"Sejak awal aku memang tidak pernah mencintaimu, Alin! Hatiku sepenuhnya masih milik Cindy!"
Kalimat kejam dari Elang menjadi penutup malam pertama yang dingin bagi Alin. Hanya karena rasa hormat pada Nenek Aisyah, sang CEO angkuh itu sudi mengikat Alin dalam pernikahan sepihak. Bagi Elang, menyelamatkan Cindy dan bocah kecil bernama Ega dari jalanan adalah segalanya, meskipun ia harus menginjak-injak martabat Alin sebagai istri sah.
Namun, Elang melupakan satu hal: Alin bukanlah wanita lemah yang akan mengemis cinta. Saat Alin benar-benar melepaskan cincin pernikahan mereka dan menghilang untuk menata hidupnya sendiri, dunia Elang justru runtuh seketika. Terlebih saat sebuah rahasia medis terbongkar dan membuktikan bahwa anak yang ia agungkan selama ini adalah sebuah kebohongan besar yang dirancang oleh mantannya.
Penyesalan itu datang terlambat. Elang yang dulu arogan kini harus melepaskan seluruh harga dirinya, merangkak di tengah badai, hanya untuk mendapatkan secuil maaf Alin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Sarapan Beraroma Asing
Elang menatap wajah mungil Ega yang sangat mirip dengan foto masa kecilnya sendiri. Gurat garis keturunan itu seolah mengunci seluruh nalar logis seorang CEO di dalam dirinya. "Kamu juga kelihatan sangat lelah, wajahmu pucat sekali. Sebaiknya kamu istirahat dan tidur di sofa panjang itu, biar aku yang menjaga Ega semalaman ini. Aku tidak akan bisa tenang jika meninggalkannya dalam kondisi seperti ini."
Mendengar penuturan tegas dari Elang, Cindy menundukkan kepalanya dalam-dalam. Air matanya kembali menetes, membasahi punggung tangannya sendiri. "Mas ... kenapa kamu masih sebaik ini sama aku setelah apa yang aku lakukan dulu?" tanyanya dengan nada yang teramat lirih, sarat akan penyesalan masa lalu.
"Sudahlah, Cin. Jangan bahas masa lalu sekarang. Yang penting sekarang adalah kesembuhan Ega," potong Elang, nadanya melembut, menyiratkan sisa-sisa perhatian yang pernah hidup subur di hatinya untuk wanita itu.
Di balik tundukan kepalanya yang tampak penuh duka dan rasa bersalah, sepasang sudut bibir Cindy perlahan terangkat, membentuk sebuah lengkungan senyum kemenangan yang sangat tipis dan samar. Dalam hatinya, kepuasan yang teramat besar bergejolak hebat. Cindy tahu betul, Elang adalah pria yang digerakkan oleh rasa tanggung jawab dan rasa bersalah. Dengan memegang kendali atas Ega, ia tahu ia telah berhasil merebut perhatian penuh Elang di malam pertama pernikahan pria itu. Rencana awalnya berjalan jauh lebih sempurna dari yang ia bayangkan. Alin, gadis muda yang tidak tahu apa-apa itu, sudah kalah telak di babak pertama tanpa perlu Cindy mengotori tangannya secara terang-terangan.
Elang menarik sebuah kursi kayu ke dekat sisi ranjang Ega. Ia memeras kembali handuk kompresan, lalu menempelkannya ke dahi bocah itu dengan gerakan yang sangat telaten. Pikirannya malam ini sepenuhnya tersita oleh detak napas Ega dan kehadiran Cindy di sudut ruangan.
Sama sekali tidak terlintas di dalam benak Elang untuk menengok ke atas, ke lantai dua rumahnya. Ia melupakan fakta bahwa di atas sana, di balik pintu kamar yang dingin dan terkunci, ada seorang gadis yang baru saja ia ikat dengan janji suci di depan tuhan. Elang tidak memikirkan bagaimana perasaan Alin yang harus melewati malam pertama pernikahan mereka sendirian, berteman dengan sepi dan air mata yang mengering di bantal, sementara suaminya sendiri memilih menghabiskan malam dengan menjaga wanita dari masa lalu yang belum usai di hatinya.
Malam itu, di bawah atap rumah yang baru, jarak antara lantai satu dan lantai dua terasa seperti jurang pemisah yang teramat dalam dan tak terbendung—sebuah awal dari perjalanan panjang penuh luka yang harus dipikul Alin sendirian.
***
Cahaya matahari pagi yang hangat mulai menerobos masuk melalui celah-celah tirai jendela lantai dua, menyiram ranjang *king size* tempat Alin melewatkan malam pertamanya dalam kesunyian. Alin terbangun dengan kelopak mata yang terasa berat dan sembap. Ia duduk termenung di tepi ranjang selama beberapa menit, menatap lurus pada pantulan dirinya di cermin meja rias. Rambutnya yang panjang berantakan, dan gurat kelelahan batin tercetak jelas di wajah pucatnya. Namun, hidup harus tetap berjalan. Sebagai wanita yang dididik dengan tata krama yang kuat oleh keluarganya, Alin menolak untuk terus terpuruk di dalam kamar.
Setelah membasuh wajah dan menyisir rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai, Alin mengganti baju tidurnya dengan daster rumahan sewarna pastel yang sederhana. Ia membuka pintu kamar, lalu menuruni satu demi satu undakan tangga ke bawah dengan langkah kaki yang sengaja diperlambat. Langkahnya terhenti tepat di undakan terakhir ketika sebuah aroma gurih nasi goreng mentega dan wangi seduhan kopi hitam menguar dari arah dapur, memenuhi seluruh sudut ruang tengah yang masih menyisakan keharuman bunga melati sisa kemarin.
Di balik meja bar dapur yang higienis dan modern, tampak sesosok wanita sedang bergerak dengan begitu lincah. Cindy. Wanita itu sudah mengenakan apron linen cokelat muda milik Alin yang tergantung di balik pintu dapur—apron yang seharusnya dipakai oleh Alin sebagai nyonya rumah ini di pagi pertamanya. Rambut Cindy dicepol rapi ke atas, memperlihatkan leher tirusnya. Ia tampak begitu luwes membolak-balikkan nasi di atas wajan, sesekali menoleh ke arah meja makan tempat Ega duduk sambil memainkan sendok plastik.
Alin mematung di dekat lemari pendingin besar. Pemandangan di depannya terasa begitu menyentuh ulu hatinya, sebuah ironi yang dikemas rapi. Cindy tampak begitu natural menguasai dapur tersebut, seolah-olah ianyalah sang istri sah yang sudah bertahun-tahun menempati rumah ini.
"Eh, Alin ...."
Cindy menoleh, memutus keheningan dapur saat matanya menangkap keberadaan Alin. Wanita itu buru-buru mematikan kompor gas, lalu menghapus tangannya yang sedikit basah pada ujung apron dengan gestur yang tampak kikuk dan penuh rasa sungkan. Wajahnya mendadak berubah menjadi sangat tidak enak.
"Maaf, Lin. Aku kelancangan ya?" Cindy melangkah mendekat dengan senyum manis yang dipaksakan, sepasang matanya menatap Alin dengan binar penuh permohonan maaf. "Tadi pagi-pagi sekali Ega bangun dan merengek lapar karena semalam tidak makan apa-apa setelah disuntik dokter. Aku bingung mau membangunkanmu di atas, pasti kamu masih sangat lelah ... jadi aku berinisiatif masak sendiri."
Alin hanya berdiri diam, jemarinya meremas pelan ujung daster katunnya. Matanya melirik sekilas pada piring-piring porselen putih yang sudah tertata rapi di atas meja makan. "Tidak apa-apa, Mbak Cindy. Terima kasih sudah membantu membuatkan sarapan."
"Aku benar-benar minta maaf, Alin. Aku sama sekali tidak ada niat untuk lancang di dapurmu," ucap Cindy lagi, suaranya melembut, terdengar begitu tulus dan penuh penyesalan hingga siapa pun yang mendengar pasti akan menaruh simpati padanya. Ia lalu menunjuk mangkuk berisi nasi goreng yang masih mengepulkan asap. "Ini ... aku juga sekalian membuatkan sarapan kesukaan Mas Elang. Nasi goreng mentega tanpa bawang bombay, dengan telur mata sapi setengah matang. Sejak dulu, Mas Elang selalu menyukai menu ini setiap pagi sebelum berangkat ke kantor."
Mendengar kalimat terakhir yang meluncur dari bibir Cindy, Alin merasakan dadanya seperti dihantam godam tak kasat mata. Sebuah senyum kecut perlahan terukir di sudut bibir Alin. Cindy sedang meminta maaf, tetapi di saat yang sama, wanita itu juga sedang mempertegas posisinya—bahwa ia jauh lebih mengenal detail kebiasaan dan selera Mas Elang dibandingkan Alin yang statusnya adalah istri sah.
"Oh, ya? Baguslah kalau begitu, Mbak. Saya malah belum sempat bertanya pada Mas Elang apa menu sarapan kesukaannya," sahut Alin dengan nada suara yang diusahakan tetap tenang dan datar. Ia berjalan mendekati wastafel, berniat mencuci tangan.
Bersambung ...