranya terdengar sangat tenang namun sarat akan intimidasi yang nyata. Pria itu mencondongkan kembali tubuhnya, membuat Anya otomatis kembali bersandar pada wastafel. "Aku memegang kartu as-mu di dalam sakuku."
Anya mengernyitkan alisnya, mencoba tetap terlihat tenang. "Kartu as apa?"
"Bagaimana kalau papamu yang terhormat... dan seluruh keluarga besar Fernandez, termasuk calon suamimu yang penurut itu, tahu fakta yang sebenarnya?" Bara menjeda kalimatnya, membiarkan suaranya berbisik tepat di samping telinga Anya. "Bagaimana kalau mereka tahu ternyata seorang putri Sanjaya yang agung, yang katanya malam itu sedang menginap untuk diskusi skripsi, justru keluyuran ke klab malam dengan gaun minim... dan mencium pria asing di ruang VIP tanpa izin?"
Mendengar penuturan yang sangat terperinci itu, kepalan tangan Anya di balik tas beludrunya mengeras. Binar jenaka di matanya lenyap seketika, digantikan oleh kilat kepanikan yang coba dia sembunyikan. Sialan. Pria ini benar-benar memanfaatkan momen malam itu untuk menyudutkannya.
Anya memutar otaknya dengan cepat. Jika masalah ini sampai ke telinga Tomi Fernandez, Isyana, atau bahkan Calvin, Anya sama sekali tidak peduli. Dia justru akan sangat bersyukur jika keluarga Fernandez membatalkan perjodohan ini karena menganggapnya sebagai wanita nakal yang tidak tahu adat.
Tetapi... untuk papanya, Tito Sanjaya? Itu adalah cerita yang berbeda. Anya adalah anak kesayangan papanya, namun dia juga tahu seberapa tegas dan mengerikannya Tito jika sudah menyangkut kehormatan keluarga. Jika Tito tahu Anya berbohong, keluyuran ke klab, bahkan sampai mencium pria asing, Anya bisa habis. Haknya atas kebebasan akan dicabut total. Dia tidak akan diizinkan keluar rumah tanpa pengawalan berlapis, ponselnya akan disita, dan dia mungkin akan dipaksa menikah detik itu juga tanpa boleh menyelesaikan kuliah manajemen bisnisnya. Dia bisa mati berdiri di dalam rumah Sanjaya.
Anya kalah telak jika menyangkut kemarahan papanya.
"Bagaimana, Zevanya?" tanya Bara lagi, menikmati perubahan ekspresi wajah Anya yang kini tampak berpikir keras. "Mau aku keluar sekarang, kembali ke meja makan, dan membongkar cerita buah ceri yang sebenarnya ke hadapan papamu?"
Bara memberikan senyum kemenangan, lalu perlahan mengangkat kedua tangannya dari wastafel, berpura-pura hendak berbalik menuju pintu toilet untuk merealisasikan ancamannya.
"Tidak! Tidak, jangan!" panggil Anya refleks. Tangannya bergerak cepat, mencengkeram lengan kemeja putih Bara, menahan pria itu agar tidak melangkah satu senti pun menuju pintu.
Bara menghentikan gerakannya. Dia kembali menoleh, menatap tangan kecil Anya yang meremas lengannya, lalu beralih menatap wajah memelas gadis itu dengan senyuman yang semakin melebar. "Kenapa? Bukankah urusan kita sudah selesai, seperti yang kamu katakan seminggu yang lalu?"
Anya menggigit bibir bawahnya, merutuki kata-katanya sendiri di masa lalu. "Om... tolong jangan beri tahu Papa. Aku mohon."
"Lalu, apa imbalan yang akan aku dapatkan untuk menyimpan rahasia besar ini, Sayang?" tanya Bara, menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menanti penawaran dari sang mahasiswi bisnis.
Anya menarik napas dalam-dalam, mencoba bersikap profesional seolah sedang melakukan negosiasi dagang. "Om mau apa? Uang? Sebutkan saja nominalnya, aku akan transfer sekarang. Atau... saham perusahaan papaku? Aku bisa membujuk Papa untuk memberikan beberapa persen saham properti untuk Fernandez Corp."
Bara spontan tertawa rendah, sebuah tawa meremehkan yang terdengar sangat seksi di dalam ruangan toilet yang sunyi. "Uang? Saham?" Bara melangkah satu kali lagi, membuat tubuhnya kembali mengurung Anya tanpa menyisakan ruang. "Kamu lupa siapa aku, Zevanya? Aku memegang kendali atas investasi terbesar di Fernandez Corp. Uang dan saham papamu tidak akan bisa menambah deretan angka di rekeningku yang sudah terlalu panjang."
"Lalu apa?!" desis Anya frustrasi. "Kalau bukan uang atau saham, apa yang Om inginkan?!"
Pandangan mata elang Bara perlahan bergerak turun. Perlahan namun pasti, matanya menatap lekat-lekat pada bibir ranum Anya yang malam ini dipulas lipstik tipis, lalu pandangannya turun lebih jauh, menatap belahan dada indah yang ditampilkan Anya melalui celah gaun beludru merahnya yang terbuka lebar akibat potongan deep V-neck tersebut.
Menyadari arah pandangan Bara yang sangat intens dan kelaparan, wajah Anya langsung memanas. Refleks, kedua tangannya bergerak naik ke depan dada, menutupi belahan indahnya dari tatapan mesum pria di hadapannya.
"Om mesum! Jangan lihat-lihat!" ketus Anya dengan wajah memerah sempurna.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan keras pada pintu kayu toilet seketika memotong perdebatan mereka. Suasana di dalam toilet perempuan itu mendadak mendingin dalam sekejap.
"Anya? Kamu di dalam? Kamu baik-baik saja?"
Suara Calvin Fernandez terdengar dari balik pintu, terdengar cukup jelas dan bergema. Tampaknya karena Anya terlalu lama berada di toilet, Calvin memutuskan untuk menyusul dan memastikan keadaan tunangannya.
Jantung Anya seketika berdegup gila-gilaan, rasanya seperti mau melompat keluar dari dadanya. Jantungan untuk kesekian kalinya malam ini. Dia menatap pintu, lalu menatap Bara dengan mata yang membelalak horor. Jika Calvin sampai mendobrak atau membuka pintu ini dan melihat pamannya sendiri sedang mengurung Anya di dalam toilet perempuan... tamatlah riwayatnya.
"Anya?" panggil Calvin lagi dari luar, knop pintu terdengar mulai digerakkan dari luar, namun untungnya masih tertahan karena gerendel yang dikunci Bara tadi.
Anya dengan panik menggunakan kedua tangannya untuk mendorong dada bidang Bara, mencoba menjauhkan tubuh kekar pria itu. "Sialan! Calvin di luar! Om, cepat menyingkir!" bisik Anya dengan nada panik yang luar biasa, setengah mendesis.
Namun, Bara Fernandez justru tetap bergeming bagai batu karang. Dia tidak bergerak satu milimeter pun, membiarkan kedua tangan kecil Anya mendorong dadanya tanpa hasil. Kekuatan otot Bara terlalu dominan untuk dilawan. Pria itu justru menatap Anya dengan senyuman santai, seolah-olah ketukan di luar pintu itu hanyalah angin lalu.
"Kenapa aku harus menyingkir?" bisik Bara tenang, menantang kepanikan Anya. "Bukankah lebih seru kalau Calvin melihat kita di sini?"
"Om gila ya?! Cepat sembunyi!" Anya hampir menangis karena panik, matanya melirik ke arah bilik toilet di sebelah mereka. Dia kembali mendorong dada Bara dengan sisa kekuatannya, namun Bara tetap menahannya di tempat, memanfaatkan momen ini untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
Knop pintu di luar kembali bergerak dengan lebih kasar. "Anya? Pintu toiletnya terkunci dari dalam? Kamu nggak apa-apa di dalam?" suara Calvin terdengar mulai cemas.
Anya memejamkan matanya sesaat, sudut wastafel yang dingin terasa menusuk pinggangnya. Dia tidak punya pilihan lain. Waktu mereka sudah habis.
Anya mencengkeram kerah kemeja Bara, menarik pria itu sedikit menunduk agar bisa mendengar bisikan daruratnya yang penuh kepasrahan. "Sembunyi sekarang, Om... aku mohon," bisik Anya dengan mata berkaca-kaca karena panik yang memuncak. "Sembunyi sekarang... aku janji akan menuruti apa saja maumu nanti. Apa saja!"
Mendengar kalimat kesepakatan yang sangat menguntungkannya itu, seulas senyum penuh kemenangan mutlak terukir di wajah tampan Bara Fernandez. Targetnya telah masuk ke dalam jebakan dengan sukarela.