Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.
Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.
Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.
Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Awal Takdir yang Baru
Vira mengusap air matanya, lalu merapikan rambut dan pakaiannya. Ia ingat. Di kehidupan sebelumnya, Daril datang pagi-pagi sekali karena ingin meminjam uang.
Vira melangkah keluar dari kamar, lalu membuka pintu utama. Di ambang pintu, Daril berdiri dengan wajah lelah. Di tangannya ada sebungkus bubur hangat.
Dulu, melihat pria itu dalam keadaan seperti ini selalu membuatnya khawatir.
Tapi sekarang...
"Ada apa pagi-pagi sekali menggedor pintu rumahku?" tanya Vira datar.
Tatapannya tertuju pada pria yang sebelum waktu terulang, tanpa ragu, menghujamkan pisau ke perutnya.
Daril tampak sedikit terkejut. Ekspresi dan nada bicara Vira terasa... asing.
"Kamu belum makan, 'kan? Aku sekalian beli bubur buat kamu," ujarnya, berusaha mencairkan suasana sambil mengangkat kantong plastik di tangannya.
Pemandangan itu terasa begitu ironis. Pria yang nantinya membunuhnya kini berdiri di depan pintu sambil membawakan sarapan, seolah tidak akan pernah terjadi apa-apa.
"Ra..." Wajah Daril mendadak murung. "Ibu semalaman sesak. Dokter bilang harus dirawat. Aku gak punya uang."
Jika ia Vira yang dulu, pasti sudah mengajaknya masuk dan mengambil tabungannya tanpa berpikir dua kali.
Namun kini, ia tahu inilah langkah pertama yang membuatnya terus mengorbankan diri hingga kehilangan segalanya.
"Kemarin bukankah aku sudah memberimu uang?" tanya Vira. Nada suaranya tetap datar.
Ia masih mengingatnya dengan jelas. Sehari sebelumnya, ia memberikan satu juta rupiah setelah Daril mengatakan ingin membawa Mirna berobat.
Lalu, pagi ini?
Daril mengernyit. Biasanya Vira tidak pernah meminta penjelasan. Selama uang itu untuk Mirna, gadis itu selalu memberikannya tanpa banyak bertanya.
"Ra, kamu tahu sendiri biaya rawat inap itu mahal. Uang kemarin nggak cukup."
Vira mengembuskan napas pelan. "Ril, kamu itu laki-laki. Sejak ayahmu meninggal, kamulah tulang punggung keluarga. Apalagi kamu sudah lulus kuliah. Bukankah lebih baik mulai mencari pekerjaan untuk membiayai hidup kalian daripada terus bergantung padaku?"
Daril terdiam. Tatapannya dipenuhi kebingungan. Vira yang berdiri di hadapannya pagi ini terasa seperti orang yang berbeda.
"Kamu juga tahu sendiri," dalih Daril, "cari kerja zaman sekarang susah."
Vira menatapnya tanpa ekspresi. Bukan tidak ada pekerjaan. Daril hanya terlalu memilih.
Sejak ayahnya meninggal, aset peninggalan keluarga mereka terus menyusut sedikit demi sedikit.
"Kamu punya motor. Kenapa nggak jadi ojol saja?" tanya Vira.
Daril tersenyum masam. "Ra, aku pernah jadi ojek pangkalan. Seharian mangkal, tapi penghasilannya gak seberapa."
"Ya beda, lah," kata Vira cepat. "Ojol sama ojek pangkalan itu jelas gak sama."
Daril mengepalkan tangannya. Vira benar-benar berubah. Dulu, saat ia mengeluh karena penghasilannya sebagai ojek pangkalan tidak cukup, justru Vira yang menyuruhnya berhenti. Gadis itu bahkan mengatakan tenaganya lebih baik dipakai mencari pekerjaan lain yang penghasilannya lebih menjanjikan.
Sekarang...
"Ya sudah," ujar Daril, jemarinya mengecek saku celananya. "Nanti aku kerja jadi ojol."
Ia menggantung ucapannya sejenak. "Tapi..."
Vira mengernyit. "Tapi apa?"
"Ibuku sakit. Kalau aku kerja gak ada yang ngurus, Ra."
Vira menatap Daril beberapa saat. "Kalau begitu, rawat ibumu."
"Kalau aku merawat Ibu, kami makan apa?"
"Itu pilihanmu. Tapi jangan menjadikanku satu-satunya jalan keluar," tegas Vira.
Daril kehilangan kata.
Vira melanjutkan dengan nada tenang. "Kamu punya paman, bibi, tetangga, bahkan bisa menyewa perawat harian kalau memang perlu. Kamu juga bisa bekerja bergantian dengan ibumu saat kondisinya membaik."
"Lalu uangnya dari mana?" potong Daril.
"Dari hasil kerjamu."
"Ra--"
"Cukup, Ril," potong Vira cepat. "Kalau setiap ada masalah kamu datang mencariku, kapan kamu akan belajar berdiri di atas kakimu sendiri?"
Setelah Vira menolak, Daril tidak marah. Dia justru berkata pelan, "Aku pikir... cuma kamu yang bisa kuandalkan."
Namun Vira, yang sudah mengetahui masa depan, hanya berpikir dalam hati, "Dulu aku percaya ucapan itu. Aku mengira kau mengandalkanku karena cinta. Nyatanya, kau hanya mengandalkanku karena hartaku."
"Ya sudah," kata Daril akhirnya. "Ini bubur buat kamu. Aku pergi dulu. Siapa tahu hari ini ada rezeki buat biaya perawatan Ibu."
Ia mengulurkan kantong berisi bubur hangat kepada Vira.
Vira menerimanya. "Terima kasih," ucapnya singkat.
Daril mengangguk, lalu berbalik melangkah meninggalkan rumah itu. Namun baru beberapa langkah, ia berhenti dan menoleh ke arah Vira.
"Ra..."
Vira tetap berdiri di ambang pintu.
"Aku merasa kamu berubah."
Vira tidak menjawab.
Daril tersenyum tipis, meski sorot matanya menyiratkan kesedihan. "Dulu, waktu kamu hampir hanyut di sungai, aku mempertaruhkan nyawaku buat nyelametin kamu. Aku gak pernah menyesali keputusan itu."
Ia menarik napas sejenak. "Perasaanku ke kamu juga gak pernah berubah."
Sesaat suasana menjadi hening.
Tatapan Vira tidak lagi sehangat dulu. Tidak ada senyum, tidak ada kekhawatiran. Hanya tatapan datar yang sulit ditebak.
Daril akhirnya kembali melangkah pergi. Punggung pria itu perlahan menjauh.
Vira terus menatapnya tanpa berkedip. Awal mula ia memilih Daril dan menyerahkan seluruh hidupnya pada pria itu adalah karena merasa berutang budi.
Namun, apa balasan yang ia terima?
Pengkhianatan. Pisau yang menembus perutnya. Dan kematian di tangan pria yang paling ia cintai.
"Cuih..." Vira meludah ke tanah. "Kalau saja aku tahu sejak dulu seperti apa wajahmu yang sebenarnya..."
Rahangnya mengeras. "Kali ini, jangan harap aku mengorbankan apa pun lagi untukmu."
Ia berbalik, lalu menutup pintu dengan keras.
Vira menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Pikirannya kembali pada kejadian bertahun-tahun lalu.
Saat itu, ia terpeleset ketika mencari ikan-ikan kecil di tepi sungai. Arus yang deras menyeret tubuhnya. Kemampuan berenangnya pas-pasan, membuat tenaganya terkuras sedikit demi sedikit hingga akhirnya tenggelam. Ketika sadar, ia sudah berada di puskesmas.
Daril ada di sana, dengan senyum penuh kelegaan ia berkata, "Syukurlah, aku bisa menyelamatkanmu."
Vira memejamkan mata. "Sudah cukup."
Suara lirih itu menggema di kamar.
"Aku merelakan mimpiku kuliah agar kamu tetap bisa melanjutkan pendidikanmu setelah ayahmu meninggal. Anggap saja semua itu sebagai balasan karena kau pernah menyelamatkan nyawaku."
Ia mengembuskan napas panjang, lalu bangkit dari ranjang.
Setelah membersihkan diri, Vira berdiri di depan cermin. Jemarinya menyentuh pipinya yang masih putih dan mulus.
Saat menjadi istri Daril, ia bahkan hampir tak pernah memiliki waktu untuk merawat diri.
Setiap kali mempekerjakan pembantu, tak ada yang bertahan lama karena Mirna terlalu cerewet dan banyak menuntut. Akhirnya, semua pekerjaan rumah beralih ke pundaknya.
Pagi-pagi ia harus bangun menyiapkan pakaian Daril, memasak, membersihkan rumah, sekaligus menyusun dan mencatat pakaian dagangan yang akan dikreditkan. Usaha yang mereka bangun bersama.
Ironisnya, semua itu berakhir dengan sebuah tikaman.
Vira tersenyum tipis, tetapi sorot matanya terasa dingin.
"Jangan harap aku menikah denganmu lagi. Apalagi menjadi pembantu sekaligus mesin ATM-mu."
Ia keluar dari rumah, lalu membuka pintu toko sembako peninggalan kedua orang tuanya.
Toko kecil itulah yang selama ini menjadi sumber penghasilannya.
Belum sempat ia menyusun barang dagangan, sebuah suara memanggil namanya.
"Vira..."
Vira menoleh. Seketika rahangnya menegang. Orang yang berdiri di hadapannya membuat tatapannya berubah tajam.
...✨"Kesempatan kedua bukan hadiah untuk mengulang kisah lama, melainkan keberanian untuk memilih jalan yang berbeda."✨...
.
To be continued
silahkan saja kalo bisa,nanti kalianlah yang akan menyesal...
buat mereka jera Vira
orang yg di beri kesempatan bukan ya berbuat Baik tapi malah semakin jahat ..
keluarga bisa Jadi musuh terbesar dalam ujian hidupmu vira , kamu usir Salah g kamu usir kamu sendiri yg di buat menderita oleh mereka
keep strong vira
semangat buat kak Nana juga
ra vira usir aja tuh yanti sudah cukop kamu kasih dia kesempatan Dan tempat tinggal ,, jauhilah orang² yang tak pernah menghargai kebaikanmu
Hayo lo Yanti bentar lagi kamu di usir karena ulahmu sendiri nyari penyakit sama Vira😄
mirna sm daril hukim untuk minta maaf dan denda sejumlah uang.. krn dia sdh menyebabkan usaha vira menurun., dan biarkan hukuman sosiak daru masyarakat..