NovelToon NovelToon
Putri Asli Yang Tak Pernah Dipilih

Putri Asli Yang Tak Pernah Dipilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Putri asli/palsu / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

"Saat ayahku memilih menyelamatkan putri kesayangannya, dia mengorbankanku tanpa ragu."

Savira Dharma menghabiskan seluruh hidupnya mengejar sesuatu yang tidak pernah ia miliki: pengakuan dari ayahnya.

Sebagai putri kandung keluarga Dharma, ia belajar lebih keras, bekerja lebih lama, dan mengorbankan masa mudanya demi membuktikan bahwa dirinya layak dicintai. Namun ketika skandal penggelapan dana mengguncang Dharma Group, Savira dijadikan kambing hitam untuk melindungi keluarga yang selama ini ia bela.

Ditinggalkan sendirian di tengah hujan fitnah, ayahnya memilih diam.

Malam itu, Savira melompat dari puncak gedung perusahaan yang telah merenggut seluruh hidupnya.

Namun kematian bukanlah akhir.

Saat membuka mata, ia kembali menjadi gadis tujuh belas tahun—tujuh tahun sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.

Kali ini, Savira tidak akan mengemis cinta.

Ia tidak akan mengorbankan dirinya demi keluarga yang tak pernah memilihnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. Bermain Sangat Rapi

Ketukan sol sepatu pantofel itu bergema pelan, memantul di dinding lorong dengan ritme yang mematikan. Nyonya Dharma melepaskan cengkeramannya dari bahu Nadia seketika. Wanita itu mundur teratur, merapatkan punggungnya ke dinding marmer dengan wajah sepucat kapas.

Kenop pintu berukir emas itu berputar lambat tanpa suara decit. Sosok Wijaya Dharma muncul di ambang pintu. Jas hitamnya melekat sempurna tanpa satu lipatan pun yang melenceng dari tempatnya. Ia tidak mendobrak masuk, tidak mengumpat, dan tidak menunjukkan tanda-tanda kepanikan sekecil apa pun.

Di tangannya, bertengger sebuah nampan perak berisi semangkuk sup krim hangat dan secangkir teh chamomile. Asap tipis mengepul perlahan dari permukaan porselen. Aroma herbal yang menenangkan menguar menembus bau pesing ketakutan yang memenuhi udara kamar.

Nadia menahan pasokan oksigen di paru-parunya. Jantungnya berdetak liar menabrak tulang rusuk. Keringat dingin merembes dari tengkuknya, bercampur dengan lelehan riasan wajahnya yang berantakan. Ia menduga pria itu akan melemparkan nampan tersebut tepat ke wajahnya.

Wijaya justru melangkah anggun mendekati meja rias. Ia meletakkan nampan perak itu tanpa menimbulkan bunyi benturan kaca. Matanya yang kosong menyapu keadaan kamar yang kacau balau, lalu berhenti pada sosok Nadia yang bergetar di lantai.

"Bangunlah," suara Wijaya mengalun lembut, nyaris menyerupai bisikan pengantar tidur.

Nadia memaksakan lututnya yang lemas untuk menopang bobot tubuhnya. Ia berdiri perlahan sambil menundukkan kepala dalam-dalam. Gadis itu menolak menatap langsung ke dalam sumur kekosongan di kedua mata ayahnya.

Wijaya mengangkat tangan kanannya perlahan. Jari-jarinya yang dingin menyentuh pipi basah Nadia. Ia mengusap sisa air mata putrinya menggunakan ibu jari dengan gerakan terukur dan presisi.

Tidak ada energi kehangatan yang mengalir dari sentuhan itu. Bulu kuduk Nadia justru meremang hebat. Ia merasa seolah seekor ular berbisa baru saja merayap menempel di kulit wajahnya.

"Makanlah dulu, Nadia." Wijaya menyajikan senyum damai yang terlukis sempurna di bibirnya. "Papa tidak suka melihat anak papa kelaparan. Papa akan mengurus sisanya."

Di sudut ruangan, Nyonya Dharma menggigit bibir bawahnya hingga mengecap rasa anyir darah. Wanita itu tahu persis makna terselubung di balik kelembutan suaminya. Wijaya sedang menakar sisa nilai aset yang bisa diselamatkan dari kebodohan Nadia.

Sang kaisar tidak peduli apakah Nadia benar-benar menandatangani dokumen korupsi itu atau dijebak. Bagi Wijaya, kebenaran mutlak adalah komoditas yang bisa dibeli, dibentuk ulang, dan dijual kembali ke hadapan publik.

Wijaya berjalan melintasi ruang kamar, mendekati Nyonya Dharma. Pria itu mengangkat tangan kirinya, merapikan kerah gaun tidur sutra istrinya dengan telaten.

"Pastikan putri kita menghabiskan makan malamnya." Wijaya berbicara dengan nada seorang suami yang penuh perhatian. "Besok pagi, ratusan lensa kamera media akan menyorot wajahnya di luar gerbang utama. Dia harus terlihat segar dan tangguh."

Udara dingin dari pendingin ruangan menusuk tulang sumsum Nyonya Dharma. Kebenaran kelam tentang bayi yang ditukar belasan tahun lalu kembali mencekik lehernya. Jika tim penyidik eksternal membongkar paksa fail pengadaan medis yayasan, mereka berisiko menemukan anomali data DNA jika penyelidikan meluas ke rekam medis keluarga. Rahasia busuk itu hanya tinggal menunggu waktu untuk meledak dan membakar mereka hidup-hidup.

Nadia mendekati nampan perak itu dengan langkah kaki terseret. Tangannya yang gemetar meraih sendok sup. Kuah hangat itu menyentuh lidahnya, namun rasanya hambar bagai menelan segumpal abu sisa pembakaran.

Ia melirik dari sudut matanya. Wijaya masih berdiri di tengah ruangan. Pria itu mengamati putrinya makan layaknya seorang peneliti yang memantau spesimen percobaan di bawah mikroskop.

Senyum damai itu tidak pernah luntur sesentimeter pun. Wijaya memutar tubuhnya menghadap jendela kaca yang tertutup tirai beludru. Titik-titik air hujan mengetuk permukaan kaca dari luar, menciptakan melodi monoton yang mencekam.

"Seseorang bermain sangat rapi di dalam rumah ini," gumam Wijaya pelan, menjaga nada suaranya tetap sopan. "Menembus protokol keamanan yayasan, meretas sistem peladen pusat, dan memanipulasi arus kas tanpa memicu alarm internal."

Nadia tersedak pelan. Kuah sup itu melukai pangkal kerongkongannya. "Itu Savira, Pa," tuduhnya dengan napas putus-putus. "Perempuan kotor itu yang menaruh kertas itu di tumpukan dokumen belanjaku. Dia merancang jebakan ini untuk menyingkirkan aku."

Wijaya menoleh sedikit. Pandangannya menembus eksistensi Nadia tanpa kehidupan. Ia tidak membela Savira, namun juga tidak membenarkan ucapan panik tersebut.

"Tuduhan tanpa bukti empiris adalah senjata milik orang-orang yang kalah, Nadia." Pria itu berjalan mendekati meja, mengambil cangkir teh chamomile miliknya sendiri. Ia meniup permukaan teh itu perlahan, menghirup aromanya dalam diam. "Kamu baru saja mengajarkan lawanmu seberapa rapuh benteng kewarasanmu."

Kalimat sopan itu mengiris sisa harga diri Nadia hingga tak bersisa. Ia meremas rok gaun sutranya, menyembunyikan getaran tangannya yang semakin parah. Ayahnya sama sekali tidak marah karena ia tertuduh mengotori nama yayasan. Ayahnya marah karena ia terlalu bodoh untuk menyadari perangkap murahan di atas meja riasnya sendiri.

"Habiskan supmu." Wijaya meletakkan cangkir porselennya kembali ke atas nampan. "Tidurlah yang nyenyak malam ini. Besok pagi, dunia akan kembali normal untukmu."

Pria itu melangkah keluar dari kamar. Pintu berukir emas menutup kembali tanpa suara. Bau mawar di ruangan itu langsung tersapu bersih oleh jejak aura kematian yang membelit udara.

Di seberang kota yang diguyur badai, layar monitor raksasa menerangi separuh wajah Savira. Ia duduk bersila di atas sofa kulit usang dalam apartemen Aaron. Matanya memantau pergerakan saham Dharma Group yang mulai menunjukkan grafik merah tajam pada pra-pembukaan bursa internasional.

Aaron menuangkan air mineral dingin ke dalam gelas kaca polos. Pria itu menyodorkannya langsung ke arah Savira tanpa basa-basi.

"Monster sosiopat itu tidak akan tinggal diam," bariton Aaron mengalun stabil mengisi kabin ruangan. "Dia pasti sudah mengumpulkan tim pembersihnya malam ini juga."

Savira menerima gelas itu. Sensasi dingin merambat di telapak tangannya, menstabilkan lonjakan adrenalin yang memanaskan darahnya.

"Wijaya Dharma selalu mengamputasi anggota tubuh yang terinfeksi sebelum racunnya menyebar ke organ utama perusahaannya," jawab Savira datar. Aroma melati dari pakaiannya menguar menembus udara dingin apartemen. "Dia tidak akan membiarkan putrinya diseret ke meja hijau. Itu sama saja menelanjangi kelemahan dinasti Dharma di hadapan publik."

Mata Savira tidak berkedip menatap barisan kode enkripsi di layar. Ia menunggu serangan balasan dari sang kaisar. Permainan manipulasi ini baru saja menyentuh babak pertengahan. Puncak penderitaan harus dieksekusi secara perlahan agar rasanya melekat abadi.

Ia membayangkan Wijaya sedang merajut jaring manipulasi baru di balik dinding rumah megah itu. Pria paruh baya itu pasti menggunakan kekuasaan absolutnya untuk membungkam mulut para penyidik independen sebelum cahaya fajar menyingsing. Hukum adalah lelucon murah bagi pria yang mengendalikan separuh ekonomi negara.

Kembali ke lorong lantai dua rumah keluarga Dharma, ketukan sepatu Wijaya menggema menjauhi kamar Nadia. Ekspresi damainya lenyap seketika. Otot wajahnya kembali berubah menjadi topeng pualam kaku yang tidak tertembus emosi manusiawi.

Ia merogoh saku dalam jasnya. Tangannya menarik sebuah ponsel pintar berlapis karbon. Jarinya menekan cepat satu nomor darurat yang terenkripsi tingkat tinggi milik firma hukum bayangannya.

Nada panggil hanya terdengar satu detik sebelum suara berat menyahut dari seberang sambungan.

"Siapkan dana operasional tak terbatas malam ini juga." Suara Wijaya terdengar sangat jernih dan tajam menembus lorong kosong.

Pria itu berjalan menuruni tangga utama dengan postur tegap. Matanya menatap lurus ke arah pintu ganda berlapis emas di ruang tamu yang menjulang tinggi.

"Tutup semua celah investigasi sebelum matahari terbit." Wijaya menjatuhkan perintah tanpa jeda, memutus opsi bantahan. "Gunakan metode apa pun yang diperlukan untuk menghentikan tim audit eksternal menyentuh berkas yayasan."

1
sukensri hardiati
itu kalau permen strawberry terus dikonsumsi....mk begitu wijaya tumbang...maka kamu juga bisa tumbang kena diabet
Sulati Cus
adu kekuatan sm bokap yg kental kelicikan ternyata g ada seujung kuku nya, terlalu dini pgn balas dendam mlh hancur sendiri
gina altira
makin rumit pertarungannya
tutiana
luar biasa
gina altira
Sosiopat itu sangat mengerikan
sukensri hardiati
hadeeeh savira....ganti permen straberimu dengan camilan sehat....otak geniusmu jadi lengket nanti...
gina altira
jgn" Savira yg akan jadi tumbal
gina altira
kuat Savira,, jgn menyerah
nur
ngeselin bpkmu vir
Pawon Ana
terus terang sampai sini perkembangan karakter Savira agak lambat, yng aku pahami Savira ini masih terbelenggu dengan trauma dimasa kehidupan sebelumnya, dia belum bisa benar2 lepas, egonya yang merasa mampu sendiri masih tinggi...🤦
Pawon Ana
ih itu otak Savira kok tidak ngebul ya....aktif terus tidak berhenti...🤦
Wega Luna
sebenarnya ceritanya bagus entah kenapa musuh lebih kuat dari para MC,panik panik panik sedang musuh hanya dengan diam tapi bisa melihat segala nya, ,dan sekarang Savira ditanya siapa pelakunya, Savira hanya menambah luka, jika tidak dicintai buat hatimu menjadi tembok besar, jangan sampai menambah luka, dengar berita ini langsung sakit hati,aku dulu juga gitu dengan orang tua ku,aku memilih cuek dan tidak memasukkan ke hati,, sampai bab ini aku belum bisa bangga dengan savira
Pawon Ana
berhadapan dengan sumber trauma terkadang memang menguras kewarasan mental 💪✌️
Cty Badria
ya hancurkan
Pawon Ana
ayo aku menunggu aksi duo genius selanjutnya 💪
kymlove...
mari🫡
watno antonio
lanjut thor
sukensri hardiati
tolong masukkan cerita ini ke perpus on going dong....biar gampang nyarinya ...
sukensri hardiati
aduuuhh...klo boleh menyayangkan awal yg tragis...bunuh diri...nggak cocok untuk gadis kuat yg merupakan tokoh utama cerita...
nur
msok cpet banget ketahuan km vir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!