NovelToon NovelToon
Veto Sang Ketua BEM

Veto Sang Ketua BEM

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kara

​"Bukan lo yang mutusin buat nolak gue. Gue sendiri yang mutusin apa yang bakal gue lakuin ke lo!"
​Arshaka Rumi Wiraguna adalah Presiden BEM yang arogan dan urakan. Bagi Lyana, bendahara BEM yang kaku, Rumi adalah definisi "salah gaul" yang harus dihindari. Namun, takdir memaksa mereka terus bergesekan.
​Saat demonstrasi besar membakar kampus, Rumi mempertaruhkan nyawa demi melindungi Lyana. Sejak hari itu, tembok formalitas "Mas" dan "Mbak" pun retak. Apalagi saat KKN memaksa mereka tinggal satu atap di pelosok desa. Tanpa birokrasi kampus, sisi posesif Rumi muncul. Lyana yang awalnya hanya ingin fokus pada beasiswa, perlahan terseret dalam obsesi sang Presiden BEM.
​Di antara politik kampus dan ego yang tinggi, mampukah Lyana bertahan? Atau justru ia akan tunduk pada aturan main Arshaka Rumi Wiraguna?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berat kertas dan Tabungan Fajar

Amplop putih polos itu terasa lebih berat dari tumpukan batu bata di telapak tangan Lyana.

Di seberang meja kaca, Hendrik Wiraguna duduk dalam keheningan yang penuh wibawa. Pria itu tidak mendesak. Ia hanya menyajikan fakta hukum yang sedingin es: selamatkan masa depanmu sendiri dan hancurkan keluarga temanmu, atau lindungi keluarga temanmu dan biarkan dirimu tenggelam.

Lyana menatap amplop itu lama sekali. Jemarinya yang pucat perlahan bergerak, menyentuh tepian kertas yang tersegel rapi. Di dalam sana, terdapat pengakuan Fajar. Di dalam sana, terdapat kunci untuk mengembalikan nama baiknya, untuk mendapatkan kembali beasiswanya, dan untuk menjamin bahwa ia bisa lulus tanpa harus mengorbankan keringat ibunya di kampung.

Namun, di saat yang sama, ia teringat pada percakapannya dengan Fajar beberapa bulan lalu di kantin fakultas. Fajar pernah bercerita tentang ayahnya yang seorang buruh tani, dan ibunya yang menderita diabetes parah. Lima puluh juta rupiah dari uang asuransi kampus itu bukan sekadar angka bagi keluarga Fajar. Itu adalah biaya pengobatan. Itu adalah pelunasan utang yang mungkin sudah menjerat keluarga mereka bertahun-tahun.

Lyana memejamkan mata. Udara dari pendingin ruangan di kantor Hendrik tiba-tiba terasa menusuk tulang.

"Pak," suara Lyana keluar, terdengar lebih kecil dari yang ia harapkan, namun tak ada keraguan di baliknya. "Kalau saya menyerahkan surat ini, apa tidak ada jalan tengah? Supaya pihak yayasan tahu kebenarannya, tapi asuransi keluarga Fajar tidak ditarik?"

Hendrik menggeleng pelan. "Hukum bekerja berdasarkan hitam dan putih, Lyana. Jika kampus menerima surat ini, mereka terikat secara administratif untuk melaporkannya sebagai pelanggaran pidana. Dan asuransi mana pun di dunia ini memiliki klausul yang menggugurkan klaim jika tertanggung terbukti melakukan fraud. Tidak ada jalan tengah untuk birokrasi."

Lyana menarik napas dalam-dalam. Dadanya sesak. Ia melirik Rumi yang duduk di sebelahnya. Laki-laki itu sedari tadi diam, membiarkan Lyana memproses semuanya sendiri. Rumi menatapnya dengan sorot mata yang penuh kelembutan, sebuah tatapan yang mengatakan, Apa pun keputusanmu, aku akan ada di sana.

Dengan tangan yang masih sedikit bergetar, Lyana mengambil amplop itu dari atas meja kaca. Ia tidak membukanya. Ia menyimpannya rapat-rapat di dalam saku jaket almamaternya.

"Terima kasih atas bantuan Bapak," ucap Lyana seraya berdiri. Ia menundukkan kepala dengan sopan. "Saya permisi dulu."

Hendrik tidak menahan. Ia ikut berdiri, menatap gadis muda di hadapannya dengan raut wajah yang sulit ditebak—campuran antara kasihan, penasaran, dan rasa hormat yang mendalam.

Perjalanan pulang di dalam mobil Rumi dilewati tanpa sepotong kata pun. Hujan di luar kembali turun, meninggalkan jejak air yang meliuk-liuk di kaca jendela. Lyana menyandarkan kepalanya di kursi penumpang, membiarkan pikirannya berlayar ke berbagai skenario terburuk. Bagaimana ia akan membayar UKT semester depan? Apakah ia harus mengambil dua pekerjaan paruh waktu sekaligus? Apakah tubuhnya akan sanggup?

Mobil berhenti di depan gang kos-kosan Lyana.

Rumi mematikan mesin, lalu memutar tubuhnya menghadap Lyana. "Kamu udah mutusin?"

Lyana mengeluarkan amplop putih itu dari sakunya. Ia merabanya perlahan. "Mas, dari kecil, ibuku selalu ngajarin satu hal. Jangan pernah membangun rumahmu di atas reruntuhan rumah orang lain."

Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes, jatuh tepat di atas permukaan amplop putih itu.

"Fajar emang udah ngancurin kepercayaanku," suara Lyana pecah, isak tertahan membuat bahunya bergetar. "Dia udah bikin aku hampir gila. Tapi orang tuanya di desa nggak tahu apa-apa, Mas. Mereka kehilangan anak laki-laki kebanggaan mereka. Kalau aku serahin surat ini, aku nggak cuma ngambil uang santunan mereka... aku juga ngambil memori baik mereka tentang Fajar. Mereka bakal tahu kalau anak yang mereka banggakan ternyata seorang penipu."

Rumi mendekat, menghapus air mata di pipi Lyana dengan ibu jarinya. "Dan beasiswamu? Kuliahmu?"

"Aku bisa kerja, Mas. Aku bisa cuti satu semester buat ngumpulin uang. Aku bisa cari jalan lain," Lyana menarik napas panjang, menguatkan dirinya sendiri. "Tapi aku nggak akan pernah bisa tidur tenang kalau aku tahu beasiswaku dibayar pakai kehancuran keluarga Fajar."

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Lyana merobek amplop bersegel itu. Kertas di dalamnya ikut terkoyak menjadi dua. Suara robekan kertas itu terdengar begitu keras di dalam kabin mobil yang sunyi. Ia merobeknya lagi, lagi, dan lagi, hingga surat pengakuan yang sangat berharga itu berubah menjadi serpihan-serpihan kecil yang tak lagi bisa dibaca.

Rumi tidak menghentikannya. Laki-laki itu justru tersenyum—sebuah senyuman getir namun penuh kebanggaan yang tak terlukiskan. Ia menarik Lyana ke dalam pelukannya, membiarkan gadis itu menangis menumpahkan semua rasa lelahnya.

"Kamu perempuan paling kuat yang pernah aku kenal, Lyan," bisik Rumi di puncak kepala Lyana. "Kita cari uangnya bareng-bareng. Aku bakal bantu kamu cari kerjaan tambahan. BEM juga punya honor kepanitiaan buat Dies Natalis. Kita pasti bisa lewatin ini."

Keesokan paginya, langit Solo tampak lebih cerah. Lyana berjalan keluar dari kantor cabang Yayasan Lentera Bangsa dengan langkah yang anehnya terasa sangat ringan.

Di dalam sana tadi, Pak Tirta secara resmi menyerahkan surat pemutusan beasiswanya. Lyana menandatanganinya tanpa perdebatan. Saat Pak Tirta menanyakan apakah ia punya bukti bantahan baru, Lyana hanya menggeleng sambil tersenyum tipis. Sebuah tanda tangan di atas meterai telah mengakhiri perjalanannya sebagai mahasiswi beasiswa penuh.

Ia tidak punya jaring pengaman lagi. Mulai bulan depan, ia harus bertarung sendirian untuk setiap sen biaya kuliahnya. Namun, anehnya, Lyana tidak merasa hancur. Ia justru merasa merdeka. Ia telah membuat pilihan berdasarkan hati nuraninya sendiri, bukan karena paksaan sistem atau ketakutan.

Ia kembali ke kampus, langsung menuju ke ruang sekretariat BEM. Pintu sekre terbuka lebar, suara ketikan keyboard dan perdebatan kecil tentang vendor sound system menyambutnya. Semuanya telah kembali normal. Tugas sebagai Bendahara BEM untuk acara Dies Natalis sudah menunggunya.

Namun, saat Lyana melangkah masuk, suasana mendadak hening.

Dito yang sedang duduk di dekat pintu langsung berdiri. Raut wajah pemuda itu tampak tegang. Ia menunjuk ke arah sudut ruangan dengan dagunya.

"Mbak Lyan," bisik Dito pelan. "Ada yang nyariin Mbak dari tadi pagi. Nggak mau disuruh duduk di kursi, maunya nunggu di karpet situ."

Lyana mengerutkan kening. Ia mengikuti arah pandangan Dito.

Di sudut ruangan, di dekat tumpukan kardus air mineral, duduk seorang wanita paruh baya. Wanita itu mengenakan kebaya katun murah yang warnanya sudah memudar dan kain jarik yang disematkan sembarangan. Wajahnya dipenuhi kerutan yang dalam, matanya sembab, dan tangannya yang kasar meremas ujung tas kain lusuh di pangkuannya.

Rumi sedang duduk bersila di depan wanita itu, menemaninya dengan sabar. Saat melihat Lyana datang, Rumi berdiri.

"Lyan," panggil Rumi pelan, suaranya sarat akan kehati-hatian. "Ini ibunya Fajar."

Langkah Lyana seketika terhenti. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Berbagai skenario buruk melintas di kepalanya. Apakah wanita ini tahu soal Satria? Apakah dia datang untuk menuntut BEM? Ataukah dia tahu soal pengkhianatan Fajar?

Lyana mendekat perlahan, lalu ikut duduk bersila di atas karpet, menyejajarkan posisinya dengan wanita itu. "Ibu... cari saya?"

Ibu Fajar mendongak. Mata tuanya menatap wajah Lyana lekat-lekat. Ia mengusap sudut matanya dengan ujung kerudungnya yang kusam.

"Nak Lyana...?" suara wanita itu bergetar, serak seperti orang yang sudah terlalu lama menangis.

"Iya, Bu. Saya Lyana."

Tanpa aba-aba, Ibu Fajar meraih tangan Lyana dan menggenggamnya erat dengan kedua tangannya yang gemetar hebat.

"Ibu ke sini mau minta maaf, Nak," isak wanita itu tiba-tiba, membuat Lyana dan Rumi terkesiap. "Ibu baru sempat bongkar-bongkar barang di kamar kos Fajar tadi pagi setelah urusan polisi selesai. Ibu nemu sesuatu."

Wanita itu membuka ritsleting tas kain lusuhnya. Tangannya merogoh ke dalam dan mengeluarkan sebuah buku tabungan bank nasional yang sampulnya sudah lecek. Ia menyodorkan buku itu ke pangkuan Lyana.

"Fajar itu anak yang tertutup, Nak. Dia jarang cerita kalau lagi susah. Tapi sebelum dia meninggal, malam itu dia telepon Ibu," Ibu Fajar bercerita di sela isak tangisnya. "Dia nangis. Dia bilang dia sudah berbuat dosa besar ke temannya yang paling baik. Dia bilang dia sudah ngerusak beasiswa temannya."

Lyana tertegun. Mulutnya sedikit terbuka, tapi tak ada suara yang keluar. Rumi di sebelahnya ikut mematung.

"Dia ndak sebut nama, tapi dia bilang temannya itu namanya Lyana, bendahara BEM. Fajar bilang... dia mau perbaiki semuanya, tapi dia ndak tahu caranya."

Ibu Fajar menunduk, menatap buku tabungan di pangkuan Lyana. "Di dalam buku tabungan itu... Ibu cek saldonya tadi pagi di bank. Ibu kaget, dari mana anak Ibu punya uang sebanyak itu? Ibu orang miskin, Nak. Ibu cuma buruh tani. Tapi teller bank bilang, ada setoran tunai masuk tiga hari yang lalu."

Tangan Lyana yang dingin meraih buku tabungan itu. Ia membuka halaman terakhirnya. Matanya membelalak sempurna saat melihat deretan angka yang tercetak di baris paling bawah.

Saldo akhirnya bukan ratusan ribu. Bukan pula sisa uang jajan mahasiswa.

Di sana, tertulis saldo sebesar Rp 14.500.000,00. Empat belas juta lima ratus ribu rupiah.

"Ibu nggak tahu itu uang dari mana, Nak Lyana," suara wanita itu kini terdengar begitu putus asa dan ketakutan. "Tapi di halaman depan buku itu, Fajar nulis pakai pensil. Dia nulis namamu. Ibu mohon, tolong jelaskan ke Ibu... apa yang sebenarnya anak Ibu lakukan sebelum dia meninggal?"

1
Lilik Juhariah
mulai baca
Emi Sudiarni
kren kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!