Lima ratus tahun yang lalu, Lin Chen adalah Kaisar Pedang Ilahi yang berdiri di puncak Alam Dewa. Namun, saat ia mencoba menembus batas tertinggi kultivasi, ia dikhianati oleh tunangannya, Dewi Teratai Salju, dan saudara seperjuangannya, Kaisar Naga Hitam. Tubuhnya hancur, dan jiwanya tercerai-berai.
Kini, lima ratus tahun kemudian, jiwa Lin Chen terbangun di Benua Langit Biru, di dalam tubuh seorang pemuda dengan nama yang sama. Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Terbesar" di Kota Daun Musim Gugur karena meridiannya cacat sejak lahir. Namun, mereka tidak tahu bahwa di dalam lautan jiwanya, Lin Chen membawa Sutra Pedang Kehampaan, sebuah teknik kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap energi alam semesta.
Dimulailah perjalanan Lin Chen untuk merangkai kembali takdirnya, menginjak jenius arogan, menaklukkan naga suci, dan kembali ke Alam Dewa untuk menuntut darah para pengkhianatnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Guncangan di Arena Evaluasi
Alun-alun utama kediaman Keluarga Lin dipenuhi oleh lautan manusia. Panji-panji berlambang naga meliuk tertiup angin pagi. Hari ini adalah acara paling penting dalam kalender keluarga: Ujian Evaluasi Tahunan. Di sinilah generasi muda akan menunjukkan hasil kultivasi mereka, dan masa depan mereka di keluarga akan ditentukan oleh kekuatan tinju mereka.
Di tribun kehormatan yang terbuat dari batu giok putih, Kepala Keluarga Lin, Lin Zhentian, duduk dengan ekspresi berwibawa. Di sisi kiri dan kanannya duduk para Tetua keluarga yang sesekali mengangguk puas melihat pertarungan di atas arena batu di tengah alun-alun.
BAM!
Seorang pemuda terlempar dari atas arena, memuntahkan darah sebelum jatuh pingsan di tanah.
Di tengah arena, Lin Tian berdiri dengan dada membusung. Jubah sutra birunya berkibar elegan, tanpa ada setitik debu pun yang menempel. Kultivasinya di Ranah Kondensasi Qi Tingkat 5 memancarkan tekanan kuat yang membuat para murid muda di sekitarnya menelan ludah ketakutan.
"Lin Tian menang! Apakah ada lagi yang ingin menantangnya?" teriak wasit dari pinggir arena.
Hening. Tidak ada satu pun murid muda yang berani naik. Lin Tian adalah jenius nomor dua di Keluarga Lin, kemampuannya nyaris tak tertandingi di usianya.
Melihat tidak ada yang berani maju, Lin Tian mendengus dingin. Matanya menyapu kerumunan, mencari satu sosok yang sangat ingin ia hancurkan hari ini. Namun, ia tidak menemukannya.
"Tetua Ketiga," Lin Tian menangkupkan tangan ke arah tribun kehormatan. "Sepertinya 'Sampah Terbesar' keluarga kita, Lin Chen, tidak hadir dalam evaluasi tahunan ini. Sesuai aturan, mereka yang melarikan diri dari evaluasi harus dicoret dari daftar keluarga dan dibuang ke jalanan!"
Kata-kata Lin Tian memicu bisik-bisik riuh dari penonton.
"Lin Chen? Kudengar dia sudah mati di Hutan Bayangan."
"Syukurlah, keluarga kita tidak perlu lagi memelihara parasit cacat itu."
"Dia pasti lari karena takut Lin Tian akan membalaskan dendam adiknya, Lin Wei!"
Tetua Ketiga yang bertanggung jawab atas penegakan aturan berdiri. Ia mengelus jenggot putihnya dan mengangguk pelan. "Benar. Karena Lin Chen tidak hadir—"
"Siapa bilang aku tidak hadir?"
Sebuah suara yang datar, tenang, namun membawa resonansi yang menusuk gendang telinga semua orang tiba-tiba bergema melintasi alun-alun.
Seluruh kepala serentak menoleh ke arah pintu masuk alun-alun.
Di sana, berjalan menyusuri lorong yang terbelah oleh kerumunan, seorang pemuda berjubah hitam melangkah perlahan. Rambutnya sedikit panjang dan acak-acakan, tubuhnya tegap, dan di pinggangnya tergantung sebuah pedang besi fana yang penuh retakan. Matanya sedingin bintang di langit musim dingin.
Itu adalah Lin Chen!
Namun, aura yang memancar dari tubuh pemuda ini benar-benar berbeda dari "si cacat" yang selalu menundukkan kepala dan gemetar ketakutan di masa lalu. Langkah kakinya begitu mantap, seolah setiap pijakannya menginjak jantung orang-orang yang melihatnya.
"Dia... dia kembali?" Lin Wei, yang duduk di kursi roda dengan bahu dibalut perban di pinggir arena, membelalakkan matanya ngeri. Trauma melihat jari Lin Chen menghancurkan tulang-tulangnya kembali merayapi pikirannya.
Lin Tian tertawa keras di atas arena. "Hahaha! Aku kira kau sudah mati dimakan anjing liar, Sampah! Ternyata kau punya cukup nyali untuk datang menyerahkan nyawamu. Naiklah ke sini! Mari kita selesaikan urusan kita!"
Lin Chen tidak terburu-buru. Ia menaiki tangga arena batu itu satu per satu, mengabaikan tatapan meremehkan dari ribuan pasang mata. Begitu ia berdiri berhadapan dengan Lin Tian, ia berhenti.
"Kau sangat ingin mati?" tanya Lin Chen datar, suaranya sangat tenang hingga terasa menyeramkan.
"Bicara besar!" Wajah Lin Tian memerah karena marah. Sebagai jenius, diremehkan oleh sampah keluarga adalah penghinaan terbesar. "Aku akan mematahkan keempat anggota tubuhmu dan mencabut meridianmu di depan semua orang!"
WUSH!
Lin Tian tidak membuang waktu. Ia meledakkan seluruh Qi-nya, menunjukkan kekuatan penuh dari Ranah Kondensasi Qi Tingkat 5. Udara di sekitarnya memanas. Kedua tinjunya diselimuti oleh aura api yang menyala-nyala.
Ini adalah teknik andalan Keluarga Lin, Tinju Harimau Api!
"Mati kau, Sampah!"
Lin Tian menerjang maju dengan kecepatan tinggi. Tinjunya yang menyala mengarah tepat ke dada Lin Chen, membawa kekuatan yang cukup untuk menghancurkan bongkahan batu baja. Panas yang memancar dari tinju itu bahkan membuat para penonton di barisan depan harus mundur selangkah.
Di tribun, Kepala Keluarga Lin Zhentian mengerutkan kening. "Serangan itu terlalu mematikan untuk sesama anggota keluarga. Lin Tian berniat membunuhnya." Namun, tidak ada satu pun Tetua yang bergerak untuk menghentikan. Bagi mereka, nyawa seorang sampah tidak berharga.
Namun, di atas arena, Lin Chen bahkan tidak mencabut pedang retak di pinggangnya. Ia hanya berdiri diam, menatap tinju api yang melesat ke arahnya.
"Hanya dengan teknik api rendahan seperti ini kau berani pamer di depanku? Di masa lalu, aku pernah memadamkan Matahari Sembilan Surga hanya dengan hembusan napas."
Tepat ketika tinju api Lin Tian berjarak setengah jengkal dari wajahnya, tangan kanan Lin Chen bergerak.
Ia tidak menggunakan teknik bela diri apa pun. Ia hanya mengangkat tangannya dan menampar ke depan.
PLAAAK!!!
Suara tamparan yang menggema terdengar sangat nyaring dan renyah, seolah membelah keheningan seluruh alun-alun.
Tinju Harimau Api milik Lin Tian langsung padam seketika layaknya lilin yang ditiup badai. Tamparan Lin Chen yang ditenagai oleh tubuh fisik yang telah ditempa oleh Mata Air Roh Es, menghantam keras pipi kiri Lin Tian.
KRAK!
Gigi-gigi Lin Tian berhamburan ke udara bercampur darah segar. Tubuh pemuda jenius yang sangat sombong itu terpelanting berputar-putar di udara seperti gasing yang rusak, sebelum akhirnya menabrak pilar batu di sudut arena dengan suara dentuman keras.
BRUK!
Lin Tian merosot ke lantai arena. Separuh wajahnya bengkak parah hingga tidak bisa dikenali, dan tulang rahangnya hancur total. Ia mencoba merangkak bangun, namun rasa sakit yang luar biasa membuatnya langsung memuntahkan darah dan jatuh pingsan.
Keheningan mutlak menyelimuti alun-alun. Angin pagi terasa membeku.
Mata ribuan anggota keluarga terbelalak lebar seolah nyaris melompat keluar dari rongganya. Mulut para Tetua di tribun menganga, bahkan Kepala Keluarga Lin Zhentian setengah berdiri dari kursinya dengan ekspresi syok yang tak tertutupi.
Apa yang baru saja terjadi?
Lin Tian, jenius Tingkat 5... dikalahkan hanya dengan satu tamparan biasa?
Lin Chen menarik kembali tangannya perlahan. Ia berdiri tegak di tengah arena, menatap kerumunan yang terdiam kaku dengan pandangan merendahkan dari seorang raja absolut.
"Hanya ini kemampuan 'jenius' yang selalu kalian banggakan?" Suara dingin Lin Chen memecah keheningan. "Benar-benar lelucon yang menyedihkan."