NovelToon NovelToon
Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:13.4k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

Thalia Amradita menikah dengan Rendra, pria ambisius yang bekerja di perusahaan besar milik Arkana Dirgantara, CEO muda yang dingin, berkuasa, dan sulit disentuh.

Di luar rumah, Rendra tampak sebagai suami sempurna. Ia memperlakukan Thalia seperti istri cantik yang patut dibanggakan. Namun di balik pintu tertutup, Thalia hanya menjadi alat: dipamerkan, diarahkan, dan perlahan kehilangan suaranya sendiri.

Namun, semua berubah ketika Rendra membawa Thalia terlalu dekat ke dunia Arkana. Awalnya demi karier, proyek, dan ambisi. Tapi Rendra tidak pernah menyangka bahwa Arkana justru melihat luka yang selama ini Thalia sembunyikan.

Dari perhatian yang seharusnya tidak ada, tumbuh hasrat yang semakin sulit ditahan.
Thalia tahu ia masih istri Rendra. Arkana tahu ia adalah bos suaminya. Tapi semakin mereka menjaga jarak, semakin kuat pula takdir menyeret mereka ke arah yang paling berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Di balik pernikahan sempurna

Mobil berhenti di halaman rumah tepat pukul dua belas.

Rumah mereka berdiri megah di kawasan elite. Dua lantai, pagar tinggi, taman rapi, lampu-lampu hangat menyala di sepanjang jalan masuk. Dari luar, rumah itu terlihat seperti tempat tinggal pasangan muda yang berhasil membangun hidup sempurna.

Rumah yang indah, mahal, dan rumah yang entah sejak kapan tidak lagi terasa seperti tempat pulang bagi Thalia.

Rendra membuka sabuk pengamannya, tetapi ia tidak langsung keluar. Tangannya masih berada di kemudi, rahangnya mengeras, sementara matanya menatap lurus ke depan.

Thalia hanya diam. Ia tahu kebiasaan suaminya.

Rendra tidak akan meledak di tempat umum, bahkan tidak di dalam mobil jika masih ada kemungkinan seseorang melihat dari luar.

Tapi begitu mereka masuk rumah, topeng itu akan dilepas. Dan Thalia sudah terlalu hafal apa yang terjadi setelahnya.

“Turun.”

Suara Rendra akhirnya terdengar. Pendek dan dingin.

Thalia membuka pintu mobil tanpa menjawab. Udara malam menyentuh kulit bahunya yang terbuka, membuatnya sedikit menggigil. Ia berjalan menuju pintu utama, tumitnya masih nyeri karena sepatu yang sejak sore tadi membuat kakinya tersiksa.

Rendra berjalan di belakangnya tanpa menyentuh. Jauh berbeda dengan saat mereka berada di ballroom, ketika tangan pria terus menempel di pinggang Thalia seolah dia adalah suami paling perhatian di ruangan itu.

Begitu pintu rumah tertutup di belakang mereka, suasana berubah.

Thalia berdiri di foyer, melepas heels-nya perlahan. Rasa nyeri di tumitnya membuat ia menahan napas sejenak saat kakinya menyentuh lantai yang dingin.

Rendra meletakkan kunci mobil di meja kecil dekat pintu. “Jadi sekarang kamu merasa menang?”

Thalia memejamkan mata tanpa menoleh. Pertengkaran itu akhirnya dimulai lagi. “Aku tidak sedang bertanding denganmu.”

“Tidak?” Rendra tertawa pendek. “Dari tadi caramu bicara seperti sedang menantangku.”

“Aku hanya menjawab,” sanggah Thalia.

“Kamu menjawab dengan nada kurang ajar," ucap Rendra.

Thalia membalikan badan menghadap suaminya.

Rendra sudah melepas jasnya. Kemejanya masih rapi, tapi wajahnya tidak lagi menyimpan senyum manis yang tadi ia berikan kepada semua orang. Sekarang hanya ada amarah tertahan dan sesuatu yang lebih tajam: rasa tersinggung karena kendalinya terganggu.

“Kurang ajar?” ulang Thalia pelan.

“Ya.” Rendra mendekat satu langkah. “Kamu mempermalukanku malam ini.”

Thalia menatap suaminya. “Di bagian mana aku mempermalukanmu?”

“Di depan Pak Arkana.”

Nama itu membuat udara di ruangan terasa berubah. Thalia membuang pandangan.

“Nah.” suara Rendra berubah lebih sinis. “Baru disebut namanya saja kamu sudah seperti itu.”

“Seperti apa?” Thalia kembali menoleh.

“Jangan pura-pura bodoh, Thalia.”

Thalia menghembuskan napas pelan. Sejujurnya ia lelah diperlakukan seperti setiap bantahan darinya hanyalah kebodohan. Lelah dipaksa merasa bersalah untuk sesuatu yang tidak pernah ia mulai.

“Aku tidak melakukan apa pun dengan Pak Arkana," jawab Thalia.

“Tapi kamu menikmati perhatiannya," tuduh Rendra.

Thalia tertawa hambar. “Perhatian?” Ia menatap Rendra. “Dia hanya bertanya apakah aku nyaman. Sesulit itu bagimu melihat orang lain bertanya hal yang tidak pernah kamu tanyakan?”

Rahang Rendra kembali mengeras. Satu kalimat itu mendarat terlalu tepat. Ia berjalan mendekat, cukup dekat sampai Thalia bisa mencium aroma parfum mahal yang sepanjang malam membuatnya muak.

“Kamu pikir dia peduli padamu?”

Thalia diam.

Rendra tersenyum tipis.

“Pria seperti Arkana Dirgantara tidak peduli pada wanita seperti kamu. Dia hanya tertarik karena kamu tampak berbeda. Karena kamu istri bawahannya. Karena ada tantangan di sana.”

“Jangan menyamakan semua pria dengan cara pikirmu,” ucap Thalia.

Mata Rendra menyipit. “Apa maksudmu?”

Thalia menggenggam anting di tangannya lebih erat. “Maksudku, tidak semua perhatian pria berarti ingin memiliki. Kadang, ada orang yang hanya bisa melihat bahwa seseorang sedang tidak baik-baik saja.”

“Dan kamu merasa dia melihatmu?” Rendra tersenyum mengejek.

Thalia terdiam. Pertanyaan itu seharusnya mudah dijawab. Namun mulut Thalia tidak bergerak. Reaksi yang membuat Rendra tertawa.

“Jadi benar?”

Thalia menatap suaminya cepat. “Jangan memutarbalikkan sesuatu yang tidak ada.”

“Sesuatu yang tidak ada?” Rendra melangkah lebih dekat. “Mata kamu berubah setiap kali dia menatapmu.”

“Karena dia tidak menatapku seperti kamu menatapku."

Jawaban jujur Thalia keluar begitu saja. Dan ia tidak bisa lagi menarik jawaban itu.

Hening...

Rendra menatap istrinya tanpa berkedip. “Apa maksudmu?”

Thalia ingin diam. Tapi malam itu, entah karena lelah, entah karena terlalu banyak luka kecil yang akhirnya menumpuk, ia tidak sanggup lagi menelan semuanya.

“Dia menatapku seperti aku manusia,” kata Thalia pelan. “Bukan barang yang kamu bawa ke acara kantor agar orang-orang memujimu.”

Wajah Rendra berubah drastis.

Untuk sesaat, Thalia melihat sesuatu yang hampir mirip tamparan di mata suaminya. Bukan rasa bersalah atau penyesalan, melainkan kemarahan karena Thalia berani menyebut kebenaran yang selama ini mereka pura-pura tidak lihat.

Rendra mengangguk pelan. “Jadi itu yang kamu pikirkan tentang aku? Suamimu sendiri?"

Thalia diam.

“Aku bekerja keras untuk rumah ini, untuk hidup kita, untuk masa depan kita. Dan kamu bilang aku memperlakukanmu seperti barang?”

Thalia menatap sekeliling.

Rumah megah. Lampu mahal. Sofa impor. Lukisan yang dipilih Rendra karena cocok dengan citra mereka sebagai pasangan mapan.

Semua hal yang seharusnya membuat hidup terlihat berhasil. Tapi tidak ada satu pun yang membuat Thalia merasa dicintai.

“Rumah ini bukan bukti cinta kalau aku tidak bisa bernapas di dalamnya,” ucap Thalia lirih.

Rendra tertawa sekali. Pendek. Dingin. “Kamu terlalu banyak drama.”

Thalia menunduk. Drama. Sensitif. Berlebihan. Tidak tahu bersyukur. Semua kata yang digunakan Rendra untuk mengecilkan luka Thalia sampai ia sendiri ragu apakah rasa sakitnya pantas disebut sakit.

Rendra melangkah melewati Thalia menuju ruang tengah, lalu melempar jasnya ke sofa dengan kasar. “Mulai besok, aku tidak mau kamu bersikap aneh kalau bertemu Pak Arkana.”

Thalia menoleh. “Mulai besok?”

Rendra membuka kancing mansetnya sambil berkata, “Aku akan semakin sering berhubungan dengannya. Proyek yang kukerjakan hampir masuk tahap final. Kalau semuanya lancar, posisiku bisa naik.”

Thalia menatap punggung suaminya. “Dan aku harus ikut lagi?”

“Tergantung kebutuhan," jawab Rendra pedas.

Ada sesuatu yang dingin merambat di tulang belakang Thalia. Tergantung kebutuhan. Seolah dirinya adalah jadwal tambahan. Alat presentasi. Ornamen yang bisa dibawa saat diperlukan.

“Aku bukan bagian dari pekerjaanmu, Ren!” ucap Thalia nyaris menjerit.

Rendra menoleh. “Kamu istriku.”

“Dan itu bukan berarti kamu bisa memakaiku," jawab Thalia.

Tatapan Rendra menggelap. “Jaga ucapanmu.”

“Kenapa? Karena kedengarannya buruk saat disebut dengan kata yang tepat?” tanya Thalia gagal menahan amarahnya.

Rendra berjalan mendekat lagi. Kali ini langkahnya lebih lambat. Lebih berbahaya.

Thalia berdiri tegak, tapi tubuhnya menegang tanpa bisa ia cegah saat Rendra berhenti tepat di depannya. Seolah otaknya sudah dirancang untuk tetap tunduk.

“Dengar baik-baik,” ucap Rendra rendah. “Aku tidak pernah memaksamu melakukan sesuatu yang buruk. Aku hanya minta kamu mendukungku sebagai istri.”

“Dukungan bukan berarti aku harus tersenyum saat kamu mengatur setiap gerakanku," jawab Thalia.

“Aku mengatur karena kamu sering tidak tahu tempat.”

Thalia menatap suaminya lama. “Aku pernah bekerja. Aku pernah memiliki hidup sebelum menikah denganmu.”

“Tapi sekarang hidupmu bersamaku.”

“Iya.” Thalia mengangguk pelan. “Dan mungkin itulah masalahnya.”

Mata Rendra berkedip sekali. Kali ini, amarahnya benar-benar terlihat.

“Ulangi.”

Thalia diam.

Mereka saling menatap dalam jarak dekat, dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Thalia tidak menunduk lebih dulu. Namun keberanian itu tidak bertahan tanpa harga.

Rendra mengangkat tangan.

Tidak memukul.

Tapi gerakan itu cukup membuat tubuh Thalia refleks mundur setengah langkah.

Mereka berdua sama-sama membeku.

Thalia merasakan napasnya tertahan di dada. Rendra menatap tangannya sendiri sebentar, lalu menurunkannya perlahan.

Tidak ada permintaan maaf, hanya kekesalan karena Thalia bereaksi.

“Kamu lihat?” Rendra berkata pelan. “Kamu selalu membuat semuanya terlihat lebih buruk dari yang sebenarnya.”

Thalia menelan sakit yang tersangkut di tenggorokannya. Netranya menatap tangan Rendra.

Tangan yang beberapa waktu lalu menggenggamnya di depan orang lain. Tangan yang merangkul pinggangnya saat foto. Tangan yang di depan dunia tampak penuh kepemilikan, tapi di balik pintu rumah membuatnya takut bahkan sebelum benar-benar menyentuh.

“Aku mau tidur.” ucap Thalia seraya berbalik menuju tangga.

“Thalia.”

Thalia tidak berhenti.

“Jangan pergi saat aku bicara," tekan Rendra.

Langkah Thalia tetap naik satu demi satu anak tangga.

“Thalia!”

Suara Rendra meninggi, sukses untuk menghentikan langkah Thalia. Bukan karena ia ingin menurut, tetapi karena tubuhnya sudah terlalu terlatih untuk berhenti saat Rendra meninggikan suara.

“Aku sudah mendengar semuanya, Ren. Kamu marah. Aku salah. Aku sensitif. Aku drama. Aku tidak tahu bersyukur. Kamu bisa lanjutkan besok kalau masih ada yang kurang.” ucap Thalia tanpa menoleh, lalu kembali melanjutkan langkah.

Rendra tidak mengejar, tapi Thalia bisa merasakan tatapan pria itu di punggungnya.

Tajam. Marah. Dan penuh peringatan.

. . . .

. . .

To be continued...

1
Patrick Khan
deg deg kan bacanya..😄
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
aq deg2an loh, kirain mau hiatus ini novel. trauma aq tuh
mery harwati
Tuan? Arkana kah itu? Atw Saka? Karena Arkana tipe orang yang bergerak di belakang layar 🤔
Dewi Payang
Blencek si Rendra......
Dewi Payang
Rwndra selingkih sama Clara?
W I 2 K
makin keren Thor ceritanya....., puas mataku dimanjakan karyamu... 😍😍😍
Zhu Yun💫
Padahal emaknya Thalia memberikan dukungan penuh, mungkin Thalianya saja yang tidak pernah mau terbuka. Dalam kasus yang lebih berat, sudah banyak tuntutan dari pihak suami dan keluarga suami, ditambah keluarga sendiri tidak memberikan dukungan... disini kewarasan benar-benar sangat diuji, belum lagi cemoohan dari lingkungan sekitar.... 🤧🤧🤧 eh malah curhat ini /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Zhu Yun💫
Lebih tepatnya tekanan batin ya, Thal...
MamDeyh
Lanjuuuutttt😁
MamDeyh
Lanjutt kak
Endah Puji Lestari
😍
Zhu Yun💫
Lanjut yuk lanjut /Determined//Determined//Determined/
Zhu Yun💫
Nanti kalau sudah cerai dari Rendra, jangan langsung mau sama Arkana ya, Thal 🤭🤭🤭 Biar si Ar punya gebrakan dulu 🤧🤧🤧
Zhu Yun💫
Semakin kesini aku malah lebih kepincut dengan sosok Rendra... meskipun dia licik, jahat dan endingnya sudah pasti tidak enak buat Rendra... tapi dia lebih banyak gebrakannya 🤭🤭💃💃💃
Dewi Payang
Berkilah mulu, binimu lebih pintar Ren....
Dewi Payang
Jangan ngelak...
Dewi Payang
Gue yang oanas hati dah jadinya😄😄😄
Dewi Payang
Ayo Thalia.... bertindaklah......
Dewi Payang
Blencekkk memang si cuami ini.....
Zenun
bisa jadi ini sudah dipalsukan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!