NovelToon NovelToon
MAHAR KECOA UNTUK NONA MANJA

MAHAR KECOA UNTUK NONA MANJA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:988
Nilai: 5
Nama Author: Katumbiri Lazuardi

Vanya yang mabuk parah dan ditinggal pacarnya malam itu, berjalan sendirian. Lalu didatangi oleh dia orang begal yang hendak memperkosanya, untungnya ada Reyhan soerang pengemudi ojol yang melihat mereka, Reyhan menolong vanya yang pingsan dari begal itu. Namun setelah Vanya sadar dan teriak warga memergokinya dan di fitnah berbuat mesum.

Vanya dan Reyhan dipaksa untuk dinikahkan, dan ayah Vanya yang merasa harga dirinya jatuh menyetujui pernikahan itu dan kemudian memberi syarat kontrak satu tahun kepada Reyhan yang memberatkan Reyhan.
Vanya menganggap bahwa Reyhan bagian dari begal itu, sehingga Vanya membencinya.
namun karena kebaikan Reyhan dan kekonyolannya Vanya akhirnya vanya merasa salah dengan prasangkanya, setelah bukti-bukti terkuak.
Setelah habis kontrak satu tahun itu Reyhan pergi, dan Vanya menyesal dan kehilangannya lalu mencarinya sampai seperti orang gila...

bagaimana kisah mereka, dan bagaimana akhir mereka??

kisah CHICK-LIT ROMANCE

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: HAKIM JALANAN DAN SUMPAH DI BAWAH HINAAN

Balai Desa Sukamaju yang biasanya sepi di malam hari, kini terang benderang. Suara riuh warga di luar gedung terdengar seperti dengung lebah yang haus darah. Di dalam ruangan yang beraroma kayu tua dan asap rokok, Vanya Hutama duduk bersimpuh di lantai semen yang dingin, tubuhnya gemetar di balik balutan sarung kumal pemberian warga. Di sampingnya, Reyhan duduk dengan punggung tegak, wajahnya tertutup bayangan topi helm yang telah disita, namun matanya menatap lurus ke depan dengan ketenangan yang ganjil.

​Pak Kades, seorang pria paruh baya dengan raut wajah keras yang dikenal anti-sogok, menggebrak meja jati di depannya.

​"Cukup! Jangan ada yang bicara sebelum saya bertanya!" bentak Pak Kades. Suasana seketika hening. "Kalian berdua, lihat saya. Kalian tahu apa sanksi bagi mereka yang mencemari desa ini dengan perbuatan nista?"

​"Pak Kades, saya sudah bilang, saya hanya menolong dia dari begal," suara Reyhan tenang, nyaris tanpa emosi, sebuah nada bicara yang seharusnya tidak dimiliki oleh seorang tukang ojek yang sedang ketakutan.

Dia bagian dari mereka, Pak Kades!" teriak Vanya dengan suara parau, menunjuk wajah Reyhan dengan telunjuk yang gemetar. "Dia memakai jaket yang sama dengan orang yang memukul saya! Mereka berkomplot! Dia pura-pura menolong padahal dia yang merencanakan ini semua!"

​Reyhan hanya menoleh sedikit, menatap Vanya dengan mata yang datar. "Kalau saya bagian dari mereka, saya tidak akan tetap di sana saat warga datang. Saya akan lari membawa tas Anda, bukan mencoba membangunkan Anda."

​"Bohong! Jaketmu itu buktinya!" Vanya histeris. Logikanya yang kacau akibat alkohol dan trauma hanya melihat satu hal: warna hijau di jaket Reyhan sama dengan warna jaket sang penyiksa.

​"Menolong? Menolong kok di rumah kosong tengah malam, pakaian perempuan ini robek-robek, dan dia teriak-teriak?" sela Malik dengan nada tinggi. Dia berdiri di pojok ruangan, menyeringai sinis. "Halah, Bang Reyhan. Saya tahu kamu itu pendiam karena sering ngojek, tapi tidak sangka ya, selera kamu tinggi juga. Ingin mencicipi nona kota?"

​Reyhan melirik Malik. Ada kilat dingin di matanya yang membuat Malik sempat bergidik. Reyhan tahu, Malik membencinya karena Marni, anak Kang Dadang sang penjual nasi uduk, sering memberikan porsi lebih atau tersenyum manis setiap kali Reyhan sarapan di sana. Bagi Malik, ini adalah kesempatan emas untuk menyingkirkan saingannya selamanya.

​"Identitas kalian!" perintah Pak Kades.

​Pak Kades menggebrak meja jati. "Diam! Biar saya yang bicara!" Ia kemudian meraih KTP yang tergeletak di meja. "Nama: Reyhan Dirgantara. Alamat: Kontrakan Gang Kelinci, Desa Sukamaju."

Mendengar nama itu, Vanya sempat tertegun sesaat. Dirgantara? Nama itu adalah nama keluarga penguasa ekonomi negeri ini. Namun, saat matanya beralih melihat sepatu kets Reyhan yang bolong di bagian ujung, motor matik 110cc yang knalpotnya berkarat di luar, dan jaket ojol yang dekil, Vanya mendengus sinis dalam hati. Tidak mungkin. Hanya kebetulan nama yang sama. Dirgantara yang asli tidak akan tinggal di kontrakan kumuh dan berbau keringat seperti ini.

​"Dirgantara, ya?" cibir Malik dari sudut ruangan. "Nama elit, nasib sulit. Hei, Reyhan! Kamu pakai nama itu supaya bisa menipu gadis-gadis kota, ya?"

​Warga tertawa riuh. Di mata mereka, nama belakang itu hanyalah sebuah ironi bagi seorang pengemudi ojek online yang baru dua bulan tinggal di sana dan jarang bersosialisasi.

​"Sekarang Hubungi keluarga kalian!" perintah Pak Kades.

​"Vanya Hutama... alamat Jakarta Selatan. Dan kamu, Reyhan?" Pak Kades menatap Reyhan tajam. "Siapa orang tuamu? Hubungi mereka sekarang."

​Reyhan menarik napas pendek. Kenangan pahit tentang fitnah di keluarganya, tentang bagaimana ia diusir dan hak warisnya dicabut oleh saudara-saudaranya sendiri, melintas sejenak. "Orang tua saya sudah ..!" Reyhan menggeleng. Saya baru dua bulan ngontrak di sini. Saya hanya orang asing yang mencari sesuap nasi dengan motor matik itu."

​"Anak yatim, tukang ojek, dan sekarang penjahat kelamin. Lengkap sudah," cibir Kang Dadang sambil berkacak pinggang. "Nikahkan saja, Pak Kades! Desa kita tidak boleh kena sial karena zina mereka!"

​Sementara itu, Vanya hanya bisa terisak. "Ponsel saya... tolong... tas saya yang dibawa begal tadi, ada di sana kan? Tolong charge sebentar. Saya butuh hubungi Papa."

​Satu jam berlalu dalam ketegangan yang mencekam. Sebuah mobil SUV mewah berwarna hitam legam akhirnya membelah kerumunan warga di luar Balai Desa. Pintu mobil terbuka, menampilkan sosok pria paruh baya dengan setelan jas mahal yang tampak sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya. Bramantyo Hutama.

​Bram melangkah masuk dengan wajah yang lebih keras dari batu karang. Di belakangnya, dua ajudan bertubuh besar mengikuti dengan sigap. Matanya langsung tertuju pada Vanya yang tampak hancur di lantai.

​"Papa..." Vanya mencoba bangkit, namun kakinya lemas.

​Bram tidak memeluknya. Dia justru menatap sekeliling dengan rasa malu yang luar biasa. Sebagai orang terpandang, berada di Balai Desa karena kasus asusila adalah tamparan paling keras dalam hidupnya.

​"Jadi ini yang kamu lakukan di belakangku, Vanya?" suara Bram rendah namun bergetar karena amarah.

​"Tidak, Pa! Pria ini menolongku... ada begal..."

​"Begal?" Malik maju selangkah, berakting seolah dia saksi paling jujur. "Pak, kami lihat sendiri pria ojek ini sedang menindih anak Bapak. Anak Bapak teriak minta tolong. Kalau kami tidak datang, mungkin sudah lebih jauh lagi kejadiannya."

​Kang Dadang menimpali, "Betul, Pak. Kami ini orang desa, tapi kami punya harga diri. Anak Bapak sudah mencemari wilayah kami dengan pria ini."

​Bramantyo beralih menatap Reyhan. Dia melihat jaket ojol yang kumal, motor matik yang lecet di luar, dan penampilan Reyhan yang sangat jauh dari level keluarganya. Rasa jijik dan malu memuncak.

​PLAK!

​Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Reyhan. Suara hantaman itu bergema di seluruh ruangan. Kepala Reyhan terlempar ke samping, namun dia tidak membalas. Dia hanya menyapu darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan.

​"Kamu... telah menghina saya!" geram Bramantyo. "Seorang tukang ojek sampah sepertimu berani menyentuh putriku?"

​"Saya tidak menyentuhnya dengan niat buruk, Tuan," sahut Reyhan, matanya menatap langsung ke netra Bramantyo tanpa rasa takut sedikit pun. Keberanian itu membuat Bramantyo tertegun sejenak—ada aura yang salah dari pria ojol ini.

​"Dan kamu Vanya!" Bram beralih pada putrinya. "Sudah kuperingatkan jangan keluyuran malam-malam dengan bajingan seperti Derian! Sekarang lihat hasilnya! Kamu menghancurkan nama baik Hutama Group dalam semalam!"

​"Pa, dengerin Vanya dulu..."

​"Diam!" bentak Pak Kades. "Tuan Bramantyo, saya tidak peduli seberapa kaya Anda di kota. Di sini, ada aturan. Warga sudah melihat, bukti pakaian robek dan teriakan sudah ada. Jika Anda tidak ingin kasus ini kami bawa ke jalur hukum yang lebih memalukan atau massa di luar bertindak anarki, hanya ada satu jalan."

​Malik tersenyum penuh kemenangan. "Kawinkan saja! Biar tukang ojek ini bertanggung jawab!"

​Bramantyo menatap kerumunan warga yang mulai berteriak setuju di luar jendela. Dia tahu, di zaman media sosial ini, berita seperti ini bisa menghancurkan saham perusahaannya dalam hitungan jam jika tidak segera "diselesaikan". Satu-satunya cara menutup aib adalah dengan mengikatnya dalam status legal, lalu menceraikannya diam-diam nanti.

​"Nikahkan mereka. Malam ini juga. Secara siri dulu untuk meredam warga," putus Bramantyo dengan suara yang terdengar seperti vonis mati bagi Vanya.

​"Apa?! Pa, tidak! Vanya tidak mau menikah dengan tukang ojek ini!" Vanya menjerit histeris, air matanya tumpah deras. Dia menatap Reyhan dengan penuh kebencian. "Ini semua gara-gara kamu! Kenapa kamu harus ada di sana malam itu?! Kenapa kamu tidak biarkan saja aku mati?!"

​Reyhan hanya diam. Dia menatap langit-langit balai desa yang kusam. Dia merasa takdir sedang menertawakannya. Dibuang oleh keluarga Dirgantara karena fitnah saudara sendiri, dan kini dipaksa menikah karena fitnah warga desa.

​"Baik," ucap Reyhan pendek. "Jika itu yang bisa menenangkan warga dan menyelamatkan nyawa gadis ini dari amukan massa, saya terima."

​"Dasar oportunis! Kamu pasti senang kan dapat istri kaya?" maki Vanya sambil melempar botol air mineral ke arah Reyhan.

​Bramantyo memalingkan wajah, merasa gagal menjadi ayah. Sementara di sudut ruangan, Malik berbisik pada Kang Dadang, "Beres, Kang. Marni sekarang aman dari rayuan si Reyhan itu. Dia sudah punya beban hidup baru yang bakal bikin dia bangkrut selamanya."

​Malam itu, di bawah temaram lampu neon yang berkedip, di hadapan penghulu desa dan disaksikan oleh warga yang bersorak penuh kemenangan palsu, Reyhan dan Vanya mengucapkan janji suci yang paling tidak mereka inginkan.

​Vanya bersumpah dalam hati akan membuat hidup Reyhan seperti neraka, sementara Reyhan... dia hanya menunggu waktu. Dia tahu, singa yang sedang terluka tetaplah singa. Dan suatu saat nanti, ketika identitas Dirgantara miliknya terungkap, semua orang di ruangan ini—Bramantyo, Malik, Kang Dadang—akan berlutut memohon ampun padanya.

​Pernikahan itu bukan akhir dari penderitaan Reyhan, melainkan awal dari sebuah perjalanan seorang Reyhan Dirgantara salah satu orang terkaya seAsia.

1
Dhatu Lukita
halo thor ceritanya menarik berbau2 cio ala ala dracin. saya suka saya suka 🤭😍
Katumbiri Lazuardi: terima kasih...
dracin religi 😄😄😄.

🤭🤭...

sehat dan sukses ya kak
total 1 replies
Katumbiri Lazuardi
chikc-lit..
cerita drama seorang CEO dan gadis angkuh yang jatuh cinta padanya. dibalut dengan komedi biar tidak membosankan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!