NovelToon NovelToon
Romansa Malam Di Jogjakarta

Romansa Malam Di Jogjakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:351
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Di tengah guyuran hujan Kota Senja, Arya menemukan lebih dari sekadar buku sejarah di perpustakaan tua—ia bertemu dengan Naya, seorang gadis misterius yang secara tak terduga membuat hatinya berdebar. Pertemuan yang terasa seperti kebetulan itu berubah menjadi awal dari sebuah misteri besar, ketika Arya menemukan foto tua tersembunyi yang mengungkapkan hubungan tak terduga: wajah Naya sangat mirip dengan wanita yang terlihat bersama ibunya, yang menghilang secara misterius setahun lalu tanpa meninggalkan jejak.

Dibakar oleh rasa penasaran dan keinginan untuk menemukan kebenaran di balik hilangnya ibunya, Arya mulai menyelidiki masa lalu keluarga-keluarga besar di kota itu. Semakin ia menggali, semakin ia menyadari bahwa pertemuan dengan Naya bukanlah kebetulan belaka. Di balik ketenangan Kota Senja, tersimpan rahasia kelam, persekutuan tersembunyi, dan kekuatan yang selama ini berusaha ditutup-tutupi. Arya harus berhati-hati, karena setiap langkahnya menuntunnya lebih dekat pada bahaya—dan pada kenyataan yang bisa mengubah seluruh hidupnya selamanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24

Lantai B3. Ruangan seluas 100 meter persegi, langit-langit rendah, dinding beton kasar yang dicat hijau kusam, lantai semen yang selalu basah dan licin karena rembesan air tanah. Di tengah ruangan, ada saluran parit kecil panjang di tengah lantai, mengalirkan segala cairan kotor—air, darah, air mata, urin, muntah—keluar ke selokan utama.

Penerangan hanya berasal dari empat bola lampu kuning 40 watt yang bergoyang pelan karena angin ventilasi, menciptakan bayangan panjang, bergoyang, dan menyeramkan di sekujur dinding. Di sepanjang dinding kiri dan kanan, berjajar tiang-tiang besi tebal, rantai besar, borgol, dan alat-alat besi berbentuk aneh yang fungsinya lebih untuk menimbulkan rasa sakit daripada membunuh.

Dan di sini, malam ini, ruangan itu penuh.

Dua puluh delapan anggota Macan Hitam—pasukan elit pembunuh, preman paling ganas, orang-orang yang tidak pernah mengenal kata takut atau sakit—sekarang terbaring di lantai, tangan dan kaki terikat erat dengan tali nilon tebal ke tiang besi atau satu sama lain. Mulut mereka tersumpal kain kotor. Mata mereka terbelalak ketakutan, penuh kebingungan, sakit kepala luar biasa akibat gas, dan panik murni. Mereka bergeliat, mendengus, meronta, tapi tak berdaya sama sekali.

Di sisi kanan ruangan, terpisah dari yang lain, terikat pada kursi kayu tua yang kokoh, duduklah Bimo.

Pria berusia 35 tahun itu, dengan wajah tirus, mata cekung, dan rambut berminyak, dulunya adalah asisten pribadi paling dipercaya Andri Andalan. Orang yang tahu segalanya: jadwal, rahasia, kata sandi, kelemahan. Sekarang, kemeja putihnya robek-robek, kacamatanya pecah, wajahnya lebam biru bekas pukulan Raga saat ditangkap. Matanya melirik liar, penuh keringat dingin, bibirnya gemetar tak terkendali. Dia tahu nasibnya sudah ditutup. Dia tahu apa yang terjadi pada pengkhianat di kerajaan ini.

Di sisi lain ruangan, berdiri kelompok utama.

Sari Dewi.

Gadis itu duduk santai di atas meja kerja besi tua di ujung ruangan, kaki kecilnya menjuntai, bersandar malas pada tumpukan berkas lama. Dia masih mengenakan pakaian rapi, bersih, dan cerah: blazer merah darah, rok hitam, sepatu kulit mengkilap. Kontras yang mengerikan antara kemurnian visualnya dengan kengerian di sekelilingnya. Dia terlihat seperti turis yang sedang berkunjung ke kebun binatang, bukan ratu yang sedang mengadili nyawa manusia.

Di sebelahnya, berdiri Andri Andalan.

Pria tua itu terlihat hancur. Dia berdiri bungkuk, tangan gemetar memegang tepi meja, wajahnya pucat seperti kertas, matanya menatap Bimo dengan ekspresi campuran rasa tidak percaya, rasa sakit hati yang mendalam, dan kemarahan yang bingung. Bimo adalah anak buah yang dia angkat dari jalanan, yang dia sekolahkan, yang dia beri makan, tempat tinggal, gaji besar, dan kepercayaan mutlak. Andri menganggap Bimo seperti anak sendiri. Dan pengkhianatan ini menusuk jantung Andri lebih tajam daripada pisau apa pun.

Di depan meja, berdiri Arya Pratama.

Pria itu sudah berganti pakaian. Dia tidak lagi pakai baju lusuh pembantu. Raga memberinya celana panjang hitam dan kaos putih polos. Dia berdiri tegak, bahu lebarnya kembali melebar, otot-otot lengannya yang kering tapi keras terlihat menonjol di balik kain tipis. Wajahnya kosong. Mata hitamnya mati. Dia tidak terlihat seperti ayah yang sedih atau suami yang cemas. Dia terlihat seperti Alat. Sebuah pisau tajam yang dingin dan netral. Di tangan kanannya, dia memutar-mutar batang besi kecil sepanjang 20 cm, ujungnya tumpul tapi kasar.

Di belakang Arya, di sudut gelap, berdiri Naya Andalan. Dia berdiri memeluk tubuhnya sendiri, gemetar hebat, wajah tertutup tangan, menangis diam, tak sanggup melihat apa yang akan terjadi.

Dan mengawasi segalanya, berkeliling ruangan dengan langkah tenang dan berbahaya, Raga Wijaya. Tangan di pinggang, mata tajam memindai setiap gerakan kecil dari tahanan, siap menindak secepat kilat.

Keheningan panjang, berat, dan mencekam menyelimuti ruangan. Hanya terdengar suara tetesan air dari langit-langit dan napas berat orang-orang terikat.

Akhirnya, Sari Dewi angkat bicara. Suaranya renyah, muda, polos, dan ceria. Suara anak SD yang sedang bertanya tentang pelajaran sekolah.

"Jadi, Pak Bimo..." Sari memulai, mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap pria itu dengan minat besar, seolah dia adalah objek penelitian menarik. "Bapak yang kasih tahu Pak Riko Surya kan? Bapak yang bilang: 'Andri sudah gila. Andri lemah. Andri dikendalikan cucu kecil. Gedung kosong. Datang malam ini, gampang banget bunuh dia.' Itu benar, kan?"

Bimo tersentak hebat di kursinya. Matanya melotot menatap gadis kecil itu, mulutnya terbuka-tutup, suaranya keluar serak, pecah, dan panik.

"S-saya... saya tidak... saya tidak tahu apa-apa!! Nona, percayalah!! Saya setia!! Saya setia sama Tuan Andri!! Ini salah paham!! Riko menangkap keluarga saya!! Dia ancam bunuh istri dan anak saya kalau saya tidak bilang!! Saya terpaksa!! Saya tidak mau!! Saya terpaksa!!"

Air mata, ingus, dan keringat bercampur mengalir di wajah Bimo. Dia menangis, meratap, membela diri, mencari simpati. Dia beralih menatap Andri, matanya penuh permohonan putus asa.

"Tuan!! Tuan Andri!! Tuan tahu saya!! Tuan tahu saya orang baik!! Saya anak buah tuan paling setia selama 10 tahun!! Tuan angkat saya dari sampah!! Saya tidak akan pernah khianati tuan!! Saya cinta tuan seperti ayah saya sendiri!! Ampuni saya, Tuan!! Ampuni kebodohan saya!! Saya terpaksa!!"

Andri Andalan gemetar hebat. Rasa kasihan, rasa nostalgia, dan rasa cinta lama pada anak buahnya itu meluap di dada tuanya. Matanya berkaca-kaca. Mulutnya terbuka, dia hampir saja bicara, hampir saja teriak: 'Lepaskan dia! Dia benar! Dia orang baik! Dia terpaksa! Maafkan dia!'

Tapi sebelum satu kata pun keluar, dia merasakan sentuhan halus di punggung tangannya.

Jari-jari kecil, dingin, dan halus milik Sari Dewi menyentuh punggung tangan Andri. Sari tidak menatapnya. Dia masih menatap Bimo, tapi jarinya mengusap-usap punggung tangan Andri dengan gerakan lambat, lembut, dan menenangkan.

Dan di saat yang sama, Sari berbisik. Sangat pelan. Hanya terdengar oleh Andri.

"Lihat dia, Kakek. Lihat betapa indahnya aktingnya. Dia menangis. Dia meratap. Dia bilang dia cinta kamu seperti ayah. Tapi tahukah kamu, Kakek sayang? Seminggu yang lalu, dia tidur dengan musuhmu. Dia minum dengan musuhmu. Dia tertawa saat mendengar kamu sakit. Dia bilang kamu orang tua bodoh, konyol, dan sudah waktunya mati supaya dia bisa makan daging bangkai kerajaanmu. Dia tidak takut sama Riko, Kakek. Dia suka sama Riko. Dia kagum sama Riko. Dia pikir Riko lebih hebat, lebih muda, lebih kuat, lebih berkuasa dari kamu. Dia khianati kamu bukan karena terpaksa... dia khianati kamu karena dia meremehkan kamu. Dia pikir kamu sudah selesai. Dia pikir kamu sampah. Dan dia pikir... aku, cucu kecilmu ini... aku mainan. Dia pikir aku boneka."

Setiap kata itu menusuk langsung ke titik paling sensitif, paling rapuh, dan paling gelap di hati Andri Andalan: Egonya. Harga dirinya. Rasa takut dianggap lemah dan tua.

Darah Andri mendidih. Kasih sayang lama menguap seketika, digantikan oleh rasa malu, rasa hinaan, dan kemarahan membara. Dia ingat sekarang. Dia ingat tatapan mata Bimo akhir-akhir ini. Tatapan yang dulu penuh hormat dan takut... sekarang penuh rasa kasihan, acuh tak acuh, dan sedikit senyum sinis.

Benar. Bimo meremehkannya. Bimo menganggapnya sampah. Bimo mengira dia lemah.

Dan Bimo berani menganggap cucu kesayangannya, Sari Dewi, malaikat hidupnya... mainan.

Wajah Andri berubah merah padam, lalu ungu gelap. Urat lehernya menonjol. Giginya gemeretak keras. Matanya yang satu menyala api kebencian murni yang liar.

"BAJINGAN!!" raung Andri tiba-tiba, suaranya menggelegar, parau, dan mengerikan, mengejutkan semua orang di ruangan itu. "ANAK HARAM!! KAU BERANI?! AKU ANGKAT KAU DARI GOT!! AKU BERI KAU SEMUA!! DAN KAU BALAS DENGAN MENJUAL AKU KE BINATANG SEPERTI RIKO?! KAU BERANI MENGANGGAP AKU LEMAH?! KAU BERANI MENGANGGAP CUCUKU MAINAN?!"

Andri maju selangkah, tangan gemetar ingin mencekik, matanya melotot nyaris keluar.

"MATI KAU!! AKU BUNUH KAU SENDIRI!! AKU ROBEK LIDAH KAU!! AKU POTONG KELAMIN KAU!! AKU MAKAN JANTUNG KAU HIDUP-HIDUP!!"

Sari Dewi tersenyum puas di dalam hati. Umpan dimakan total. Dia berhasil mengubah emosi Andri dari Kasihan -> Rasa Hina -> Kemarahan Maut. Dia berhasil membuat Andri membenci Bimo lebih dari siapa pun. Sekarang, Andri tidak akan minta ampun untuk Bimo. Andri akan menuntut kematian dan penderitaan Bimo.

Sari menarik tangannya dari tangan Andri, lalu menoleh perlahan ke arah Arya Pratama. Tatapan mata gadis itu dingin, datar, perintah mutlak.

"Ayah," ucap Sari santai, seolah menyuruh ayahnya mengambilkan gelas air. "Bicarakan sama Pak Bimo. Ayah kan pintar bicara. Ayah tahu cara bikin orang ingat-ingat semuanya. Pastikan Pak Bimo ingat siapa saja teman-temannya yang setuju rencana ini. Siapa saja di kantor, di perusahaan, di polisi, di pemerintahan yang bilang Kakek sudah selesai. Aku mau nama, Ayah. Banyak nama. Dan tolong... pastikan Pak Bimo bicara jujur. Aku benci pembohong."

Arya Pratama mengangguk pelan. Dia tidak menatap putrinya. Dia menatap Bimo. Dan di mata Arya, Bimo melihat sesuatu yang lebih menakutkan daripada api, lebih menakutkan daripada pisau. Dia melihat Kekosongan. Dia melihat pria yang jiwanya sudah mati, pria yang tidak punya hati nurani, tidak punya rasa kasihan, tidak punya rasa bersalah. Arya tidak akan menyiksa karena dia jahat. Arya akan menyiksa karena itu pekerjaan. Karena itu perintah. Dan dia akan melakukannya dengan efisiensi, ketepatan, dan kedalaman yang hanya dimiliki oleh mantan interogator terbaik militer negara.

Arya melangkah maju. Langkah berat, lambat, menggema di lantai semen. Dia berhenti tepat di depan wajah Bimo. Dia tidak langsung pukul. Dia tidak langsung potong. Dia hanya berdiri di sana, menatap mata Bimo lekat-lekat, napasnya terasa hangat di wajah pria itu.

"Kamu bilang kamu terpaksa," bisik Arya pelan, suaranya rendah, serak, dan menakutkan karena sangat tenang. "Kamu bilang Riko ancam keluarga kamu."

"I-iya!! Iya, Pak Arya!! Tolong!! Saya ayah!! Saya suami!! Saya cuma mau lindungi mereka!!" seru Bimo cepat, berusaha meraih simpati Arya, berharap mantan pahlawan ini punya hati, berharap Arya mengerti posisinya sebagai ayah.

Arya tersenyum tipis. Senyum yang mengerikan karena tidak sampai ke matanya.

"Aku juga ayah, Bimo," bisik Arya, tangannya perlahan terangkat, memegang dagu Bimo dengan cengkeraman besi yang kuat, memaksa wajah Bimo mendongak, menatap matanya. "Aku juga suami. Dan ingat? Aku juga pernah punya anak yang aku pikir manis, polos, dan tidak bersalah. Aku juga pernah pikir aku bisa lindungi keluarga aku. Aku juga pernah pikir kalau aku baik, kalau aku patuh, kalau aku jujur... semuanya akan baik-baik saja."

Jari-jari Arya yang kasar dan keras mulai menekan titik-titik sensitif di wajah Bimo: di bawah rahang, di tulang pipi, di bawah mata. Tekanan itu sakit, tajam, membuat mata Bimo berair dan pandangannya kabur.

"Dan tahukah kamu apa yang aku pelajari, Bimo?" bisik Arya, matanya menyala dengan kegilaan dingin. "Aku belajar satu kebenaran terbesar di dunia ini: **Tidak peduli seberapa baik kamu, seberapa setia kamu, seberapa banyak kamu berkorban... pada akhirnya, kalau kamu lemah, kamu akan kalah. Kamu akan dijual. Kamu akan disiksa. Dan orang yang kamu cintai... akan mati atau menderita. Kesalahan terbesar kamu, Bimo... bukan kamu khianati Andri. Kesalahan terbesar kamu adalah kamu lemah. Kamu penakut. Kamu tidak punya nyali. Kamu memilih jalan mudah: Mengkhianati tuanmu demi nyawa sendiri. Dan orang penakut seperti kamu... orang yang menjual harga dirinya demi sedikit waktu hidup tambahan... orang macam itu tidak pantas dikasihani. Orang macam itu cuma pantas dihancurkan."

KRAKK!!

Tanpa peringatan, tanpa amarah, tanpa suara, Arya menggerakkan batang besi kecil di tangannya. Dia tidak memukul. Dia tidak merobek. Dia hanya menekan ujung batang besi yang kasar itu dengan kekuatan penuh tepat ke selangkangan Bimo, tepat di titik lunak di antara tulang kemaluan dan tulang panggul.

Itu bukan pukulan yang mematikan. Itu pukulan yang mematikan rasa sakit.

Rasa sakit itu bukan tajam seperti pisau. Rasa sakit itu dalam, pekat, menusuk sampai ke sumsum tulang, sampai ke otak, meledak seperti petir di seluruh saraf tubuh. Rasa sakit yang membuatmu merasa tubuhmu sedang dipelintir, diremas, dan dibakar sekaligus.

"AAAAAAARRRRRGGGGHHHHHH!!!! ALLAHHHH!!!! SAKITTT!!!! AMPUNNN!!!!"

Bimo melengkungkan tubuhnya ke belakang sekuat tenaga, otot-ototnya menonjol sampai siap putus, urat lehernya tegang biru, mulutnya menganga lebar berteriak sampai pita suaranya nyaris putus, air mata, keringat, dan ingus membanjiri wajahnya. Tubuhnya kejang-kejang tak terkendali, kotorannya sendiri keluar, membasahi celananya.

Arya tidak melepaskan. Dia tetap menekan. Kuat. Mantap. Dingin. Matanya tetap menatap mata Bimo.

"Sakit?" tanya Arya datar. "Ini baru permulaan, Bimo. Ini cuma level satu. Aku hafal 47 titik di tubuh manusia yang kalau ditekan atau dipukul, akan menghasilkan rasa sakit yang luar biasa, tanpa membunuh, tanpa melukai parah, tanpa meninggalkan bekas yang terlihat. 47 titik, Bimo. Dan aku akan kunjungi semuanya satu per satu. Aku bisa bikin kamu merasa sakit sampai tulang-tulangmu menangis, sampai otakmu minta mati, sampai kamu lupa nama ibumu sendiri, sampai kamu rela potong diri sendiri asal rasa sakitnya berhenti. Dan aku bisa lakukan ini... berjam-jam. Tanpa istirahat."

Arya menarik sedikit batang besi itu, lalu menekannya lagi, lebih keras, sedikit bergeser ke kiri.

"AAAAAAHHHHH!!!! JANGAAA!! JANGAAA!! AKU BICARA!! AKU BICARA SEMUAANYAAA!!!!" jerit Bimo histeris, keputusasaan murni di matanya. Dia sudah menyerah. Dia sudah hancur.

"Bagus," kata Arya tenang, melepaskan tekanan, mundur selangkah. "Bicara. Semuanya. Nama. Tempat. Waktu. Cara. Siapa yang terlibat. Siapa yang tahu. Jangan ada yang terlewat. Kalau aku rasa kamu bohong sedikit saja... aku mulai lagi dari titik nomor dua. Dan titik nomor dua jauh lebih sakit dari ini."

Tergelincir, tersendat, terputus-putus di antara isak tangis, erangan sakit, dan napas tersengal-sengal, Bimo bicara. Dia membocorkan segalanya.

Dia bicara tentang jaringan korupsi di departemen keuangan perusahaan. Dia bicara tentang dua komisaris utama yang diam-diam sudah bekerja sama dengan Riko Surya setahun lalu. Dia bicara tentang kapten polisi distrik yang menerima suap bulanan. Dia bicara tentang pejabat pemerintah tinggi yang membenci Andri. Dia bicara tentang rencana besar untuk merebut seluruh aset Wijaya-Andalan, membaginya di antara mereka, dan membunuh Andri serta keluarganya tanpa jejak.

Dia bicara sampai mulutnya berbusa, sampai otaknya kosong, sampai dia tidak ingat lagi apa yang dia katakan. Dia bicara demi satu hal saja: Agar rasa sakitnya berhenti.

Di sepanjang pengakuan itu, Sari Dewi duduk diam, mendengarkan, mengangguk pelan, wajahnya serius, matanya bersinar terang mencatat setiap nama, setiap detail, setiap hubungan. Dia tidak jijik. Dia tidak kasihan. Dia hanya mengumpulkan data. Setiap nama yang disebut adalah target. Setiap nama yang disebut adalah musuh. Dan setiap musuh... akan dihapus.

Dan yang paling penting bagi Sari: Dia melihat reaksi Andri.

Setiap kali Bimo menyebut nama teman lama, nama orang yang Andri percaya, nama orang yang Andri anggap sahabat, nama orang yang Andri beri kekayaan dan jabatan... wajah Andri semakin hancur, semakin pucat, semakin tua. Setiap pengakuan adalah pukulan mematikan bagi jiwa Andri.

'Pak Komisaris Haris? Dia juga? Tapi dia teman masa kecilku... aku nikahkan anaknya... aku bayar biaya pengobatan istrinya...'

'Kapten Dedi? Tapi dia jadi kapten karena rekomendasi aku... aku yang angkat dia dari sersan...'

'Walikota Ardi? Kami main golf tiap minggu... kami makan malam bareng...'

Dunia Andri runtuh perlahan di depan matanya. Seluruh hidupnya, seluruh pencapaiannya, seluruh kekuasaannya... ternyata dibangun di atas pasir busuk. Semua orang di sekelilingnya—semua yang dia percaya, semua yang dia kasihi, semua yang dia angkat—adalah pengkhianat. Semua orang hanya berpura-pura. Semua orang menunggu dia jatuh. Semua orang membenci dia atau meremehkan dia.

Dia sendirian. Benar-benar sendirian di dunia ini. Tidak ada teman. Tidak ada sahabat. Tidak ada anak buah setia.

Kecuali satu orang.

Mata Andri perlahan beralih, perlahan mencari, dan terkunci pada sosok kecil di atas meja besi itu.

Sari Dewi.

Hanya dia. Hanya cucu kecilnya ini. Hanya dia yang tahu. Hanya dia yang waspada. Hanya dia yang melihat kebenaran. Hanya dia yang menyelamatkan dia malam ini. Kalau bukan karena Sari... Andri pasti sudah mati malam ini. Mati dikhianati, mati dibunuh, mati konyol, mati tanpa kehormatan.

Air mata bersih, tulus, dan penuh rasa bersalah mengalir deras di pipi keriput Andri. Dia menangis. Tangisan pria tua yang sadar dia bodoh, dia buta, dia lemah, dan dia tidak berguna. Dia menangis karena dia sadar: Dia bukan pelindung Sari. Sari is the one who protects him. Dia bukan Raja. Dia beban. Dia beban berat bagi cucunya yang mungil, cerdas, dan berani ini.

"Maafkan aku, Sayangku..." bisik Andri pelan, suaranya hancur, tubuhnya ambruk berlutut di lantai semen kotor itu, tidak peduli debu, tidak peduli kotoran, tidak peduli orang melihat. Dia berlutut di depan cucunya. "Maafkan Kakek... Kakek bodoh... Kakek buta... Kakek tua... Kakek percaya sampah... Kakek hampir mati... Kakek hampir biarkan kamu mati... Kamu yang hebat... Kamu yang pintar... Kamu yang kuat... Kamu Tuhan aku... Maafkan aku..."

Ini adalah momen titik balik mutlak.

Andri Andalan, sang Penguasa Kota, sang Diktator, Raja Bawah Tanah, pria yang tidak pernah berlutut pada siapapun selain Tuhan... kini berlutut di depan gadis 13 tahun. Secara fisik, mental, dan spiritual, dia menyerahkan segalanya. Dia menyerahkan nyawanya, jiwanya, kekuasaannya, harga dirinya. Dia menjadi budak mutlak. Bukan karena dipaksa. Tapi karena rasa bersalah, rasa syukur, dan kekaguman buta.

Sari Dewi menatap kakeknya yang berlutut dan menangis di kakinya. Dia menunduk, matanya dingin, kosong, dan puas.

Selesai. Boneka itu sekarang terikat mati. Benar-benar mati. Andri tidak akan pernah lagi mempertanyakan perintahnya. Andri tidak akan pernah lagi punya pikiran sendiri. Andri tidak akan pernah lagi percaya orang lain selain dia. Andri adalah miliknya 100%. Jiwa, raga, dan otak.

Sari turun dari meja. Dia berjongkok di depan Andri, tangan kecilnya mengusap rambut putih kusam itu dengan lembut, penuh kasih sayang palsu. Dia mencium kening kakeknya, mencium air mata di pipinya.

"Sudah, Kakekku sayang... jangan menangis. Semuanya sudah selesai. Semuanya aman sekarang. Ada aku di sini. Aku tidak akan pernah khianati Kakek. Aku tidak akan pernah tinggalkan Kakek. Kita berdua saja, Kakek. Hanya kita berdua melawan dunia. Aku dan Kakek. Selamanya."

Bisikan itu seperti racun manis yang langsung masuk ke pembuluh darah Andri. Dia memeluk pinggang cucunya erat-erat, menyandarkan kepalanya di perut gadis itu, menangis seperti bayi yang ketakutan.

"Iya... iya... Hanya kita... Hanya kamu... Aku milikmu... Aku budakmu... Lakukan apa saja sama aku... Bunuh aku kalau kamu mau... Asal kamu jangan pergi..."

Sari melepaskan pelukan Andri perlahan. Dia berdiri tegak, membiarkan pria tua itu tetap berlutut dan memeluk kakinya. Dia berbalik menghadap ruangan, menghadap Arya, menghadap Raga, menghadap 28 anggota Macan Hitam yang masih terikat, pucat, dan gemetar ketakutan melihat adegan di depan mata mereka.

Mereka melihat Raja mereka berlutut pada anak kecil. Mereka melihat Raja mereka menangis minta maaf pada anak kecil. Mereka melihat Raja mereka menjadi hantu.

Kewibawaan Andri Andalan mati malam ini. Di mata semua orang di ruangan ini, Andri sudah mati. Yang hidup sekarang hanyalah bayangan. Dan penguasa sesungguhnya, Sang Ratu Baru, berdiri tegak di tengah ruangan, kecil, rapuh, tapi mengerikan.

Sari menunjuk ke arah Bimo yang terkulai lemas di kursi, setengah mati, keringatan dingin, matanya melotot kosong, mulutnya menganga.

"Bimo sudah selesai," ucap Sari dingin, tanpa emosi, seolah sedang membuang sampah. "Dia sudah tidak berguna. Dia tahu terlalu banyak, tapi dia tidak punya nilai lagi. Dia pengecut, dia pengkhianat, dia lemah. Aku tidak suka orang lemah."

Dia menoleh ke Raga.

"Paman Raga, ambil dia. Bawa ke tempat biasa. Buat dia 'hilang'. Tapi pastikan jangan sampai mati cepat. Biarkan dia hidup sedikit lagi, biarkan dia berpikir, biarkan dia menyesali kebodohannya. Buat dia jadi contoh buat tikus-tikus lain di luar sana. Katakan pada semua orang: Siapa yang mengkhianati Sari Dewi atau Keluarga Wijaya-Andalan... nasibnya jauh lebih buruk daripada mati."

"Siap, Nona," jawab Raga dingin, memberi isyarat pada dua anak buahnya. Mereka menarik Bimo yang tak berdaya itu keluar ruangan, diseret kaki, kepalanya memantul-mantul di lantai semen. Suara rintihan Bimo perlahan menghilang di lorong gelap.

Sari kemudian berjalan perlahan menyusuri barisan anggota Macan Hitam. Dia berjalan di antara mereka, sepatu kecilnya melangkah tenang di antara genangan air dan kotoran. Dia berhenti di depan setiap wajah, menatap mata mereka satu per satu.

Mata mereka penuh kebencian, ketakutan, rasa malu, dan tantangan. Mereka adalah pembunuh. Mereka adalah serigala. Mereka tidak takut mati. Tapi mereka takut pada gadis ini. Mereka takut pada apa yang dia lakukan pada mental bos besar mereka, Andri. Mereka takut pada kecerdasannya, pada dinginnya hatinya, pada kekejamannya yang tidak manusiawi.

Akhirnya, Sari berhenti di depan pria besar bertato naga di wajah, yang terikat di ujung barisan. Riko Surya.

Riko, pria yang gagah, kejam, dan arogan itu, sekarang terlihat kacau. Baju robek, wajah lebam, tatonya tercoreng kotor, mulutnya berdarah. Dia menatap Sari Dewi dengan mata merah menyala penuh kebencian dan penghinaan liar. Dia meludah ke arah kaki Sari.

"Kau... kau setan kecil..." desis Riko serak, matanya melotot. "Kau penyihir... Kau pakai sihir... Kalau aku bebas... aku akan robek kau... aku akan perkosa kau... aku akan makan dagingmu mentah-mentah... kau makhluk terkutuk..."

Ancaman kasar, kotor, dan liar keluar dari mulut Riko. Dia mencoba mengintimidasi. Dia mencoba menunjukkan dia tidak takut.

Sari Dewi tidak mundur. Dia tidak marah. Dia tidak jijik. Dia hanya menunduk, menatap ludah kotor itu di sepatu kulitnya yang bersih. Lalu, perlahan, dia mengangkat wajahnya, menatap mata Riko.

Dan Riko merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya. Riko, yang pernah disiksa, ditembak, ditusuk, dikepung polisi, dan menghadapi maut ribuan kali... tiba-tiba merasakan teror sejati.

Di mata gadis kecil itu, Riko tidak melihat kemarahan. Dia tidak melihat dendam. Dia tidak melihat manusia.

Dia melihat Kekosongan Total. Dia melihat lubang hitam tak berdasar yang menyerap segalanya. Dia melihat makhluk yang tidak punya jiwa, tidak punya rasa sakit, tidak punya batasan. Dia melihat sesuatu yang jauh lebih tua, jauh lebih pintar, dan jauh lebih jahat daripada dirinya. Sesuatu yang menganggap hidup dan mati manusia sama tidak berharganya dengan semut.

"Kau marah, Pak Riko?" bisik Sari Dewi lembut, suaranya halus seperti beludru tajam. "Kau marah karena kau kalah dari anak kecil? Kau malu karena pasukan elitmu dikalahkan oleh gadis 13 tahun? Kau kesal karena rencanamu yang cerdik ternyata bodoh sekali?"

Sari tertawa kecil, renyah, mengerikan.

"Kau tahu, Pak Riko... kau benar. Aku bukan manusia. Aku bukan malaikat. Aku bukan iblis kecil. Aku adalah Alam Semesta. Aku adalah Hukum Alam. Aku adalah evolusi selanjutnya. Manusia seperti kau, Andri, Arya, Bimo... kalian penuh kelemahan. Kalian penuh emosi. Kalian penuh cinta, benci, takut, harapan, ambisi, keserakahan. Dan itu semua... itu semua adalah celah. Celah yang bisa dimanfaatkan. Celah yang bisa dipukul sampai kalian hancur."

Sari mendekatkan wajahnya, bibirnya hampir menyentuh telinga Riko.

"Tapi aku? Aku tidak punya celah. Aku tidak cinta. Aku tidak benci. Aku tidak takut mati. Aku tidak peduli hidup. Aku cuma ada. Dan aku cuma mau satu hal: Menang. Aku harus menang. Aku harus di atas. Dan semua yang menghalangi aku... semua yang lebih rendah dari aku... akan hancur. Seperti kau."

Dia mundur setengah langkah, menatap Riko dengan tatapan menilai.

"Kau berani. Aku akui itu. Kau jahat. Kau kuat. Kau tidak pengecut seperti Bimo. Itu kualitas bagus. Sayang sekali kau bodoh. Sayang sekali kau pilih musuh yang salah."

Sari berbalik badan, membelakangi Riko, seolah pria besar itu sudah mati dan tidak penting lagi. Dia berbicara pada Raga dan Arya.

"Riko Surya dan 25 orang ini..." Sari mengangguk pada tahanan yang masih hidup. "Mereka pembunuh. Mereka penjahat. Mereka berani serang kita. Mereka mau bunuh aku dan Kakek. Mereka tidak pantas hidup. Tapi..."

Sari berhenti, senyum jahat melintas di wajahnya.

"...Membunuh mereka sekarang terlalu cepat. Terlalu gampang. Itu anugerah buat mereka. Mereka mau mati sebagai pahlawan, mati sebagai preman tangguh. Aku tidak mau kasih kepuasan itu."

Dia berbalik kembali, menatap Riko dan anak buahnya yang mendengarkan dengan cemas.

"Kalian semua... kalian adalah perusahaanku baru. Aku punya banyak pekerjaan berat. Aku punya banyak musuh. Aku butuh orang-orang kuat, orang jahat, orang yang tidak peduli nyawa. Mulai hari ini, kalian bukan lagi Macan Hitam. Macan Hitam sudah mati. Kalian sekarang adalah Anak-Anak Iblis. Pasukan pribadi saya. Tentara bayaran saya. Hamba-hamba saya."

Suasana hening. Mata semua tahanan membelalak tak percaya.

"Aku kasih kalian pilihan," suara Sari tegas, dingin, mutlak. "Pilihan pertama: Aku suruh Ayahku, Pak Arya, bekerja sama sama kalian. Dia akan potong-potong kalian satu per satu. Dia akan mulai dari jari kelingking, jari kaki, telinga, hidung, alat kelamin. Dia akan bikin kalian hidup berbulan-bulan dalam rasa sakit murni sampai kalian mohon mati. Dan pada akhirnya, kalian akan mati konyol, tanpa nama, tanpa kehormatan, dikubur di got."

Dia berhenti, memberi waktu mereka membayangkan neraka itu.

"Pilihan kedua: Kalian bersumpah setia mutlak. Kalian jadi milikku. Jiwa, raga, darah, nyawa. Kalian bunuh siapa aku suruh. Kalian pergi ke mana aku perintah. Kalian lakukan apa aku mau. Tanpa tanya. Tanpa ragu. Tanpa rasa kasihan. Dan selama kalian berguna, selama kalian patuh... kalian hidup. Kalian makan enak. Kalian minum enak. Kalian punya uang, wanita, kekuasaan. Dan suatu hari... kalau kalian mati dengan patuh... aku akan kasih kalian mati cepat, bersih, dan kuburan layak."

Sari mencondongkan tubuhnya, matanya menyala hipnotis, merasuk ke otak setiap orang di sana.

"Pilihannya gampang sekali, kan? Rasa Sakit Abadi vs Kekuasaan & Kenikmatan."

Dia menunjuk Riko Surya langsung.

"Kau bos mereka. Kau pilih dulu, Pak Riko. Apa yang kau mau? Kau mau jadi pahlawan mati menyakitkan... atau kau mau jadi anjingku yang paling ganas, paling berbahaya, dan paling berkuasa di bawah aku? Ingat, Riko... kau preman. Kau tahu aturan jalanan. Menang ambil semua. Kalah jadi budak. Kau kalah. Sekarang, pilihlah nasibmu."

Riko Surya bernapas berat, napasnya kasar, dadanya naik turun. Dia menatap gadis kecil itu. Dia benci dia. Dia ingin merobeknya. Tapi dia juga takut dia. Dan dia juga... kagum. Dia kagum pada keberaniannya, kecerdasannya, dan dominasinya mutlak. Dia sadar: Dia tidak bisa mengalahkan monster ini. Tidak sendirian. Tidak sekarang.

Dan Riko Surya adalah preman sejati. Preman sejati tidak mati demi harga diri kosong. Preman sejati hidup demi kekuasaan, demi kesempatan balas dendam, demi peluang naik kembali.

Dia tahu dia tidak bisa melawan Sari sekarang. Tapi kalau dia jadi anak buahnya... dia hidup. Dia punya posisi. Dia punya kekuatan. Dan suatu hari... mungkin... mungkin dia bisa cari celah. Mungkin dia bisa menusuk dari belakang.

Riko meludah lagi, kali ini ke samping, bukan ke arah Sari. Dia menundukkan kepala besarnya, perlahan, berat, penuh rasa pahit dan dendam terpendam.

"Aku..." suara Riko parau, berat, tercekik. "Aku ikut. Aku jadi anjingmu. Aku jadi budakmu. Aku lakukan apa saja."

Senyum lebar, indah, dan penuh kemenangan mekar di wajah Sari Dewi.

"Bagus!!" seru Sari riang, bertepuk tangan kecilnya gembira. "Lihat? Gampang sekali kan? Aku tahu kau orang pintar, Pak Riko. Aku tahu kita sehati. Kita sama. Kita serigala. Bedanya, aku Serigala Alfa. Dan kalian serigala kawanan."

Dia menatap anggota lainnya.

"Dan kalian? Ada yang mau ikut pahlawan mati sama si bodoh Bimo? Atau kalian mau ikut bos baru kalian, Pak Riko, dan hidup mewah di bawah aku?"

Tidak ada yang bicara. Tidak ada yang protes. Satu per satu, kepala-kepala itu menunduk. Dua puluh lima pembunuh ganas itu menyerah. Mereka bersujud. Mereka bersumpah setia. Bukan karena cinta. Bukan karena hormat. Tapi karena Ketakutan dan Ambisi.

Sari Dewi baru saja melakukan hal yang mustahil: Dia mengubah musuh terbesar, paling berbahaya, dan paling ganas... menjadi pasukan pribadinya sendiri. Dia tidak membunuh mereka. Dia menjinakkan mereka. Dia mengubah racun menjadi obat. Dia mengubah pedang yang tajam mengarah ke lehernya... menjadi perisai dan senjatanya sendiri.

Ini adalah langkah jenius lainnya. Sekarang, Sari Dewi tidak hanya punya uang Andri. Dia tidak hanya punya pasukan Andri. Dia tidak hanya punya Raga. Sekarang dia punya pasukan jalanan yang paling kejam, paling efisien, dan paling berpengalaman di kota. Pasukan yang tidak punya aturan, tidak punya moral, tidak terikat hukum. Pasukan yang akan melakukan pekerjaan kotor yang terlalu kotor bahkan untuk anak buah Andri.

Sari Dewi sekarang menguasai Dua Dunia: Dunia Atas (Bisnis, Politik, Hukum, Mewah) dan Dunia Bawah (Kejahatan, Pembunuhan, Teror, Kekerasan). Dia penguasa mutlak, penuh, dan lengkap.

Sari menoleh ke arah Arya Pratama. Arya berdiri diam, wajahnya pucat, matanya kosong, dia melihat semuanya. Dia melihat bagaimana putrinya, anak kandungnya, dengan mudah, dingin, dan efisien menghancurkan mental ayahnya sendiri, menyiksa orang, dan memaksa musuhnya jadi budak. Dia melihat monster itu tumbuh makin besar, makin kuat, makin tak terkalahkan.

Dan dia sadar: Dia tidak akan pernah bisa menghentikan dia. Tidak ada yang bisa. Sari Dewi sekarang terlalu kuat. Dia punya segalanya: Uang, Pasukan, Kecerdasan, Citra, dan Kekebalan.

Sari Dewi berjalan mendekati ayahnya, menatapnya tajam.

"Kerja bagus malam ini, Ayah," puji Sari santai, menepuk-nepuk pipi ayahnya dengan tangan kecilnya. "Kamu hebat. Kamu berguna sekali. Aku bangga sama kamu. Seperti janjiku..."

Dia menoleh ke Raga.

"Paman Raga, bawa Ayah sama Bunda kembali ke kamar mereka. Tapi malam ini... beri mereka makan enak. Steak, kentang, sup, anggur merah. Beri mereka baju bersih. Beri mereka kasur empuk. Dan kunci pintunya seperti biasa. Mereka dapat hadiah karena kerja bagus."

Arya tidak senang. Dia tidak bangga. Dia merasa mual. Dia merasa kotor. Dia merasa dia baru saja menjual jiwanya ke neraka demi sepiring daging. Dia menunduk, membiarkan Raga dan anak buahnya membawa dia dan Naya keluar ruangan itu, kembali ke penjara emas mereka.

Sari Dewi berdiri sendirian di tengah ruangan bawah tanah itu. Di sebelahnya, Andri Andalan masih berlutut, memeluk kakinya, masih menangis pelan. Di depannya, Riko Surya dan 25 pembunuh ganas berlutut, kepala tertunduk patuh. Di belakangnya, Raga Wijaya berdiri tegak, siap mati demi dia.

Dia sendirian di puncak. Dia tidak punya teman. Dia tidak punya sahabat. Dia tidak punya orang yang benar-benar mencintainya selain karena takut atau gila.

Tapi Sari Dewi tidak peduli. Dia tidak butuh cinta. Dia tidak butuh teman. Dia tidak butuh persahabatan.

Dia punya Kekuasaan. Dan baginya, kekuasaan adalah segalanya. Kekuasaan adalah cinta. Kekuasaan adalah persahabatan. Kekuasaan adalah hidup.

Sari Dewi menatap langit-langit beton yang rendah, tersenyum lebar, matanya bersinar gila dan bahagia.

Permainan makin seru, pikirnya. Musuh luar hancur. Musuh dalam ketahuan. Boneka utama sudah hancur mentalnya dan jadi budak mutlak. Pasukan baru didapatkan gratis. Kerajaan makin kuat. Sekarang... sekarang saatnya ekspansi.

"Paman Raga," panggil Sari lembut saat Raga kembali ke sisinya setelah mengantar Arya dan Naya.

"Iya, Nona?"

"Besok pagi. Kita mulai operasi besar. Kita bersihkan semua pengkhianat yang Bimo sebut. Komisaris Haris. Kapten Dedi. Walikota Ardi. Semuanya. Jangan ada yang lolos. Dan setelah itu... kita ambil alih semua bisnis mereka. Semua aset mereka. Semua kekuasaan mereka."

Sari Dewi menoleh ke arah Riko Surya yang masih berlutut.

"Dan Pak Riko... kau akan jadi komandan operasi pembersihan ini. Kau yang bunuh teman-teman lamamu. Kau yang hancurkan wilayah sainganmu. Kau yang buktikan kesetiaanmu. Aku mau kau kerja keras, Riko. Sangat keras. Karena aku punya rencana besar untukmu. Aku mau kau jadi Raja Jalanan, di bawah aku. Aku mau kau takuti seluruh negeri."

"Siap, Nyonya..." suara Riko parau, penuh dendam terpendam.

Sari Dewi menarik napas dalam-dalam, menghirup udara bau darah dan ketakutan itu. Baginya, itu aroma paling harum di dunia.

"Ayo kita naik, Kakek," ucap Sari lembut, mengusap kepala Andri. "Udara di bawah sini bau sekali. Mari kita naik ke atas. Mari kita nikmati kemenangan kita. Dan mari kita rencanakan penaklukan kita selanjutnya."

Andri bangkit berdiri dengan susah payah, wajahnya merah, bengkak, kotor, tapi matanya memancarkan cahaya fanatik, gila, dan suci. Dia menggenggam tangan kecil cucunya erat-erat, seolah itu adalah tali kehidupan satu-satunya di dunia.

"Ya... ayo naik, Ratuku... ayo naik, Dewiku... Aku ikut kemana pun kamu pergi..."

Berjalan beriringan, tangan menggenggam tangan, Sang Ratu Kecil dan Budak Tertuanya keluar dari ruang bawah tanah itu, meninggalkan neraka di belakang, menuju surga kekuasaan di atas.

Dan di lorong gelap itu, Riko Surya mengangkat kepalanya perlahan, menatap punggung gadis kecil itu menghilang. Di matanya, ada api yang tidak padam: Api kebencian, api ambisi, dan api balas dendam.

'Tunggu saja, Setan Kecil...' batin Riko. 'Hari ini aku anjingmu. Tapi ingat... anjing liar tidak pernah benar-benar jinak. Suatu hari... saat kamu lengah... aku akan gigit lehermu sampai putus.'

Tapi Riko tidak tahu satu hal penting: Sari Dewi tahu. Dia tahu persis isi kepala Riko. Dia tahu Riko membenci dia. Dia tahu Riko berencana mengkhianati dia.

Dan itulah alasan utama kenapa dia membiarkan Riko hidup.

Karena bagi Sari Dewi... memiliki musuh di dalam kandang sendiri, musuh yang dia kendalikan, musuh yang dia siksakan mentalnya setiap hari... itu jauh lebih menyenangkan, jauh lebih berguna, dan jauh lebih seru daripada membunuhnya.

Dia suka main dengan makanannya.

Dia suka melihat kapan tepatnya mereka mencoba melawan. Karena saat mereka melawan... saat itulah dia bisa hancurkan mereka lagi. Lebih sakit, lebih kejam, lebih total dari sebelumnya.

Ini baru awal.

Kerajaan Iblis baru saja didirikan. Dan rajanya baru berusia 13 tahun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!