"Ingat posisi kita, Elena. Di luar kita adalah pasangan sempurna, tapi di dalam rumah ini, kita adalah dua orang asing yang kebetulan berbagi satu atap. Jangan pernah lupakan itu."
Elena adalah CEO Luminous Beauty yang ambisius. Baginya, hidup adalah tentang citra dan kesempurnaan visual. Namun, sebuah pengkhianatan di dewan direksi memaksanya bersekutu dengan pria yang paling ia benci, Adrian ,
sang penguasa Arsa Food Group yang dingin dan praktis.
Namun, di balik kemewahan hidup mereka, ada rahasia gelap yang terkubur. Saat dinding kebencian mulai runtuh oleh sesuatu yang tak terduga, Elena menyadari bahwa Adrian mungkin bukan hanya rekan bisnis/suaminya, melainkan dalang di balik tragedi masa lalu keluarganya.
Di dunia mereka, cinta adalah kelemahan, dan pengkhianatan adalah strategi. Saat kontrak mulai melanggar logika hati, siapakah yang akan hancur lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanessa_Write, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Badai di Perairan Bebas
Sentakan hebat dari mesin taktis The Obsidian bikin Elena hampir saja terlempar kalau saja tangan kekar Adrian tidak sigap menangkap pinggangnya. Cowok itu mendekap tubuh Elena dengan sangat erat, menempelkannya ke dinding kabin navigasi yang kokoh sementara kapal terus bermanuver ekstrem membelah ombak malam yang makin ganas. Di luar, suara dentuman keras mulai terdengar bersahut-sahutan dengan bunyi gemuruh ombak, disusul kilatan cahaya merah dari tembakan senjata otomatis yang mulai menghujani permukaan laut di sekitar mereka.
"Tetap di posisi rendah, Elena! Jangan berdiri sampai aku bilang aman!" perintah Adrian setengah berteriak di antara kebisingan alarm kapal yang terus melengking.
Wajah Adrian sekarang terlihat menyeramkan. Tidak ada lagi senyuman nakal atau tatapan menggoda yang tadi sempat ia berikan. Yang tersisa cuma ekspresi dingin seorang jenderal perang yang siap menghabisi siapa saja. Adrian melepaskan pelukannya pada Elena setelah memastikan posisi wanita itu aman di balik dinding baja pelindung kabin, lalu berbalik cepat menghadap layar radar yang berkedip-kedip merah.
"Hendra! Jarak mereka berapa sekarang?" tanya Adrian dengan nada suara yang berat dan menuntut.
"Kurang dari satu mil laut, Tuan!" jawab Hendra yang tangannya sedang sibuk mengendalikan panel navigasi darurat. "Kapal patroli musuh berukuran lebih kecil dan lincah dari kita. Mereka pakai taktik menjepit dari arah jam dua dan jam delapan. Kalau kita tidak segera melumpuhkan salah satunya, mereka bakal berhasil menembak lambung kiri kapal!"
Elena yang duduk bersandar di lantai kabin mencoba mengatur napasnya yang memburu. Otak bisnisnya langsung dipaksa beralih ke mode bertahan hidup. Ia melihat layar monitor sekunder dan menyadari kalau kapal musuh bergerak sangat agresif. Mereka jelas tidak berniat menangkap hidup-hidup; Syndicate mau menenggelamkan semua bukti bersama dengan Elena dan Adrian ke dasar samudra paling dalam.
"Adrian, mereka pakai penguat sinyal satelit militer swasta," kata Elena tiba-kira setelah matanya menangkap kejanggalan pada grafik gelombang di layar laptop taktis yang ada di dekatnya. "Sistem pengacau radar kita tidak bakal mempan terlalu lama kalau kita tidak mematikan frekuensi induk mereka lebih dulu!"
Adrian menoleh sebentar ke arah Elena, sedetik kemudian senyuman bangga yang tipis muncul di wajahnya yang kaku. "Kamu benar-benar tipe wanita yang berguna di tengah medan perang, Putri Kecil."
Adrian langsung berbalik menatap operator taktisnya. "Dengar semuanya! Ubah target pengacau radar kita ke frekuensi satelit komersial jalur pendek. Elena, kamu pandu operator untuk mengunci titik koordinat sinyal mereka. Hendra, buka penutup meriam depan sekarang. Begitu sinyal mereka terganggu dalam hitungan detik, langsung tembak jatuh kapal di arah jam dua!"
"Siap, Tuan!" seru para kru dengan kompak.
Elena langsung merangkak mendekati meja operator tanpa memedulikan guncangan kapal yang makin menjadi-jadi. Jemari lentiknya dengan cepat menari-nari di atas papan ketik, memasukkan beberapa kode enkripsi yang pernah ia pelajari dari sistem keamanan Luminous Beauty. "Sekarang, ganti frekuensinya ke jalur 400 Megahertz... kunci!" seru Elena.
BZZZZT! Layar radar kapal musuh di monitor mendadak bergetar hebat dan kehilangan arah pergerakan mereka selama beberapa detik. Mereka buta di tengah laut.
"Tembak, Hendra!" teriak Adrian memberi komando mutlak.
BOOM!
Dentuman meriam kaliber ringan di dek depan The Obsidian bergetar hebat hingga membuat seluruh badan kapal ikut berguncang. Di luar sana, di tengah kegelapan laut yang pekat, sebuah ledakan bola api raksasa berwarna jingga terang langsung meletus, menghancurkan kapal patroli musuh di arah jam dua berkeping-keping. Serpihan besi dan api beterbangan sebelum akhirnya ditelan oleh ombak hitam yang dingin.
Namun, kegembiraan mereka cuma bertahan beberapa detik. Kapal kedua milik musuh yang berada di arah jam delapan ternyata berhasil lolos dari gangguan radar dan langsung membalas dengan rentetan tembakan senapan mesin berat.
TATATATATATATA!
Peluru-peluru tajam berukuran besar menghantam dinding luar kabin navigasi dengan suara yang memekakkan telinga. Percikan api menyala di balik kaca tebal antipeluru kabin. Salah satu tembakan musuh berhasil mengenai mesin bagian belakang, bikin lampu utama kabin mendadak mati total dan langsung digantikan oleh pencahayaan darurat berwarna merah temaram yang remang-remang.
Kapal The Obsidian mulai miring ke arah kanan karena kehilangan keseimbangan mesin. Suasana di dalam kabin makin panik saat salah satu operator taktis berteriak, "Tuan! Mesin kanan kita mati! Kecepatan kita turun drastis sampai lima belas knot! Kapal kedua musuh bersiap melakukan boarding alias memaksa masuk ke kapal kita!"
Adrian langsung mencabut pistol semi-otomatis dari holster di pinggangnya, memeriksa magasin dengan gerakan yang sangat terlatih dan cepat. "Hendra, ambil alih senjata manual di dek kanan. Jangan biarkan satu pun bajingan itu menginjakkan kaki di atas kapal ini hidup-hidup."
Adrian kemudian berjalan cepat mendekati Elena yang masih terduduk di lantai. Pria bertubuh tinggi besar itu berlutut di depan Elena, mencengkeram kedua bahu ramping wanita itu dengan sangat erat. Di bawah siraman cahaya lampu darurat yang berwarna merah pekat, wajah Adrian kelihatan begitu intens dan posesif.
"Dengarkan aku baik-baik, Elena," bisik Adrian dengan suara bariton yang rendah, tapi terdengar sangat tajam mengunci seluruh perhatian Elena. "Aku bakal keluar ke dek untuk membersihkan sisa bajingan itu. Kamu tetap di sini bersama satu pengawal. Kalau terjadi sesuatu yang buruk pada kapal ini... kamu harus pakai perahu penyelamat di bawah kursi ini dan pergi sejauh mungkin. Mengerti?"
Elena membelalakkan matanya, langsung menggelengkan kepala dengan tegas. Ia meremas kuat lengan jaket taktis Adrian, menolak perintah tersebut. "Tidak, Adrian! Aku tidak bakal pergi ke mana-mana tanpa kamu! Kita sudah sepakat dari awal kalau kita bakal menghadapi ini bersama-sama. Kamu tidak bisa meninggalkan aku di sini seperti yang dilakukan ayahku sepuluh tahun lalu!"
Adrian menatap lekat-lekat sepasang mata indah Elena yang memancarkan kemarahan sekaligus ketakutan yang luar biasa akan kehilangan. Detak jantung Adrian yang biasanya selalu tenang, mendadak berdegup liar bukan karena takut mati, tapi karena rasa protektif yang teramat besar pada wanita di depannya ini.
Tanpa aba-aba, Adrian memajukan wajahnya dan mencium bibir Elena dengan sangat dalam dan menuntut di tengah suara bising tembakan di luar. Ciuman yang terasa panas, nekat, dan penuh dengan emosi yang meledak-ledak itu sukses bikin Elena tertegun dan menghentikan semua protesnya.
Setelah beberapa detik yang intens, Adrian melepaskan tautan bibir mereka, menyisakan napas mereka yang sama-sama memburu. Ibu jari Adrian yang kasar mengusap sudut bibir Elena dengan lembut.
"Aku tidak sedang meninggalkanmu, Nyonya Arsa," bisik Adrian tepat di depan wajah Elena, sorot mata gelapnya berkilat penuh keyakinan yang mematikan. "Aku keluar buat memastikan jalan kita bersih sampai ke pulau tujuan. Tetap hidup untukku, karena setelah badai ini selesai, aku bakal menagih seluruh hakku sebagai suamimu."
Sebelum Elena sempat membalas ucapan gila pria itu, Adrian sudah berdiri tegak, berbalik dengan anggun, dan melangkah keluar melewati pintu baja kabin menuju dek luar yang penuh dengan desingan peluru. Elena cuma bisa menatap punggung kokoh suaminya yang hilang di balik pintu, sementara di luar sana, suara baku tembak yang sesungguhnya baru saja dimulai dengan sangat mengerikan.
......BERSAMBUNG......