Jiang Yuan—18 tahun, hidup terasing di Desa Daun Hijau. Ketika desanya dihancurkan oleh kelompok misterius dari Aula Jiwa, ia terpaksa melarikan diri demi menyelamatkan nyawanya.
Di ambang kematian, Jiang Yuan diselamatkan oleh Wang Ning, seorang tetua kuat dari Sekte Bulan Kabut. Melihat bakat dalam dirinya, Wang Ning menjadikan Jiang Yuan sebagai murid dan membawanya memasuki dunia kultivasi.
Kini, Jiang Yuan harus bertahan di dunia yang kejam dan penuh bahaya, menempuh jalan menuju puncak kekuatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Yue Lianhua dan Chu Chu yang sedang dirawat
Keesokan harinya, sebelum pertandingan besar dimulai, Jiang Yuan memutuskan untuk melakukan kunjungan singkat ke Paviliun Bulan, tempat di mana para murid yang terluka dirawat.
Di sanalah Yue Lianhua dan Chu Chu berada, sementara Mian Shi disebut-sebut berada di tempat lain karena lukanya tidak begitu parah.
Jiang Yuan mendarat dengan tenang di depan Paviliun Bulan, sebuah bangunan yang terbuat dari kayu giok putih dengan atap melengkung khas arsitektur Sekte Bulan Kabut.
Kabut tipis menyelimuti sekitar bangunan, menciptakan suasana yang tenang dan menenangkan, cocok untuk tempat pemulihan.
Ia melangkah masuk tanpa halangan. Meski ada dua penjaga di pintu utama, Jiang Yuan hanya menunjukkan token dari Wang Ning, dan seketika itu sudah cukup untuk membuatnya dihormati. Para penjaga itu membungkuk hormat dan membiarkannya lewat dengan bebas.
Di dalam Paviliun, suasana tidak begitu mewah. Hanya tempat biasa dengan tangga di tengah yang menghubungkan lantai bawah dan atas.
Dinding-dindingnya dicat putih bersih, dihiasi oleh beberapa lukisan pemandangan alam yang menenangkan. Aroma herbal samar tercium di udara, menandakan bahwa tempat ini memang digunakan untuk pengobatan.
Jiang Yuan melangkah ke atas, menuju lantai kedua di mana Yue Lianhua dan Chu Chu dirawat. Ia berhenti di depan pintu sebuah kamar, lalu mengetuk pelan.
Tok. Tok. Tok.
"Masuk," terdengar suara lembut dari dalam.
Jiang Yuan membuka pintu dan melangkah masuk.
Pandangannya langsung menangkap pemandangan yang cukup sederhana di kamar itu, tempat tidur kayu berukir di sudut, meja bundar di tengah, dan beberapa kursi yang tersusun rapi.
Aroma wangi yang menenangkan memenuhi udara, berasal dari lilin-lilin kecil yang menyala di sudut ruangan. Udara terasa sejuk dan segar, dan beberapa lukisan bagus menghiasi dinding, menciptakan suasana yang nyaman.
Yue Lianhua dan Chu Chu duduk di kursi di sekitar meja bundar, keduanya menikmati teh yang mengepulkan uap hangat di atas meja.
Mereka tampak sudah cukup pulih, meski dari ekspresi wajah Chu Chu terlihat bahwa ia masih merasakan sakit di dalam tubuhnya.
Pandangan Jiang Yuan akhirnya mengarah pada kedua wanita itu.
Yue Lianhua mengenakan jubah putih tipis yang longgar, memperlihatkan sedikit lekuk bahunya yang mulus. Rambut hitamnya terurai lembut di bahu, dan meski ia sedang dalam masa pemulihan, kecantikannya tetap terpancar.
Chu Chu di sebelahnya terlihat lebih pucat dari biasanya, namun matanya tetap tajam dan penuh kewaspadaan.
Yue Lianhua meletakkan cangkir tehnya dengan hati-hati. Matanya yang berwarna cokelat muda menatap Jiang Yuan dari bawah ke atas, seolah menilai penampilan pemuda itu.
"Mengapa?" ucapnya, senyuman tipis terbentuk di bibirnya. "Terpana?"
Jiang Yuan hanya tersenyum tipis pada keduanya, mengambil langkah mendekat ke meja.
"Kak Lianhua semakin cantik saja," pujinya dengan nada santai. "Melihatmu seperti ini membuatku lupa bahwa kau sedang dalam masa pemulihan."
Yue Lianhua langsung memutar matanya malas, namun sudut bibirnya terangkat jelas, menandakan bahwa ia senang dipuji meski berusaha menyembunyikannya.
"Dasar pembual," ucapnya dengan nada setengah kesal. "Memangnya siapa yang menyuruhmu memanggilku begitu? Kita tidak sedekat itu."
"Memangnya tidak boleh?" balas Jiang Yuan dengan nada ringan. "Kita satu puncak, satu sekte. Bukankah wajar jika aku memanggilmu dengan lebih akrab?"
Chu Chu menghela napas pelan, memotong percakapan mereka yang mulai melebar.
"Baiklah. Sudah cukup," ucapnya, suaranya lemah namun masih mengandung otoritas.
Ia menatap Jiang Yuan, kakinya yang mulus sedikit bergeser membuat roknya tersingkap sedikit, memperlihatkan kulit pahanya yang putih. Namun ia tampak tidak peduli.
"Kau datang ke sini, pasti karena suruhan Tetua Ning, kan? Ada apa?"
Jiang Yuan mengangguk, mengambil kursi di samping meja dan duduk dengan nyaman. Ia menatap kedua wanita di hadapannya dengan ekspresi serius.
"Aku hanya ingin tahu, siapa lawanku nanti," jelasnya. "Siapa yang perlu diwaspadai."
Chu Chu menatap Yue Lianhua, seolah menyuruh wanita itu untuk menjelaskan. Yue Lianhua mengangguk paham, lalu menatap Jiang Yuan dengan tatapan serius.
"Ling Xi," ucapnya, suaranya menjadi lebih rendah. "Dia adalah orang yang paling berbahaya di Puncak Angin. Wanita itu telah berada di Ranah Da Dou Shi tahap akhir selama bertahun-tahun. Kekuatan pengendalian anginnya sudah berada di tingkat yang berbeda dari kebanyakan kultivator."
Mata Yue Lianhua menyipit saat mengingat pertarungan sebelumnya.
"Bahkan Nona Chu yang berada di ranah yang sama pun terluka parah saat melawannya," lanjutnya, menoleh ke arah Chu Chu.
Chu Chu mengangguk, ekspresi wajahnya menjadi gelap.
"Meski terlihat baik-baik saja sekarang, sebenarnya luka dalamku cukup parah," ucapnya, suaranya sedikit serak. "Tidak bisa bertarung lagi dalam waktu dekat. Dia benar-benar meremehkanku, bahkan hanya mengerahkan setengah kekuatannya untuk melawanku."
Ia menggigit bibirnya, rasa malu dan marah bercampur di matanya.
"Sungguh mempermalukan Puncak Teratai."