"Bukan lo yang mutusin buat nolak gue. Gue sendiri yang mutusin apa yang bakal gue lakuin ke lo!"
Arshaka Rumi Wiraguna adalah Presiden BEM yang arogan dan urakan. Bagi Lyana, bendahara BEM yang kaku, Rumi adalah definisi "salah gaul" yang harus dihindari. Namun, takdir memaksa mereka terus bergesekan.
Saat demonstrasi besar membakar kampus, Rumi mempertaruhkan nyawa demi melindungi Lyana. Sejak hari itu, tembok formalitas "Mas" dan "Mbak" pun retak. Apalagi saat KKN memaksa mereka tinggal satu atap di pelosok desa. Tanpa birokrasi kampus, sisi posesif Rumi muncul. Lyana yang awalnya hanya ingin fokus pada beasiswa, perlahan terseret dalam obsesi sang Presiden BEM.
Di antara politik kampus dan ego yang tinggi, mampukah Lyana bertahan? Atau justru ia akan tunduk pada aturan main Arshaka Rumi Wiraguna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Empat Belas Juta dan Penebusan yang Terlambat
Buku tabungan bersampul biru pudar itu tergeletak di atas pangkuan Lyana. Lembaran halamannya sedikit keriting dan beraroma kapur barus, khas dokumen yang terlalu lama disimpan di dasar lemari.
Ibu Fajar menatap Lyana dengan mata yang memerah dan penuh harap. Tangannya yang kasar masih meremas ujung kebaya katunnya.
"Fajar nulis namamu di halaman depannya, Nak Lyana," suara wanita itu bergetar. "Ibu ndak berani narik uangnya. Ibu takut ini uang BEM yang dia bawa. Fajar... dia ndak ngambil uang organisasi kan, Nduk?"
Lyana membuka halaman terakhir buku tabungan tersebut. Napasnya tertahan saat melihat baris saldo akhir. Bukan ratusan juta. Tidak ada angka yang fantastis atau berlebihan.
Di sana, tercetak saldo sebesar Rp 14.500.000,00. Empat belas juta lima ratus ribu rupiah.
Dan tepat di bawah barisan mutasi bank yang dicetak dengan printer dot-matrix itu, terdapat sebuah tulisan tangan Fajar menggunakan pulpen hitam. Tulisannya miring, ditekan agak keras hingga menembus kertas.
“Dua semester UKT Lyana. Sisa dari jual motor dan tabungan part-time. Maafin aku, Ly.”
Lyana merasakan seolah ada godam tak kasat mata yang menghantam dadanya. Pandangannya langsung mengabur oleh genangan air mata. Empat belas juta lima ratus ribu. Itu adalah jumlah yang sangat presisi. Itu adalah nominal UKT Lyana untuk dua semester terakhirnya, ditambah sedikit lebihan untuk biaya hidup selama skripsi.
Pikiran Lyana mundur ke belakang, memunguti serpihan-serpihan memori beberapa hari sebelum Fajar tiada. Ia ingat Fajar yang tiba-tiba selalu jalan kaki ke kampus, beralasan bahwa motor Vario lamanya sedang turun mesin di bengkel. Ia ingat wajah Fajar yang pucat kurang tidur, selalu pulang paling malam setelah shift di tempat fotocopy depan kampus selesai.
Fajar tidak sedang merencanakan kejahatan besar. Fajar sedang mengorbankan segala yang ia punya—mulai dari satu-satunya kendaraan yang ia miliki hingga sisa-sisa tenaganya—hanya untuk mengganti beasiswa Lyana yang hancur karena ulahnya.
Rumi, yang sedari tadi berjongkok di samping Lyana, melirik tulisan tangan di buku tabungan itu. Laki-laki itu terdiam. Rahangnya mengeras menahan gejolak emosi, lalu ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Rumi menyadari hal yang sama. Kesalahan Fajar memang fatal, tapi penyesalannya pun tak kalah menghancurkan. Pemuda itu tidak sanggup menanggung malu untuk meminta maaf secara langsung, jadi ia memilih cara yang paling sunyi untuk menebus dosanya.
"Nduk?" panggil Ibu Fajar, suaranya sarat akan ketakutan melihat Lyana menangis dalam diam. "Uang apa itu, Nduk? Tolong jujur sama Ibu."
Lyana mengusap air matanya dengan punggung tangan. Ia menatap Rumi. Lewat sorot matanya, mereka berdua berbagi kesepakatan tanpa suara. Ini bukan waktunya untuk membongkar luka. Ibu Fajar tidak perlu tahu bahwa anak laki-lakinya pernah menjadi pengkhianat. Wanita ini hanya perlu tahu bahwa Fajar adalah anak yang baik.
Lyana menutup buku tabungan itu, lalu menggenggam kedua tangan Ibu Fajar dengan erat.
"Ibu," suara Lyana lembut, berusaha keras menahan agar tidak bergetar. "Fajar nggak ngambil uang siapa-siapa, Bu. Justru sebaliknya."
Lyana menarik napas dalam, membiarkan kebohongan suci itu mengalir demi menjaga kehormatan sahabatnya di mata ibunya sendiri. "Sejak bulan lalu, BEM punya rencana buat bikin program bantuan UKT untuk mahasiswa yang kesulitan. Fajar itu salah satu inisiatornya. Dia nabung dari hasil kerja part-time-nya, dia masukin ke rekening ini. Fajar nulis nama saya di depannya, karena saya bendaharanya, Bu. Dia niat mau nyerahin uang ini ke BEM buat ngebantu teman-temannya yang mau putus kuliah."
Mata Ibu Fajar membelalak ringan. "Jadi... anak Ibu nabung buat bantu orang lain?"
"Iya, Bu," Rumi menimpali, suaranya serak. Ia tersenyum tipis ke arah wanita itu. "Fajar itu pahlawan kami. Dia peduli banget sama teman-temannya. Dia kerja keras buat ngumpulin dana ini sebelum... sebelum dia pergi."
Tangis Ibu Fajar kembali pecah, tapi kali ini bahunya merosot dengan sangat rileks. Itu adalah tangis kelegaan yang luar biasa. Beban berat yang membebani pikirannya sejak menemukan buku tabungan itu menguap tak bersisa. Ia menutupi wajahnya dengan ujung kerudung, menggumamkan Alhamdulillah berkali-kali.
"Anak Ibu memang keras kepala, tapi dia selalu baik hatinya," isak wanita itu. Ia lalu menatap Lyana, menepuk pelan buku tabungan di pangkuan gadis itu. "Kalau begitu, Nduk, Ibu titip amanah ini. Teruskan niat baik Fajar. Pakai uang ini buat bantu teman-teman kalian di kampus. Biar ini jadi amal jariyah buat anak Ibu di sana."
Lyana mengangguk kuat-kuat. "Pasti, Bu. Kami janji."
Satu jam kemudian, setelah Rumi memesankan taksi online dan memastikan Ibu Fajar dalam perjalanan pulang ke terminal dengan aman, suasana sekretariat BEM kembali hening. Suara mahasiswa yang sedang berolahraga di lapangan fakultas terdengar sayup-sayup menembus jendela sekre yang terbuka.
Lyana masih duduk di atas karpet. Ia memeluk buku tabungan bersampul biru itu di dadanya. Rumi duduk di sebelahnya, menyandarkan punggung ke dinding triplek.
Tidak ada yang bicara. Mereka berdua hanya membiarkan keheningan itu menyembuhkan sisa-sisa kemarahan di hati mereka.
"Dia jual motor kesayangannya, Mas," bisik Lyana, suaranya nyaris terdengar seperti embusan angin. "Motor yang dulu selalu dia pakai buat boncengin kita nyari sponsor kalau lagi ujan."
"Iya," jawab Rumi pelan, menatap langit-langit ruangan. "Dia cowok bodoh yang nggak tahu cara minta tolong."
"Aku udah maafin dia, Mas. Semuanya. Aku cuma pengen dia tahu itu."
Rumi menoleh, menatap Lyana dengan senyum yang menenangkan. Ia mengusap puncak kepala Lyana dengan lembut. "Dia tahu, Lyan. Sekarang, pertanyaannya, uang ini mau kita apakan?"
Lyana menatap buku tabungan di tangannya. Tulisannya jelas: Dua semester UKT Lyana. Fajar mengumpulkan ini untuknya. Ini adalah uang pengganti beasiswanya yang hilang. Kalau ia menggunakannya, ia tidak perlu lagi pusing mencari kerja sambilan. Ia bisa fokus skripsi.
Namun, Lyana menggeleng.
"Aku nggak mau pakai uang ini buat diriku sendiri, Mas," ucap Lyana mantap. "Aku masih punya dua tangan dan dua kaki. Aku bisa kerja. Aku bisa ngajar les atau cari magang. Tapi ada banyak mahasiswa di luar sana yang nggak seberuntung aku, yang bener-bener butuh bantuan."
Rumi tersenyum lebar, matanya memancarkan kekaguman yang tak bisa disembunyikan. "Jadi?"
"Sesuai janji kita ke Ibunya Fajar," Lyana membuka ordner birunya, mengambil selembar kertas kosong dan sebuah pulpen. "Di acara Dies Natalis nanti, kita luncurkan program Bantuan Solidaritas Mahasiswa. Uang empat belas juta ini bakal jadi modal pertamanya. Kita kasih nama programnya: Beasiswa Fajar."
"Setuju," Rumi mengangguk antusias. Ia mendekat ke arah meja Lyana. "Kita bisa bikin sistem crowdfunding juga saat acara puncak. Aku yakin banyak alumni yang mau nyumbang kalau mereka tahu niat baik di balik program ini."
Lyana mulai mencoret-coret kertas, merancang kerangka awal program tersebut. Beban berat yang berhari-hari menggelayut di pundaknya telah hilang. Beasiswanya dari yayasan memang sudah putus, tapi ia mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga. Integritasnya, teman-temannya, dan kenyataan bahwa ia punya kekuatan untuk mengubah sebuah tragedi menjadi kebaikan.
"Eh, Bendahara," goda Rumi tiba-tiba, menyenggol bahu Lyana pelan. "Kamu udah nolak uang santunan dari ayahku, sekarang kamu nolak uang tabungan dari Fajar buat UKT-mu sendiri. Emangnya kamu mau bayar semester depan pakai apa? Pakai daun mahoni depan rektorat?"
Lyana tertawa, sebuah tawa lepas yang sudah lama sekali tidak terdengar. Ia mendongak menatap Rumi. "Kan aku punya koneksi sama musisi jalanan yang suaranya lumayan bagus. Nanti aku yang megangin kalengnya, kamu yang nyanyi, gimana?"
Rumi ikut tertawa. Ia menopang dagunya dengan tangan, menatap Lyana dengan tatapan yang penuh kehangatan. "Boleh. Tapi bagi hasilnya 70-30 ya. Kan suaraku aset utama."
Di luar sana, hiruk-pikuk kampus terus berjalan. Masih banyak rapat yang menanti, masih banyak anggaran yang harus direvisi, dan pasti akan ada masalah baru yang datang silih berganti. Tapi di dalam ruang sekretariat yang berantakan itu, di bawah bayang-bayang kertas kerja dan sisa aroma kopi, semuanya terasa baik-baik saja. Hidup, pada akhirnya, selalu menemukan caranya sendiri untuk terus melangkah.