Hari itu, Alya memberikan hadiah terakhir untuk suaminya.
Bukan harta, bukan pula kenangan. Melainkan kesempatan untuk hidup bersama wanita yang lebih dipilihnya.
Lalu ia pergi, membawa sebuah rahasia yang baru disadari Adrian saat semuanya sudah terlambat.
Follow instagram @Tantye005 untuk info seputar novel🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagai hidup di dunia berbeda
Enam tahun kemudian ....
Hampir setengah jam Dipta berdiri di samping mobilnya, menunggu seseorang yang tidak kunjung menampakkan batang hidungnya padahal tadi saat dikantor merengek untuk dijemput lebih cepat.
Dipta rela meninggalkan pekerjaan yang mengunung demi menjemput, tetapi malah dibuat menunggu selama ini.
Sesekali pria itu melirik arloji di pergelangan tangannya.
"Sudah keluar belum mas anaknya?" tanya seorang wanita di seberang telepon.
"Belum dek, ini mas lagi nunggu."
"Maaf ya mas harusnya aku yang jemput."
"Sayang, Aryan itu putra mas. Nggak ada yang salah kalau mas jemput."
"Ayahhhhhhh!"
Suara lengkingan anak kecil akhirnya terdengar dari kejauhan. Dan makhluk mungil pemilik suara itu tengah berlari tergopoh-gopoh padanya dengan senyuman lebar.
"Sudah dulu dek, ini kakaknya udah keluar," ujar Dipta dan memutus telepon. Buru-buru memasukkan ponselnya ke saku jas hanya untuk menyambut malaikat kecilnya.
Dipta berlutut dan menangkap tubuh mengemaskan itu.
"Kakak minta maaf ayah. Tadi kata bu guru sudah boleh pulang."
"Terus kenapa?" Dipta mengacak-acak rambut putranya.
"Kakak salah paham. Yang boleh pulang ternyata yang selesai menghitung." Dan deretan gigi Aryan terlihat.
Aryan Nugraha, anak laki-laki berusia 6 tahun. Permintaan asal Pradipta 6 tahun lalu akhirnya terkabul beberapa bulan selesai ia meminta menjadi ayah sambung dan memberikan marganya untuk putra Alya.
"Jadi kakak lama ngitungnya?"
Dipta mulai memuka pintu mobil dan mendudukkan putranya, memasangkan sabuk pengaman.
"Kakak nggak lama, hitungannya aja yang susah." Sudut bibir Aryan melengkung ke bawah.
"Udah pasti itu hitungannya yang susah, anak ayah kan pintar."
"Iya kakak emang pintar."
***
"Ibuuuuuuu!"
Alya langsung tersenyum mendengar panggilan itu, padahal dia baru saja mendapatkan omelan dari anggota keluarga klien yang diriasnya hari ini.
Namun, melihat putra dan suaminya berdiri di depan gedung membuat suasana hatinya membaik. Kesedihannya berangsur hilang.
"Bagaimana sekolah hari ini kakak?" tanya Alya penuh senyuman, apalagi Dipta baru saja mendaratkan kecupan dikeningnya dan lengan pria itu melingkar di pinggang.
"Harinya buruk ibu, perhitungannya sulit."
"Bukan sulit sayang, tapi belum dimengerti. Nanti kita belajar sama-sama di rumah ya." Alya mencubit pipi putranya.
Arya mengangguk dan berlari ke mobil, sedangkan Dipta? Pria itu tentu saja menempel pada istri cantiknya.
Terlalu sulit meluluhkan Alya, jadi dia akan menikmati setiap momen kebersamaan mereka.
"Jangan terlalu mesra nanti ada yang lihat," lirih Alya mencubit pinggang suaminya.
"Apa salahnya dek?"
"Aku kan karyawannya mas."
"Tapi masmu ini kan suamimu dek."
"Astaga mas." Alya sampai menghela napas panjang dan akhirnya membiarkan Dipta melakukan sesukanya.
"Setelah mengantar aku dan Aryan pulang, mas kembali ke kantor?"
"Iya, masih banyak pekerjaan yang belum diselesaikan Dek. Apalagi kan kita mau berkunjung ke rumah ibuk."
"Aku sampai lupa sama rencana kita mas." Alya menepuk keningnya dan tertawa pelan.
Dia melirik ke belakang dan ternyata putranya sudah tertidur. Benar-benar Dipta sekali, dimana ada kesempatan disitu akan tidur.
"Jadi teringat pas pertama kali bertemu mas," ujar Alya menatap suaminya. Enam tahun sudah pernikahan mereka dan Dipta tidak pernah berubah.
Effort dan cintanya pada Alya masih full sehingga mampu menghilang trauma paling menyakitkan dalam hidupnya.
"Pas sama bapak itu? Yang kamu melarikan diri ke sini?"
"Iya. Waktu itu mas kayak Aryan, langsung tertidur kalau dirasa sudah nyaman."
"Ya kan mas ayahnya dek."
"Iya juga." Alya membenarkan.
Aryan Nugraha, sudah pasti putra dari Pradipta Nugraha, bukan orang lain.
***
Setelah menderita di masa-masa kehamilannya akibat luka batin yang Adrian ciptakan, Alya akhirnya hidup bahagia dengan suami kedua yang begitu menyayanginya.
Berbeda dengan orang yang telah merebut kebahagian itu. Safira dan Adrian hampir tidak pernah merasakan arti dari kata bahagia.
Mereka masih bersama, bertahan selama 6 tahun dalam rumah tangga tanpa bahagia ini. Tinggal satu atap tetapi seolah orang asing. Sibuk dengan dunia mereka dan akan bertemu jika memang saling membutuhkan sentuhan saja.
Sumpah yang ibu Alya lontarkan enam tahun lalu, terus terjadi dalam kehidupan Adrian dan entah kapan sumpah itu akan terlepas darinya.
"Cucu papa pasti sudah besar dan sekolah ditaman kanak-kanak," celetuk pria tua saat makan malam sedang berlangsung.
"Papa benar, entah bagaimana rupanya. Dia pasti sangat tampan seperti Adri," sahut mama Adrian.
Kedua orang tua itu sangat ingin melihat cucunya secara langsung. Memeluknya dan bermain bersama. Namun, mereka tidak bisa, mereka hanya melihatnya dari foto yang Adrian berikan, itu pun foto bayi enam tahun lalu.
"Hah." Papa Adrian membuang napas kasar. "Kamu membuang istri yang sedang hamil demi mengambil istri yang nggak bisa memberikan anak meski sudah menghabiskan uang ratusan juga," lanjutnya melirik Safira yang baru saja akan bergabung dengan mereka.
Wanita itu tersenyum ramah, padahal dirinya baru saja diolok oleh mertua laki-lakinya.
"Hari ini aku ada jadwal sampai malam Mas, jadi kayaknya pulang telat."
"Hm," gumam Adrian yang fokus pada makannya. Dia tidak merespon setiap kalimat yang keluar dari mulut papanya. Dia terlalu lelah menghadapi semua orang, belum lagi pekerjaan yang menumpuk setelah dia menggantikan posisi papanya.
Dan Adrian selesai sarapan lebih dulu. Meninggalkan istri dan orang tuanya tanpa sekata pun. Dia benar-benar berubah menjadi pria yang tidak tersentuh.
"Bahkan nggak satu pun pesanku dibalas selama enam tahun," guman Adrian.
Dia memandangi ponselnya, membaca setiap pesan yang dia kirimkan pada Alya. Satiap satu bulan sekali, dia selalu meminta untuk dipertemukan dengan putranya. Namun, jangankan persetujuan, penolakan pun tidak ia dapatkan.
"Bu Safira sepertinya melakukan hal yang mencurigakan Pak," ujar asisten Adrian di jok depan.
"Biarkan saja dia, saya lelah hanya untuk mengurusi hidup orang lain," jawab Adrian.
Adrian merapikan jasnya sebelum turun dari mobil. Dia ada perjalanan dinas keluar kota untuk beberapa hari ke depan, sehingga baru pagi-pagi seperti ini dia sudah berada di bandara.
"Hati-hati jalannya kakak, nanti jatuh," ujar seorang wanita dengan setengah berteriak.
Lantas langkah Adrian berhenti, dia sangat mengenali suara itu meski sudah lama tidak mendengarnya.
Dia berbalik, dan menyaksikan seorang wanita mengelus lutut putranya yang baru saja terjatuh di lantai bandara. Jantung Adrian berpacu sangat hebat, dunianya seolah berhenti bergerak melihat Alya sibuk dengan seorang anak yang usianya kurang lebih 6 tahun.
"Pak?"
Adrian tidak mengidahkan panggilan asistennya, dia terus melangkah mendekati mantan istrinya.
"Al ...."
"Sudah dibilang tunggu ayah, kakak dan ibu malah pergi," omel pria yang langsung mengendong anak kecil itu.
Mereka tampak bahagia, tertawa bersama seolah dunia hanya milik mereka. Suara tawa itu semakin jauh dan Adrian ragu untuk mendekat. Dia takut kehadirannya akan menghilangkan senyuman lebar Alya.
"Dia putraku?" Mata Adrian berkaca-kaca.
.
.
.
Jangan lupa like, komen dan subscrie. Dukungan kalian semangat author.
klo cinta... tak akn km mnduakn alya