"Kultivasi energiku memang kembali jadi kecoa, tapi dengan fisik dewa ini... jika ada master yang mencoba meninjuku, tangannya sendiri yang akan patah menjadi tebu!"
Seratus tahun disiksa dan dibuang ke kolam darah Gunung Ming akibat konspirasi kejam di masa lalunya, Lin Ling akhirnya berhasil bangkit. Melalui ritual terlarang yang membakar habis basis kultivasi Nascent Soul-nya, ia melebur esensi Ular Purba Mahayana dan Kristal Dao Agung untuk menciptakan sebilah wadah kedewaan baru.
Namun, takdir bercanda dengannya. Tubuh barunya menjelma menjadi monster dengan kekuatan fisik murni ranah Mahayana Lapisan 1, tetapi dantian spiritualnya kosong melompati segala bentuk Qi. Karena bakatnya terkunci di Akar Spiritual Kelas Menengah, Lin Ling terpaksa harus merangkak kembali dari dasar bumi—ranah Body Tempering lapisan pertama.
Trauma masa lalu? Dendam yang meledak-ledak? Tidak ada waktu untuk itu! Lin Ling yang baru telah menjelma menjadi sosok Immortal yang bebas, konyol, super santai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pencari Dao Sejati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gubuk Hangat di Sudut Timur
Butiran salju mulai turun lebih lebat, melayang turun dari langit kelam dan menempel di rambut putih serta bahu Lin Ling. Langkah kaki kecilnya mengikuti sosok Nenek tua yang berjalan dengan punggung membungkuk, menyeret keranjang bambunya membelah jalanan desa yang berangsur sepi.
Mereka berjalan menjauh dari pusat pasar yang riuh, menuju ke sudut paling belakang di sisi timur desa.
Di sinilah daerah pemukiman fana yang miskin berada. Rumah-rumah di sekitar sini hanya terbuat dari susunan kayu tua yang mulai lapuk dengan atap jerami yang dilapisi salju tipis.
Nenek tua itu berhenti di depan sebuah gubuk kayu kecil yang berdiri agak terpencil dekat pagar pembatas desa. "Kita sudah sampai, Nak. Masuklah, di luar sangat dingin," ucapnya sambil mendorong pintu kayu yang berdecit parau.
Begitu melangkah masuk, Lin Ling segera memindai isi ruangan dengan tatapan waspada yang telah menjadi instingnya.
Ruangan itu sangat sempit dan sederhana, hanya ada sebuah tungku tanah liat kecil di sudut, sebuah meja kayu berkaki tiga yang tampak ringkih, dan dua dipan bambu dengan selimut kain rami yang penuh tambalan. Namun, dibandingkan dengan celah batu di balik air terjun yang membeku, tempat ini terasa jauh lebih manusiawi.
Nenek tua itu meletakkan keranjangnya, lalu berlutut di depan tungku. Dengan tangan renta yang gemetar, dia mulai menyalakan sisa-sisa kayu bakar kering menggunakan batu pemantik.
Tek... Tek... Huffff...
Setelah beberapa kali mencoba, sebuah percikan api akhirnya menyambar jerami kering, memicu nyala api kuning kecil yang perlahan membesar dan memancarkan gelombang hawa hangat yang menyapu ruangan.
Nenek tua itu menghela napas lega, lalu menoleh ke arah Lin Ling yang masih berdiri kaku di dekat pintu sambil memeluk keranjang kosongnya. "Jangan sungkan, duduklah di dekat tungku. Pakaianmu basah, kau bisa jatuh sakit jika membiarkannya membeku." Lin Ling terdiam sesaat, lalu melangkah pelan dan duduk bersila di atas lantai tanah dekat tungku. Hawa panas dari api perlahan mengusir rasa kebas di pergelangan tangannya yang terluka, membuat rasa perih akibat sayatan tali tambang kemarin kembali berdenyut samar. Namun, ekspresi wajahnya tetap datar, menyembunyikan rasa sakit itu dengan sempurna.
Nenek tua itu kemudian mengambil sebuah periuk tanah liat tua, mengisinya dengan air dan beberapa potong ubi serta tanaman obat liar yang dia bawa dari pasar.
Tak lama kemudian, aroma rebusan ubi yang manis bercampur dengan wangi getir tanaman obat mulai menguar di dalam gubuk, memicu air liur Lin Ling menetes di dalam mulutnya yang kering. Perutnya yang fana kembali mendesak meminta makanan.
Nenek tua itu menuangkan sup ubi encer itu ke dalam dua mangkuk tanah liat yang retak di beberapa sudut. Dia menyerahkan mangkuk yang lebih besar kepada Lin Ling. "Makanlah, Nak. Siapa namamu? Dan dari klan mana asalmu? Pakaian merah tuamu ini... tampak seperti milik anak-anak dari keluarga besar di kota luar."
Lin Ling menerima mangkuk panas itu, membiarkan kehangatannya menjalar di telapak tangannya yang kaku. Dia menatap permukaan sup yang memantulkan bayangan matanya yang dingin.
Dia tidak boleh menggunakan nama aslinya. Jika Klan Lin mencarinya untuk memastikan kematiannya, nama 'Lin Ling' akan langsung memicu kecurigaan. Lagipula, dia telah membuang klan itu dari hatinya.
"Nama saya... Xiao Yu," ucap Lin Ling bohong, memilih nama yang terdengar sangat biasa dan pasaran bagi anak desa. "Saya tidak punya klan. Pakaian ini... hanya pemberian dari mendiang majikan karavan tempat saya bekerja dulu."
Nenek tua itu menatap mata Lin Ling yang terlalu tenang untuk anak seusianya, lalu menghela napas panjang penuh rasa iba. "Panggil saja aku Nenek. Aku hanya sebatang kara di sini sejak putri dan suamiku tiada. Mulai hari ini, jika kau tidak keberatan, kau bisa tinggal di sini bersama Nenek. Setidaknya, kita bisa saling menjaga di musim dingin yang kejam ini."
Lin Ling tidak langsung mengiyakan. Otak taktisnya segera berputar menimbang situasi.
Tinggal bersama seorang nenek tua yang tidak memiliki kemampuan kultivasi adalah penyamaran yang sempurna. Tidak akan ada yang menyangka bahwa anak sampah yang dibuang oleh Klan Lin akan bersembunyi di gubuk fana miskin seperti ini. Selain itu, dia membutuhkan tempat tinggal yang stabil untuk mengumpulkan informasi tentang dunia luar dan memikirkan cara memulihkan tubuhnya.
"Baik, Nenek. Terima kasih," Lin Ling mengangguk kecil, lalu mulai memakan sup ubinya dengan tenang namun konstan, menikmati setiap kehangatan yang mengalir masuk ke dalam perutnya yang lapar.
Malam semakin larut, dan badai salju di luar gubuk terdengar melolong semakin ganas, menghantam dinding-dinding kayu tua hingga mengeluarkan suara berderit yang mengkhawatirkan.
Lin Ling berbaring di atas dipan bambu yang keras, ditutupi selimut rami tipis yang berbau debu. Di dipan seberang, terdengar suara napas berat Nenek tua yang sesekali diselingi batuk parau akibat udara malam yang terlalu menusuk celah dinding.
Meskipun tubuh fisiknya sangat lelah, sepasang mata Lin Ling tetap terbuka, menatap langit-langit gubuk yang gelap.
Dia mengangkat tangan kanannya, menatap pergelangan tangannya yang dibalut kain usang di bawah temaram sisa bara api tungku.
'Tubuh fana ini terlalu lemah...' batin Lin Ling dengan gigi mengatup rapat. 'Akar Spiritual Kelas Rendah memang sampah di mata klan besar, tetapi di novel-novel atau legenda kultivasi tua, bahkan sampah pun memiliki cara untuk merangkak naik jika mereka menemukan metode yang tepat atau peluang magis.
Dia tahu dia tidak bisa terburu-buru. Di desa yang dikuasai oleh Klan Huang ini, melangkah sedikit saja dengan salah bisa membuatnya berakhir di lubang kubur.
Langkah pertamanya besok adalah mengamati desa ini lebih dalam. Dia harus mencari tahu di mana para pemburu atau pedagang berkumpul untuk mendapatkan informasi tentang sekte kultivasi terdekat, serta mencari cara untuk menghasilkan uang secara mandiri tanpa bergantung pada kebaikan Nenek tua yang sakit-sakitan ini.
Lin Ling membalikkan tubuhnya miring, mencengkeram selimut raminya yang dingin. Kilatan tekad yang pekat membakar di dasar matanya yang hitam.
'Klan Lin... kalian membuangku ke hutan untuk mati. Tapi selama aku, Lin Ling, masih bernapas di bawah langit ini... suatu hari nanti, aku akan kembali, bukan sebagai anak sampah yang kalian injak, melainkan sebagai badai yang akan meruntuhkan seluruh gerbang emas kalian.'
Dengan pikiran gelap dan tekad baja yang mulai terbentuk di dalam jiwa mudanya, Lin Ling perlahan menutup matanya, membiarkan kesadarannya tenggelam ke dalam tidur yang sunyi, sementara salju terus menimbun gubuk kecil itu dari dunia luar.