Seorang ilmuan jenius yang meninggal di usia muda akibat kelelahan, karena memiliki tubuh yang lemah. Tidak disangka jiwanya merasuk pada seorang pria desa yang hidup sebagai petani miskin.
Orang tua baru saja mati dan dia mendapatkan jatah tanah warisan paling sedikit?
Dikenal orang yang pasif karena tidak pernah melawan?
Namun dia tidak mengeluh, dengan melihat tubuhnya yang kuat dan sehat saja dia sudah sangat bersyukur.
[ Selamat! Kamu telah terikat pada sistem Sugar Daddy ]
"Ha?!"
Dengan sistem yang aneh ini, Lin Chen mendadak menjadi Sugar Daddy zaman kuno.
"Suami, carilah istri lagi... Kami tidak kuat, huhuhu..." Istri pertama mengumpulkan keberanian nya dan menyuarakan suara hati para istri.
***
Kembali lagi di cerita author RAS(BY/AR)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAS( BY.AR), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Lokasi pasar berada di Perfektur Chang, jaraknya sekitar 5 Kilometer dari desa Dahe.
Meskipun memiliki tubuh yang sehat itu salah satu keuntungan nya tidak mudah lelah berjalan jauh, namun Lin Chen tidak ingin menyiksa diri sendiri, dia lebih memilih untuk naik gerobak sapi milik Kakek Lao. Lagipula harganya hanya dua wen.
Meskipun berjalan lambat, namun hitung-hitung menikmati pemandangan pagi.
Gerobak sapi milik Kakek Lao sudah seperti alat transportasi desa, setiap pagi, siang dan sore gerobak ini akan bolak-balik dari desa Dahe ke Perfektur Chang.
Meskipun orang-orang tidak selalu pergi ke pasar untuk berbelanja, namun sehari-hari nya orang lain akan memiliki kesibukan di luar desa, seperti pergi bekerja.
Melihat bagian belakang gerobak sudah di isi oleh para perempuan, Lin Chen pun memilih berjalan menuju depan gerobak-- dekat pengemudi.
"Kakek Lao"
Sapa Lin Chen dengan ramah.
"Eh, Lin Chen!"
Seperti melihat setetes air di antara api, Kakek Lao sedikit terkejut dengan kehadiran Lin Chen yang menyapanya. Namun dia tetap mempersilahkan nya untuk naik-- duduk di samping nya.
"Tumben sekali kau naik kereta ku, biasanya selalu sibuk berjalan"
*Maksud sibuk berjalan, artinya saat ada orang menyapa atau kenalan dia hanya terus berjalan tanpa menghiraukan nya.
Lin Chen tersenyum, "hari ini aku tidak memiliki pekerjaan apapun, jadi bisa lebih bersantai"
Kakek Lao pun hanya mengangguk, dirinya memang mengenali Lin Chen, namun hanya sebatas kenal dan tidak dekat, jadi tidak banyak pembicaraan di antara mereka.
"Lin Chen, ingin pergi ke pasar untuk belanja juga ya?" Ucap seorang Bibi yang bibirnya sudah gatal ingin bicara.
Biasanya melihat wajah suram Lin Chen yang menakutkan, mereka akan memilih menjauh dan tidak mau saling tegur sapa dengan nya. Namun melihat wajah Lin Chen yang lebih cerah dan tersenyum ramah, bibi itu tidak bisa tidak gatal bertanya.
Lin Chen sedikit menoleh ke belakang. "Benar, garam di rumahku sudah habis. Sekalian ingin menjual beberapa obat yang aku temukan di gunung."
"Wah, selain berburu kau juga mengumpulkan obat? Kau tau tanaman obat?" Bibi itu mendecakan lidah nya, entah kagum atau entah iri dengan kemampuan Lin Chen.
"Aku pernah melihat tabib menggunakan obat herbal dan kebetulan melihat nya di hutan, entah benar-benar obat atau bukan aku ingin mencobanya."
Setelah merasa dia telah memberikan penjelasan yang cukup ramah Lin Chen pun berhenti dan fokus melihat kedepan.
Bibi-bibi di belakangnya terdengar saling membicarakan nya, sekilas dia juga mendengar mereka membahas mantan istrinya, namun dia tidak mempedulikan mereka dan hanya fokus menikmati perjalanan.
Melihat Lin Chen tidak mempedulikan dan terlihat acuh, bibi yang membahas mantan istri Lin Chen pun terlihat canggung. Dia pikir Lin Chen setidaknya akan mengatakan 'aku tidak apa-apa atau semuanya sudah masa lalu' namun dia hanya acuh, bibi itu jadi merasa membicarakan orang di depan mukanya. Hingga dia akhirnya berhenti bicara dan pembicaraan mantan istri Lin Chen seketika menghilang dari atas gerobak itu.
"Eh, Bibi Sun. Apakah kamu sudah mendengar nya?"
Bibi Sun mengerutkan keningnya, di ikuti mereka yang merasa penasaran. "Apa? Saya tidak tahu, jangan bermain tebak-tebakan dengan saya!" ucap Bibi Sun terdengar galak.
"CK, yang di katakan Ibu Godan. Ibu Godan ke pasar kemarin dan melihat banyak pedagang budak di sana. Bukan hanya satu, tapi dan lebih dari tiga pedagang budak!"
"Eh benarkah Ibu Godan bilang begitu?"
"Seberapa banyak budak-budak itu?"
"CK, benar! Ibu Godan melihat nya saat ke pasar, dia bilang budak nya banyak sekali! Bahkan gadis cantik pun ada dan jadi budak!"
Bibi Sun mengerutkan keningnya, untuk mengkonfirmasi nya dia bertanya pada Kakek Lao. "Kakek Lao, apakah benar?"
Kakek Lao mengangguk, seketika bibi-bibi di belakang memasang wajah dramatis.
"Astaga... Kenapa bisa sampai banyak sekali budak? Apakah karena sebentar lagi akan memasuki musim dingin?"
Kakek Lao menghela napas. "Aku dengar dari beberapa sopir, jika hasil panen di wilayah Utara gagal. Tanah disana membeku dengan cepat, membuat padi yang di tanam tidak tumbuh dengan sempurna."
"Daripada harus menjadi pengungsi di musim dingin nanti, beberapa keluarga dengan nekat menjual diri mereka sebagai budak akhirnya hal inipun menjadi tren dan beberapa orang mengikuti nya."
"Karena memprediksi cuaca dingin di wilayah Utara yang muncul dengan cepat. Orang-orang memiliki tebakan jika musim dingin kali ini akan berjalan lama dan mengerikan."
"Para penjual budak pun tidak akan mampu memberi makan mereka begitu tahu berita nya, maka dari itu mereka menjual budak secara gila-gilaan di berbagai wilayah dengan hasil panen yang bagus. Dan salah satunya di Perfektur Chang kita."
Bibi-bibi itu terlihat hanyut terbawa penjelasan Kakek Lao, beberapa memiliki mata yang mulai memerah karena tidak menyangka akan seperti itu. Mereka merasa bersyukur jika mereka hidup di desa Dahe, meskipun tidak kaya, namun mereka juga tidak menderita.
Lin Chen hanya mendengarkan dengan peduli tak peduli, dia hanya menganggap cerita Kakek Lao sebagai informasi dan menyimpan nya di otaknya.
Kurang dari dua jam gerobak sapi telah sampai di pintu masuk pasar.
Kakek Lao menghentikan gerobak sapi tepat sebelum pintu masuk, karena jika masuk ke dalam akan ada biaya masuk kendaraan.
Lin Chen memberikan dua wen tembaga, setelah itu langsung masuk tanpa menghiraukan bibi-bibi itu lagi.
Pemilik tubuh asli juga sering ke pasar, jadi Lin Chen cukup memahami tata letak kios-kiosnya.
Namun begitu melewati dua kios toko, Lin Chen sudah di buat penasaran oleh kerumunan orang-orang. Dengan teriakan dari arah depan, setelah mendengarkan dengan lebih seksama dan menilai dari jarak jauh ternyata itu adalah perdagangan budak.
Sesuai yang di katakan Kakek Lao, jumlahnya lebih dari satu penjual budak. Ini terlihat mengerikan, orang-orang berkerumun seperti melihat sayuran di pasaran-- namun aslinya itu manusia hidup yang sedang diperjual belikan.
Namun apa yang bisa dia lakukan, dia tidak bereinkarnasi menjadi Raja yang langsung bisa menghapus sistem. Jadi abaikan saja oke, hiduplah dengan damai tanpa tanpa terlibat hal-hal berbahaya.
Berjalan semakin ke dalam area pasar, maka semakin ramai. Biasanya tidak seramai ini, mungkin karena banyak nya penjual budak dan orang-orang tertarik untuk menonton jadi pasar begitu ramai.
Setelah berjalan sebanyak puluhan langkah, akhirnya Lin Chen berhenti di sebuah toko obat. Sebenarnya ada tiga toko obat di Perfektur Chang ini, namun toko obat ini memiliki reputasi yang baik untuk orang miskin yang menjual obat. Jadi pilihan yang tepat adalah toko obat Baicao Tang.