Bagus , seorang pemuda yang di tolak cintanya dengan cara menyakitkan, mengambil jalan pintas untuk mendapatkan cintanya. apa yg terjadi ? jika ternyata semua yang dia dapatkan hanya kenikmatan semu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 : Batas Kesabaran Taufik
Langkah kaki Taufik bergaung cepat di atas lantai marmer lobi gedung, meninggalkan ruang rapat dengan napas yang memburu tidak teratur. Wajah necis yang biasanya memancarkan kesombongan itu kini tampak sangat pucat, dengan rahang yang mengeras menahan rasa malu yang luar biasa hebat. Surat peringatan keras dari pihak HRD sudah resmi terlipat di dalam saku kemeja kerjanya, sebuah tamparan yang menandakan bahwa karier cemerlang yang selama ini ia bangun di kawasan elite Sudirman berada di ambang kehancuran total.
"Sialan! Bagaimana bisa si tua bangka Dedi memegang draf laporan keuangan yang asli per tanggal kemarin sore?!" umpat Taufik di dalam hati, memukul setir mobilnya dengan keras setelah masuk ke dalam kabin kendaraan di area parkir bawah tanah.
Rasa dengki dan amarah yang membakar rongga dadanya bener-bener telah meruntuhkan seluruh akal sehatnya. Taufik tidak siap menerima kenyataan bahwa posisinya di kantor kini berbalik menjadi bahan cemoohan para karyawan lain. Kehilangan akal sehat, pria muda itu langsung tancap gas membelah jalanan ibu kota yang mulai diguyur hujan deras, melaju kencang menuju ke arah perbukitan sunyi di pinggiran kota. Hanya ada satu tempat yang ada di dalam kepalanya sore itu, rumah tua Joglo milik Ki Demang.
Malam baru saja melingkupi kesunyian pekarangan penuh pohon bambu petung ketika Taufik melangkah tergesa-gesa menembus pintu ruang tengah Ki Demang. Tanpa memedulikan sopan santun lagi, ia langsung bersimpuh di depan tikar pandan tempat sang dukun pemilik Jaran Goyang itu sedang duduk merenung.
"Ki! Tolong saya, Ki! Rencana kita siang tadi bener-bener hancur berantakan!" pekik Taufik dengan nada suara yang bergetar histeris menahan tangis frustrasi. "Dedi tidak mempan dihantam rasa pening! Dia malah terlihat sangat tenang dan berwibawa di depan Direktur Utama! Karir saya di kantor habis, Ki! Sebentar lagi saya bisa dipecat kalau Aki tidak melepaskan serangan yang jauh lebih beringas untuk menghancurkan hidup orang itu!"
Ki Demang yang sedang mengisap rokok herbalnya tidak langsung menjawab. Pria tua berambut putih panjang itu hanya menatap Taufik dengan sorot mata hitam yang sangat dingin dan menusuk ngilu. Embusan asap putih tebal keluar dari hidungnya, berpadu dengan aroma harum dupa hitam yang menyesakkan dada.
"Aku sudah tahu, Taufik," ucap Ki Demang, nada suaranya terdengar sangat berat dan bergaung rendah memenuhi ruangan yang remang-remang. "Semalam aku sudah melepaskan getaran mantra penyerang saraf tingkat menengah ke arah jasadnya. Tapi energi hitam pelayanku mendadak lebur menjadi abu sebelum sempat menyentuh kulit Dedi. Ada benteng cahaya kuat yang melindunginya dari kejauhan."
"Lalu kita harus bagaimana, Ki?!" Taufik memajukan tubuhnya, mencengkeram ujung kain tikar dengan jari yang gemetar. "Saya tidak peduli lagi soal politik kantor! Saya mau Dedi hancur seancur-ancurnya! Kalau perlu, bikin keluarganya ikut gila dan menderita!"
Ki Demang terkekeh sangat rendah, sebuah suara tawa yang terdengar sangat menyeramkan dan memicu bulu kuduk di leher Taufik berdiri tegak. "Jangan bodoh, Taufik. Menyerang Dedi di dalam gedung kantor yang ramai saat siang hari bener-bener menguras energi karena banyak pikiran manusia yang memecah konsentrasi mantra. Jika kita ingin menghancurkan mentalnya sampai ke dasar, kita harus menyerang benteng pertahanannya yang paling rapuh."
Ki Demang perlahan bangkit berdiri, berjalan menuju sebuah peti kayu jati tua di sudut ruangan, lalu mengambil botol kecil minyak mistis berwarna merah kental yang berbau sangat anyir darah.
"Malam ini adalah malam Jumat Kliwon," bisik Ki Demang dengan seulas senyuman sinis yang mengerikan di bibirnya yang hitam. "Waktu di mana dimensi gaib berada di titik paling tipis. Kita akan memindahkan medan pertempuran ini langsung ke dalam rumah tinggal Dedi. Aku akan melepaskan simpul khodam Jaran Goyang tingkat atas untuk meneror batin istrinya. Ketika rumahnya dihantam ketakutan, dan istrinya menjadi histeris gila, maka sistem pertahanan mental Dedi akan runtuh dengan sendirinya tanpa perlu kita sentuh fisiknya."
Taufik menatap botol kecil berisi minyak merah itu dengan pancaran mata yang dipenuhi oleh aura dendam kesumat yang pekat. Batas kesabarannya telah habis, dan ia bersedia menyerahkan apa pun asal bisa melihat Dedi merangkak memohon ampun di bawah kakinya.
Ki Demang kembali duduk bersila, meletakkan botol minyak mistis itu di tengah nampan kuningan. Pria tua itu mulai memejamkan mata rapat-rapat, komat-kamit merapalkan rangkaian mantra pemanggil makhluk halus dengan intonasi yang sangat beringas dan cepat. Suasana di dalam ruang tengah rumah Joglo itu mendadak berubah menjadi sangat gerah, dan kepulan asap dupa hitam tampak meliuk-liuk kasar membentuk visualisasi bayangan seekor kuda liar berkepala hitam yang siap melesat terbang menerkam mangsanya di tengah kegelapan malam kota. Sinyal teror gaib berskala besar resmi dilepaskan menuju ke arah rumah tinggal Dedi, membuka intrik pertempuran mistis yang jauh lebih mencekam.
“Ketika rasa dengki dan ambisi duniawi telah membawa manusia melewati batas kesabarannya, ia akan rela menggadaikan jiwanya kepada kegelapan demi sebuah pembalasan. Namun ingatlah, setiap teror yang dibangun di atas pondasi kebencian tidak akan pernah bisa meruntuhkan keteguhan batin mereka yang kokoh berlindung di bawah perlindungan cahaya doa.”
— Sang Alifas Yang Merumput