Bagi Adista, barang antik bukan sekadar benda mati; mereka memiliki jiwa, cerita, dan keindahan tersendiri. Hobinya mengoleksi barang-barang unik dan kuno selalu berhasil membawa kepuasan tersendiri, hingga suatu malam di sebuah ruang pelelangan rahasia, matanya terpaku pada sebuah mahakarya yang unik.
Sebuah lukisan tua berbingkai emas kusam yang menggambarkan sosok perempuan dengan air mata darah.
Ada daya tarik magis yang tak kasat mata, seolah lukisan itu sengaja memanggil namanya. Tergiur oleh keunikan dan aura mistisnya, Adista berhasil memenangkan lelang tersebut tanpa tahu harga yang harus ia bayar bukan sekadar uang.
Sejak lukisan itu tergantung di dinding rumahnya, atmosfer berubah mencekam. Langkah kaki misterius, bau anyir yang menguap di udara, hingga bisikan ghaib yang menyayat hati mulai meneror malam-malam Adista. Sosok perempuan dalam kanvas itu seolah hidup, dan tangisan darahnya perlahan mulai merembes keluar dari bingkai, menuntut balas yang mengerikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 6
Cahayaa matahari pagi masuk lewat celah gorden, mengusir kegelapan malam yang sempat mencengkeram rumah Adista. Suara burung di halaman luar terdengar bersahut-sahutan, membuat suasana seolah kembali normal dan aman. Namun, bagi Bram, pagi ini tidak membawa ketenangan sama sekali.
Bram terbangun dengan mata yang terasa berat karena kurang tidur. Semalam ia hampir tidak bisa memejamkan mata sampai jam lima pagi, tepat ketika suara azan subuh berkumandang dan hawa dingin yang menyeramkan di kamarnya perlahan hilang.
Dengan langkah lemas, Bram keluar dari kamar tamu. Ia berjalan melewati ruang tengah. Matanya langsung melirik ke arah dinding tempat lukisan perempuan menangis darah itu digantung. Lukisan itu tampak diam, seperti benda mati biasa. Warna merah di pipi wanita dalam gambar itu berkilau terkena pantulan cahaya matahari, terlihat sangat nyata. Bram menelan ludah, buru-buru membuang muka dan berjalan menuju dapur.
Di dapur, ia melihat Adista sudah rapi memakai baju kerja. Adista sedang memasukkan beberapa kertas ke dalam tasnya. Wajah sepupunya itu masih terlihat sedih, tetapi ia berusaha kuat demi mengurus perusahaan peninggalan ayahnya.
Melihat Bram datang, Adista menoleh dan tersenyum tipis. "Pagi, Bram. Tidurmu nyenyak semalam?" tanya Adista dengan suara lembut.
Bram sempat terdiam. Lidahnya terasa kaku. Kejadian menyeramkan semalam—suara langkah kaki yang diseret, garukan kuku di pintu, hingga bisikan ghaib yang memanggil namanya—seolah kembali terdengar di telinganya. Bram ingin sekali bertanya apakah Adista juga mendengar sesuatu, atau memperingatkan sepupunya bahwa ada yang tidak beres dengan rumah ini sejak lukisan itu datang.
Namun, melihat wajah Adista yang sudah sangat lelah dan penuh beban pikiran akibat kematian tragis Ronald, Bram mengurungkan niatnya. Ia tidak ingin menambah beban pikiran kakak sepupunya itu dengan cerita aneh yang mungkin terdengar seperti bualan.
Bram memaksakan senyum di wajahnya yang pucat. "Pagi, Ta. Iya, tidurnya nyenyak kok. Mungkin karena hawanya cukup dingin semalam setelah hujan deras."
Adista mengangguk, percaya dengan jawaban Bram. Ia kemudian menunjuk ke arah meja makan. "Baguslah kalau begitu. Oh ya, sebelum aku berangkat kerja, aku mau kasih tahu sesuatu. Tadi pagi-pagi sekali aku sempat keluar sebentar untuk beli sarapan. Aku belikan soto babat favoritmu di tempat langgananku. Sudah aku taruh di mangkuk besar di atas meja makan, masih hangat. Kamu harus segera sarapan ya, jangan sampai telat makan."
"Wah, makasih banyak ya, Ta. Kebetulan perutku memang lapar," jawab Bram, mencoba terdengar senang.
"Sama-sama. Ya sudah, aku berangkat ke kantor duluan, ya. Kalau mau keluar, jangan lupa kunci pintu depan rapat-rapat," pesan Adista sambil berjalan menuju pintu depan. Tidak lama kemudian, terdengar suara mesin mobil Adista yang menyala dan perlahan bergerak meninggalkan halaman rumah.
Kini, Bram benar-benar sendirian di dalam rumah besar itu. Sunyi kembali melanda.
Bram melangkah menuju meja makan. Di atas meja, ada sebuah mangkuk keramik besar bertutup yang mengeluarkan uap tipis. Aroma kuah soto yang gurih dan harum rempah-rempah langsung menusuk hidungnya. Aroma itu benar-benar menggugah selera dan sempat membuat Bram melupakan ketakutannya semalam. Perutnya yang kosong sejak kemarin langsung berbunyi.
Bram mengambil sebuah mangkuk kecil kosong, sendok, dan garpu. Ia duduk di kursi makan, lalu membuka tutup mangkuk besar berisi soto babat tersebut. Uap panas mengepul, memperlihatkan kuah soto berwarna kuning kecokelatan yang tampak sangat enak.
Dengan menggunakan sendok besar, Bram mulai mengaduk-aduk soto tersebut untuk mengambil potongan babat dan daging yang tenggelam di dasar mangkuk.
Namun, saat sendoknya menyentuh sesuatu yang terasa agak berat dan berambut, Bram mengernyitkan dahi. Ia menyendok benda tersebut dan mengangkatnya ke atas kuah untuk dipindahkan ke mangkuk kecilnya.
Begitu benda itu terangkat dan kuahnya menetes ke bawah, pandangan mata Bram seketika terkunci. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Seluruh tubuhnya mendadak kaku, dan rasa lapar yang tadinya membakar perutnya langsung hilang, berganti dengan rasa ngeri yang luar biasa.
Apa yang ada di atas sendoknya bukan sepotong babat sapi yang kenyal.
Benda itu adalah selembar kulit kepala manusia. Kulit itu tampak pucat, robek-robek, dan bagian atasnya masih ditumbuhi oleh rambut hitam panjang yang basah terkena kuah soto. Serat-serat daging di balik kulit kepala itu terlihat jelas, seolah-olah baru saja dikelupas secara paksa dari kepala seseorang.
Tangan Bram mulai gemetar hebat. Sendok di genggamannya bergetar, membuat selembar kulit kepala berambut kembali dan tenggelam ke dalam kuah soto.
"N-nggak... ini nggak mungkin. Aku pasti salah lihat. Ini cuma khayalan," bisik Bram dengan suara gemetar. Keringat dingin mulai keluar di dahinya meskipun udara pagi itu cukup sejuk.
Mencoba menolak kenyataan, Bram memberanikan diri untuk mengaduk kembali kuah soto tersebut menggunakan garpunya. Ia ingin memastikan bahwa apa yang dilihatnya tadi hanya salah lihat karena matanya kurang tidur. Garpunya kembali menyenggol benda keras lain di dasar mangkuk. Bram menusuk benda itu dan mengangkatnya perlahan ke atas.
Rasa gila dan kengerian yang lebih besar menghantam pikiran Bram.
Di ujung garpunya, menusuk sebuah potongan daging yang sangat ia kenali. Itu adalah potongan jari tangan manusia. Jari itu masih memiliki kuku yang utuh, namun kukunya tampak menghitam dan pecah-pecah. Potongan daging di pangkal jari itu terlihat kasar, seperti diputus dengan cara ditarik paksa, bukan dipotong dengan pisau dapur.
Lebih mengerikan lagi, bersamaan dengan terangkatnya potongan jari tersebut, aroma kuah soto yang semula gurih mendadak berubah total. Bau itu dalam sekejap berganti menjadi bau busuk yang sangat pekat, bau amis darah segar, dan bau bangkai yang membuat mual.
Aroma busuk itu menjadi sangat kuat di udara ruang makan, memenuhi seluruh ruangan.
Bram tidak sanggup lagi menahannya. Rasa mual yang teramat sangat bergejolak hebat di dalam dadanya. Ia melemparkan garpu di tangannya hingga berdenting keras di atas meja, lalu refleks melompat dari kursi.
"HOEKKK!"
Bram membungkuk, memuntahkan seluruh isi perutnya ke atas lantai ruang makan. Tubuhnya berguncang hebat saat rasa mual itu terus memaksanya memuntahkan cairan lambung yang terasa pahit. Air mata keluar di sudut matanya karena rasa kaget dan jijik yang luar biasa mendalam.
Sambil terus terbatuk-batuk dan menyeka mulutnya yang basah dengan tangan yang gemetar, Bram menatap mangkuk soto di atas meja dari jarak beberapa langkah. Di dalam mangkuk yang kini terbuka itu, kuah soto yang tadinya berwarna kuning gurih perlahan-lahan mulai berubah warna menjadi merah pekat, mengeluarkan uap yang berbau darah segar.
Teror itu nyata. Dan Bram menyadari dengan rasa takut yang paling dalam, bahwa makanan yang dibeli Adista tidak mungkin berisi hal menjijikkan seperti ini dari warung langganannya. Sesuatu di dalam rumah ini telah mengubah hidangan tersebut menjadi potongan tubuh manusia.
Bram memundurkan langkahnya dengan panik, napasnya memburu cepat. Pikirannya langsung tertuju pada sosok perempuan di dalam lukisan yang digantung di ruang tengah.
Bisikan Lukisan Berdarah ternyata tidak hanya meneror lewat suara dan bayangan di malam hari, tetapi kini mulai mengubah kenyataan di siang bolong, mengincar siapa saja yang berada di dalam rumah tersebut.
jangan lupa like dan komen ya suy 🤗
soookorrr
apa ya g gmn gtu smpe teror siang hari pun ada lho
mau lwrtahanin lukisan mu apa mau buang dan bakar gtu
trus piye yo saiki
nah jadi misteri bget sih tp sadis cara bantai nya hiss ngeri ya