Diana Ayuningtyas, Berniat memberikan kejutan. dengan sengaja mendatangi Apartemen Gilang Wijaya - sang kekasih, untuk merayakan ulang tahunnya.
Tetapi malah mendapatkan kenyataan bahwa kekasihnya ternyata tinggal bersama wanita lain.
"Kamu siapa ?"
"Aku? Aku tunangan pemilik Apartemen ini!"
Duarrr...
Diana langsung terdiam mematung, tidak ingin percaya.
"Sayang ! Siapa yang datang ?"
Tapi suara Gilang dari dalam, yang memanggil wanita di depannya ini dengan panggilan mesra, membuatnya tidak bisa menahan nya lagi.
Sebelum Gilang datang, Diana segera pergi dengan air mata yang perlahan mengalir.
Lift perlahan tertutup, matanya menatap lurus ke depan, hatinya bergemuruh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia_halusinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Bab 21: Kenangan yang Terlambat Disadari
Sudah hampir tiga jam berlalu sejak pintu gerbang rumah besar itu dikunci rapat.
Matahari yang tadinya terik mulai condong ke barat, menyisakan cahaya keemasan yang memancar lembut di atas halaman yang luas.
Di bawah pohon trembesi tua yang rindang,
Arga dan Gilang masih duduk berdampingan tetapi masih ada jarak,
"Apa Tuan Hartono sudah tahu tentang hal ini?" Tanya Arga pelan, dia menyilangkan kakinya
Tangan kirinya mengapit rokok yang masih mengepul.
suasana yang tadinya panas dan penuh amarah kini perlahan berubah menjadi keheningan yang berat.
Emosi keduanya sudah mereda.
Gilang juga mengikuti ayahnya, dia mengambil rokok, lalu menekan pemantik, asap mengepul keluar dari mulutnya.
"Belum!" Jawabnya singkat.
Arga menoleh, singkat. tapi kemudian kembali ke posisi semula.
"Itulah sebabnya kenapa kamu ingin cepat menikah?" Tebak Arga
"Hmm..!" Gilang tidak perlu menjawab. Deheman itu cukup di mengerti oleh Arga.
Tidak ada lagi teriakan, tidak ada lagi cengkeraman yang penuh kekerasan.
Hanya ada napas yang teratur di antara mereka, keduanya memandang kosong, karena segala kenyataan yang terungkap dalam waktu singkat.
Wajah mereka masih terlihat lelah, dengan bekas luka memar di beberapa bagian,
Tetapi tatapan mata mereka sudah tidak lagi menyimpan api kemarahan yang meledak-ledak.
Ketika suara langkah kaki mendekat dari balik gerbang, Pak Heru muncul dengan wajah yang lebih tenang.
Keduanya menoleh bersamaan.
Pak Heru membuka gembok perlahan, lalu mendorong pintu besi itu hingga terbuka lebar.
“Nyonya Tua sudah mengizinkan kalian masuk, Tuan,” ucapnya dengan nada hormat.
Arga berdiri lebih dulu, merapikan sedikit bajunya yang kusut dan berdebu.
Ia menoleh ke arah Gilang yang masih duduk menunduk, lalu melangkah mendekat.
Suaranya terdengar rendah namun tegas, hanya bisa didengar oleh putranya sendiri.
“Dengar baik-baik, Gilang. Apa yang baru saja kau katakan tadi soal Clara dan kehamilannya… jangan pernah bahas soal itu pada nenekmu.
Nenek sudah cukup banyak pikiran selama ini, ayah tidak ingin kesehatannya terganggu. Biarlah masalah ini menjadi urusan kita berdua saja.
Sebagai ayah, aku akan bertanggung jawab membantumu dan tidak merugikan siapa pun”
Gilang mengangkat wajahnya, menatap ayahnya dengan pandangan yang penuh rasa bersalah.
Ia mengangguk perlahan, mengerti maksud dan kekhawatiran Arga. “Hmm... Aku mengerti. Aku juga tidak ingin menambah beban nenek.”
Setelah memastikan kesepakatan itu,
keduanya melangkah masuk melewati gerbang yang terbuka.
Mereka berjalan menuju pintu utama dengan langkah yang lebih tenang,
namun di dalam hati masing-masing masih menyimpan kerumitan yang belum selesai.
Begitu melangkah masuk ke ruang tengah, pemandangan yang terlihat membuat keduanya berhenti sejenak.
Di sofa utama, Nyonya Amara dan Diana duduk berdampingan, jarak mereka terlihat sangat dekat.
Suasana yang tadinya terasa dingin dan kaku kini berubah menjadi hangat.
Mereka sedang berbicara dengan nada lembut, sesekali terdengar tawa kecil yang lepas keluar dari bibir Diana, tawa yang tulus dan tidak lagi dipenuhi rasa takut atau ragu.
Namun, begitu mendengar langkah kaki mereka,
Nyonya Amara segera mengubah ekspresinya.
Wajahnya yang tadinya lembut dan tersenyum seketika berubah menjadi datar dan dingin,
kembali memasang wibawa yang membuat suasana ruangan terasa sedikit tegang lagi.
Ia menatap Arga dan Gilang yang berdiri di ambang pintu, lalu bertanya dengan nada suara yang tenang namun tetap.
“Kalian sudah puas? Jika belum, silahkan keluar lagi”
Arga berdehem pelan, lalu melangkah maju mendekati ibunya. “Maaf, Bu !.”
"Maafkan Gilang juga, Nek!" Bisik Gilang pelan
Tanpa menunggu perintah lagi,
Arga segera berbalik menghadap Diana.
Matanya langsung tertuju pada pipi kanan dan sudut bibir istrinya yang masih terlihat sedikit bengkak serta tertutup kasa tipis.
Rasa cemas langsung terlihat jelas di wajahnya.
Ia berjongkok di depan Diana, lalu mengangkat tangannya dengan hati-hati, menyentuh sisi wajah yang tidak terluka.
“Masih sakit, Sayang?” tanyanya dengan suara lembut yang sangat kontras dengan nada bicaranya kepada orang lain.
Matanya menatap lurus ke mata Diana, penuh rasa khawatir dan penyesalan karena tidak bisa melindunginya dengan baik.
“Kita ke dokter sekarang ya, biar diperiksa. Nanti lukanya malah bengkak makin parah.”
Diana tersenyum lembut, lalu menggeleng pelan.
Ia mengangkat tangannya dan menyentuh punggung tangan Arga untuk menenangkannya.
“Udah gak sakit, Mas. Tadi udah di obatin sama bibi. Lihat, sekarang udah lebih baik daripada tadi. nggak perlu ke dokter, nanti juga sembuh.”
Arga masih terlihat ragu, namun melihat keyakinan di wajah Diana, ia akhirnya menghela napas panjang dan mengangguk setuju.
“Ya udah, tapi kalau nanti makin sakit atau pusing, bilang sama aku, mengerti?”
“Iya, Mas,” jawab Diana lembut.
Sementara itu, Gilang masih berdiri di tempatnya, seolah terpaku tidak bisa bergerak maju.
Matanya tidak pernah beralih sedikit pun dari wajah Diana.
Ia memperhatikan bagaimana wanita itu tersenyum, bagaimana dia berbicara dengan nada lembut, dan bagaimana dia terlihat begitu nyaman serta bahagia di samping ayahnya.
Pemandangan itu menusuk hatinya, namun di sisi lain ia juga melihat ketulusan yang terpancar dari mata Diana.
Tanpa sadar, bayangan kenangan masa lalu mulai melintas cepat di dalam pikirannya.
Ia teringat saat-saat dulu ketika Diana masih menjadi kekasihnya.
Saat itu, Diana juga sering tersenyum seperti itu, berbicara lembut, dan selalu berusaha mengerti dirinya.
Tetapi sayangnya, di masa itu Gilang terlalu sering mengabaikan kehadiran Diana, dan menganggap perasaan gadis itu hanya sebagai pelengkap atau selingan saja yang akan selalu ada kapan pun ia butuhkan.
Kenapa rasanya sakit, melihatnya tersenyum untuk orang lain. Batin Gilang sambil menekan dadanya yang sesak
Baru setelah Diana tiba-tiba menghilang tanpa kabar,
setelah semua jalan komunikasi hilang,
barulah Gilang mulai merasakan kekosongan.
Ia baru sadar bahwa selama ini ia telah jatuh cinta pada Diana, namun ia terlambat menyadarinya — ia baru mengerti perasaannya ketika wanita itu sudah pergi jauh dari jangkauannya.
Dan sekarang, kenyataan yang lebih pahit menyambutnya:
Diana sudah kembali, namun bukan untuknya.
Wanita itu kini berdiri di posisi yang paling dekat dengan ayahnya sendiri, terlihat bahagia dan terlindungi,
sesuatu yang sebenarnya seharusnya bisa ia berikan jika saja ia tidak menyia-nyiakannya.
Dada Gilang terasa sesak, dan ia merasa tidak sanggup lagi berdiri di ruangan itu lebih lama.
Dengan langkah yang terasa berat dan gontai, ia mulai berbalik hendak melangkah keluar, ingin mencari tempat yang sepi untuk menenangkan pikiran dan hatinya yang kacau balau.
Namun, sebelum ia melangkah terlalu jauh, suara Nyonya Amara menghentikan langkah kakinya.
“Gilang, mau ke mana?” tanya Nyonya Amara, suaranya terdengar lembut, berbeda dengan nada bicara kepada Arga.
“Kau baru datang, dan kita bertemu. Apa kau tidak merindukan Nenek? Menginaplah malam ini di sini, rumah ini juga rumahmu sendiri.”
Gilang berhenti, lalu menoleh perlahan ke arah neneknya.
Ia mencoba mengukir senyum di wajahnya, meski terasa sangat pahit.
Ia menggeleng pelan, matanya sedikit berkabut menahan rasa sakit di dalam hati.
“Terima kasih, Nek. Aku memang merindukan Nenek, tapi untuk saat ini… aku butuh waktu sendiri dan ketenangan pikiran.
Kepalaku terasa pening dan pikiranku masih berantakan. Lebih baik aku kembali ke apartemen dulu, biar bisa berpikir dengan lebih jernih.
Nanti lain kali, kalau aku sudah merasa lebih baik, aku akan datang lagi dan menginap di sini seperti biasa,” jawab Gilang dengan suara yang agak parau.
Tanpa menunggu jawaban atau izin lebih lanjut,
Gilang segera berbalik dan melangkah keluar dengan langkah yang lebih cepat, seolah takut jika ia berlama-lama di sana, air matanya akan jatuh dan kelemahannya akan terlihat oleh semua orang.
Arga hanya diam mengamati kepergian putranya.
Ia mengerti betul perasaan yang sedang melanda hati Gilang,
namun ia juga tidak bisa melakukan apa pun selain membiarkan waktu yang menjawab semuanya.
Ia menoleh kembali ke arah Diana dan ibunya, lalu menghela napas panjang.
"Capek sayang ?" Tanya Arga
Diana menganggukkan kepalanya, tetapi tidak berani untuk pergi meninggalkan ibu mertuanya.
Tetapi...
Setelah suasana kembali tenang dan tidak ada lagi suara yang mengganggu, Nyonya Amara akhirnya berdiri perlahan.
“Sudah cukup. semua kejadian hari ini sudah membuat lelah dan aku butuh istirahat.”
Nyonya Amara menoleh pada anaknya.
"Bawa istrimu istirahat, ibu mungkin akan tinggal sementara di sini,? Ujarnya
"Ibu bisa tinggal di sini, sampai kapanpun ibu mau" Ujar Arga
"Ibu tidak akan bisa hidup tenang jika berlama-lama di sini, kalian selalu membuatku pusing " Jawab Nyonya Amara sambil berlalu pergi.
Arga mengerutkan dahinya, dia merasa tidak terima, lalu ia pun menoleh pada istrinya yang sedang menahan tawa.
"Aku mau istirahat di kamar, Mas!" Ujar Diana cepat, sebelum suaminya merasa tersinggung.
"Baiklah, sayang... " Arga tanpa aba-aba langsung mengangkat Diana ala bride style, lalu berjalan perlahan.
Diana reflek melingkarkan tangannya ke leher Arga karena takut jatuh.
"Aku bisa jalan sendiri, Mas !" Bisik Diana di telinga Arga,
"Nakal!" Ujar Arga sambil tersenyum