Di benua Azure, kekuatan adalah segalanya. Namun, ada satu profesi yang paling dihormati dan ditakuti: Alkemis. Mereka yang bisa menciptakan pil roh, obat mujarab, dan racun mematikan.
Raymond adalah cucu dari Alkemis Legendaris yang pernah menyelamatkan dunia, Dewa Alkemis Zhuo Yi. Namun, sejak kakeknya menghilang secara misterius dan klan keluarga mereka dihancurkan oleh aliansi kekuatan jahat, Raymond hidup sebagai orang buangan yang menderita dan dipandang rendah.
Suatu hari, saat hampir dibunuh oleh musuh bebuyutannya, Raymond menemukan sebuah cincin batu giok peninggalan kakeknya. Di dalamnya tersembunyi jiwa sang Dewa Alkemis dan sebuah kitab suci "Formula Penciptaan Semesta".
Dengan warisan ilahi itu, Raymond bangkit dari lumpur. Ia mulai mencium bau bahan-bahan, meramu pil tingkat dewa, dan menumbuhkan kekuatan yang mengguncang langit. Ia berjanji pada dirinya sendiri: Semua yang pernah menginjak-injak martabatnya, semua yang membunuh keluarganya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: SURGA DI TENGAH NERAKA
Jalan setapak menuju Lembah Terlarang semakin lama semakin sempit dan tertutup tanaman rambat. Udara di sini terasa lembap dan berat, penuh dengan konsentrasi Energi Roh yang jauh lebih padat daripada di dalam kota.
Raymond berjalan hati-hati. Pedang besi sederhana hasil tempaannya sendiri tergantung di pinggang.
"Hahaha! Rasakan udaranya, Nak! Ini sungguh tempat yang luar biasa!" suara Zhuo Yi terdengar antusias di dalam kepala. "Lihatlah sekeliling. Tanah ini subur karena telah menyerap energi selama ribuan tahun tanpa gangguan. Bagi orang biasa ini adalah neraka, tapi bagiku... ini adalah surga!"
Raymond menghentikan langkahnya. Di hadapannya, tumbuh sekelompok tanaman dengan daun berwarna ungu berbentuk seperti lidah naga.
"Itu... Rumput Lidah Api?" mata Raymond berbinar. Ia ingat dari kitab yang ia baca, tanaman itu adalah bahan utama untuk membuat Pil Api Roh yang harganya sangat mahal di pasaran.
"Benar. Ambil semuanya. Jangan sampai ada akar yang tertinggal," perintah Zhuo Yi.
Raymond segera menekuk lutut dan mulai mencabuti tanaman itu dengan hati-hati. Baru saja ia mengumpulkan beberapa tangkai, tiba-tiba...
SYUUUUUU!
Angin menderu kencang dari arah atas pohon. Sebuah bayangan hijau seukuran babi dewasa melesat turun dengan taring yang mengkilap!
Itu adalah Ular Raksasa Bulu Hijau, binatang roh tingkat rendah!
Mulutnya terbuka lebar, menyemburkan bau amis yang menyengat dan bisa mematikan. Ia mengincar tubuh Raymond untuk dijadikan santapan.
Murid-murid lain yang dikirim ke sini biasanya akan panik dan lari terbirit-birit. Tapi Raymond justru tersenyum.
"Akhirnya ada yang datang..."
"Jangan gunakan pedang! Itu akan merusak inti rohnya. Tangkap dengan tangan kosong dan hancurkan kepalanya!" instruksi Zhuo Yi.
Tanpa ragu, Raymond tidak mundur malah maju selangkah. Saat kepala ular itu hampir menggigit bahunya, Raymond dengan cepat memutar tubuhnya.
Wush!
Ia menghindar tipis-tipis, lalu tangan kanannya melesat bagai kilat mencengkeram tepat di bagian belakang kepala ular itu!
"MARI SINI!"
Raymond mengerahkan seluruh kekuatan ototnya yang baru. Krak! Dengan satu gerakan kuat, ia membanting tubuh ular itu sekuat tenaga ke atas batu besar di sampingnya!
BAM!
Suara benturan keras terdengar. Tubuh ular itu menggeliat hebat lalu diam tak bergerak. Matanya memutih, tewas seketika dengan tengkorak hancur.
Raymond menarik napas lega. Ia lalu mengeluarkan pisau kecil dari sakunya dan membelah perut ular itu. Di sana, terdapat sebuah bola kristal sebesar kelereng yang bersinar hijau lemah.
Inti Roh Ular Hijau.
"Bagus. Simpan itu. Nanti bisa kita gunakan untuk bahan ramuan atau dimakan langsung untuk menambah energi," kata Zhuo Yi puas.
Raymond memasukkan inti roh dan tanaman obat ke dalam tas kulitnya. Ia melanjutkan perjalanan semakin masuk ke dalam lembah.
Semakin dalam, pemandangan semakin menakjubkan sekaligus berbahaya. Ia menemukan Bunga Embun Es di dekat air terjun, dan Jamur Telinga Gajah di balik batang pohon besar. Dalam waktu singkat, tasnya sudah penuh dengan bahan-bahan berharga.
Namun, bahaya juga semakin nyata.
"Awas! Ada tiga ekor Serigala Roh Api datang dari arah barat. Mereka berkelompok, tingkat bahayanya lebih tinggi," peringatan Zhuo Yi tiba-tiba.
Raymond segera berhenti dan memegang gagang pedangnya. Dari balik semak belukar, muncul tiga ekor serigala besar dengan bulu berwarna merah gelap dan mata menyala merah. Mereka menggeram rendah, menatap Raymond sebagai mangsa.
"Huh, jumlahnya pas," Raymond mengencangkan cengkeramannya pada gagang pedang. "Kakek, ajari aku teknik pedang dasar yang mematikan."
"Gunakan 'Teknik Memotong Angin'. Fokuskan energi ke bilah pedang, lalu ayunkan seolah kau sedang membelah air. Jangan gunakan kekuatan otot, gunakan aliran energi!"
Serigala terdepan melolong lalu menerjang bersama dua temannya.
Raymond berdiri tenang. Saat mereka cukup dekat, ia bergerak.
WOSH! CLANG!
Pedang besi itu melintas di udara, tidak mengeluarkan suara angin biasa, tapi melolong seperti binatang buas! Sebuah sabit cahaya putih terlempar dari ujung pedang.
SRET!
Darah memercik. Tiga serigala itu terhenti di tengah langkah, lalu tubuh mereka terbelah di bagian leher secara bersamaan. Mereka jatuh tak bernyawa sebelum sempat menyentuh tanah.
Raymond menghela napas. Keringat menetes di pelipisnya. Menggunakan teknik itu cukup menguras pikiran.
"Luarr biasa... ini kekuatan seorang Alkemis dan Pejuang," gumamnya takjub.
Tiba-tiba, mata Zhuo Yi di dalam cincin membelalak. "Raymond! Cepat lihat ke arah tebing di sebelah kananmu! Di balik akar pohon besar itu..."
Raymond menoleh. Di sana, terselip di celah batu karang yang sulit dijangkau, tumbuh sebuah tanaman yang sangat aneh. Batangnya berwarna emas, dan di puncaknya terdapat tiga buah buah berbentuk seperti hati manusia yang berdenyut merah menyala!
Aroma harum yang luar biasa menyebar, membuat kepala terasa segar.
"Itu... Itu adalah Buah Darah Naga?!" Raymond hampir berteriak kegirangan. "Bahan untuk Pil Penguat Darah! Konon sudah punah ratusan tahun lalu!"
"Cepat ambil! Buah itu sudah matang sempurna! Jika kau memakannya sekarang, darah di tubuhmu akan bertransformasi menjadi Darah Naga Asli! Tingkat kultivasimu bisa langsung meledak naik ke Tahap 9 atau bahkan 10!"
Raymond segera memanjat tebing itu dengan gesit. Jaraknya cukup jauh dan berbahaya, tapi demi buah itu, resiko apapun harus diambil.
Namun, saat tangannya hampir menyentuh buah merah itu...
ROAAARRR!!!
Gemuruh yang sangat besar dan menggetarkan bumi terdengar dari atas tebing! Seekor makhluk raksasa melompat turun menghalangi jalan Raymond.
Tubuhnya sebesar rumah, kulitnya keras seperti baju besi, dan memiliki dua tanduk besar di kepala.
Itu adalah Binatang Roh Tingkat Menengah - Beruang Besi Perisai!
Binatang ini adalah penjaga setia tempat itu. Ia menatap Raymond dengan mata penuh amarah, siap untuk menghancurkan siapa saja yang berani mengambil buahnya.